Senin, 19 Oktober 2015

Senin, 19 Oktober 2015

Saya tidak pernah berpikir kalau apa yang saya lakukan di sini, di perbatasan paling Selatan Indonesia, yang jauh dari listrik dan sinyal 3G sebagai suatu pekerjaan. Karena hidupku begitu damai, tenang, tentram, nyaris tanpa riak, dan sejahtera. Tapi semua berubah begitu monev menyerang.

Rabu, 14 Oktober 2015

Jumat, 29 Oktober 2015: Grown

Saya memiliki beberapa ingatan masa lalu yang selalu terbersit di saat yang tak tepat, di momen-momen yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan memori masa lalu yang pernah kualami. Seperti saat sedang berkendara, tiba-tiba saja ingatan keusilan masa TK berkelebat di kepalaku. Entah di mana korelasi antara berkendara dengan keusialan masa TK, kecuali saya sedang di jalan raya bersama geng motor, mungkin keterkaitannya masih dapat dijelaskan secara komprehensif karena masa TK-ku saya rasa cukup agresif untuk ukuran anak usia 4 tahun. Memangnya siapa anak usia 4 tahun tidak agresif? Yang menjadi masalah, ingatan tersebut muncul dalam bentuk citra buram bergerak seperti video dengan resolusi yang buruk, bukannya Blu-Ray atau Full HD tapi malah seperti 3GP atau FLV. Mungkin buruknya citra memori yang berkelebat di benakku lebih disebabkan oleh keenggananku untuk mengingat momen-momen masa lalu tersebut. Mengingat rinciannya justru membuatku harus memakai banyak sumber daya otak. Hanya saja, hal tersebut sulit terwujud karena entah bagaimana, momen yang tak ingin kuingat itu telah meninggalkan jejas yang begitu dalam di sinapsis otakku hingga terkadang fragmen memori yang seharusnya sudah terkubur bersama kumpulan ingatan bawah sadar lainnya justru menyeruak lalu mendobrak masuk ke zona alam sadar. Padahal itu adalah hal yang sangat terlarang dan menjengkelkan bagi seseorang yang terkadang dikendalikan oleh ilusi kontrol sepertiku.

Rasanya pasti asyik kalau bisa mengendalikan apa saja yang ingin kita ingat kemudian menghapus apa yang kita anggap tak berguna. Terlalu banyak hal yang ingin kuingat tapi tak bisa lagi kukembalikan ke memori, seperti rumus trigonometri, mekanika, pelajaran kuliah, buku novel yang pernah kubaca dan beberapa hal lainnya. Padahal saya telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk bisa memaksa mereka masuk ke dalam girus dan sulkus otakku. Saya jadi berpikir, untuk apa sebenarnya saya mempelajari trigonometri,membaca buku kuliah dan mengenali manusia-manusia lain di berbagai kota jika pada akhirnya hal-hal tersebut justru kulupakan.

Saya tak dapat lagi mengingat dengan detail wajah dan nama teman-temanku di masa TK, SD, SMP, hingga SMA. Bahkan teman kuliah pun, sudah mulai memudar dari ingatanku. Mungkin ini tanda-tanda penuaan.

Selasa, 13 Oktober 2015

Senin, 12 Oktober 2015: Dette

Dulu saya pikir, ketiadaan dana bukanlah penghalang untuk melakukan berbagai hal, termasuk salah satunya kegiatan di Puskesmas. Tapi sepertinya saya salah. Kegiatan di Puskesmas ini nyaris mati karena ketiadaan dana. Untungnya kegiatan kuratif masih berjalan baik, dengan jumlah kunjungan pasien rata-rata 400-an orang/bulan. Bulan lalu saja, saya harus menangani 421 pasien dengan berbagai jenis keluhan dan kondisi. Jadi selama 5 bulan di sini, sekitar 2000an pasien sudah datang ke Puskesmas, hampir mendekati jumlah penduduk di Pulau Ndao yang berjumlah 2800 orang.

Kegiatan pelaporan, promotif, dan promotif dijalankan ala kadarnya secara tersengal-sengal.
Setelah 5 bulan di sini, saya baru tahu jika hutang Puskesmas ini sudah melebihi jumlah pemasukan Puskesmas dalam 6 bulan. Remarkable.
Saking banyaknya hutang, kadang saat pasien datang, selain berobat, mereka juga menagih hutang. Sungguh suatu fenomena yang aneh. Meskipun hingga saat ini belum pernah ada satu pun pasien yang menagih langsung hutang Puskesmas ke saya, tapi teman-teman yang bertugas di loket dan di luar ruang periksa, sering sekali curhat mengenai beberapa pasien yang datang menagih hutang. Saya sampai membuat hipotesis bahwa sebenarnya para pasien yang datang ke Puskesmas tidaklah benar-benar sakit, tapi mau menagih hutang atau mereka sakit karena mau menagih hutang. Tapi sekali lagi, that's only a hypothesis. Belum lagi tuntutan para kader Posyandu yang belum dapat insentif sejak Januari. It's a weird circumstance.

Kamis, 08 Oktober 2015

Rabu, 7 Oktober 2015: Nobel Whatever

Kemarin pemenang Nobel Fisika dan Kedokteran telah diumumkan. Dan tak ada namaku ataupun nama orang yang berbau Indonesia di sana. Mengecewakan. Saat pengumuman Nobel Sastra, Perdamaian, dan Ekonomi nanti, saya yakin polanya akan tetap sama. Bahkan mungkin hingga satu dekade ke depan, pola itu akan terus berulang. Tak akan ada Indonesia di sana ataupun di mana-mana. Tak perlu menjadi wanita Gypsy untuk bisa meramalkan hal tersebut. Cukup memahami saja bahwa beberapa hal di dunia ini sudah diatur oleh hukum alam maka semua pernyataan sebelumnya akan benderang seperti mentari di tengah hari. Meskipun para ilmuwan sepakat bahwa dunia ini adalah kumpulan probabilitas yang tertunda, kecuali Einsten yang mengingkarinya dengan menyatakan bahwa Tuhan tidak bermain dadu, tetap saja beberapa hal di dunia ini sudah memiliki kerangka, template, cetakan pasti yang sulit untuk diutak-atik dengan cara apapun. Contohnya saja upaya melawan gravitasi hanya dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu yang memiliki daya dorong melebihi akselerasi 9,8 meter per detik kuadrat. Tak ada satupun manusia yang memiliki akselerasi seperti itu tanpa alat bantu. Sehingga pemandangan manusia yang melayang di udara bumi tanpa alat bantu merupakan hal yang mustahil ditemukan dalam waktu dekat. Sama mustahilnya dengan orang Indonesia meraih Nobel dalam satu dekade ke depan. Saya tidak bermaksud untuk menjadi inferior di sini tapi terdapat banyak variabel determinan yang menyebabkan orang Indonesia sulit meraih Nobel.

Entah kenapa, saya merasa ada yang salah dengan negara ini. Mungkin itu karena terlalu banyak orang-orang seperti saya di negara ini, yang hobinya hanya suka protes dan mengajukan komplain kemana-mana tanpa memberikan solusi. Tapi protes dan komplain adalah salah satu jenis kebebasan yang dijamin oleh undang-undang. Selama itu hanya berbentuk free speech bukan hate speech, saya rasa tak ada yang salah dengan banyak protes. Solusi akan timbul dengan sendirinya begitu protes mencapai titik kulminasi. Yang menjadi masalah, saat solusi sudah ada, akankah para pemegang keputusan mau mengambilnya. Karena seringkali, solusi yang datang bersifat kurang populis dan cenderung mengancam status quo. Seperti yang dapat kita lihat dalam kasus pembantaian Salim Kancil. Di desa Salim Kancil, para petani mengeluhkan kerusakan alam yang diakibatkan oleh penambangan pasir liar. Mereka mengajukan protes dan memberikan solusi agar dilakukan penghentian tambang liar. Tapi ini solusi yang buruk bagi para penguasa. Penghentian tambang liar sama artinya dengan mematikan sumber pemasukan para calo tambang liar yang notabene adalah para penguasa di desa. Jadinya, suara protes itu dibungkam. Salim Kancil sebagai salah satu penentang tambang liar langsung dibacok beramai-ramai hingga tewas oleh kaki tangan para penguasa. Sungguh kejam. Dan parahnya, kasus seperti itu dapat ditemukan pada banyak tempat di negara ini. Kabut asap yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera saat ini pun memiliki akar masalah yang sama dengan kasus Salim Kancil. Sumber daya alam.

Di negara ini ada terlalu banyak sumber daya alam, bahkan mungkin jika sumber daya alam Jepang, Singapura, Taiwan, dan Hongkong digabung jadi satu, masih belum bisa menyamai apa yang ada di Indonesia. Tapi Indonesia jauh lebih miskin ketimbang negara-negara yang minim sumber daya alam. Kadang saya berpikir jika sumber daya alam yang melimpah bukanlah suatu anugerah tapi sumber malapetaka. Pengerukan sumber daya alam plus keserakahan manusia lebih cenderung menghasilkan efek kerusakan alam dan peperangan dengan berbagai skala jika dibandingkan dengan kemakmuran manusia yang mungkin hanya dinikmati segelintir orang. Entah ini masih memiliki relevansi dengan hadiah Nobel atau tidak, tapi saya rasa itu sudah tidak penting lagi. Whatever.

Selasa, 06 Oktober 2015

Senin, 5 Oktober 2015: A Study In Semantic

Sherlock Holmes telah menjadi salah satu icon fiktif paling populer di dunia orang-orang yang biasa membaca kisah-kisah detektif. Saya harus menyebutkan secara spesifik cakupan kepopulerannya karena populer adalah suatu jenis kenisbian yang sulit untuk dikuantifikasi. Meskipun sekarang kita dapat melihat keobjektifan popularitas seseorang dari jumlah follower twitter atau instagram, tapi tetap saja, kepopuler masih berada pada area yang bersifat relatif. Contohnya saja, orang di Ndao tidak ada satupun yang mengenal Sherlock Holmes, tapi mereka mengenal dengan baik Dody Latuharai. Siapa itu Dody Latuharai? Dia adalah penyanyi asal Ambon yang lagunya sering dinyanyikan oleh orang Ndao. Saya yakin orang Inggris, yang menjadi asal muasal Holmes, tak ada yang mengenalnya. Bukannya bermaksud untuk mengecilkan ketenaran Dody, tapi coba saja telepon salah seorang di Inggris untuk membuktikannya. Sebagai awalan, langsung saja telepon perdana menteri Inggris, sekalian untuk minta agar tagihan telepon internasionalmu dapat dibayarkan.

Ada yang pernah berkata bahwa terkadang kepopuleran memiliki keterkaitan langsung dengan tingkat intelegensia, namun banyak referensi lain yang menyebutkan bahwa kedua variabel tersebut tidak berkaitan sama sekali. Sebenarnya, saya ingin menyebutkan contohnya secara eksplisit di sini berdasarkan beberapa rujukan ilmiah tersebut, namun rasanya itu akan menjadi hal yang kurang etis karena apa yang saya anggap populer bagi para intelek mungkin akan dianggap sebagai suatu penghinaan bagi orang-orang yang saya anggap kurang intelek. Lagipula, apalah saya ini hingga bisa menghakimi tingkat intelektualitas manusia lain? Jadi untuk menghindari perdebatan panjang, maka saya memakai saja asumsi dasar bahwa popularitas tak ada kaitannya dengan intelektualitas agar semua bisa senang dan tak ada pertumpahan darah. Rasanya akan terdengar konyol jika sampai ada yang harus mati karena persoalan popularitas. Masalahnya, itu faktual. Ada beberapa kasus di mana orang sampai harus mati karena ingin populer. Tapi lagi-lagi saya tak ingin menyebutkannya di sini karena persoalan etis. Pada sisi lain, hal yang ingin saya bahas sebetulnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan popularitas tapi hanya tentang kasus pertama yang ditangani Sherlock Holmes bersama James Watson, A Study in Scarlet.

Sir Arthur Conan Doyle membuat karya ini berpuluh-puluh tahun yang lalu ketika saya belum lahir. Bahkan mungkin ketika Presiden Indonesia yang sekarang belum lahir. Sehingga beberapa fakta yang disampaikan Doyle dalam novel tersebut mungkin sudah terdengar basi bagi kebanyakan orang di masa kini. Di era Doyle, Scotland Yard tidak bisa membedakan antara darah korban dan darah hewan yang sudah mengering. Keduanya sama keringnya, sama hitamnya. Selain itu, teknik identifikasi zaman dulu, belum mengenal replikasi DNA, oleh karena itu, mayat yang sudah lama rusak akan sulit dikenali. Namun ada beberapa nilai di kisah Sherlock yang tak pernah lekang oleh zaman. Bahkan saat kisah A Study in Scarlet diadaptasi ke layar kaca di abad ke-21 menjadi A Study in Pink dengan begitu banyak alur yang diubah dan ditambahkan dalam kisah A Study in Pink sehingga nyaris berubah 180 derajat dari kisah A Study in Scarlet, seperti perubahan gender korbannya, makna pesan kematiannya, dan cara mengungkap kejahatannya, namun tetap saja ada beberapa punchline Sherlock dan Watson di masa lalu yang masih tetap relevan untuk digunakan. Seperti perdebatan mereka berdua tentang tata surya, di mana Sherlock ternyata tidak pernah mengetahui kalau bumi berputar mengelilingi matahari. Joke yang ini betul-betul membuatku tertawa hingga nyaris asfiksia. Tapi temanku yang menontonnya justru hanya terdiam. Saya bisa memakluminya karena saat dia menontonnya, tak ada subtitle di sana. Menonton film detektif luar negeri tanpa subtitle adalah sebuah pekerjaan yang sia-sia, kecuali nilai TOEFL orang yang menontonnya telah mencapai 615 atau minimal dengan IELTS 7. Rintangan bahasa dapat menghilangkan kelucuan sebuah lelucon yang bersifat semantik dan sintaksis. Dan saya yakin, tidak banyak orang yang mengerti apa itu semantik dan sintaksis. Saya asal mencomot kata itu dari Kamus Besar Bahasa Indonesia karena kata-kata itu terdengar intelek. Bagi orang yang jarang membaca, kata semantik akan sama asingnya dengan kata sedat. Keduanya meskipun bahasa Indonesia, terdengar begitu asing di telingaku. Sepertinya saya juga masih jarang membaca.

Kamis, 01 Oktober 2015

Selasa, 30 September 2015: Theologian Fallacy

Saya bangun di pagi ini dengan memikirkan sisa mimpi semalam. Saya lupa detailnya seperti apa tapi nampaknya itu tidak ada kaitannya dengan angka-angka yang bisa dipasang dalam judi porkas. Tak ada naga, ular, kambing, ataupun anjing di situ. Tak ada juga Leonardo DiCaprio di sana, sehingga saya yakin kalau sekuel film Inception belum dibuat sama sekali. Padahal saya berharap Christopher Nolan mau mengambil mimpiku sebagai setting film Inception atau setidaknya sekuel Dark Night yang keempat. Di mimpiku hanya ada serangkaian citra inkoheren yang disertai dialog-dialog antar arketipe yang sulit dideskripsikan oleh fungsi kognitif alam bawah sadarku. Sebetulnya, saya tidak tahu-menahu soal fungsi kognitif di alam bawah sadar. Saya asal menyebutkannya saja agar tulisan ini terkesan ilmiah. Memangnya siapa peduli dengan hal tersebut. Tidak ada juga yang akan membaca tulisan ini. Profesor, doktor, magister, sarjana, calon sarjana, bakal calon sarjana, ataupun janin bakal calon sarjana sudah punya bahan bacaannya sendiri, entah itu berbentuk jurnal, disertasi, tesis, skripsi, broadcast online shop maupun sms promo telkomsel. Pokoknya mereka terlalu sibuk dengan aktivitas intelektual jenis lain yang hanya dapat didefinisikan oleh otak mereka sendiri. Saya tak mungkin mengetahuinya kecuali saya memiliki kemampuan membaca pikiran seperti Professor Xavier atau Jane Grey. Kemungkinan mereka akan membaca tulisan ini adalah satu berbanding semua bintang di langit malam bulan September. Untuk nilai rincinya, biarkan itu menjadi urusan Tuhan yang menciptakan bintang, tapi itu dengan asumsi dasar bahwa Tuhan benar-benar ada.

Akhir-akhir ini, saya semakin sering menemukan manusia yang tak percaya pada Tuhan. Kalau dulu, mungkin saya akan kaget setengah mati saat mengetahui fakta ini. Tapi sekarang, hal seperti itu sudah terdengar biasa saja. Mendengarkan hal tersebut sudah sama biasanya dengan mendengar orang yang sedang membicarakan tentang nilai rupiah yang anjlok atau harga tahu dan cabe yang melonjak. Tak ada lagi unsur kejutan di dalamnya. Seolah itu telah menjadi hukum alam yang wajib berlangsung, jika hal sebaliknya yang terjadi, justru itu akan menjadi hal yang sangat mengejutkan. Mereka semua punya alasan masing-masing untuk tidak percaya pada Tuhan dan hal tersebut semestinya tidak perlu dikuatirkan oleh orang-orang yang percaya Tuhan. Seharusnya kita biarkan saja semua kepercayaan dan ketidakpercayaan pada Tuhan berkembang selama hal tersebut tidak sampai memicu timbulnya Perang Dunia Ketiga. Tidak perlu saling memaksa dan mengolok karena saya tak pernah melihat ada orang beragama yang pindah keyakinan menjadi atheis setelah agama dan Tuhannya diolok, begitu juga sebaliknya, tak ada orang atheis yang jadi mau beragama setelah ada yang mengolok ketidakpercayaannya pada Tuhan. Berdebat adalah tindakan yang kontraproduktif. Mungkin pendapat ini sudah basi tapi saya rasa masih relevan dengan situasi kekinian.

Jika berbicara situasi kekinian, timeline Facebook dan Twitter-ku sudah dipenuhi oleh kampanye rasialis dan partisan. Sejak memiliki keduanya di tahun 2008, saya tidak pernah melihat timeline yang begitu riuh dengan hujatan dan makian yang mengalir deras bagaikan hujan di bulan Februari kecuali saat kampanye presiden dulu. Untungnya sekarang sudah ada fitur untuk menyembunyikan status-status mengganggu tanpa harus menghapus pertemanan walaupun sebenarnya menghapus pertemanan di FB adalah tindakan yang saya rasa lebih masuk akal. Kadang saya berpikir, orang-orang yang berteman dengan saya di FB itu berasal dari planet mana?

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut