Senin, 31 Agustus 2015

Senin, 31 Agustus 2015: Energy

“I keep thinking of what they told us in school about the sun losing energy, growing colder each year. I remember wondering, then, what it would be like in the last days of the world. I think it would be ... like this. Growing colder and things stopping.”

“I never believed that story. I thought by the time the sun was exhausted, men would find a substitute.”
-Ayn Rand, Atlas Shrugged-

Mungkin tidak terlalu banyak orang di muka bumi ini yang pernah berpikir tentang apa jadinya bumi jika matahari sudah sampai masa kadaluwarsa-nya. Masa itu memang terasa masih jauh jika dipikirkan sekarang. Apalagi akhir-akhir ini matahari menyengat dengan kegarangan yang ekstra-panas sehingga pikiran tentang berakhirnya reaksi fusi nuklir di matahari sepertinya terkesan sebagai dongeng belaka.

Saya bukan fisikawan termonuklir, bahkan untuk jadi fisikawan saja, nampaknya mustahil. Namun tanpa menjadi keduanya pun, saya dapat merasakan bahwa matahari yang kita lihat saat ini, yang menyinari bumi tanpa pernah absen sehari pun selama di khatulistiwa, pasti memiliki ajal. Entah kapan ajal itu datang, hanya matahari dan penciptanya yang tahu. Yang menjadi pertanyaan adalah ketika masa itu tiba, masih adakah manusia yang akan menyaksikannya?

Dalam novel City at World's End, Edward Moore Hamilton memberikan sebuah kisah distopia tentang masa depan bumi ketika matahari telah menjadi bintang merah raksasa ketika mulai kehabisan energi. Bumi menjadi terlalu dingin untuk dihuni sehingga manusia harus diungsikan ke galaksi lain. Namun ada sekelompok manusia yang berkeras untuk tetap bertahan di bumi. Mereka melakukan segala upaya agar bumi tetap dapat dihuni. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan panas dari inti bumi. Akhir kisah tersebut tidak penting untuk dibahas. Yang patut dijadikan sorotan dalam kisah tersebut adalah semangat bertahan hidup manusia. Mungkin Hamilton termasuk orang yang begitu mengagumi semangat hidup manusia sepertihalnya Ayn Rand. Sesulit apapun keadaan, manusia akan selalu mencari jalan untuk dapat bertahan hidup. Bahkan mungkin ketika matahari mulai redup, bisa jadi manusia akan terus hidup melebihi umur mentari.

Tapi itu hanyalah kisah fiktif yang berasal dari imajinasi penulis. Karena jika menilik ke belakang melalui dokumen sejarah, kita dapat menyaksikan bahwa manusia sedang dalam tahap penghancuran dirinya sendiri. Entah disadari atau tidak, manusia saat ini sedang merusak faktor-faktor yang sebenarnya berperan dalam menjaga kelangsungan hidup mereka. Hutan, laut, udara, telah dirusak oleh produk buangan manusia. Saya tidak bermaksud menjadi enviromentalis atau bersikap hipokrit karena saya menyadari bahwa saya sendiri secara langsung dan tidak langsung turut ambil bagian dalam proses pengrusakan tersebut.

Entah apa solusi terbaik untuk dapat mempertahankan kelestarian umat manusia di muka bumi ini. Karena selalu ada dilema dalam upaya tersebut. Untuk setiap 10 manusia yang hidup, selalu akan ada 10 tumbuhan dan hewan yang dikorbankan.

Minggu, 30 Agustus 2015

Pria dan Dompetnya

-Put-

Hari ini saya membongkar kembali barang-barang milik kakak untuk mencari dompet yang menjadi kado ulangtahun dariku saat dia memasuki usia 22 tahun, kalau tidak salah. Saya memutuskan untuk memberinya dompet karena pada saat itu kondisi dompet yang sedang dia gunakan lebih memprihatinkan daripada persediaan makananku saat memasuki tanggal tua.

Sayang, ternyata kakak bukanlah wanita (karena dia memang bukan wanita) yang membutuhkan baju baru saat merasa baju yang dimilikinya tidak lagi menarik. Dompet pemberianku tidak pernah digunakan, dan dia tetap memilih untuk memakai dompet buluknya. Akhirnya daripada dompet itu kehilangan fungsinya, saya memutuskan untuk menghibahkannya ke kakak yang lain.

Saat mencari dompet itu, ternyata saya mendapatkan 2 dompet lain yang juga sepertinya merupakan kado ulang tahun. Saya tertawa. Mendapat kado dompet sebanyak 3 kali seharusnya sudah bisa membuat dia sadar kalau dompet yang sedang dia pakai sebenarnya sudah layak untuk dimuseumkan.

Tapi apalah daya. 

Sekarang saya percaya kalau kalimat “pria itu makhluk paling tidak peka” yang sering diucapkan wanita bukanlah mitos semata.

Sabtu, 29 Agustus 2015

Sabtu, 29 Agustus 2015: Lunatic

Kalau dipikir-pikir, melihat bulan purnama seperti yang kulakan saat ini, adalah salah satu momen alam yang langka. Purnama hanya dapat ditemukan sebanyak 12 kali dalam setahun. Memang itu belumlah ada apa-apanya jika dibandingkan dengan menanti datangnya komet Halley yang mampirnya sampai butuh waktu 76 tahun sekali. Tidak semua manusia yang pernah menghuni bumi ini dapat melihat komet Halley. Bahkan seorang Nuh yang konon katanya punya umur sampai 600 tahun pun, mungkin hanya punya kesempatan melihat Halley sebanyak 7 kali. Sehingga saya tak ingin melewatkan kesempatan melihat purnama walaupun hanya sekali. Di usiaku yang sudah seperempat abad lebih lima bulan dua hari ini, semestinya saya sudah melihat 305 purnama. Tapi sepertinya, pengalaman mentalku tidak sampai merekam memori sebanyak itu. Terlalu banyak momen purnama yang kulewati dengan ketidakpedulian pada pekatnya malam atau ketidaksengajaan terkurung di ruangan tertutup.

Purnama yang kulihat malam ini bisa jadi merupakan benda yang sama dengan yang dilihat oleh nenek moyangku dulu ribuan tahun yang lalu. Apakah mereka merasakan kekaguman yang sama ketika mendongakkan kepala ke angkasa malam? Atau hanya saya saja yang.merasakan sentimen seperti itu?

Ada kisah yang menyebutkan bahwa di Inggris masa lalu, sering ditemukan banyak orang yang menjadi gila ketika bulan purnama. Karena itu timbul istilah "lunatic" untuk mengatakan jenis kegilaan itu. Saat itu, orang yang melakukan hal-hal gila yang melanggar hukum di malam bulan purnama tidak ditangkap.

Selasa, 25 Agustus 2015

Selasa, 25 Agustus 2015: Pursuit of Happiness

Beberapa hari ini ada sesuatu yang menggaduk-aduk sirkuit substansia alba dan substansia grisea yang menyusun serebrum dalam kraniumku. Tapi itu tak ada kaitannya dengan manajemen Puskesmas yang hingga saat ini masih seperti kapal pecah yang terhantam ombak. Tanggal 20 kemarin memang ada monev dari Dinkes Kabupaten yang memaparkan banyak kekurangan di PKM kami tapi itu sama sekali tidak menyita banyak energi yang diserap oleh ileumku. Apa yang mengganggu pikiranku cenderung lebih konseptual dan abstrak. Mungkin bisa sedikit bergeser ke ranah metafisika agar kerja otakku bisa lebih berat. Hanya saja, metafisika tidak pernah menjadi bidang yang menarik perhatianku. Terlalu banyak perdebatan dan kontradiksi di sana. Apalagi standar ketuhanan yang digunakan dalam pembahasan literatur metafisika tak pernah sama.

Apa yang kupikirkan sebenarnya sederhana. Tentang kebahagiaan. Saat berada di kota, standar kebahagiaan yang ada dalam paradigmaku benar-benar tereduksi ke standar material yang terbatas pada kepemilikan uang, barang mewah, dan ketenaran. Sepertinya mayoritas orang yang hidup di kota terinfeksi oleh paradigma yang sama. Jargon hiperrealis material yang ditembakkan oleh media massa ke otak para penduduk kota semakin memperkuat virulensi paradigma kebahagiaan yang disokong oleh benda-benda konsumtif dan prestise.

Tapi begitu sampai di sini, saya menemukan standar kebahagiaan yang berbeda. Jika uang, ketenaran, dan kepemilikan barang mewah yang jadi ambang batas bahagia, hampir semua masyarakat di sini masuk dalam kategori tak bahagia. Hanya saja, aura ketidakbahagiaan tidak pernah saya temukan pada masyarakat di sini. Sepertinya mereka masih bisa menikmati hidup meskipun uang mereka tak pernah bisa ditabung tiap bulan, walaupun tak memiliki mobil atau minimal televisi, biarpun tak ada satupun orang di luar NTT yang mengenal mereka. Salah satu nilai lebih di Pulau ini adalah solidaritas. Warga selalu saling tolong menolong dalam segala hal. Mulai dari membangun rumah hingga urusan kematian, semua warga pasti bekerja sama. Sehingga uang tak pernah menjadi masalah yang terlalu krusial bagi warga di sini.

Bisa jadi karena mereka terlalu lama terisolasi di pulau terpencil sehingga mereka tidak punya standar pembanding untuk melihat jenis kebahagiaan lain di luar kebahagiaan yang mereka rasakan selama ini. Seperti kata George Orwell dalam buku 1984, "The masses never revolt of their own accord, and they never revolt merely because they are oppressed. Indeed, so long as they are not permitted to have standards of comparison, they never even become aware that they are oppressed." Mereka tak pernah merasakan betapa mudahnya hidup dengan hanya memutar keran kita sudah bisa mendapatkan air, tak perlu lagi dipikul dari sumur. Mereka tak pernah tahu betapa menyenangkannya hidup dengan hanya memasang steker rice cooker kita sudah bisa menanak nasi, tak usah lagi mencari kayu bakar di hutan. Hanya saja, semua yang sifatnya elektronik, selalu ada biaya dibaliknya. Jika listrik dan BTS sinyal jadi dibangun di pulau ini, standar kebahagiaan di sini mungkin akan berubah. Akses informasi dan segala kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi elektronik bisa jadi akan mengubah tatanan masyarakat di pulau ini hingga ke akar-akarnya. Ada satu premis klasik yang menyatakan bahwa kemajuan teknologi akan membuat suatu peradaban menjadi lebih individualistik. Apakah Pulau Ndao akan jadi seperti itu? Entahlah. Kita lihat saja nanti.

Senin, 17 Agustus 2015

Selamat ulang tahun Indonesia... Maaf belum banyak yang dapat kuberikan untukmu.

Minggu, 9 Agustus 2015: Dirgahayu

Entahlah di tahun-tahun sebelumnya karena saya baru menginjakkan kaki di sini, tapi saya merasa kalau penyambutan kemerdekaan Indonesia di pulau ini begitu semarak. Aroma optimisme menyeruak di udara yang mengambang di pulau ini. Mungkin karena dermaga sudah rampung dan listrik tidak lama lagi akan menerangi pulau ini. Habis gelap terbitlah terang.

Minggu, 09 Agustus 2015

Minggu, 9 Agustus 2015: Perubahan

Selalu ada yang dikorbankan untuk setiap perubahan yang terjadi. Rasanya sedih melihat pohon-pohon ditebang untuk memancang tiang listrik di Ndao. Dan kesedihan itu juga terlihat pada wajah penduduk yang telah menanam pohon-pohon tersebut selama bertahun-tahun. Beberapa dari mereka malah menitikkan air mata. Shocking.
Tapi apa hendak dikata, jika tidak begitu, mungkin tidak akan berdiri tiang listrik di Ndao.

Sabtu, 08 Agustus 2015

29 Juli 2015: Anthem - Ayn Rand

Hari ini untuk pertama kalinya saya masuk Puskesmas setelah berlibur selama beberapa hari. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan selama liburan kemarin karena hampir semua waktuku habis di jok motor, berkeliling Kupang, terpapar sinar matahari, merasakan garangnya suhu di kota karang. Kupang begitu kering untuk ukuran sebuah ibukota provinsi, meskipun begitu, saya melihat banyak pohon cemara tumbuh di tempat tandus, di sepanjang jalan protokol kota tersebut. Untungnya, panasnya kota itu tidak disertai oleh kejadian yang bernama macet. Seandainya terjadi macet di siang bolong, entah apa jadinya diriku saat di atas motor. Mungkin tiap saat saya dapat berubah wujud menjadi ikan kering yang siap disantap dengan tumisan bawang, tomat, cabe, dan lumuran kecap. Yummy.

Saya juga sempat melakukan thawaf di semua mall di Kupang, mulai dari Mall Flobamor Ramayana, Mall Hypermart, dan yang teranyar, Mall Lippo. Dari semua mall tersebut, yang barangnya paling murah adalah Mall Ramayana, apalagi kalau menggunakan kartu anggota. Tapi yang paling ramah pelayanannya, menurut saya, adalah Mall Hypermart di bundaran eks-PU (karena dulu berdiri gedung PU di dekat bundaran tersebut). Perlu ditekankan di sini bahwa saya tidak di-endorse oleh mall manapun.

Karena jaringan internet di Kupang sangat kencang, saya sampai isi ulang kuota sebanyak 3 kali. Betul-betul menguras banyak isi rekening. Tapi itu sebanding dengan buku-buku yang saya unduh dari database Aldiko. Buku-buku novel klasik Proust hingga Gogol sudah ada dalam memori seluler. Untuk membacanya, saya hanya memerlukan sisa waktu dan baterei. Karena di Ndao, sulit untuk mendapatkan listrik.

Salah satu buku yang saya unduh adalah Anthem karya Aynd Rand atau Alisa Zinov'yevna Rosenbaum. Bagi orang awam, itu hanyalah nama nama yang aneh. Tapi bagi mereka yang mendalami filsafat dan sosiologi, Aynd Rand adalah salah satu raksasa yang mendirikan sistem filosofi yang disebut sebagai Objektivisme. Sistem filosofinya sangat mengajurkan rasionalitas individualisme dan kapitalisme laissez-faire. Tidak ada satupun negara atau institusi yang boleh mengganggu gugat kebebasan individu dalam menentukan jalan hidupnya. Dan pandangan ini tercermin jelas dalam buku Anthem.

Coba simak salah satu kutipan dalam buku tersebut:
"At first, man was enslaved by the gods. But he broke their chains. Then he was enslaved by the kings. But he broke their chains. He was enslaved by his birth, by his kin, by his race. But he broke their chains. He declared to all his brothers that a man has rights which neither god nor king nor other men can take away from him, no matter what their number, for his is the right of man, and there is no right on earth above this right. And he stood on the threshold of freedom for which the blood of the centuries behind him had been spilled."

Di Anthem, Aynd Rand menceritakan sebuah dunia di mana sosialisme dan komunisme absolut menguasai dunia. Semua sendi kehidupan dikuasai oleh negara. Benih-benih individualisme dimatikan sejak masa kelahiran seorang manusia. Negara yang menentukan pekerjaanmu, pakaianmu, pasangan hidupmu, dan bahkan akhir hidupmu. Tidak boleh ada kata ganti orang tunggal seperti "saya" dan "kamu". Hanya ada "kita" dan "mereka". Semua harus dilakukan atas dasar kolektivitas. Sungguh sebuah dunia yang mengerikan bagi ego.

Buku fiksi ini diterbitkan pada tahun 1938. Saat itu dunia sedang bersiap-siap menghadapi perang dunia kedua. Kekuatan dunia terpolarisasi menjadi kapitalisme dan komunisme. Aynd Rand yang merupakan keturunan Rusia, jelas-jelas sangat membenci komunisme yang tumbuh di negara nenek moyangnya. Mungkin karena itulah dia membuat buku Anthem.

Tokoh utama di Anthem, Equality 7-2521, merupakan sebuah anomali di dunia kolektif komunisme. Rand seperti ingin memberikan pesan bahwa sekuat apapun sebuah institusi dalam berupaya menekan ke-akuan atau individualisme, pada akhirnya akan tetap lahir orang-orang yang berjuang untuk mengembalikan eksistensi diri pribadi. Tak ada tempat Tuhan di dalam filosofi Objektivisme Rand. Hanya ada manusia dan kemerdekaannya.

Kalau sering-sering membaca karya Aynd Rand, seseorang yang tanpa dasar agama yang kokoh, kemungkinan besar dapat langsung berubah jadi atheis atau agnostik.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut