Senin, 07 Desember 2015

Senin, 7 Desember 2015: Tourment

Beberapa waktu yang lalu saat ke Baa, ibukota Kabupaten Rote Ndao, seorang kawan lama di SMP mengirimkan pesan elektronik. Tumben, pikirku. Setelah bertahun-tahun, kenapa baru sekarang. Jarang sekali ada teman pra-kuliah yang masih ingat dengan saya karena, most of time, saya yang lupa sama mereka sehingga efek resiprokalnya, mereka juga melupakan saya. Mungkin saja teman masa SMP ini sedang mengalami anomali. Ya, anomali kadang menjadi latar belakang ketika kawan yang lama tak ada kabar, tiba-tiba menyapa. Terkadang anomali itu berbentuk tawaran MLM (tawaran untuk bisa mendapatkan banyak penghasilan hanya dengan merekrut banyak downline terdengar begitu menggiurkan. Apalagi ada beberapa teman yang sudah membuktikannya. Tapi untuk sementara, I'll pass), minta bantuan supaya bisa melobi petinggi agar bisa memasukkan kenalannya ke Fakultas Kedokteran (Seolah-olah saya ini orang ternama yang punya banyak link ke pejabat kampus. Padahal saya saja jarang ketemu dekan), terkadang dia datang dalam permintaan menjadi joki di SNMPTN (30 juta bayarannya tapi dengan resiko masuk penjara, yang pastinya wajib ditolak), atau malah berbentuk permohonan agar balik ke mantan (sayangnya, saya belum pernah mengalami ini. Hanya kisah pinjaman dari pihak lain). Tapi ternyata, teman lama ini tidak memiliki anomali-anomali tersebut. Sepertinya dia mengirimkan pesan karena pure curiosity. Setelah beberapa kali berbalas pesan, saya tak menemukan tawaran MLM dan lain-lain. Benar-benar hanya mau menanyakan kabarku. Meskipun saya merasa kalau ini justru lebih aneh dari semua anomali-anomali tadi, saya tetap meladeni obrolannya dengan mode percakapan konvensional (padahal sebenarnya saya lebih suka menggunakan mode tempur sarkas kalau sedang berbalas pesan elektronik). Hal itu saya lakukan karena alasan formalitas untuk menjaga suasana percakapan agar tetap netral. Kalau tidak terkontrol seperti itu, takutnya, sarkasku kambuh dan itu akan melukai perasaannya.

Singkat cerita, kami bercakap-cakap tanpa arah dan tujuan yang jelas. Diawali dengan nostalgia masa pra-labil yang kemudian merayap ke topik-topik trivial hingga mengawang-awang ke dialog filosofis imajiner. Saya sampai tak mengerti dengan apa yang sedang saya bicarakan.

Sampai kemudian pembicaraan beralih ke bahasan kekinian tentang apa yang sedang kami lakukan dalam hidup ini. Dia menceritakan kisah hidupnya yang sekarang telah berlabuh di Jawa setelah sebelumnya merantau di Kalimantan. Saat ini dia menjadi karyawan di sebuah pabrik penghasil ban karet dan dia merasa cukup bahagia dengan hidupnya meskipun kadang kerinduan pada kampung halaman membuatnya menitikkan air mata. Mungkin saja dia menangis ketika sedang mengetik hal tersebut. Itu hanya dugaan karena dia langsung mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan keadaan hidupku.

Saya pun menceritakan hal-hal yang sudah saya lakukan dalam hidupku. Karena merasa hal yang saya lakukan terlalu sedikit, saya pun menceritakan padanya beberapa hal yang ingin saya lakukan tapi tak pernah kulakukan. Dan ternyata, daftarnya lebih panjang dari hal-hal yang telah kulakukan. Silly me.

Saat mengatakan bahwa saya sekarang bertugas di Pulau Ndao, di wilayah paling Selatan Indonesia, dia terkejut. Mengapa kamu pergi ke tempat sejauh itu, tanyanya. Saya bingung mau jawab apa. Mau bilang terpaksa, saya sendiri yang memilih untuk tugas di daerah perbatasan. Mau jawab karena alasan pengabdian, rasanya itu terlalu klise. Rasanya pertanyaan seperti itu benar-benar terlalu berat untuk orang sepertiku.

Mengapa saya mau bersusah-susah datang ke tempat yang antah berantah seperti ini ya? Padahal ada lebih dari tujuh belas ribu pulau di negara ini, mengapa harus di Ndao yang terpencil ini, saya terdampar?
Tapi kemudian saya teringat dengan kalimat Herman Melville, di buku Moby Dick, yang dialamatkan untuk para pengelana di segala epos dan meridian bumi: “I am tormented with an everlasting itch for things remote. I love to sail forbidden seas".
Mungkin saja, saya hanya merasa penasaran dengan tempat-tempat terpencil.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...