Kamis, 12 November 2015

Sabtu, 31 Oktober 2015: Sapiens

Ada begitu banyak kejadian yang telah berlalu sejak tulisan terakhir diterbitkan. Pengumuman NS 2, Monev dan segala persiapannya, pengalaman spiritual yang kualami, omong kosong yang kuhadapi dan sebagainya. Tapi saya rasa semua kejadian itu terlalu penting untuk ditulis dalam blog yang trivial seperti ini. Saya sedang tidak mood untuk membahas hal-hal penting dan serius di blog ini.

Apa yang akan saya bahas kali ini tidak ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi dalam hidupku atau apapun yang berhubungan dengan hal tersebut.

Saya tidak pernah suka ekonomi. Saya merasakan ada sesuatu yang buruk dalam ekonomi sehingga saya ingin menjauhinya seperti kutub utara magnet terhadap kutub utara magnet lainnya. Padahal ketidaksukaan itu terbit tanpa didasari oleh pengenalan yang baik terhadap subyek ekonomi. Saya belum sempat masuk ke dalam rumah ekonomi, berbincang dengan penghuninya, minum teh bareng, bercengkrama, dan sebagainya. Sebetulnya ketidaksukaan seperti ini sudah masuk dalam kategori logical fallacy, tapi mau bagaimana lagi, pertimbangan yang berasal dari asumsi emosional belaka bukanlah teman yang baik bagi logika. So, just try to continue the life with it.

Hanya saja yang menjadi masalah, hidup ini penuh dengan persoalan ekonomi. Makan, minum, rumah, pakaian, internet, semuanya adalah benda-benda ekonomi. Oleh karena itu, mau tidak mau, suka tidak suka, hidup akan selalu memaksa manusia untuk menjadi mahluk ekonomi, Homo economicus. Alih-alih disebut sebagai Homo sapiens, kera yang bijaksana, manusia memang lebih layak dikatakan sebagai mahluk ekonomi karena manusia tidak selalu bijak dalam menjalani hidup, lihat saja semua pembunuhan dan peperangan yang telah dilakukan oleh manusia sejak awal zaman hingga kini, bukannya kebijaksanaan yang terlihat di sana, namun justru kecenderungan ekonomi yang menggerakkan manusia untuk menguasai sumber daya sebanyak-banyaknya.

Sejatinya, sebagai mahluk ekonomi, tak ada yang namanya kebaikan dan kejahatan dalam setiap perbuatan manusia. Ranah baik dan buruk itu hanyalah topik buatan para rohaniwan dan moralis. Dalam ekonomi, baik-buruk adalah topik yang tidak relevan karena kebaikan dan keburukan pada manusia secara ekonomi ditentukan oleh insentif yang mereka dapatkan jika melakukan suatu perbuatan. Manusia selalu dapat dimanipulasi asalkan motif ekonominya diketahui. Jika suatu perbuatan A diberi insentif 100, sedangkan suatu perbuatan B diberikan insentif 10, sudah jelas manusia akan memilih melakukan perbuatan A. Jika suatu perbuatan A diberi hukuman cambuk sedangkan perbuatan B diberi hadiah uang, maka manusia akan lebih memilih melakukan perbuatan B. Memang tidak semua manusia mengikuti pola seperti ini, terkadang terdapat anomali, namun hal tersebut dapat diabaikan karena jumlahnya sangat kecil. Nah, di celah insentif ini lah agama memainkan peran dalam memanipulasi perilaku manusia atau behavioral engineering, melalui konsep dosa dan pahala, surga dan neraka. Agama mengarahkan manusia untuk melakukan suatu perbuatan dengan iming-iming surga lalu melarang dilakukannya perbuatan lain dengan ancaman neraka, dan manipulasi perilaku ini sangat efektif dalam menggerakkan manusia selama ribuan tahun lamanya. Agama selalu berhasil dijadikan sebagai topeng untuk menutupi motif ekonomi.

Kekuatan agama dalam memanipulasi perilaku manusia sampai pada tataran di mana manusia dapat mempercayai semua hal imajinatif sebagai sesuatu yang nyata.
Bayangkan, jika ada yang mengatakan padamu bahwa terdapat teko yang melayang-layang di antara planet Bumi dan Mars, dan teko tersebut begitu unik sehingga tidak dapat dilihat oleh mata dan teleskop biasa serta karena keunikannya, maka teko tersebut dengan sendirinya ada di sana tanpa ada yang menciptakannya. Apakah kamu dapat mempercayai keberadaan teko imajinatif tersebut? Mungkin sulit untuk mempercayai adanya benda seperti itu di luar sana, tapi bagaimana jika hal tersebut telah diucapkan berulang-ulang selama 2000 tahun oleh nenek moyang, pemerintah, guru-guru, orang tua, dan temanmu?

Saya yakin, saat membaca hal ini, orang-orang akan berpikir bahwa saya adalah seorang atheis. Terserah apa yang orang katakan tentang saya, itu tidak terlalu berpengaruh pada kehidupanku. Kisah teko tersebut hanyalah sebuah parabel yang diciptakan oleh Bertrand Russel untuk menyatakan bahwa sebenarnya Tuhan tidak ada bedanya dengan teko imajinatif yang bisa jadi ada di luar sana atau malah tak ada sama sekali karena belum pernah ada bukti langsung yang menunjukkan keberadaannya selain klaim sepihak dari orang-orang yang mempercayainya. Tapi menurut saya, parabel tersebut hanyalah satu cara untuk memicu kekritisan berpikir.

Apakah dasar dari suatu keyakinan? Thomas Aquinas menggunakan 5 argumen sebagai dasar untuk menyatakan keyakinannya pada Tuhan.

Argumen pertamanya, The Unmoved Mover. Tidak ada gerakan yang dapat timbul tanpa adanya penggerak pertama. Dan satu-satunya yang dapat menjadi penggerak pertama adalah sesuatu yang disebut Tuhan.
Argumen kedua adalah The Uncaused Cause. Tidak ada sesuatu yang dapat timbul dengan sendirinya. Setiap akibat pasti memiliki sebab. Dan satu-satunya yang dapat menjadi penyebab pertama atas segala sesuatu adalah Tuhan.
Argumen ketiganya disebut The Cosntological Argument. Isi argumen ini adalah ada suatu waktu ketika tidak ada satupun benda fisik yang ada di semesta ini. Namun karena saat ini sudah ada benda fisik, maka pasti ada sesuatu yang bersifat non-fisik yang membawa keberadaan semua benda fisik yang ada di semesta ini dan sesuatu tersebut adalah Tuhan.
Sebetulnya masih ada lagi argumen keempat dan kelima tapi intinya, semua argumen itu mirip. Tuhan adalah sumber segalanya. Kebaikan, kejahatan, semuanya berasal dari Tuhan.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...