Jumat, 27 November 2015

Kamis, 26 November 2015: Mantis

Seandainya hubungan seksual antara manusia menyerupai hubungan seksual mantis, para pria hanya akan merasakan pengalaman seksual sekali saja seumur hidup. Mantis betina sangat hobi memakan kepala mantis jantan saat sedang melakukan hubungan seksual. Jadi bisa dipastikan ketika hubungan seksual berakhir, maka berakhir pula kehidupan pejantan. Meskipun terdapat kenyataan kejam seperti ini, para mantis jantan yang masih hidup sepertinya tidak peduli. Pada akhirnya, mereka akan senantiasa mengikuti panggilan alam untuk melakukan hubungan seksual, meskipun nyawa sebagai taruhannya. Yang mengherankan, meskipun praktek seperti ini telah berjalan sejak dulu kala, belalang mantis tidak pernah punah. Mereka tetap berjaya dan kadang mengganggu hidupku saat mereka terbang ke sana kemari di sebuah ruangan.

Bayangkan jika kejadian yang sama berlaku pada manusia. Para wanita langsung membunuh para pria setelah melakukan hubungan seksual. Mungkinkah ras manusia akan punah? Ataukah tetap berlanjut seperti belalang mantis?

Sayangnya, dunia manusia tidaklah seperti dunia mantis meskipun mereka sama-sama hidup di bumi yang sama. Para wanita di dunia manusia sejak dulu kala telah dilabeli dengan predikat mahluk yang lemah sehingga mereka lebih sering menjadi korban intimidasi pria ketimbang menjadi mahluk pembunuh pejantan seperti halnya mantis betina.

Orang-orang mungkin akan memberikan argumen seperti ini, "Jangan samakan manusia dengan mantis. Manusia memiliki cinta kasih dan akal, sedangkan belalang mantis tidak memilikinya".

Jika memang manusia memiliki akal dan cinta kasih? Mengapa mereka tetap saling membunuh dan menyiksa? Bahkan biarpun sudah ada agama yang mengajarkan kasih, manusia tetap bisa saling bunuh dengan mengatasnamakan menjaga keutuhan agama.

Jadi apa bedanya mantis dan manusia?

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...