Minggu, 29 November 2015

Minggu, 29 November 2015: Avis

Seorang kawan pernah berkata, "saat dirimu mulai mempertanyakan dogma suatu agama, bersiaplah untuk mendapatkan kebencian. Karena sejak dulu kala, agama, meskipun masing-masing pengikutnya menganggap itu sebagai sesuatu yang universal, dalam kenyataannya tidak pernah benar-benar bisa universal secara praktik. Buktinya saja, ada begitu banyak agama di muka bumi ini. Malah dalam satu agama saja, dapat ditemukan berbagai jenis aliran. Dan semuanya mengaku sebagai yang paling benar, dan satu-satunya yang akan menghuni surga nantinya. Yang terpenting, jaga dirimu baik-baik, karena demi menjaga kemurnian agamanya, banyak orang baik yang akan rela melakukan kekerasan dan bahkan pembunuhan. Jika dilihat secara objektif, kekerasan yang mengatasnamakan menjaga kemurnian agama, tidak jauh berbeda dengan kekerasan yang mengatasnamakan fanatisme klub sepakbola. Yang membedakan keduanya hanyalah satu membela agama, sedangkan satunya membela klub. Orang yang beragama, mungkin akan mengatakan, jangan samakan keduanya karena yang orang beragama perjuangkan adalah Tuhan. Tapi sekali lagi, dari sudut pandang objektif, yang namanya kekerasan pastilah akan mengakibatkan jatuhnya korban manusia, ada darah yang tercecer di sana, ada rasa sakit yang terlibat di situ.
Lalu ada pertanyaan yang mengemuka, bagaimana kita harus memperlakukan orang-orang yang berbuat kesalahan dan dosa? Apakah kita harus membiarkannya saja? Kata mereka, dengan agama, persoalan ini lebih mudah diselesaikan karena dalam agama ada kitab suci yang telah mengatur segala seluk beluk hidup manusia. Walaupun sebenarnya, tanpa agama pun, manusia akan mampu membuat hukum yang mengatur seluk beluk hidupnya sendiri. Kitab suci agama-agama besar dunia hanya berfokus pada wilayah Timur Tengah. Seolah-olah tak ada lagi manusia lain di belahan bumi yang lain. Begitu juga dengan agama-agama yang lahir di luar Timur Tengah, pada umumnya, di kitab-kitab mereka hanya fokus pada masalah regional ketika agama tersebut berdiri. Tapi oleh para pengikutnya, kitab suci yang notabene ditulis beberapa ribu tahun yang lalu dianggap sebagai panutan hidup untuk umat manusia hingga akhir zaman. Jika ada fakta masa kini yang bertentangan dengan isi kitab suci, maka para pengikutnya pun membela dengan pernyataan bahwa ayat kitab suci harus disesuaikan dengan konteks kesejarahan ketika ayat tersebut diturunkan atau dengan menyatakan bahwa fakta masa kini lah yang salah dan kitab suci yang benar. Seperti misalnya umur bumi, ada kitab suci yang menyatakan bahwa usia bumi tidak lebih dari 10.000 tahun ( http://www.icr.org/article/how-old-earth-according-bible/) meskipun ilmu pengetahuan terkini menemukan fakta bahwa usia bumi sudah melebihi jutaan tahun. Banyak pengikut agama yang memilih untuk mengenyampingkan fakta ilmiah dan memilih kitab suci. Kisah Galileo dan Copernicus yang terkucil karena menyatakan bahwa bumi bukanlah pusat galaksi juga bisa menjadi pelajaran bagi kita bahwa terkadang para pengikut agama sangat sulit untuk menerima sebuah pandangan baru. Semua yang berbeda bagi mereka terkadang dianggap sebagai ancaman. Karena itu, berhati-hatilah saat engkau mempertanyakan dogma-dogma suatu agama."

Sabtu, 28 November 2015

Sabtu, 28 November 2015: Choix

Seseorang yang memiliki terlalu banyak pilihan hidup cenderung menghabiskan begitu banyak sumber daya hanya untuk melakukan seleksi. Hal ini mirip dengan kondisi bumi yang memiliki begitu banyak pilihan gen penghuni. Ada begitu banyak mahluk hidup di muka bumi ini. Sejak awal pembentukannya, yang dilakukan bumi tiap harinya adalah sibuk melakukan seleksi alam terhadap semua mahluk hidup untuk memastikan gen mana saja yang layak sebagai penghuninya.
Proses seleksi alam ini tidak berlangsung dalam waktu hingga jutaan tahun lamanya. Seandainya saja manusia punya umur sepanjang itu.
Beruntunglah mereka ketika pilihan telah ditentukan, masih ada cukup waktu untuk melanjutkan hidup. Bayangkan jika waktu telah habis ketika pilihan belum sempat diputuskan.

Jumat, 27 November 2015

Kamis, 26 November 2015: Mantis

Seandainya hubungan seksual antara manusia menyerupai hubungan seksual mantis, para pria hanya akan merasakan pengalaman seksual sekali saja seumur hidup. Mantis betina sangat hobi memakan kepala mantis jantan saat sedang melakukan hubungan seksual. Jadi bisa dipastikan ketika hubungan seksual berakhir, maka berakhir pula kehidupan pejantan. Meskipun terdapat kenyataan kejam seperti ini, para mantis jantan yang masih hidup sepertinya tidak peduli. Pada akhirnya, mereka akan senantiasa mengikuti panggilan alam untuk melakukan hubungan seksual, meskipun nyawa sebagai taruhannya. Yang mengherankan, meskipun praktek seperti ini telah berjalan sejak dulu kala, belalang mantis tidak pernah punah. Mereka tetap berjaya dan kadang mengganggu hidupku saat mereka terbang ke sana kemari di sebuah ruangan.

Bayangkan jika kejadian yang sama berlaku pada manusia. Para wanita langsung membunuh para pria setelah melakukan hubungan seksual. Mungkinkah ras manusia akan punah? Ataukah tetap berlanjut seperti belalang mantis?

Sayangnya, dunia manusia tidaklah seperti dunia mantis meskipun mereka sama-sama hidup di bumi yang sama. Para wanita di dunia manusia sejak dulu kala telah dilabeli dengan predikat mahluk yang lemah sehingga mereka lebih sering menjadi korban intimidasi pria ketimbang menjadi mahluk pembunuh pejantan seperti halnya mantis betina.

Orang-orang mungkin akan memberikan argumen seperti ini, "Jangan samakan manusia dengan mantis. Manusia memiliki cinta kasih dan akal, sedangkan belalang mantis tidak memilikinya".

Jika memang manusia memiliki akal dan cinta kasih? Mengapa mereka tetap saling membunuh dan menyiksa? Bahkan biarpun sudah ada agama yang mengajarkan kasih, manusia tetap bisa saling bunuh dengan mengatasnamakan menjaga keutuhan agama.

Jadi apa bedanya mantis dan manusia?

Lundi, 23 Novembre 2015: Rêve

Di surat At Taubah ayat 38-40, terdapat perintah untuk berperang. Di surat Al Anfaal ayat 45-47, malah terdapat penjelasan strategi untuk berperang. Di kitab Joshua (6:21) terdapat cerita perang yang disertai pembataian rakyat dengan mengatasnamakan Tuhan. Saya tidak tahu persis di kitab suci agama lainnya tapi ayat-ayat dari kitab suci ini, sering digunakan sebagai pembenaran untuk melakukan peperangan. Jika ada yang bertanya, kapan perang di Timur Tengah akan berakhir? Sepertinya itu hal yang mustahil. Karena semua orang di sana berperang dengan mengatasnamakan Tuhan. Mereka semua merasa paling benar dan menganggap bahwa Tuhan senantiasa menyertai mereka dalam pertempuran.

Bayangkan sebuah kasus, seorang suporter klub sepakbola AC Milan tiba-tiba saja memutuskan untuk berhenti mendukung klub AC Milan lalu memutuskan untuk mengalihkan dukungan ke klub Inter Milan. Karena jengkel, suporter klub AC Milan lainnya memutuskan untuk membunuh suporter yang membelot tersebut. Kebanyakan orang yang bernalar tidak akan pernah setuju dengan pembunuhan seperti itu, tapi coba gantikan kata klub AC Milan dan Inter Milan dengan kata agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, atau lainnya. Maka orang-orang yang bernalar tersebut akan memberikan jawaban yang beragam. Akan ada yang setuju dengan pembunuhan tersebut karena mengatasnamakan agama, ada juga yang mungkin tidak sepakat.

Terkadang saya bingung dengan agama, di satu sisi, agama mengajarkan tentang cinta kasih, namun di sisi lain, agama tidak melarang peperangan dan perbudakan. Mungkin karena itulah peperangan di muka bumi ini tidak akan pernah berakhir

Minggu, 22 November 2015

Rabu, 18 November 2015

Tuhan itu apa? Sebagai orang yang mengaku beragama, sungguh tidak mengherankan jika pertanyaan tersebut tidak pernah terbersit dalam pikiran. Karena sejak kecil mereka semua dididik untuk tidak pernah mempertanyakan tentang realitas Tuhan dan ajaran agama.

Maksudku, bayangkan jika seseorang beragama Kristen, dia harus ke gereja tiap Minggu, menyanyikan kidung-kidung yang penciptanya entah siapa atau bayangkan jika seseorang beragama Islam, tiap hari shalat pada subuh, tengah hari, sore hari, menjelang senja, dan malam hari untuk menyembah Tuhan yang belum pernah mereka temui. Mengapa kegiatan-kegiatan tersebut harus dilakukan? Apa esensinya? Apakah itu untuk membuat kita jadi manusia yang lebih baik, lebih penyayang, dan lebih cinta damai?
Jika itu alasannya, maka saya meragukannya. Banyak saya melihat justru orang-orang beragamalah yang lebih garang. Mereka tega membakar, membunuh, dan meledakkan atas nama agama. Pertentangan Syiah vs Sunni di Timur Tengah, Yahudi vs Islam di Palestina, Katolik vs Protestan di Irlandia, Hindu vs Islam vs Kristen vs Sikh di India, belum lagi ISIS vs Dunia. Belum lagi konflik-konflik di tempat lain yang tidak terdokumentasi. Yang jadi pertanyaan adalah apakah Tuhan yang mereka sembah akan senang melihat perbuatan kekerasan yang telah dilakukan?

Konsep keagamaan itu sendiri, kalau dipikir dengan akal, sebenarnya merupakan sesuatu yang penuh ambiguitas. Tapi dalam agama, ada konsep yang bernama iman, yang bertujuan untuk menihilkan semua ambiguitas tersebut. Inti dari konsep iman adalah apapun yang disebutkan dalam kitab suci, percayailah, meskipun itu tidak masuk akal dan aneh. Sebagai contoh, silsilah Yesus dalam kitab Lukas dan Matius, kenapa bisa begitu berbeda? Padahal ini adalah silsilah seseorang yang dianggap sebagai anak Tuhan. Jika hal ini dirunut secara ilmiah, maka tentu sulit untuk diterima oleh nalar, namun jika memakai konsep iman, hal ini dapat diterima begitu saja tanpa keraguan di dalamnya. Contoh lain dari Quran, adalah kitab suci ini tidak melarang konsep perbudakan dan malah juga tidak melarang hubungan seksual dengan budak meskipun budak tersebut belum dinikahi, hal ini dapat dilihat pada surat Al Mu'minun ayat 5 dan 6. Zeitgeist di masa ini tidak akan sepakat dengan perbuatan tersebut tapi sekali lagi, konsep iman tidak akan mempermasalahkan hal tersebut karena akan selalu ada upaya pembenaran theologis untuk hal tersebut.

Martin Luther pernah mengatakan bahwa 'Reason is the greatest enemy that faith has; it never comes to the aid of spiritual things, but more frequently than not struggles against the divine Word, treating with contempt all that emanates from God.' Saat mengatakan hal tersebut, dia mungkin menyadari bahwa banyak perkara dalam agama yang sulit terjamah oleh akal. Iman hanya akan berhenti pada percaya saja bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan, sedangkan akal akan terus berupaya mencari bagaimana dan kapan alam semesta ini diciptakan. Banyak orang beragama yang tidak mau mencari tahu lebih jauh mengenai alam semesta ini, karena mereka takut kalau mereka mengeksplorasi lebih jauh, mereka akan menemukan bahwa fakta ilmiah yang tidak klop dengan kitab suci. Pada situasi seperti ini, mereka seringkali mengabaikan fakta ilmiah dan lebih memilih kitab suci. Misalnya seperti penentuan umur bumi, banyak theologian yang percaya bahwa umur bumi ini "baru" 10.000 tahun, sedangkan fakta ilmiah yang ada saat ini justru menunjukkan bahwa usia bumi lebih dari itu. Apakah theologian mau menerima fakta tersebut? Entahlah.

Jumat, 13 November 2015

Jumat, 13 November 2015: Anestetik

Sepertinya ada lagi pasien yang sedang tidak beruntung. Dia datang dengan luka robek ke PKM saat tidak ada lagi lidocaine yang tersedia. Sepertinya dia pasien ke empat dalam bulan ini. Setelah luka dibersihkan dan dinilai baik-baik, terlihat jelas bahwa robekan sebesar 4x15 cm bukanlah jenis luka yang harus dibiarkan saja tanpa jahitan. Prosedur dilanjutkan dengan informed consent mengenai kondisi luka, efek jika luka dijahit atau tidak dijahit, ketiadaan anestetik lokal di PKM, dll. Akhirnya pasien setuju untuk mendapatkan tindakan hecting tanpa anestetik. Setelah sebelumnya diberi analgesik preemptive maka dimulailah prosesi hecting yang diiringi oleh jeritan pasien. Kasihan sekali kalau harus menjahit pasien dalam kondisi tanpa anestetik lokal, hanya saja kita harus mempertimbangkan resiko buruk jika luka dibiarkan terbuka. Jahitan yang semestinya bisa lebih dari 10 jahitan, saya hemat saja jadi 4 jahitan di titik-titik luka tertentu yang intinya adalah luka menutup, perdarahan aktif berhenti, memperbesar kesempatan penyembuhan jaringan di lokasi yang fisiologis, serta mengurangi resiko infeksi luka yang terbuka akibat terpapar dengan lingkungan luar. Miris rasanya mendengar jeritan pasien yang terus-menerus tiap kali jarum menusuk kulitnya. Saya membayangkan kalau jarum itu yang menusuk kulitku lalu dalam hati saya berseru, "Terpujilah orang yang pertama kali menemukan Lidocaine."

Untungnya, 3 pasien sebelumnya dijahit tanpa anestesi hingga sekarang sehat wal afiat dan masih mau datang ke PKM meskipun sudah pernah merasakan siksa dunia, mendapat jahitan tanpa anestesi. Semoga pasien yang ini juga tetap mau datang kontrol, 2 hari lagi. Kalau pun tidak datang, berarti saya yang harus mengunjungi rumahnya.

Kamis, 12 November 2015

Kamis, 12 November 2015

Kemarin saya dapat kabar bahwa seorang junior di FK Unhas baru saja meninggal saat sedang menjalankan program Internship di Kepulauan Aru. Sedihnya, harus internship di tempat sangat terpencil begitu lalu mengantar nyawa di sana.

Sabtu, 31 Oktober 2015: Sapiens

Ada begitu banyak kejadian yang telah berlalu sejak tulisan terakhir diterbitkan. Pengumuman NS 2, Monev dan segala persiapannya, pengalaman spiritual yang kualami, omong kosong yang kuhadapi dan sebagainya. Tapi saya rasa semua kejadian itu terlalu penting untuk ditulis dalam blog yang trivial seperti ini. Saya sedang tidak mood untuk membahas hal-hal penting dan serius di blog ini.

Apa yang akan saya bahas kali ini tidak ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi dalam hidupku atau apapun yang berhubungan dengan hal tersebut.

Saya tidak pernah suka ekonomi. Saya merasakan ada sesuatu yang buruk dalam ekonomi sehingga saya ingin menjauhinya seperti kutub utara magnet terhadap kutub utara magnet lainnya. Padahal ketidaksukaan itu terbit tanpa didasari oleh pengenalan yang baik terhadap subyek ekonomi. Saya belum sempat masuk ke dalam rumah ekonomi, berbincang dengan penghuninya, minum teh bareng, bercengkrama, dan sebagainya. Sebetulnya ketidaksukaan seperti ini sudah masuk dalam kategori logical fallacy, tapi mau bagaimana lagi, pertimbangan yang berasal dari asumsi emosional belaka bukanlah teman yang baik bagi logika. So, just try to continue the life with it.

Hanya saja yang menjadi masalah, hidup ini penuh dengan persoalan ekonomi. Makan, minum, rumah, pakaian, internet, semuanya adalah benda-benda ekonomi. Oleh karena itu, mau tidak mau, suka tidak suka, hidup akan selalu memaksa manusia untuk menjadi mahluk ekonomi, Homo economicus. Alih-alih disebut sebagai Homo sapiens, kera yang bijaksana, manusia memang lebih layak dikatakan sebagai mahluk ekonomi karena manusia tidak selalu bijak dalam menjalani hidup, lihat saja semua pembunuhan dan peperangan yang telah dilakukan oleh manusia sejak awal zaman hingga kini, bukannya kebijaksanaan yang terlihat di sana, namun justru kecenderungan ekonomi yang menggerakkan manusia untuk menguasai sumber daya sebanyak-banyaknya.

Sejatinya, sebagai mahluk ekonomi, tak ada yang namanya kebaikan dan kejahatan dalam setiap perbuatan manusia. Ranah baik dan buruk itu hanyalah topik buatan para rohaniwan dan moralis. Dalam ekonomi, baik-buruk adalah topik yang tidak relevan karena kebaikan dan keburukan pada manusia secara ekonomi ditentukan oleh insentif yang mereka dapatkan jika melakukan suatu perbuatan. Manusia selalu dapat dimanipulasi asalkan motif ekonominya diketahui. Jika suatu perbuatan A diberi insentif 100, sedangkan suatu perbuatan B diberikan insentif 10, sudah jelas manusia akan memilih melakukan perbuatan A. Jika suatu perbuatan A diberi hukuman cambuk sedangkan perbuatan B diberi hadiah uang, maka manusia akan lebih memilih melakukan perbuatan B. Memang tidak semua manusia mengikuti pola seperti ini, terkadang terdapat anomali, namun hal tersebut dapat diabaikan karena jumlahnya sangat kecil. Nah, di celah insentif ini lah agama memainkan peran dalam memanipulasi perilaku manusia atau behavioral engineering, melalui konsep dosa dan pahala, surga dan neraka. Agama mengarahkan manusia untuk melakukan suatu perbuatan dengan iming-iming surga lalu melarang dilakukannya perbuatan lain dengan ancaman neraka, dan manipulasi perilaku ini sangat efektif dalam menggerakkan manusia selama ribuan tahun lamanya. Agama selalu berhasil dijadikan sebagai topeng untuk menutupi motif ekonomi.

Kekuatan agama dalam memanipulasi perilaku manusia sampai pada tataran di mana manusia dapat mempercayai semua hal imajinatif sebagai sesuatu yang nyata.
Bayangkan, jika ada yang mengatakan padamu bahwa terdapat teko yang melayang-layang di antara planet Bumi dan Mars, dan teko tersebut begitu unik sehingga tidak dapat dilihat oleh mata dan teleskop biasa serta karena keunikannya, maka teko tersebut dengan sendirinya ada di sana tanpa ada yang menciptakannya. Apakah kamu dapat mempercayai keberadaan teko imajinatif tersebut? Mungkin sulit untuk mempercayai adanya benda seperti itu di luar sana, tapi bagaimana jika hal tersebut telah diucapkan berulang-ulang selama 2000 tahun oleh nenek moyang, pemerintah, guru-guru, orang tua, dan temanmu?

Saya yakin, saat membaca hal ini, orang-orang akan berpikir bahwa saya adalah seorang atheis. Terserah apa yang orang katakan tentang saya, itu tidak terlalu berpengaruh pada kehidupanku. Kisah teko tersebut hanyalah sebuah parabel yang diciptakan oleh Bertrand Russel untuk menyatakan bahwa sebenarnya Tuhan tidak ada bedanya dengan teko imajinatif yang bisa jadi ada di luar sana atau malah tak ada sama sekali karena belum pernah ada bukti langsung yang menunjukkan keberadaannya selain klaim sepihak dari orang-orang yang mempercayainya. Tapi menurut saya, parabel tersebut hanyalah satu cara untuk memicu kekritisan berpikir.

Apakah dasar dari suatu keyakinan? Thomas Aquinas menggunakan 5 argumen sebagai dasar untuk menyatakan keyakinannya pada Tuhan.

Argumen pertamanya, The Unmoved Mover. Tidak ada gerakan yang dapat timbul tanpa adanya penggerak pertama. Dan satu-satunya yang dapat menjadi penggerak pertama adalah sesuatu yang disebut Tuhan.
Argumen kedua adalah The Uncaused Cause. Tidak ada sesuatu yang dapat timbul dengan sendirinya. Setiap akibat pasti memiliki sebab. Dan satu-satunya yang dapat menjadi penyebab pertama atas segala sesuatu adalah Tuhan.
Argumen ketiganya disebut The Cosntological Argument. Isi argumen ini adalah ada suatu waktu ketika tidak ada satupun benda fisik yang ada di semesta ini. Namun karena saat ini sudah ada benda fisik, maka pasti ada sesuatu yang bersifat non-fisik yang membawa keberadaan semua benda fisik yang ada di semesta ini dan sesuatu tersebut adalah Tuhan.
Sebetulnya masih ada lagi argumen keempat dan kelima tapi intinya, semua argumen itu mirip. Tuhan adalah sumber segalanya. Kebaikan, kejahatan, semuanya berasal dari Tuhan.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut