Sabtu, 27 Juni 2015

Sabtu, 30 Mei 2015

00.29 Di tengah malam buta.

Bulan separuh merefleksikan cahaya di berbagai penjuru dan menembus jiwa-jiwa Ndao yang terlelap. Babi-babi dan kambing berbaring pulas ddi ladang-ladang kosong, bermandikan cahaya keperakan bulan setelah seharian menerobos ladang warga, menghabisi dedaunan di sana, lalu meninggalkan jejak tinja di mana-mana. Saya dapat melihat tinja-tinja itu bertebaran di jalan depan PKM di bawah kelembutan cahaya bulan. Tak ada lagi yang berbentuk utuh karena telah terinjak oleh kaki-kaki Ndao yang seringkali tak beralas.

Rasanya percuma mendeklarasikan kampung Stop Buang Air Besar Sembarangan kalau hewan-hewan ternak dibiarkan berkeliaran terus seperti ini. Manusia mungkin sudah buang air besar di jamban, namun untuk memutuskan rantai vektor infeksi rasanya nyaris mustahil.

Orang-orang tampak masih mete di rumah duka, menjalankan tradisi begadang di rumah almarhumah Oma Ruth yang baru saja wafat akibat stroke. Hanya saja malam ini lebih sunyi dari malam-malam kemarin. Tidak ada lagi suara musik dan dentuman gong yang bergema hingga subuh. Entah apa yang terjadi di sana. Mungkin mereka mulai lelah atau solar genzet mulai habis.

Memandangi bulan malam ini saya langsung teringat dengan potongan adegan di 1Q84. Saya jadi berpikir, bagaimana jika tiba-tiba terlihat juga 2 bulan di Ndao, seperti yang dilihat oleh Tengo dan Aomame. Apakah mungkin Little People akan hadir juga melalui mulut kambing atau babi yang baru saja disembelih hari ini? Akhir novel itu masih menggantung.

Kemarin saya baru saja menyelesaikan novel City at The World’s End karangan Edward Moore Hamilton. Itu merupakan sebuah novel scifi distopia yang menceritakan tentang sebuah kota kecil Middletown yang terlempar ke masa depan setelah terkena ledakan bom superatom hidrogen. Bukannya menghancurkan, bom tersebut justru melengkungkan dimensi ruang dan waktu hingga menciptakan lorong waktu di kota itu.

Meskipun memiliki banyak flop, novel ini lumayan imajinatif dalam mengisahkan petualangannya di luar angkasa meskipun saat novel ini dipublikasikan di tahun 1951, belum ada satupun manusia yang menuju bulan. Flop seperti manusia yang tidak butuh alat napas bantuan saat di luar angkasa, dapat tertutupi oleh imajinasi menghidupkan kembali inti bumi. Sungguh hebat untuk imajinasi seorang manusia yang belum pernah melihat roket meluncur ke luar angkasa.

Jumat, 26 Juni 2015


Hari ini untuk pertama kalinya saya potong ayam. Langsung 2 ekor. Rasanya sadis. Betapa kejamnya manusia. Demi bertahan hidup, mereka harus membunuh mahluk lain.

Jumat, 26 Juni 2015

Rabu, 24 Juni 2015

Sudah lama tidak menulis.
Ada kendala nonteknis. Listrik sulit. Baru sempat charge ponsel tadi siang, meskipun hanya 64%. Sampai sekarang, masih ada bagian otakku yang tak mampu mencerna keminiman landmark zaman peradaban modern dalam hidupku meskipun saya sudah menjalaninya selama 2 bulan. Mereka berteriak dalam hening, apa yang kau lakukan di sini. Listrik nihil, sinyal sulit, jauh dari peradaban, mengapa kau harus ke sini, masih banyak hamparan bumi yang lain, masih banyak kehidupan yang lain. Jauh dari rumah, keluarga, dan teman-teman dekat, journey to the uncertainty. Karena diteriakkan dalam keheningan, maka jawaban yang datang hanyalah bisu. Sepertinya ada juga sepotong diriku yang mati rasa dan tak peduli lagi pada apapun. Mereka setiap saat berbisik, whatever happen, happen. Dan potongan inilah yang nampaknya lebih banyak mendominasi keseharianku saat ini.
Oh ya, saya baru gunting rambut. Sisa kumis dan brewok yang belum.

Ada lagi warga meninggal. Seorang oma berusia 98 tahun. Dua minggu lalu saya mengunjunginya dan oma itu mengalami candidasis oral dan susp. tumor colli. Ada benjolan pada daerah leher yang telah membesar hingga ke daerah telinga. Entah itu tumor jinak atau ganas, sulit untuk memastikannya karena kita butuh sarana biopsi. Yang pasti, saat itu Oma kesulitan menelan dan benjolannya membesar dengan cepat. Sehingga dugaanku, itu adalah tumor ganas atau kanker. Untuk kondisi seperti itu, sebenarnya oma harus dirujuk ke Rumah Sakit yang berfasilitas lebih lengkap. Tapi Ndao jauh dari mana-mana, jauh dari peradaban. Untuk merujuk pun, harus dibawa ke RSUD Ba'a, sedangkan di sana hanya ada dokter spesialis mata dan patologi klinik. Tak ada dokter spesialis THT ataupun bedah. Lagipula untuk merujuk, butuh biaya transportasi laut-darat dan pasien dalam kondisi tidak stabil untuk perjalanan laut. Jadi, pasien hanya di-home care saja dengan fasilitas dan obat seadanya sambil berharap datangnya keajaiban.

Tapi keajaiban itu tak datang. Pada akhirnya Oma itu meninggal di usia nyaris seabad.

Kematian meskipun merupakan peristiwa yang sifatnya pasti dan akan dialami oleh semua orang, tapi tetap saja, sulit untuk diterima oleh manusia begitu ajal datang menyapa. Dia seperti petugas penarik pajak, yang tidak diharapkan kedatangannya, namun tanpanya, negara tidak dapat berjalan dengan semestinya. Maksudku, kematian itu seperti mekanisme alam untuk memastikan bumi dan manusia tetap lestari. Bayangkan saja jika tak ada satupun manusia yang mati sejak zaman dulu kala. Dunia yang kita huni mungkin tak akan lagi sama. Selalu ada makna dibalik peristiwa meskipun makna itu kadang atau justru seringkali dipaksakan agar manusia dapat memahaminya. Karena ada banyak peristiwa yang terjadi di luar nalar kekinian, mungkin butuh teknologi masa depan untuk dapat menalarinya. Sambil menunggu datangnya teknologi itu, maka manusia hanya bisa mereka-reka, menebak, mengapa dan bagaimana suatu peristiwa dapat terjadi. Saya tidak bermaksud untuk menjadi mahluk filosofis dalam tulisan ini meskipun saya punya kesempatan dan hak untuk melakukannya di semesta tulisan.

Ini salah satu contoh tulisan flight of ideas. Anggap saja saya  sedang terlarut, seperti gula dalam secangkir air panas ketika sedang menulisnya.

Kamis, 25 Juni 2015

Jumat, 29 Mei 2015

Jam 6 pagi. Saya mendengar lagi satu kabar kematian. Seorang ibu berusia 50-an tahun meninggal setelah menderita penyakit TBC yang cukup berat. Padahal pada pukul 23.00 di tanggal 28 Mei 2015 (semalam), saya dan Ebid baru saja melakukan kunjungan home care ke rumah pasien tersebut. Kami mengunjunginya di tengah malam buta setelah anak pasien mengetuk pintu kamar kami dan mengatakan infus pasien macet. Saat home care, selang infus pasien sudah lepas dari abocath, bekuan darah tampak di ujung aboucath dan botol infus pasien telah kosong. Awalnya kami berniat untuk memasang lagi infus baru, namun kami melihat pasien sudah tidak sesak lagi dan bisa berbicara dengan lancar dalam bahasa daerah. Selain itu menurut pengakuan keluarga, pasien sudah tidak muntah lagi dan kuat makan serta sesaknya mulai berkurang sehingga kami tidak lagi memasang infus. kami hanya menginformasikan hasil pemeriksaan sputum pasien, rencana pemberian OAT, serta memberikan konseling nutrisi mengenai cara pemberian makan agar pasien tidak muntah lagi dan konseling sanitasi mengenai pentingnya jendela rumah yang dapat diterobos cahaya matahari agar dapat membunuh kuman TB.

Sebelumnya pasien telah dipasangi infus selama 2 hari karena pasien sangat kurus, sesak, tidak mau makan, dan sering mual serta muntah. Pasien tersebut telah mendapatkan antibiotik spektrum luas, beta agonis, penetral asam lambung, dan antimual. kami hanya bisa memberikan antibiotik spektrum luas karena di PKM tidak ada antituberkulosis. untuk mendapatkan antituberkulosis, pasien harus ke kota Ba'a di Pula Rote dan wajib ada hasil pemeriksaan BTA positif. Pewarnaan BTA tidak bisa dilakukan dilakukan di PKM karena tidak ada reagen Ziehl Nielsen, listrik, dan mikroskop. Analis kesehatan, Jur, sebenarnya sudah mengambil dan memfiksasi sputum sewaktu-pagi-sewaktu (SPS) pasien tersebut sejak 4 hari yang lalu. Slide sputumnya telah dikirim juga di Ba'a namun hasilnya baru diketahui sore kemarin (28/5/2015).

Meskipun kami sudah mengetahui hasilnya bahwa pasien postifi TBC sejak kemarin lewat SMS, tapi kami belum bisa mengganti antibiotik spektrum luas dengan obat antituberkulosis (OAT) karena obatnya baru bisa dikirimkan pada hari Senin, saat jadwal kapal dari Ba'a ke Ndao. Padahal, jika pasien dapat diperiksa sputumnya lebih cepat dan OAT tersedia, mungkin ceritanya bisa lain. Tapi kita hanya bisa berandai-andai, ajal ditentukan oleh yang Mahakuasa.

Sesehat apapun seorang manusia, tidak ada satupun yang punya kompetensi untuk hidup abadi.

Selasa, 23 Juni 2015

Kamis, 28 Mei 2015

Jam 4 subuh, 4 hari telah berlalu sejak tulisanku yang terakhir. Ada begitu banyak kejadian yang telah berlangsung beberapa hari terakhir ini.  Ingin rasanya menuliskan semuanya secara berurut sesuai runut kronologis. Namun, apa hendak dikata, Oppo dan Zenfone kehabisan daya karena 3 hari tidak diisi ulang. Hidup di daerah yang sulit listrik, sinyal, dan air tawar seperti di sini butuh kelihaian khusus dalam menangkap peluang. Sayangnya, dalam 3 hari terakhir ini, peluang untuk mengisi ulang baterai terkendala oleh jarak dan kedukaan. Faktor jarak adalah determinan absolut yang hanya bisa ditebas oleh tekad kuat untuk berjalan jauh mencari rumah yang memiliki genzet. Sedangkan faktor kedukaan adalah variabel tak terduga yang benar-benar sulit dikendalikan.

Mengapa kedukaan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi? Karena meskipun kita sudah memiliki tekad kuat untuk mencari genzet, pada akhirnya tekad itu dapat luluh jika jalur untuk menuju genzet, ternyata harus melewati rumah duka. Jadi, semenjak berada di Pulau Ndao, telah terjadi beberapa kali kematian.

Kematian pertama yang terjadi adalah kematian salah satu warga di Desa Ndao konon karena kanker mulut stadium lanjut, sudah mendapatkan perawatan di Kupang, namun karena tidak ada perubahan hingga keluarga memutuskan untuk merawatnya saja di kampung halaman. Namun pasien tidak pernah tampak datang ke PKM sejak kami berada di sini. Datang ke PKM pun sebenarnya kami ragu kalau pasien akan mendapatkan pelayanan yang optimal karena fasilitas sangat terbatas. Kematiannya terjadi ketika sedang berlangsung pesta pernikahan di desa yang sama. Ironis. Dan saat itu saya dan kawan-kawan sedang berada di pesta pernikahan.

Kematian kedua sebenarnya terjadi di Kupang, namun jenazahnya dibawa ke Ndao. Oma berusia 108 tahun dengan 8 anak, 46 cucu, 23 cicit, serta 2 buyut. Kematian yang tergolong wajar. Tidak banyak manusia yang mencapai usia hidup seperti itu.

Kematian ketiga terjadi lagi di Kupang. Seorang Oma juga, namun usianya baru separuh dari Oma yang kedua. Penyebab kematiannya adalah kanker rahim. Oma yang ini sempat dirawat di PKM selama 2 hari namun selanjutnya dirujuk karena kondisinya semakin memburuk. Jenazah Oma ini dibawa bersamaan dengan jenazah Oma yang pertama dari Kupang ke Ndao.

Kematian keempat, seorang Oma lagi. Tinggalnya bersebelahan dengan PKM. Oma yang ini tidak punya anak, sehingga dia hidup sendirian di rumah. Dia ditemukan sudah tidak sadarkan diri di kamar yang terkunci dari dalam oleh cucu saudarinya. Kami dipanggil untuk melihat kondisi Oma tersebut. Saat diperiksa, Oma tersebut memiliki indikasi terserang stroke hemoragik karena tekanan darahnya yang sangat tinggi, 210/110 mmHg, yang disertai penurunan GCS hingga ke skor. Kami tidak bisa melakukan apa-apa pada Oma ini karena kami keterbatasan alat dan obat. Kami hanya bisa memasang infus, memberikan antihipertensi sublingual, dan melakukan suction manual untuk mengeluarkan lendir yang menghalangi jalan napas serta injeksi nootropik vitamin B. Kami ingin melakukan perujukan namun kondisi pasien belum stabil, apalagi perjalanan yang ditempuh harus melewati selama 2-4 jam tergantung jenis kapal. Parahnya kapal laut hanya punya jadwal keberangkatan senin dan kamis pagi, sedangkan hari kejadiannya adalah Senin, 25/5/2015. Simalakama. Oma ini akhirnya meninggal tanpa bisa  dilakukan penanganan yang optimal di fasilitas yang lebih lengkap.

Kematian kelima, adalah yang menurutku paling miris. Karena pasiennya adalah neonatus berusia 2 hari. Dia dilahirkan oleh dukun saat kami datang dipanggil, kondisi berat bayi lahir rendah (BBLR) sekitar 2100gram, tali pusarnya dipotong pakai silet bekas, lalu potongan tali pusar sisanya diolesi dengan sirih pinang yang telah dikunyah. Parahnya, neonatus BBLR ini sudah dimandikan. Lengkap sudah penderitaan.

Disempurnakan lagi, ibu bayi baru bersalin untuk pertama kalinya ini, mengalami prolaps uteri pasca-salin. Rahim si ibu turun hingga keluar dari vagina. Kemungkinan besar saat bersalin ada yang mendorong perut ibut terlalu kuat sehingga organ pelvis seperti rahim juga ikut terdorong keluar. Ditambah lagi si ibu masuk kategori kekurangan energi kronik (KEK) sehingga kekuatan ligamen pengikat rahim mengalami penurunan yang dratis dan tidak kuat menahan tekanan intra-abdominal yang tinggi.

Semoga tidak ada lagi kematian yang tak wajar di tempat ini.

Sabtu, 20 Juni 2015

Gravitasi, KLL

In a lecture that Einstein gave in Kyoto in December of 1922, he told the paudience that one day he was sitting in a chair at the patent office in Bern when, suddenly, a thought came to his mind. If someone fell from the roof of a house, he wouldn’t feel his weight. He wouldn’t feel gravity. That was “the happiest thought of my life,” he said.

Saat jatuh, kita tidak lagi merasakan gravitasi. Semua beban di dunia rasanya terlepas. Saya pernah mengalami hal ini, saat tertabrak motor di usia 3 tahun. Entah mengapa memori saat saya melayang sesaat setelah tertabrak motor masih teringat jelas di pikiranku. Saat itu lebaran idul fitri dan saya beserta keluarga hendak berkunjung ke rumah nenek. Ketika menyeberang jalan, saya berlari dan di momen yang sama, sebuah motor melaju di jalur yang hendak saya seberangi. Dan terjadilah peristiwa fisika di situ. Dua buah massa dengan kecepatan berbeda saling bertubrukan yang menghasilkan campuran antara rasa ngeri dan takjub yang berkelebat jelas di otakku. Semuanya terjadi begitu cepat hingga saat menyentuh tanah, gravitasi kembali menunjukkan kuasanya. Saya kesakitan, menangis, dan pingsan lalu tersadar kembali begitu sampai di rumah sakit. Entah kenapa di usia 3 tahun saya sudah memiliki ingatan tentang berbagai film atau tayangan televisi. Saya pernah nonton tv tentang orang yang kecelakaan lalu saat sampai di rumah sakit, kaki orang itu diamputasi. Dan citra tayangan itu tiba-tiba saja muncul di otakku begitu saya melihat para wanita yang berbaju putih, tiang infus, dan brankar rumah sakit. Secara otomatis, otak 3 tahunku langsung mengenali tempat itu sebagai rumah sakit yang di dalamnya ada kemungkinan orang akan diamputasi kalau mengalami kecelakaan. Dan saya sepenuhnya tahu persisa kalau saya baru saja mengalami kecelakaan. Dan begitu menyadarinya, saya langsung meronta-ronta dan menangis. Orang-orang dewasa yang ada di rumah sakit mungkin berpikir bahwa saya meronta dan menangis karena kesakitan, padahal sebenarnya saya melakukannya karena ketakutan pada prosedur amputasi padahal kalau ditilik secara medis, ngapain mengamputasi pasien kalau tidak ada indikasi. Tapi mana ada pikiran seperti itu bisa timbul ketika usiamu masih 3 tahun. Rasa takutku pada amputasi melebihi rasa sakit yang menderaku. Mungkin saat itu otakku sudah agak rusak. Bukan karena hantaman dari kendaraan bermotor dan gravitasi tapi sudah terlanjur rusak karena tayangan televisi.

Syukurnya, efek kecelakaan itu tidak begitu hebat. Saya dipulangkan ke rumah oleh pihak rumah sakit. Mungkin karena saya terlampau liar mengamuk sampai pihak RS merasa lebih baik dipulangkan saja atau karena hal lain, entahlah...
Yang pasti saat itu, saya tidak sempat dirawat inap. Langsung dipulangkan. Selama di rumah, saya tidak bisa berjalan selama beberapa bulan. Saya menjalani rehabilitasi di rumah nenek secara mandiri dengan dibantu oleh keluarga sampai akhirnya saya bisa berjalan dan bahkan berlari lagi.

Sejak kejadian itu, saya jadi trauma kalau harus menyeberang jalan. Apabila ada jembatan penyeberangan yang masih terlihat mata, biarpun jaraknya 1-2 km, saya akan tetap menuju ke sana untuk bisa menyeberang ketimbang harus memotong jalan berjarak 5 meter yang penuh dengan seliweran kendaraan. Safety first.

Theory of Sadness

Tanpa adanya frame of reference yang lain, manusia selalu merasa sebagai orang paling bahagia di dunia ketika kebahagiaan datang dan merasa paling menderita sejagad saat kesedihan menghampiri. Tak ada obat permanen untuk kesedihan. Meskipun berkali-kali pernah merasa sedih, manusia tidak pernah bisa menguasai ilmu untuk menghindari kesedihan.

Jumat, 19 Juni 2015

Berbuka, 18 Juni 2015

Berbukalah dengan menghadapi pasien mabuk yang ruptur tendon non-koperatif, dilanjutkan dengan hidangan utama hecting 40 jahitan atau malah 100 jahitan, entahlah apa bedanya, semua hitungan jadi terlihat sama kalau sudah berada di kegelapan Puskesmas selama satu setengah jam dengan mata berakomodasi super maksimal, yang rasanya seperti 1000 tahun lamanya plus dessert teman-teman pasien yang maboknya sederajat dengan kuda yang baru saja menelan ganja satu ton yang ributnya dapat membangunkan beruang kutub di Siberia. Karena berbuka dengan yang manis terlalu mainstream, sedangkan berbuka dengan yang sayang, terlalu imajinatif.
Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian di atas adalah kalau mabok, jangan bawa kendaraan. Kalau kecelakaan, jangan ke PKM yang tidak ada listriknya, ke New York saja.

24 Mei 2015, Lagi-lagi

Entah apa yang terjadi hari ini , terlalu banyak pasien yang harus dikunjungi rumahhnya karena semua mengaku mengalami kegawatdaruratan dan tidak ke Puskesmas. Di tempat setenang ini yang penduduknya tidak sampai tiga ribuan orang, dua pasien saja yang mengeluhkan darurat sudah termasuk kategori hal luar biasa, apalagi kalau sampai lebih dari lima pasien yang mengeluh, ditambah lagi ada pasien yang hendak bersalin.

Rabu, 17 Juni 2015

24 Mei 2015

Sejak berada di sini, rasanya sistem pencernaanku menjadi terlalu lancar. Tiap hari di jam  yang hampir sama, saya harus melakukan ritual pagi di kamar berukuran 2x1 meter persegi. Saya jadi merasa bersalah karena urgensi ritual tersebut pada presisi waktu nyaris mengalahkan ritual ibadahku yang masih tentatif. Sulit rasanya untuk menahan panggilan alam. 

Sistem pencernaan yang terlalu lancar bisa jadi berasal dari faktor makanan yang terlalu lancar bisa jadi berasal dari faktor makanan yang terlalu berserat atau karena kerja bakteri merupakan hal yang paling berperan sebab di daerah pulau yang luasnya tidak sampai 20km persegi ini, sulit untuk menanam sayur  mayur sebab tanahnya didominasi oleh hamparan pasir sehingga hanya tanaman khas pantai saja yang dapat bertahan hidup di sini.

Mungkin telat untuk menceritakan hal ini, tapi tak apalah kalau dikisahkan hari ini. Toh, jalan hidupku bukanlah headline news yang wajib diwartakan pada hari, jam, dan detik yang aktual.

Senin, 15 Juni 2015

Jumat, 22 Mei 2015

Hari ini, saya berhasil menamatkan buku 1Q84 karangan Haruki Murakami. Buku tebal berbahasa Inggris itu akhirnya selesai juga setelah menghabiskan waktu sejak 26 Desember 2014 hingga 22 Mei 2015. Suatu periode membaca yang sangat lama. Ingin rasanya menceritakan ringkasan buku itu, tapi saya tidak ingin melanggar aturan spoiler. Jadi mungkin saya akan membahasnya saja dalam bentuk abstrak tanpa spoiler.

1Q84 merupakan suatu jenis buku yang sifatnya surealis metafisika. Ada dunia paralel di sana, ada pencarian terhadap Tuhan, ada psikologi Freud, ada Jung, ada pencarian jati diri, ada misteri yang sampai akhir novel tak juga terungkap. Membaca 1Q84 rasanya seperti membaca ringkasan novel Dostoevsky, Chekov, Tolstoy, dan novel-novel lain. Selain itu, Murakami sangat lihai dalam mengkonversi hal absurd menjadi hal yang tampak masuk akal.

Seperti keluarnya Little People dari mulut kambing dan Ushikawa, atau munculnya Air Chrysalis di tempat tidur ayah Tengo, atau bergentanyangannya isi pikiran ayah Tengo ke rumah Aomame,  Fuka-Eri, dan Ushikawa. Dan yang paling absurd, bagaimana bisa Aomame hamil lalu ada dua bulan muncul  di langit. Sungguh, absurd kalau dikaitkan dengan logika tapi terasa makes sense begitu dibaca. Bagaimana cara menjelaskannya dengan tepat ya? Pokoknya, ini seperti mendengarkan kebohongan dari seseorang yang kita sukai, yang kita tahu persis bahwa dia melakukannya untuk bercanda agar kita semua tertawa. Kita tahu bahwa itu bohong, namun kita justru menyukainya. Padahal, basic instinct atau naluri dasar manusia cenderung membenci kebohongan dan penyimpangan sehingga manusia harus menciptakan banyak institusi seperti kehakiman, kepolisian, dan badan-badan lain yang mengharuskan kita untuk membaca kitab undang-undang.

Akhirnya, silakan baca saja buku ini. 

p.s.: Salah satu tulisan titipan si empunya blog yang dikirim via sms tanpa ada singkatan satu kata pun. Saya ulangi; dikirim via sms tanpa ada singkatan satu kata pun. Bisa dibayangkan, sebesar apa jempolnya sekarang.
p.s.s.: Dikirim di pinggir pantai sambil memandangi langit.
p.s.s.s.: Ini diposting setelah saya diteror berkali-kali dengan pertanyaan “Bagaimana blog?” “Update blogku”

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut