Kamis, 31 Desember 2015

Kamis, 31 Desember 2015: Lifelong Learning

Rasanya saya sedang dalam tahap membunuh kompetensi di sini. Sudah 7 bulan saya tidak update ilmu terbaru secara formal melalui seminar atau workshop. Saya sudah hampir lupa bagaimana caranya jadi dokter yang baik dan benar. Bahkan, saya sering bertanya pada diriku sendiri, "apakah saya ini betul-betul seorang dokter?". Memang sih, selama bertugas di pulau sangat terpencil ini, saya selalu dikunjungi sekitar 300 pasien dalam satu bulan, baik itu datangnya lewat poli umum, rawat inap, maupun kunjungan door-to-door, dan terkadang jumlah tersebut dapat meningkat hingga 400 pasien jika sedang peak season seperti saat pancaroba atau musim hujan. Hanya saja, mayoritas pasien yang berkunjung adalah para penderita ISPA, diare, dan gastritis akibat ketidakmampuan pasien dalam menjaga higienitas serta pola makan yang terlampau unik. Orang sini sangat suka makan ikan mentah yang dicampur dengan cabe, cuka, dan gula aren. Belum lagi fasilitas dan obat-obatan di fasilitas kesehata yang kutempati sangat terbatas. Epinephrine dan ISDN saja tidak ada. Entah bagaimana kalau nanti ada pasien syok anafilaktik atau angina pectoris datang ke sini. I don't want to imagine it.

Singkatnya, ilmuku dalam mendiagnosis dan tatalaksana terhadap penyakit lain betul-betul anjlok hingga menyentuh titik nadir atau malah sudah mati. Apalagi begitu sulit untuk menemukan buku-buku kedokteran di tempat terpencil seperti ini. Buku teka-teki silang saja sulit didapatkan. Ditambah lagi sinyal susah dan listrik tak ada. Beginilah nasib sebagai manusia yang hidup di perbatasan negara. Seminar dan workshop kedokteran lebih sering diadakan di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, atau Medan yang artinya saya harus menempuh perjalanan jauh untuk ke sana dengan biaya transportasi dan akomodasi yang dapat melonjak kapanpun. Belum lagi biaya pendaftaran seminar seringkali gila-gilaan. Memang sih ilmu itu mahal tapi dengan kondisi spasial dan keuanganku yang seperti sekarang ini, rasanya sulit untuk mengikuti kegiatan seminar dan workshop di tempat yang jauh.
Masalah utamanya adalah dalam profesiku, memperbarui ilmu adalah sebuah kewajiban. Untuk memperpanjang izin profesi, harus ada bukti bahwa saya senantiasa melakukan pengembangan keilmua yang bernama SKP atau Satuan Kredit Profesi.

Sebenarnya mengejar ilmu adalah hal yang menyenangkan, saya sungguh menyukainya. Hanya saja, untuk melakukan hal tersebut ada sumber daya yang harus dikorbankan, ada faktor geografis dan fasilitas yang perlu dipertimbangkan. Akan menjadi hal yang bagus apabila ternyata sumber daya yang dikorbankan sepadan dengan hasil yang didapatkan. Namun terkadang dunia tidak bekerja dalam simetri seperti itu. Air susu tidak selalu dibalas dengan air susu karena itulah lahir ungkapan air susu dibalas dengan air tuba. Saya yakin ungkapan itu lahir dari kisah nyata.

Saya berharap dapat mempelajari berbagai ilmu dan keahlian baru bukan sebab tuntutan SKP namun karena saya benar-benar menyukainya.

We'll see.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...