Minggu, 22 November 2015

Rabu, 18 November 2015

Tuhan itu apa? Sebagai orang yang mengaku beragama, sungguh tidak mengherankan jika pertanyaan tersebut tidak pernah terbersit dalam pikiran. Karena sejak kecil mereka semua dididik untuk tidak pernah mempertanyakan tentang realitas Tuhan dan ajaran agama.

Maksudku, bayangkan jika seseorang beragama Kristen, dia harus ke gereja tiap Minggu, menyanyikan kidung-kidung yang penciptanya entah siapa atau bayangkan jika seseorang beragama Islam, tiap hari shalat pada subuh, tengah hari, sore hari, menjelang senja, dan malam hari untuk menyembah Tuhan yang belum pernah mereka temui. Mengapa kegiatan-kegiatan tersebut harus dilakukan? Apa esensinya? Apakah itu untuk membuat kita jadi manusia yang lebih baik, lebih penyayang, dan lebih cinta damai?
Jika itu alasannya, maka saya meragukannya. Banyak saya melihat justru orang-orang beragamalah yang lebih garang. Mereka tega membakar, membunuh, dan meledakkan atas nama agama. Pertentangan Syiah vs Sunni di Timur Tengah, Yahudi vs Islam di Palestina, Katolik vs Protestan di Irlandia, Hindu vs Islam vs Kristen vs Sikh di India, belum lagi ISIS vs Dunia. Belum lagi konflik-konflik di tempat lain yang tidak terdokumentasi. Yang jadi pertanyaan adalah apakah Tuhan yang mereka sembah akan senang melihat perbuatan kekerasan yang telah dilakukan?

Konsep keagamaan itu sendiri, kalau dipikir dengan akal, sebenarnya merupakan sesuatu yang penuh ambiguitas. Tapi dalam agama, ada konsep yang bernama iman, yang bertujuan untuk menihilkan semua ambiguitas tersebut. Inti dari konsep iman adalah apapun yang disebutkan dalam kitab suci, percayailah, meskipun itu tidak masuk akal dan aneh. Sebagai contoh, silsilah Yesus dalam kitab Lukas dan Matius, kenapa bisa begitu berbeda? Padahal ini adalah silsilah seseorang yang dianggap sebagai anak Tuhan. Jika hal ini dirunut secara ilmiah, maka tentu sulit untuk diterima oleh nalar, namun jika memakai konsep iman, hal ini dapat diterima begitu saja tanpa keraguan di dalamnya. Contoh lain dari Quran, adalah kitab suci ini tidak melarang konsep perbudakan dan malah juga tidak melarang hubungan seksual dengan budak meskipun budak tersebut belum dinikahi, hal ini dapat dilihat pada surat Al Mu'minun ayat 5 dan 6. Zeitgeist di masa ini tidak akan sepakat dengan perbuatan tersebut tapi sekali lagi, konsep iman tidak akan mempermasalahkan hal tersebut karena akan selalu ada upaya pembenaran theologis untuk hal tersebut.

Martin Luther pernah mengatakan bahwa 'Reason is the greatest enemy that faith has; it never comes to the aid of spiritual things, but more frequently than not struggles against the divine Word, treating with contempt all that emanates from God.' Saat mengatakan hal tersebut, dia mungkin menyadari bahwa banyak perkara dalam agama yang sulit terjamah oleh akal. Iman hanya akan berhenti pada percaya saja bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan, sedangkan akal akan terus berupaya mencari bagaimana dan kapan alam semesta ini diciptakan. Banyak orang beragama yang tidak mau mencari tahu lebih jauh mengenai alam semesta ini, karena mereka takut kalau mereka mengeksplorasi lebih jauh, mereka akan menemukan bahwa fakta ilmiah yang tidak klop dengan kitab suci. Pada situasi seperti ini, mereka seringkali mengabaikan fakta ilmiah dan lebih memilih kitab suci. Misalnya seperti penentuan umur bumi, banyak theologian yang percaya bahwa umur bumi ini "baru" 10.000 tahun, sedangkan fakta ilmiah yang ada saat ini justru menunjukkan bahwa usia bumi lebih dari itu. Apakah theologian mau menerima fakta tersebut? Entahlah.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...