Selasa, 06 Oktober 2015

Senin, 5 Oktober 2015: A Study In Semantic

Sherlock Holmes telah menjadi salah satu icon fiktif paling populer di dunia orang-orang yang biasa membaca kisah-kisah detektif. Saya harus menyebutkan secara spesifik cakupan kepopulerannya karena populer adalah suatu jenis kenisbian yang sulit untuk dikuantifikasi. Meskipun sekarang kita dapat melihat keobjektifan popularitas seseorang dari jumlah follower twitter atau instagram, tapi tetap saja, kepopuler masih berada pada area yang bersifat relatif. Contohnya saja, orang di Ndao tidak ada satupun yang mengenal Sherlock Holmes, tapi mereka mengenal dengan baik Dody Latuharai. Siapa itu Dody Latuharai? Dia adalah penyanyi asal Ambon yang lagunya sering dinyanyikan oleh orang Ndao. Saya yakin orang Inggris, yang menjadi asal muasal Holmes, tak ada yang mengenalnya. Bukannya bermaksud untuk mengecilkan ketenaran Dody, tapi coba saja telepon salah seorang di Inggris untuk membuktikannya. Sebagai awalan, langsung saja telepon perdana menteri Inggris, sekalian untuk minta agar tagihan telepon internasionalmu dapat dibayarkan.

Ada yang pernah berkata bahwa terkadang kepopuleran memiliki keterkaitan langsung dengan tingkat intelegensia, namun banyak referensi lain yang menyebutkan bahwa kedua variabel tersebut tidak berkaitan sama sekali. Sebenarnya, saya ingin menyebutkan contohnya secara eksplisit di sini berdasarkan beberapa rujukan ilmiah tersebut, namun rasanya itu akan menjadi hal yang kurang etis karena apa yang saya anggap populer bagi para intelek mungkin akan dianggap sebagai suatu penghinaan bagi orang-orang yang saya anggap kurang intelek. Lagipula, apalah saya ini hingga bisa menghakimi tingkat intelektualitas manusia lain? Jadi untuk menghindari perdebatan panjang, maka saya memakai saja asumsi dasar bahwa popularitas tak ada kaitannya dengan intelektualitas agar semua bisa senang dan tak ada pertumpahan darah. Rasanya akan terdengar konyol jika sampai ada yang harus mati karena persoalan popularitas. Masalahnya, itu faktual. Ada beberapa kasus di mana orang sampai harus mati karena ingin populer. Tapi lagi-lagi saya tak ingin menyebutkannya di sini karena persoalan etis. Pada sisi lain, hal yang ingin saya bahas sebetulnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan popularitas tapi hanya tentang kasus pertama yang ditangani Sherlock Holmes bersama James Watson, A Study in Scarlet.

Sir Arthur Conan Doyle membuat karya ini berpuluh-puluh tahun yang lalu ketika saya belum lahir. Bahkan mungkin ketika Presiden Indonesia yang sekarang belum lahir. Sehingga beberapa fakta yang disampaikan Doyle dalam novel tersebut mungkin sudah terdengar basi bagi kebanyakan orang di masa kini. Di era Doyle, Scotland Yard tidak bisa membedakan antara darah korban dan darah hewan yang sudah mengering. Keduanya sama keringnya, sama hitamnya. Selain itu, teknik identifikasi zaman dulu, belum mengenal replikasi DNA, oleh karena itu, mayat yang sudah lama rusak akan sulit dikenali. Namun ada beberapa nilai di kisah Sherlock yang tak pernah lekang oleh zaman. Bahkan saat kisah A Study in Scarlet diadaptasi ke layar kaca di abad ke-21 menjadi A Study in Pink dengan begitu banyak alur yang diubah dan ditambahkan dalam kisah A Study in Pink sehingga nyaris berubah 180 derajat dari kisah A Study in Scarlet, seperti perubahan gender korbannya, makna pesan kematiannya, dan cara mengungkap kejahatannya, namun tetap saja ada beberapa punchline Sherlock dan Watson di masa lalu yang masih tetap relevan untuk digunakan. Seperti perdebatan mereka berdua tentang tata surya, di mana Sherlock ternyata tidak pernah mengetahui kalau bumi berputar mengelilingi matahari. Joke yang ini betul-betul membuatku tertawa hingga nyaris asfiksia. Tapi temanku yang menontonnya justru hanya terdiam. Saya bisa memakluminya karena saat dia menontonnya, tak ada subtitle di sana. Menonton film detektif luar negeri tanpa subtitle adalah sebuah pekerjaan yang sia-sia, kecuali nilai TOEFL orang yang menontonnya telah mencapai 615 atau minimal dengan IELTS 7. Rintangan bahasa dapat menghilangkan kelucuan sebuah lelucon yang bersifat semantik dan sintaksis. Dan saya yakin, tidak banyak orang yang mengerti apa itu semantik dan sintaksis. Saya asal mencomot kata itu dari Kamus Besar Bahasa Indonesia karena kata-kata itu terdengar intelek. Bagi orang yang jarang membaca, kata semantik akan sama asingnya dengan kata sedat. Keduanya meskipun bahasa Indonesia, terdengar begitu asing di telingaku. Sepertinya saya juga masih jarang membaca.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...