Kamis, 01 Oktober 2015

Selasa, 30 September 2015: Theologian Fallacy

Saya bangun di pagi ini dengan memikirkan sisa mimpi semalam. Saya lupa detailnya seperti apa tapi nampaknya itu tidak ada kaitannya dengan angka-angka yang bisa dipasang dalam judi porkas. Tak ada naga, ular, kambing, ataupun anjing di situ. Tak ada juga Leonardo DiCaprio di sana, sehingga saya yakin kalau sekuel film Inception belum dibuat sama sekali. Padahal saya berharap Christopher Nolan mau mengambil mimpiku sebagai setting film Inception atau setidaknya sekuel Dark Night yang keempat. Di mimpiku hanya ada serangkaian citra inkoheren yang disertai dialog-dialog antar arketipe yang sulit dideskripsikan oleh fungsi kognitif alam bawah sadarku. Sebetulnya, saya tidak tahu-menahu soal fungsi kognitif di alam bawah sadar. Saya asal menyebutkannya saja agar tulisan ini terkesan ilmiah. Memangnya siapa peduli dengan hal tersebut. Tidak ada juga yang akan membaca tulisan ini. Profesor, doktor, magister, sarjana, calon sarjana, bakal calon sarjana, ataupun janin bakal calon sarjana sudah punya bahan bacaannya sendiri, entah itu berbentuk jurnal, disertasi, tesis, skripsi, broadcast online shop maupun sms promo telkomsel. Pokoknya mereka terlalu sibuk dengan aktivitas intelektual jenis lain yang hanya dapat didefinisikan oleh otak mereka sendiri. Saya tak mungkin mengetahuinya kecuali saya memiliki kemampuan membaca pikiran seperti Professor Xavier atau Jane Grey. Kemungkinan mereka akan membaca tulisan ini adalah satu berbanding semua bintang di langit malam bulan September. Untuk nilai rincinya, biarkan itu menjadi urusan Tuhan yang menciptakan bintang, tapi itu dengan asumsi dasar bahwa Tuhan benar-benar ada.

Akhir-akhir ini, saya semakin sering menemukan manusia yang tak percaya pada Tuhan. Kalau dulu, mungkin saya akan kaget setengah mati saat mengetahui fakta ini. Tapi sekarang, hal seperti itu sudah terdengar biasa saja. Mendengarkan hal tersebut sudah sama biasanya dengan mendengar orang yang sedang membicarakan tentang nilai rupiah yang anjlok atau harga tahu dan cabe yang melonjak. Tak ada lagi unsur kejutan di dalamnya. Seolah itu telah menjadi hukum alam yang wajib berlangsung, jika hal sebaliknya yang terjadi, justru itu akan menjadi hal yang sangat mengejutkan. Mereka semua punya alasan masing-masing untuk tidak percaya pada Tuhan dan hal tersebut semestinya tidak perlu dikuatirkan oleh orang-orang yang percaya Tuhan. Seharusnya kita biarkan saja semua kepercayaan dan ketidakpercayaan pada Tuhan berkembang selama hal tersebut tidak sampai memicu timbulnya Perang Dunia Ketiga. Tidak perlu saling memaksa dan mengolok karena saya tak pernah melihat ada orang beragama yang pindah keyakinan menjadi atheis setelah agama dan Tuhannya diolok, begitu juga sebaliknya, tak ada orang atheis yang jadi mau beragama setelah ada yang mengolok ketidakpercayaannya pada Tuhan. Berdebat adalah tindakan yang kontraproduktif. Mungkin pendapat ini sudah basi tapi saya rasa masih relevan dengan situasi kekinian.

Jika berbicara situasi kekinian, timeline Facebook dan Twitter-ku sudah dipenuhi oleh kampanye rasialis dan partisan. Sejak memiliki keduanya di tahun 2008, saya tidak pernah melihat timeline yang begitu riuh dengan hujatan dan makian yang mengalir deras bagaikan hujan di bulan Februari kecuali saat kampanye presiden dulu. Untungnya sekarang sudah ada fitur untuk menyembunyikan status-status mengganggu tanpa harus menghapus pertemanan walaupun sebenarnya menghapus pertemanan di FB adalah tindakan yang saya rasa lebih masuk akal. Kadang saya berpikir, orang-orang yang berteman dengan saya di FB itu berasal dari planet mana?

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...