Rabu, 02 Desember 2015

Rabu, 3 Desember 2015: Boredom Gene

Pada tahun 1872, para peneliti asal Inggris melakukan ekspedisi menggunakan kapal HMS Challenger. Setelah 3 setengah tahun melakukan rutinitas berlayar, mengambil sampel air, menangkap ikan, dan mengambil sedimen lumpur sejauh 70.000 mil nautical, banyak kru penelitian yang terlihat mengalami gangguan kejiwaan. Dengan total 260 kru, satu dari empat kru sudah pernah melompat dari kapal, serta lebih dari 8 orang menjadi gila atau mati, mungkin karena menjalani rutinitas yang terlalu membosankan. Untungnya, perjalanan tersebut tidak sia-sia karena mereka menemukan lebih dari 4.700 spesies laut baru dan mereka pun berhasil menyusun laporan yang terdiri atas 50 volume, meskipun penyusunan ini membutuhkan waktu sekitar 19 tahun, pada akhirnya, laporan ini menjadi cikal bakal lahirnya ilmu baru yang disebut oceanography atau oseanografi.

Saya bisa mengerti mengapa para peneliti tersebut mengalami frustasi. Berada di lautan selama tiga tahun setengah saya rasa bukanlah pengalaman yang terlalu menyenangkan. Jauh dari keluarga dan kampung halaman, hanya berteman dengan kru kapal yang kemungkinan besar tidak semuanya memiliki karakter yang cocok, dan pastinya minim hiburan. Apalagi di abad ke-19, belum ada internet maupun televisi. Entah apa yang mereka lakukan untuk membunuh kejenuhan.

Meskipun terpaut oleh perbedaan dimensi ruang dan waktu, saya bisa mengerti penderitaan yang dialami oleh para peneliti HMS Challenger. Saya rasa, kebosanan, kejenuhan, ataupun kejemuan adalah sifat dasar manusia yang tak akan mungkin dapat punah. Itu seperti sudah terinjeksi dalam gen manusia, yang diwariskan di tiap generasi, tanpa mengenal ras ataupun suku bangsa. Apakah hewan dan tumbuhan juga dapat merasakan bosan yang sama dengan manusia? Maksudku, apakah ayam tidak pernah bosan melakukan rutinitas berkokok, makan, dan tidur yang sama tiap hari? Apakah ayam tidak pernah berencana untuk mengubah style berkokoknya agar satu oktaf lebih tinggi, mencoba makan di piring dengan sendok dan garpu, atau tidur di spring bed? Begitu juga dengan tumbuhan, apakah mereka tidak bosan tumbuh di tempat yang itu-itu saja, dari sejak bibit hingga 100 tahun?
Bisa jadi, hewan dan tumbuhan memang tak pernah bosan. Gen bosan mereka cenderung lethal, sehingga lebih dulu mati sebelum sempat diwariskan. Sedangkan gen bosan manusia mungkin bersifat protektif dalam proses evolusi. Bisa jadi, manusia justru lebih cepat mati jika tak memiliki gen bosan. Tapi entah di lokus kromosom mana gen bosan itu terletak. Sepertinya belum ada peneliti yang tertarik untuk mencarinya.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...