Senin, 19 Desember 2016

Blog Blog

Beberapa teman yang saya kenal dulu aktif menulis di blog kini sudah punah. Blog mereka terbengkalai, kolom komentarnya hanya diisi pesan-pesan iklan yang diketik oleh bot tentang bisnis online menjanjikan, kartu kredit virtual, judi online, dan alat bantu seksual. Seandainya laba-laba hidup di dunia maya, mungkin blog-blog itu sudah penuh dengan benang-benang sarang mereka. Sayangnya laba-laba belum berevolusi untuk bisa hidup dalam papan sirkuit semikonduktor.
Pada umumnya mereka yang kukenal dulu sering menulis dan kini membiarkan blognya terbengkalai punya alasan sendiri sehingga tak lagi muncul. Kebanyakan dari mereka sudah memiliki kesibukan di dunia nyata, harus urus pekerjaan, anak, istri, atau malah sibuk di media sosial yang lain. Ada juga yang tidak bisa lagi menulis blog karena sudah mati. Penghuni akhirat tidak butuh lagi blog.

Jumat, 18 November 2016

War

Lelah rasanya melihat timeline media sosial dan media konvensional dalam satu bulan terakhir, temanya hanya mengorbit pada dua nama, Donald Trump dan Ahok. Terus terang saya sebenarnya tidak peduli dengan semua persoalan yang saat ini terkait dengan kedua orang tersebut. Kalaupun saya peduli, apa yang bisa saya lakukan untuk kedua orang tersebut? Donald Trump sudah terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, yang mana itu bukanlah negaraku dan Ahok adalah kandidat Gubernur Jakarta, yang juga bukanlah daerah pemilihanku. Jadi mau bagaimana lagi? Terpilihnya Trump mungkin akan memicu timbulnya perang dunia ketiga dan terpilihnya atau tidak terpilihnya Ahok mungkin akan memicu kemarahan partisan bahkan mungkin perang antar-golongan, kalau hanya daerah Jakarta saja yang perang, mungkin daerah lain bisa turut prihatin saja namun perang antar-golongan jarang terlokalisasi kadang merembet hingga ke daerah lain, dan tentu saja itu berbahaya. Tapi sekali lagi, apakah saya memiliki kuasa untuk mengubah semua hal tersebut? Tak ada yang bisa dilakukan. Saya hanya bisa diam saja dan tidak memperkeruh suasana dengan membuat status-status media sosial yang menyudutkan kelompok-kelompok tertentu.
Dengan semua sejarah yang panjang mengenai betapa buruknya konflik partisan dan perang terhadap umat manusia, saya sungguh tidak mengerti mengapa begitu banyak manusia zaman sekarang yang masih terlihat begitu mendambakan peperangan.
Manusia memang mahluk yang aneh. Begitu kedamaian datang, mereka menginginkan perang namun saat perang terjadi, mereka merindukan kedamaian.
Belum sampai 100 tahun bumi terlepas dari perang besar antara Tentara Sekutu versus Jerman-Jepang-Italia-Turki, kini manusia sedang dalam perjalanan untuk menuju peperangan yang baru. Saat itu, Jerman dkk. kalah perang, sehingga mereka yang jadi penjahatnya. Dunia mungkin akan berbeda jika tentara sekutu yang kalah. Tujuh puluh tahun yang lalu hanya Amerika Serikat yang memiliki nuklir, kini sudah banyak negara yang memilikinya. Jika perang dunia terjadi lagi, mungkin takkan ada lagi yang tersisa bagi para pemenang perang.

Sabtu, 12 November 2016

Semuanya

Apa yang akan kamu lakukan dengan hidupmu?
Saya tidak tahu dengan orang lain, tapi saya menganggap jika itu pertanyaan yang masuk dalam kategori sangat sulit. Mungkin hal itu setara dengan pertanyaan, bagaimana cara mengawinkan teori relativitas dengan teori mekanika kuantum? Sampai sekarang saya belum menemukan jawabannya. Mungkin ini terdengar aneh, mengapa seorang manusia yang telah berusia dua puluh enam tahun belum mengetahui apa yang harus dilakukan dengan hidupnya. Tapi sejujurnya, saya benar-benar tidak mengerti dengan kehidupan ini. Tak ada yang pernah memberikan contekan ataupun petunjuk spesifik mengenai harus apa, mengapa, dan bagaimana saya harus menjalani hidupku atau harus dengan siapa dan di mana aku harus hidup? Saya pernah berharap seorang kakek tua tiba-tiba turun dari langit, menemuiku, lalu berkata, "Hai Nak, kamu harus melakukan hal ini dalam hidupmu di tahun depan bersama Si Anu di sana dan di situ dengan cara begini karena sudah seharusnya seperti begitu adanya. Jalanilah takdirmu, Nak." Tapi kemudian saya sadar tayangan televisi dan bacaan fiksi telah mendistorsi realitas dan fantasiku sehingga secara acak otakku merasionalisasi hal-hal yang bersifat mustahil. Tak ada sesuatu berwujud kakek tua yang hidup di langit, maksudku, apa yang dilakukan seorang kakek tua di langit, tidakkah dia butuh makan seperti kakek-kakek lainnya yang hidup di daratan, kalaupun dia makan, kira-kira dia makan apa di sana? Kehidupan nyata tidaklah seperti lakon Star Wars, di mana tiap orang adalah Luke Skywalker yang memiliki Obi Wan Kenobi-nya sendiri yang dapat menunjukkan jalan untuk menjadi seorang Jedi.

Jumat, 04 November 2016

Tua

Saya melihat orang-orang di sekitarku mengalami penuaan. Yang paling nampak terlihat adalah ibuku. Mungkin karena sebelum kuliah saya jadi anak rumahan yang tidak pernah ke mana-mana, tiap hari yang dilihat adalah bapak dan ibu, lalu tiba-tiba saja selama 9 tahun terakhir saya jadi petualang yang tak tentu arah, kuliah di Makassar lalu bekerja di Kalimantan Selatan, Jakarta, dan kini Nusa Tenggara Timur, sehingga ketika bertemu kembali tanda-tanda penuaan terlihat jelas di wajah ibuku. Saya nyaris tak dapat mengenalinya. Kantong mata yang semakin membesar karena kolagen yang mengendor dan kerutan yang semakin banyak adalah beberapa perubahan yang paling nampak kasat mata. Seandainya saya lebih sering berada di rumah, transformasi tersebut mungkin sulit kuperhatikan karena proses habituasi. Pamanku, bibiku, tetanggaku, termasuk Jokowi yang jauh di sana juga kelihatan mulai menua. Mereka semua menua dengan cara yang sama. Alami, terstandarisasi, sesuai dengan asas mortalitas gen. Telomer yang berada dalam sel mereka sudah lelah karena terus-menerus dipotong terus oleh enzim telomerase lalu hal ini diperparah oleh akumulasi radikal bebas serta kerusakan jaringan yang ditimbulkan oleh berbagai faktor eksternal seperti sinar matahari, bakteri, virus, hingga oksigen. Bahkan elemen yang kita hirup sehari-hari untuk bertahan hidup sejak masa neonatal turut berkonspirasi agar manusia tak awet muda. Manusia paling tua di dunia yang tercatat dalam sejarah dipanggil ajal ketika berusia 122 tahun, dan itu terjadi sekitar dua puluh tahun yang lalu. Sampai sekarang, belum ada manusia yang melewati limit tersebut, kebanyakan manusia mati sebelum usia 70 tahun, bahkan untuk tempat-tempat tertentu seperti Papua, mereka lebih banyak mati sejak dalam kandungan karena akses kesehatan yang buruk.

Di tempatku bertugas saat ini, Ndao, saya banyak bertemu orang berusia lanjut. Mereka terlihat bahagia di usia tua mungkin karena tidak terlalu banyak stressor yang mereka temui di pulau ini. Meskipun tak ada uang, mereka masih bisa hidup dengan cukup layak. Jika tak ada rumah, mereka bisa menebang pohon lalu membuat rumah bebak. Jika tak ada pakaian, mereka dapat menenunnya sendiri. Bila tak ada makanan, mereka memanjat pohon lontar untuk diambil niranya. Satu jergen nira bisa menjadi sumber karbohidrat selama satu bulan. Bila ingin protein, mereka bisa ke laut untuk mencari ikan dan kerang. Alam telah menyediakan semua kebutuhan primer untuk masyarakat di sini. Yang perlu mereka lakukan hanyalah menyatu dengan alam untuk mencarinya. Setelah melihat cara hidup orang-orang di sini, saya jadi berpikir tentang kehidupan orang di kota, yang semua hal membutuhkan uang, yang perlu kita lakukan sebetulnya sama persis dengan yang dilakukan oleh orang di Ndao, yakni mencarinya. Tapi entah mengapa saya merasa jika kehidupan di kota terasa lebih berat jika dibandingkan dengan kehidupan di Ndao. Mungkinkah iklim kompetisi yang ketat dan terbatasnya sumber daya menjadi penyebabnya? Saya juga tidak mengerti. Beratnya hidup di kota betul - betul terasa ketika angkot yang saya tumpangi terjebak macet selama dua jam lalu gerombolan pengamen dan pengemis silih berganti naik ke angkot yang tidak beranjak ke mana-mana untuk mencari nafkah. Beberapa dari mereka masih sopan meminta dan ini tak jadi soal, namun ada juga yang memaksa bahkan mulai mendekati definisi mengancam, yang mana hal ini secara otomatis langsung membuat jengkel hati yang sebelumnya sudah terlanjur terluka oleh buruknya lalu lintas. Saya sulit membayangkan jika harus menghabiskan sisa hidup hanya untuk merasakan pengalaman menjengkelkan seperti itu setiap hari. Mungkin hal inilah yang menjadi pemicu mengapa banyak orang lebih memilih untuk memiliki mobil sendiri meskipun harus bayar kredit selama 20 tahun. Memang hal ini tidak menuntaskan masalah macet malah sebenarnya makin memperburuknya tapi setidaknya saat macet menyerang, mereka tidak harus merasakan secara langsung proses pemerasan halus yang berkedok pengamen dan pengemis. Yang para pemilik mobil pribadi perlu lakukan selama kemacetan hanyalah memastikan AC mobil berfungsi agar tidak kepanasan dalam penantian dan menaikkan kaca jendela supaya ademnya awet lalu pura-pura tidak melihat pada semua pengamen dan pengemis yang mengintai di titik - titik lampu merah.

Setelah beberapa tahun hidup di kota Makassar yang sarana dan prasaranya begitu komplit lalu kini bertugas di sebuah pulau kecil di Samudera Hindia yang sangat kontras kondisinya, saya merasa kalau sebuah kota tidaklah didirikan untuk menjadi tempat hidup orang - orang miskin. Bangunan - bangunan menjulang yang mengisi setiap ruang kota yang harga sewanya begitu mahal untuk pekerja dengan gaji UMR dan jalan - jalan lebar yang berada di sela - selanya yang tidak diperuntukkan bagi para pejalan kaki yang tak sanggup membeli kendaraan sendiri, terasa begitu sempit secara psikologis meskipun sebenarnya itu semua adalah megastruktur.

Keluhan-keluhan seperti ini memang takkan pernah bisa mengubah realitas yang ada. Pada akhirnya kehidupan akan terus berjalan dan kehidupan sudah pasti menua lalu kerutan wajah, uban, dan berbagai jenis penyakit degeneratif seperti diabetes, katarak, dan osteoarthritis akan memberitahukan bahwa masa penderitaan manusia di dunia suatu hari nanti akan berakhir. Pastilah aneh jika ada manusia yang menua dengan cara berbeda seperti yang terjadi di film Curious Case of Benjamin Button atau malah mereka tidak menua sama sekali seperti halnya yang dialami oleh tokoh di film Age of Adaline. Saya merasa jika penuaan adalah hal yang menakutkan. Perlahan-lahan semua kekuatan dan kesehatan yang menjadi kebanggaan masa muda memudar hingga nyaris tak bersisa. Beberapa orang yang saya sering temui saat masih kecil seperti tukang bakso di depan rumah sakit, guru kimia di SMA, atau aci-aci pemilik toko dekat pelabuhan, sudah tak bisa lagi kukenal karena tubuh mereka yang dulu muda dan penuh vitalitas kini dihiasi oleh alopesia androgenik, hiperpigmentasi senilis, pengendoran kolagen, dan kerutan. Mereka semua mulai mendekati Hayflick limit, sel-sel mereka tak mampu lagi membelah diri.

Selasa, 04 Oktober 2016

Writer's block

Nasib seorang penulis amatir yang kehilangan inspirasi menulis mungkin tidaklah lebih buruk dari seorang Napoleon yang kehilangan harga diri di pertempuran Waterloo. Meskipun sebenarnya kedua hal tersebut tidak dapat dikomparasikan. Seorang penulis amatir tidak harus bertanggung jawab menghantarkan 25.000 jiwa ke liang lahat serta tak mesti melepaskan sebuah kekaisaran hanya karena tak mampu menghasilkan suatu karya, tidak halnya dengan seorang Napoleon yang harus diasingkan ke Santa Helena. Kekalahan di Waterloo menjadi awal nadir Sang Kaisar karena akhir dari perang yang terjadi di tanggal 18 Juni 1815 tersebut, secara resmi kejayaan Napoleon ikut berakhir, Eropa memasuki masa yang relatif damai selama 40 tahun. Memang sih, Napoleon tidak sampai dihukum mati oleh Duke Wellington dan koalisinya tapi kekalahan tersebut memaksanya untuk menyerahkan tahta kepada Louis XVIII. Penulis amatir tak punya tahta dan pasukan, he has nothing except his own life.

Sheading

Dulu saya selalu berpikir bahwa kematian seseorang tidak akan terlalu berpengaruh pada kehidupan orang-orang yang masih menghirup oksigen di muka bumi karena pada akhirnya mereka yang hidup akan tetap menjalani hari-harinya seperti biasa, makan nasi, beli pulsa, internetan, dan hal trivial lainnya tanpa ada konsekuensi psikologis dan sosiologis yang menyertainya. Mungkin kesedihan ataupun kedukaan akan sempat bergelayut di sanubari orang-orang yang hidup namun itu semua akan berlalu seperti pusaran debu yang tersapu oleh hujan di bulan Desember begitu kebahagiaan-kebahagiaan baru satu persatu datang memasuki ruang emosi. Saya sempat menganggap jika kebahagiaan dan kesedihan menyerupai formula penjumlahan dan pengurangan. Jika dua jenis kebahagiaan dan satu jenis kesedihan datang menyapamu dalam sehari, itu artinya hari itu kamu sedang berbahagia. Begitu pula sebaliknya, jika dua kesedihan datang lalu diikuti oleh satu kebahagiaan, efek bersihnya adalah hari itu kamu akan merasakan kesedihan.

Tapi ternyata, emosi manusia tak sesederhana itu. Saya selalu berharap agar emosi dapat sederhana seperti sebuah persamanaan matematika namun nampaknya itu hanyalah sebuah harapan kosong. Kesedihan yang diakibatkan oleh kehilangan seseorang yang sangat dekat secara emosional dan personal sangatlah sulit untuk terhapuskan oleh luapan kebahagiaan, sebagaimanapun banyaknya banjir tawa yang menyertainya. Beberapa saat mungkin kesedihan itu dapat terlupakan tapi itu hanya sejenak. Seringkali kesedihan tiba-tiba saja menyeruak ketika momen kebersamaan di masa lalu telintas entah itu saat makan, berbaring, duduk di kendaraan, bahkan saat tidur pun, kesedihan kadang datang dalam bentuk mimpi. Mungkin secara evolusi, manusia memang didesain untuk bersedih. Entah di mana fungsi bertahan hidup pada air mata yang mengalir dan rasa sesak di dada yang terjadi saat kesedihan melanda.

Makassar Kini

Bukannya bermaksud untuk romantis atau ingin bersenang-senang dengan masa lalu seperti Old Yellow Brick-nya Arctic Monkey tapi saat menginjakkan kaki di Makassar dua hari yang lalu, saya merasa seperti mahluk asing di kota yang pernah saya diami selama 7 tahun. Sambutan bandaranya, konstruksi bangunan dan jalannya, dan terutama orang-orangnya, tak ada lagi yang bisa kukenali. Padahal setahun yang lalu, saat masih berdomisili di Makassar istilah "I knew the pathway like the back of my hand"-nya Keane dapat kugunakan secara bebas. Tapi kini, istilah itu terasa jauh dari ingatanku.

Saat keluar dari pintu kedatangan bandara, tak ada lagi supir taksi legal dan ilegal yang mengerumuniku ataupun menarikku untuk memintaku menjadi penumpang mereka. Alih-alih, semua proses reservasi layanan taksi kini dikendalikan secara oleh elektronik oleh Dinas Perhubungan. Dengan begitu, transparansi tarif dan kenyamanan menjadi lebih terjamin. Ini hal yang baik tapi tetap saja terasa asing bagiku.

Begitu menjauhi zona bandara, saya menemukan lagi hal asing lain. Konstruksi bangunan dan jalanan semuanya tak lagi dapat kukenali.Yang tak berubah hanyalah kemacetannya, baliho dan poster figur-figur narsistik serta iklan-iklan yang bertebaran tanpa mengenal konsep tata ruang yang baik dan benar, lalu sampah dan pengemisnya yang masih eksis di pinggir-pinggir jalan seolah tak mengenal kata punah. Jika sampah dan pengemis adalah produk sampingan yang tak diinginkan dari sebuah modernisasi, maka kemacetan dan poster narsistik serta iklan yang tak mengenal toleransi pada mata-mata yang terpaksa melihat mereka setiap hari, adalah bentuk dari kegagalan manusia dalam mengenal estetika.

Mungkin saya takkan lagi menjadi bagian dari kota ini dalam beberapa tahun ke depan namun saya selalu berharap agar Makassar dapat menjadi sebuah kota yang sejuk dan damai seperti di masa yang tak pernah ada sebelumnya. Bebas dari begal, sampah, pengemis, dan baliho yang tak tentu arah. Entah kapan hal itu dapat terwujud.

Jumat, 19 Agustus 2016

Death's

Dua bulan terakhir di tahun ini merupakan periode yang saya anggap paling intens dalam kehidupanku selama dua dasawarsa terakhir. Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti mengisi relung jiwaku dalam interval yang sangat singkat. Jika saya menuruti apa yang perasaanku inginkan, mengikuti semua fluktuasi mood dengan segenap jiwa dan raga, dapat dipastikan hingga saat ini saya sedang lumpuh, tenggelam dalam gelombang histeria yang mematikan. Sempat selama beberapa hari saya memang kelimpungan, disibukkan dengan pertanyaan, "mengapa harus saya, mengapa harus sekarang?" Sampai akhirnya saya lelah bertanya tanpa menemukan jawaban. Dan di momen itu saya memutuskan untuk mematikan saklar perasaan lalu berjalan sepenuhnya dengan hanya mengandalkan logika. Saat itu terjadi, saya memang berhasil mengusir kesedihan dan melanjutkan lagi hidupku seolah-olah tak ada apa-apa namun sebagai gantinya, saya menjadi manusia yang tanpa sejarah dan memori emosional. Tapi saya tidak peduli lagi. Siapa yang butuh memori jika itu hanya melahirkan kesedihan.

Entah mengapa manusia harus hidup dengan bergelimpangan kesedihan dan kematian, sejak dalam kandungan hingga berusia lanjut. Napas yang dihirup maupun makanan yang ditelan, semuanya itu dilakukan hanya untuk membuat manusia merasakan kesedihan yang lebih lama di dunia. Meskipun kelahiran dan kematian datang secara bergantian dalam kehidupan ini, mengapa saya selalu merasa jika pada akhirnya kematian lah yang akan menang?

Minggu, 14 Agustus 2016

Tied Writing

Sudah lama tak menulis. Rasanya otak ini tidak lagi terbiasa dengan aksara dan semantik.

Senin, 25 Juli 2016

Karbon Dioksida

Ketika senyawa karbon dioksida pertama kali berhasil diisolasi di laboratorium untuk pertama kalinya di tahun 1754, para kimiawan sungguh berbahagia. Hal tersebut dianggap sebagai suatu pencapaian ilmu pengetahuan yang luar biasa karena karbon dioksida adalah sebuah senyawa yang dapat ditemukan di manapun di muka bumi ini, sudah ada sejak zaman dulu kala bahkan mungkin ketika manusia belum ada di muka bumi ini karbon dioksida sudah terlebih dahulu menari-nari di atmosfer, berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain dalam proses fotosintesis dan respirasi tetapi selama ribuan tahun setelah terhembus dari paru-paru Adam, Firaun, Cleopatra, Caesar, Nabi Muhammad, dan Genghis Khan, karbon dioksida tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang penting. Mungkin sudah menjadi takdir manusia untuk terlambat mengetahui signifikansi suatu objek atau malah justru meng-overestimate suatu objek, seperti yang pernah terjadi pada aluminum yang dulunya pernah dianggap lebih berharga dari emas lalu yang terbaru adalah pada kasus batu akik yang dulu saking signifikannya sampai harganya mencapai milyaran namun kini diobral seperti permen karena tak lagi dianggap signifikan.

Kamis, 30 Juni 2016

Selamat Jalan

Tak ada kata yang dapat mengungkapkan betapa mendalamnya kesedihan yang kurasakan saat ini.
Terimakasih atas kasih sayang dan perhatianmu kepadaku selama 26 tahun terakhir. Maafkan aku yang tak bisa membalasnya ketika kita masih berada di dimensi ruang waktu yang sama.
Aku akan berusaha untuk menjadi orang baik seperti yang selalu engkau sampaikan lewat pesan-pesanmu.
Selamat jalan, Ayah.

Kamis, 26 Mei 2016

Potato Chip

Setelah mencoba beberapa jenis potato chip, yang saya rasa sangat cocok dengan seleraku adalah Chitato.
Di masa depan, kecocokan selera ini mungkin bisa berubah karena berbagai faktor. Tapi untuk sementara ini, saya ingin menikmati dulu momen yang ada.

Rabu, 11 Mei 2016

Incidentally Back

Di awal 2016, saya memutuskan untuk tidak lagi menggunakan Facebook. Saya menganggap Facebook telah menjadi sejenis diktator saat perusahaan dari Silicone Valley tersebut menggunakan algoritma yang dapat memanipulasi perilaku penggunanya lewat Newsfeed. Hanya dengan mengetik beberapa kode, Zuckerberg dan koleganya dapat menentukan siapa yang bisa menjadi presiden di sebuah negara. Dan itu adalah hal yang menakutkan.

Selama berbulan-bulan tak menggunakan Facebook, saya merasa hidupku baik-baik saja. Malahan saya telah mengkonversi semua waktu yang dulunya kupakai untuk melihat Newsfeed ke kegiatan lain seperti belajar berenang, membaca Dostoevsky, dan memainkan salah satu Game Action RPG yang saya anggap paling sulit di PSP, Monster Hunter. Memang sih semua kegiatan itu tak menghasilkan uang sama sekali tapi setidaknya ada kepuasan yang sulit dinilai dengan uang ketika setelah berkali-kali percobaan akhirnya bisa juga berenang di Samudera Hindia tanpa alat bantu meskipun hanya sejauh 10 meter, saat saya mulai memaklumi apa yang dipikirkan Dostoevsky ketika menulis bahwa di neraka pastilah ada langit-langit agar penjaga neraka dapat mengikat tali untuk menggantung para pendosa, ataupun ketika saya berhasil mengalahkan monster Khezu dan Blangonga yang menjengkelkan. Pencapaian-pencapaian seperti itu tidak akan pernah bisa diliput ataupun dirayakan seperti yang dilakukan oleh dunia pada klub sepakbola Leicester City yang berhasil menjadi juara Liga Inggris dengan probabilitas 5000:1, sebuah probabilitas matematis yang semestinya mustahil tercapai di alam nyata.

Setelah beberapa bulan bebas dari adiksi Facebook, kemarin saya sempat mengintip lagi Facebook karena game Champ Man 16 memaksaku untuk melakukannya. Saya install lagi Facebook Lite, log in, lalu melihat timeline dan saya pun mengalami momen sureal selama beberapa menit. Saya seperti tak mengenali lagi Facebook. Tak mengenal bukannya karena ada perubahan warna tema ataupun desain pada medsos buatan Zuckerberg tapi merasa asing pada semua postingan yang disharing oleh semua "teman" Facebook-ku. Saya seperti tak mengenali lagi mereka. Mungkin saya terlalu lama di pedalaman hingga tak lagi mengenal modernisasi.

Sabtu, 30 April 2016

The Metamorphosis

Entah apa yang ada di dalam pikiran Kafka ketika menulis novelet The Metamorphosis. Sejak awal membacanya, saya sudah bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Gregor Samsa, mengapa dia jadi begitu, mengapa tidak ada dokter atau polisi yang terlihat dalam cerita, mengapa akhir ceritanya seperti ini? Semua terlihat tidak masuk akal hingga membuatku sakit kepala. Tapi kemudian, saya berhenti bertanya dan membiarkan otakku mengikuti setiap alur, kalimat, detail, dan perasaan yang diungkapkan oleh Kafka lewat sosok Gregor Samsa tanpa pretensi apapun. Dan pada akhirnya saya bisa menikmati buku ini.

Gregor Samsa dalam kisah The Metamorphosis adalah tokoh protagonis yang malang. Kesialan menimpa dirinya sejak awal cerita hingga akhir. Dan lebih sialnya lagi, Kafka tidak memberikan jalan keluar pada Samsa untuk mengakhiri kesialan tersebut. Sungguh pencipta yang kurang ajar, bisa-bisanya dia menciptakan sebuah kisah dan situasi di mana tokoh utamanya tak bisa merasakan kebahagiaan sama sekali. Yang luar biasanya adalah Gregor Samsa sama sekali tidak pernah mengeluhkan kondisi sialnya ini pada Sang Pencipta. Dia tidak bertanya ataupun mencaci siapapun yang dianggap bertanggungjawab atas kesialannya. Semua dia jalani begitu saja seolah-olah tak ada satupun masalah yang perlu untuk dipertanyakan. Dan yang paling bikin greget adalah sikap keluarga Gregor Samsa yang sungguh mengerikan.

Tapi saya bisa mengerti dengan sikap mengerikan yang ditujukan oleh keluarga Samsa. Siapapun orangnya, mungkin akan bersikap mengerikan juga jika tanpa ada angin atau badai, tiba-tiba saja salah satu anggota keluarganya terbangun di pagi hari ke dalam wujud mahluk yang menjijikkan.

The Metamorphosis adalah novelet karya Kafka yang menceritakan tentang seorang sales asuransi yang tiba-tiba saja berubah menjadi mahluk menjijikkan. Saya tidak ingin menjelaskan spoiler lebih lanjut di sini. Intinya kalau membaca karya Kafka, hanya dua hal yang patut dicamkan, pertama, jangan pernah tanyakan hubungan sebab-akibat. Kedua, jangan pernah mengharapkan happy ending pada tokoh utamanya. Dulu, di tahun 1930-an, gaya bercerita seperti yang ditunjukkan oleh Kafka masih asing bagi khalayak ramai. Saking asingnya, orang-orang sampai harus membuat istilah Kafkaesque untuk menyebutnya.

Jumat, 22 April 2016

Open Water

Sekitar 8 bulan yang lalu, seorang ekspatriat asal Selandia Baru berkunjung ke pulau ini. Dia hanya membawa sebuah tas dan sepeda. Usianya sekitar 50-an tahun, berperawakan tinggi, dan sangat energetik untuk orang seusianya. Saya bertemu dengannya di ruang tunggu pantai ketika dia sedang beristirahat sedangkan saya sedang mencari sinyal. Saya tidak ingat persis apa yang terjadi saat itu, tapi tiba-tiba saja kami terlibat dalam sebuah percakapan yang menggunakan bahasa Inggris terpatah-patah dariku dan bahasa Indonesia yang aneh darinya. Dari percakapan itu saya tahu jika dia adalah seorang pengacara yang berencana untuk pensiun dan menghabiskan masa tuanya dengan membuka usaha di Dela, sebuah tempat wisata yang ramai dikunjungi wisatawan asing untuk berselancar. Saat saya menggunakan bahasa Inggris, dia menjawabnya dengan bahasa Indonesia. Menurut pengakuannya, dia sengaja melakukannya agar bisa lebih lancar berbicara dengan bahasa pribumi. Soalnya dia mau menetap lama di Indonesia, jadi menguasai bahasa negara yang berpenduduk 200 juta jiwa adalah hal yang wajib.

Setelah berbincang lama, dia menanyakan alamat rumah seorang penduduk yang katanya sudah dia berikan uang untuk memberikannya jamuan makan siang. Kebetulan saya tahu rumah orang itu, maka saya pun mengantarnya. Di tengah jalan, dia tiba-tiba saja mau memberikan uang untuk saya karena telah bersedia membantunya. Saya langsung menolaknya, tapi mungkin itu keputusan yang salah ya? 😁😁😁

Singkat cerita, keesokan harinya saya bertemu lagi dengannya di pantai saat dia berencana kembali ke Dela. Kami pun berbincang kembali. Kali ini dia menggunakan bahasa Inggris secara penuh. Mungkin dia sudah lelah menggunakan bahasa Indonesia. Dari percakapan ini saya tahu kalau namanya adalah Mr. John dan dia iri dengan kehidupan orang di pulau ini. Menurutnya, orang di Ndao meskipun penghasilannya jauh dari cukup, mereka masih punya banyak waktu luang dan bersantai di pantai. Di Selandia Baru, sulit untuk menemukan kehidupan yang santai dan tenang seperti di Ndao. Di sana dia harus sudah ke tempat kerja di pagi hari lalu pulang menjelang malam hari, belum lagi dengan banyaknya tekanan di tempat kerja. Meskipun memiliki lebih banyak uang jika dibandingkan dengan saya, dia tak pernah punya waktu luang untuk menikmatinya. Makanya saat cuti ke Indonesia, dia selalu merasakan kedamaian karena bisa terbebas dari rutinitas yang mengekangnya jauh dari waktu luang. 

Sebelum berpisah, dia sempat berkata bahwa jika punya kesempatan hidup lebih lama di pulau ini, dia ingin menikmati hari-harinya dengan bersepeda keliling pulau lalu berenang dari pantai Barat ke pantai Timur pulau ini.

Setelah saya pikir-pikir, ide Mr. John untuk berenang dari pantai Barat ke pantai Timur Ndao ternyata lumayan menantang. Dan saya memutuskan untuk mencobanya. Tapi sebelumnya saya harus belajar berenang dulu.

Kamis, 21 April 2016

Manpower 2

Beberapa hari lalu saya sempat menerbitkan tulisan tentang rencana kunjungan kerja Menkes ke NTT yang dijadwalkan berlangsung di minggu ini. Seharusnya postingan itu bisa lebih cepat terbit, namun pengelola blog Skydrugz cabang Makassar sedang sibuk dengan skripsinya sehingga dia terlambat memposting tulisan Manpower. Jadi rencana kunjungan kerja Menkes tersebut mengalami banyak perubahan. Pihak Dinkes Kabupaten memberitahukan perubahan tersebut secara mendadak, 2 hari sebelum hari H. Dari yang awalnya undangan untuk semua Tim NS NTT, tiba-tiba saja berubah hanya menjadi 5 Tim NS saja yang berasal dari Pulau Timor. Pemilihan 5 Tim NS dari satu pulau di NTT saja sebenarnya sudah mencederai prinsip representasional karena idealnya, perwakilan semestinya berasal juga dari pulau-pulau lain di luar Pulau Timor. Jika agenda Menkes adalah untuk mendengarkan aspirasi Tim NS di NTT, maka agenda ini sudah pasti sulit tercapai karena sejak awal prinsip representatif sudah tidak terpenuhi. Masalah yang dihadapi oleh Tim NS di Pulau Timor pasti tak sama dengan yang dihadapi oleh Tim NS yang berada di Pulau Sabu, Pulau Alor, ataupun Pulau Rote.

Tapi saya bisa mengerti mengapa perubahan mendadak seperti ini bisa terjadi, prinsip efisiensi dana adalah alasan utamanya. Untuk mengakomodir semua Tim NS di NTT selama pertemuan dengan Menkes, pasti membutuhkan banyak dana, entah itu untuk transportasi, makan-minum, dan penginapan. Untuk bisa menyiasati itu, maka pihak Kemenkes mengambil keputusan penghematan dengan mengorbankan prinsip representasi.

Menurut pandangan pribadiku, itu adalah pilihan yang logis dan praktis. Dan saya sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Saya justru merasa bersyukur dengan adanya keputusan itu karena saya tidak perlu lagi terjebak dalam dilema antara meninggalkan pulau ini atau menemui menkes. Lagipula saya merasa belum ada indikasi mendesak dalam penugasan yang mengharuskanku untuk bertemu dengan Menkes saat ini. Walaupun obat-obatan kadang sering habis dan gedung Puskesmas di pulau ini jauh dari kata layak, toh saya rasa curhat pada Menkes mengenai hal tersebut tidak serta merta akan mengatasi masalah karena persoalan kehabisan obat adalah kondisi kronik yang telah terjadi di semua Puskesmas Kabupaten Rote sejak adanya sistem tender obat lewat e-catalogue, makanya saya tidak kaget waktu Dinkes mengatakan bahwa Tablet Sulfas Ferosus atau Tablet tambah darah yang semestinya wajib diberikan pada semua ibu hamil muda selama 90 hari habis stoknya di gudang obat kabupaten. Kalau dulu waktu pertama kali datang, mungkin saya akan kaget mendengarnya lalu berkomentar, "kok bisa, ya?", tapi setelah hampir setahun di sini, saya lelah untuk kaget dan mulai menganggapnya hal yang biasa. Paling banter kalau memang para bumil bersedia, saya suruh saja para bumil itu untuk beli tablet tambah darah di mana pun mereka bisa mendapatkannya, apapun mereknya, yang penting ada zat besi di dalamnya. Kalaupun tak mau beli, saya tak mau memaksa. 

Sedangkan masalah gedung Puskesmas yang tidak layak sepertinya terlalu ribet untuk diselesaikan secara instan karena ada banyak proses birokrasi yang harus dilewati. Apalagi beberapa tahun yang lalu sempat ada kasus korupsi yang menjerat banyak orang ketika proses renovasi Puskesmas di pulau ini berlangsung. Sepertinya Dinkes Kabupaten agak ragu untuk membahas pembangunan gedung Puskesmas baru. Intinya adalah bertemu Menkes bukanlah prioritas utama. Yang menjadi prioritas menurutku adalah tetap berada di Pulau terpencil di Samudera Hindia ini untuk memberikan pelayanan pada masyarakat secara optimal sesuai dengan kemampuan.

Tapi teman-teman sekelompokku berpikiran lain. Mereka ngotot sekali mau ketemu Menkes. Biarpun tidak diberi akomodasi dan transportasi, mereka tetap mau bertemu Menkes. Saya bisa mengerti keinginan mereka. Bagi mereka, Menkes itu ibarat Justin Bieber bagi para Beliebers. Sehingga kemanapun Menkes pergi, mereka harus ada di situ. Jadi saya tak ingin memaksakan perspektifku pada mereka. Mau ketemu Menkes silahkan pergi, mau tinggal di Puskesmas juga silahkan. Ini negara demokrasi. Tadi pagi mereka semua sudah berangkat dan saya sendiri di Puskesmas bersama tiga staf Puskesmas. Untungnya pasien yang bulan lalu sakitnya berjamaah hingga 80 orang per hari telah sembuh semua hingga kunjungan hari ini dapat berkurang drastis.

Sayangnya hari ini saya harus menyaksikan lagi kematian. Tadi pagi ada keluarga pasien datang menemuiku saat saya hendak berenang di laut. Kata keluarganya, pasien mengeluh sesak di rumahnya. Setelah singgah sebentar di Puskesmas untuk mengambil tensimeter dan obat-obatan, saya dan keluarga Si Pasien langsung menuju rumah pasien. Namun saat sampai di sana, saya melihat pasien sudah tidak sadarkan diri. Setelah mengecek nadi, pernapasan, dan refleks, saya tak lagi menemukan tanda-tanda kehidupan. Sepertinya semua sudah terlambat. Pasien yang meninggal ini hidup bersama keponakannya. Anak ada tiga namun tak ada yang berada di kampung halaman di saat-saat terakhirnya. Selama beberapa bulan terakhir, Si Pasien ini sudah sering meminta agar anak-anaknya mau mengunjunginya di pulau terpencil ini. Namun anak-anaknya mungkin punya kesibukan hingga tak pernah bisa datang berkunjung. Mungkin kali ini mereka sudah punya kesempatan untuk berkunjung.

Rabu, 20 April 2016

Manpower

Hari minggu yang lalu saya mendapat info dari Kepala Dinas Kesehatan bahwa Menteri Kesehatan akan berkunjung ke Kupang pada minggu ini dan semua Tim Nusantara Sehat diminta untuk hadir ke Kupang. Surat tugas diambil di Kabupaten pada tanggal 20. Semua anggota Tim NS penempatan Nusa Tenggara Timur sangat antusias dengan kabar ini, kecuali saya. Entah kenapa saya tidak berminat untuk ke Kupang dan menemui Menkes di sana. Menurut prediksiku, acara tersebut mungkin hanya bersifat protokoler dan seremonial sedangkan Tim NS hanya akan menjadi bagian dekoratif untuk memeriahkan acara saja.

Lagipula saya merasa berat untuk meninggalkan tempat tugasku saat ini berhubung petugas yang ada di Puskesmas sangat terbatas. Enam pegawai kontrak sedang ada di Kabupaten untuk memperbarui kontrak entah kapan datangnya, lalu tiga PNS sedang menjalani prajabatan di Kupang, bendahara JKN dan bendahara BOK juga sedang mengurus dana di Kabupaten entah sampai kapan, sehingga praktis yang tersisa di Puskesmas saat ini hanyalah Kepala Puskesmas, Tim NS yang berjumlah 8 orang, seorang bidan senior, dan satu staf administrasi. Jika semua Tim NS berangkat, maka sisa 3 orang saja yang menghuni Puskesmas untuk melayani pasien.

Jika mau tak peduli, saya bisa saja langsung berangkat dengan alasan, "ada tugas luar dari Dinkes untuk bertemu Menkes" tapi terus terang, saya merasa tidak tega jika harus meninggalkan Puskesmas dalam kondisi kekurangan sumbet daya manusia. Saya teringat dengan keadaan Puskesmas bulan lalu saat liburan Paskah, saya dan seorang perawat harus menghadapi serangan pasien yang berjumlah 20 hingga 80 orang tiap hari dengan jam kedatangan yang tak mengenal kata siang dan malam, mereka mengalir seperti air bah di musim hujan. Saya tak mungkin menolak atau mengusir pasien-pasien itu berhubung saya berada di pulau kecil ini, di tengah-tengah Samudera Hindia, karena negara, lewat Menkes, telah memandatkan kepada saya tugas memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat di daerah perbatasan. Sehingga dalam kondisi kekurangan tenaga di Puskesmas seperti ini, jika harus memilih antara menemui Menkes, yang telah menandatangi surat penempatanku di sini, atau tetap di tempat tugas untuk melayani pasien di sini, saya lebih memilih untuk tetap di tempat tugas. Saya mungkin bisa berubah pikiran jika petugas Puskesmas yang lain sudah datang untuk menjadi back up selama Tim NS tidak ada berada di tempat tugas.

Inilah kendala sulitnya Puskesmas ini untuk maju. Sumber daya manusia dan fasilitasnya sangat terbatas. Meskipun nantinya ada fasilitas yang lengkap di Puskesmas tapi jika tak ada manusia yang mengoperasikannya, itu sama saja dengan bohong. Tanpa tim NS, Puskesmas ini lumpuh. Entah apa jadinya Puskesmas ini jika nanti Tim NS sudah ditarik. Masalah utamanya, tidak banyak putra dan putri daerah yang mau bertugas di pulau kecil ini. Sudah ada banyak orang daerah yang mencoba bertugas dan hidup di pulai ini, tapi kebanyakan tidak betah dan langsung kabur. Malah yang betah justru orang luar, seperti Kepala Puskesmas yang berasal dari Manggarai, bidan senior yang berasal dari Timor, dan seorang staf administrasi yang berasal dari Lembata. Putra dan putri daerah mungkin menganggap tak ada yang menarik dari pulau ini. Padahal pulau ini sangat tenang, pasir pantainya indah, dan lautnya sejuk untuk berenang. Sayangnya, putra dan putri daerah tidak tertarik dengan hal tersebut. Mereka lebih suka mencari tantangan di kota besar.

Sabtu, 16 April 2016

Eksperimen 2

Saat melihat postingan orang yang tidak sesuai dengan pandangan hidupku di timeline Twitter atau LINE, selalu saja ada rasa gatal di otak dan jemari untuk mengetik komentar yang membantah hal tersebut dengan cara yang paling sarkas, satir, atau ironis namun samar agar tidak terkesan menyinggung. Namun rasanya sulit untuk melakukan hal tersebut sehingga lebih sering saya mendiamkan saja dan move on dengan hidupku. Saya merasa perdebatan atau perbantahan pendapat lewat dunia maya entah itu lewat cuitan Twitter atau status Facebook hanya bermuara pada dua jalur, yakni habisnya kuota dan kebahagiaan para follower dalam menghakimi. Mungkin dampak dari perdebatan itu adalah saya akan terkenal entah itu terkenal karena pandai berargumentasi atau justru tolol dan bigot dalam mempertahankan pendapat. Lalu efek samping lainnya bisa saja follower bertambah, tiba-tiba ada orderan untuk tampil di talkshow atau malah dipenjara karena tuduhan hate speech.

Pengalaman selama 9 tahun di sosial media telah mengajarkanku untuk tidak pernah mengumbar emosi yang berlebihan di wahana tersebut karena saya mengenal banyak orang yang sangat bahagia saat melihat orang lain menjadi tak terkontrol atau labil di media sosial. Mereka punya bahan olok-olokan dan kelabilan orang lain menjadi sumber kebahagiaan mereka. Memang banyak agama yang mengajarkan agar kita senantiasa membahagiakan manusia lainnya. Tapi saya tidak ingin membahagiakan manusia-manusia seperti itu. Oleh karena itu saya lebih cenderung pasif dalam berkomentar di media sosial terkecuali pada orang-orang yang saya anggap sudah resisten dengan semua sarkasku. 

Instagram adalah media yang saya nilai cukup aman untuk berekspresi karena foto-foto membuatku malas berkomentar. Selain itu di Instagram saya juga suka bereksperimen di tiap postingan untuk menilai seberapa agresif instabot akun kloningan dalam menekan icon like dan membuat komentar.

Jumat, 15 April 2016

Eksperimen

Internet tidak lagi menjadi domain yang aman bagi penggunanya yang awam. Semenjak keuntungan menjadi dasar utama untuk bertahan hidup dalam industri dunia maya, Google dan para pemain besar seperti Amazon dan  Facebook mengembangkan suatu algoritma rahasia yang bertujuan untuk mengambil semua informasi mengenai kebiasaan para penggunanya selama berada di dunia maya. Informasi ini kemudian dijual pada para pengiklan yang kemudian memenuhi timeline pengguna dengan semua produk dan postingan yang mengganggu.

Karena itulah saya berhenti menggunakan Facebook, tidak pernah menggunakan Amazon, tapi masih tetap bergantung pada Google. Nasib jadi mahluk awam. Namun tidak banyak orang yang berpikiran seperti saya. Mayoritas manusia di abad ini sangat bergantung pada Facebook meskipun mereka dibombardir oleh puluhan iklan yang mengganggu di timeline. Dulu ada yang memprediksi bahwa setiap tahun jumlah pengguna Facebook semakin sedikit, namun semenjak perusahaan yang didirikan oleh Zuckerberg ini mengumumkan IPO, jumlah penggunanya justru semakin meningkat. Dari hasil survei Comscore, ditemukan fakta bahwa para pengguna internet yang berusia 18-34 tahun cenderung menghabiskan waktu lebih banyak dalam bermain Facebook, bahkan sekitar 2,5 kali lebih lama jika dibandingkan pesaing terdekatnya Snapchat dan Instagram (yang juga dimiliki oleh Facebook). Lalu di mana Twitter, Google, Tumblr, dan Pinterest? Mereka sangat jauh tertinggal di belakang sampai nyaris dianggap tak berarti. Dengan semakin banyaknya anak muda (18-34 tahun) yang bermain Facebook dalam waktu yang lama, itu berarti semakin banyak orang yang dapat dijadikan sasaran untuk dicuri informasinya lalu menjadi korban tayangan iklan. Berkat algoritmanya ini, Facebook dapat menjual banyak informasi ke pengiklan lalu meraup keuntungan hingga milyaran dolar tiap tahunnya. Bahkan tahun ini aset Facebook mencapai 325 milyar dollar. Angka yang sungguh fantastis. Dengan uang sebesar itu dan pengguna sebanyak 1,6 milyar, Facebook dapat mendirikan 4 negara sebesar Indonesia. Dan semua itu berkat penjualan informasi pada para pengiklan.

Setelah mengetahui fakta itu, saya pun berpindah ke Twitter dan Instagram. Sampai akhirnya, Instagram diakuisisi oleh Facebook lalu memasang iklan dan mulai menggunakan juga algoritma rahasia di timeline penggunanya, yang mana hal ini pun diikuti oleh Twitter. Padahal salah satu hal yang membuat saya suka pada Twitter dan Instagram adalah timeline-nya diisi oleh postingan yang diurut secara kronologis. Hal ini membuat semua postingan terkesan romantis dan nostalgik. Dengan algoritma, maka timeline kita hanya diisi oleh postingan dan iklan yang didasarkan pada semua hal yang pernah kita like atau komentari di masa lalu. Algoritma seperti ini dapat membatasi pengalaman penggunanya dalam berselancar di dunia maya. Pada akhirnya, semua postingan yang kita lihat adalah hasil pilihan algoritma sehingga dalam hal ini apa yang kita dapatkan lewat timeline telah dikendalikan oleh Facebook. Rasa-rasanya kita telah dijajah oleh Facebook. Tapi sekali lagi, tidak banyak yang peduli dengan hal ini. Satu koma enam milyar pengguna Facebook tidak terlalu memusingkan perkara tersebut. Mereka hanya ingin membunuh waktu dan berinteraksi dengan dengan manusia lain lewat paket data.

Selasa, 12 April 2016

Hedon

Sejak membaca berbagai jurnal penelitian mengenai Hedonic Treadmill, saya menyimpulkan tiga hal.

Pertama, manusia adalah mahluk yang sangat adaptif dalam berbagai kondisi, entah itu kehidupan yang penuh siksaan ataupun penuh kesenangan. Manusia akan selalu mampu membuat dirinya bersikap biasa saja untuk menghadapi semua kondisi ekstrim, entah itu dalam tahanan Nazi atau cengkraman pacar yang abusif atau malah dalam dekapan milyaran uang. Perbedaan hanya terlihat di awal peristiwa ketika seseorang tertangkap Nazi, dipukul pacar, atau menang milyaran uang lewat undian namun seiring berjalannya waktu, semua lonjakan kesedihan dan kebahagiaan itu menjadi hambar lalu menjadi hal yang biasa saja.

Kedua, Hedonic Treadmill terjadi karena faktor hormonal dan psikologis yang ada di dalam tubuh manusia. Ada endorphin, serotonin, dan sistim limbik di sana. Sehingga secara evolusional, dapat dikatakan bahwa manusia tidak diciptakan untuk terus-menerus merasakan kebahagiaan ataupun kesedihan permanen dalam jangka panjang, kecuali orang tersebut mengalami gangguan depresi berat atau gangguan mania berat.

Ketiga, seseorang yang dapat memanfaatkan Hedonic Treadmill dengan baik merupakan manipulator Machiavellian yang sempurna karena kita tak pernah bisa mengendalikan manusia lewat logikanya namun melalui emosinya. Dulu saya sempat bertanya mengapa Hitler dan Mussolini dapat menjadi fasis yang sukses sebelum akhirnya tentara sekutu menghancurkan mereka atau mengapa banyak orang yang sulit melepas pacar atau kekasih yang abusif? Dan semua jawabannya itu ada di Hedonic Treadmill.

Kamis, 07 April 2016

Kamis, 7 April 2016: Mining

Kemarin saya sempat melihat publikasi di akun Twitter Kementrian Kesehatan mengenai Nusantara Sehat. Di cuitannya, Kemenkes sepertinya sedang menggelar lomba atau event atau apapun itu, yang intinya adalah kita harus membuat tulisan mengenai "Apa yang Akan Aku Lakukan Jika Menjadi Tim Nusantara Sehat?"
Saat melihat cuitan ini, saya sempat tertegun lalu bertanya pada diri sendiri, memangnya apa ya, yang sudah saya lakukan sebagai anggota Tim Nusantara Sehat?
Untuk menjawab pertanyaan itu, saya perlu melakukan retrospeksi ke setahun yang silam ketika saya mengikuti proses rekrutmen Tim Nusantara Sehat. Waktu itu belum banyak yang tahu tentang Nusantara Sehat, bahkan sekarang pun, masih banyak yang belum tahu mahluk apa itu Nusantara Sehat, apakah dia hidup di darat atau di laut. Saya sendiri tahu info ini dari seorang kawan kuliah yang dulunya bekerja sebagai dokter tambang di Sulawesi Tengah. Sebagai sesama dokter di perusahaan tambang, kami sama-sama mengalami kejenuhan dan merasa agak ngeri membayangkan bahwa kami berdua sudah bekerja dan masuk dalam suatu lingkungan kerja yang keuntungannya diperoleh dari pengrusakan alam. Memang sebagai dokter kami tak terlibat dalam urusan membabat hutan ataupun menggali kerak bumi namun setidaknya kami turut membantu agar para pekerja tetap sehat sehingga mereka tidak berhenti untuk terus-menerus mengguncang isi bumi. Beberapa perusahaan tambang yang memiliki sistem K3LH (kesehatan, keselamatan kerja dan lingkungan hidup) yang baik biasanya melakukan upaya reforestasi pada hutan dan tanah yang sudah dikeruknya, namun hutan yang baru ditanam oleh manusia takkan sama biodiversitasnya dengan hutan yang baru ditanam oleh alam selama ribuan tahun. Belum lagi jika kita bicara mengenai polutan dari proses penambangan yang terlepas ke udara, tanah, air, dan tubuh manusia.
Namun kebanyakan orang tidak terlalu peduli dengan semua kerusakan alam yang terjadi akibat penambangan, entah itu legal maupun ilegal karena pada akhirnya, yang ada di benak mayoritas orang adalah bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Pemerintah akan terus mengeluarkan izin tambang karena ini adalah jenis industri yang menghasilkan banyak devisa dan menyerap banyak tenaga kerja. Bahkan kalaupun tak ada izin dari pemerintah, para penambang liar tak akan diam melihat kekayaan alam dibiarkan begitu saja tanpa diraup. Dan biasanya para penambang liar tidak terlalu peduli dengan kesehatan, keselamatan kerja ataupun lingkungan hidup. Jadi jika mereka sudah turun tangan, lupakan saja soal reforestasi ataupun penutupan lubang-lubang bekas galian tambang. Mereka tidak bakal melakukan hal-hal yang tidak menguntungkan seperti itu.

Efek dari pengrusakan lingkungan hidup ada yang bersifat immediate atau segera, ada pula yang bersifat delayed atau tertunda. Untuk efek yang sifatnya immediate, hampir semua industri pertambangan sudah bisa mengantisipasinya dengan engineering manipulation. Namun untuk efek delayed, kebanyakan dari kita tak pernah bisa meramalkannya secara tepat. Saat efek delayed itu timbul, mungkin para penambang yang dulu mengeruk isi bumi sudah mati semua di makan umur sehingga yang merasakannya hanyalah anak cucu mereka dan masyarakat yang tinggal di sekitar tambang.

Mungkin rasanya tidak etis jika membicarakan hal-hal buruk tentang industri yang pernah menjadi sumber penghidupan kita. Tapi bayangkan tentang sebuah kisah mengenai seorang pembunuh bayaran yang telah mendapatkan banyak uang dari merenggut nyawa puluhan orang lalu tiba-tiba dia berhenti melakukannya dan mulai menulis buku tentang betapa kejamnya pekerjaan pembunuh bayaran. Nah, seperti itulah kira-kira analoginya meskipun terkesan dipaksakan.

Lalu bagaimana dengan kisah Nusantara Sehat? Nanti saja dibahas.

Selasa, 05 April 2016

Selasa, 5 April 2016: Chatting Lagi

Sejak berada di pulau terpencil Samudera Hindia, saya menjadi orang yang udik pengetahuan dan teknologi. Pengetahuanku tentang kedokteran terhenti di ilmu tahun 2013 ke bawah. Bahkan kebanyakan ilmu tersebut sudah mulai terhapus karena jarang digunakan dan diperbarui. Ibarat buku, otakku adalah sebuah buku tua yang sudah sobek lembarannya di sana-sini. Buku seperti itu baiknya dimuseumkan atau dibakar saja agar tak menyesatkan. Tapi kalau itu dilakukan pada otakku, berarti saat ini saya sudah mati dan tak bisa lagi mengetik kalimat di blog ini.

Saya menjalani kehidupan profesionalku di sini dengan fragmen ingatan dan pengetahuan yang terpecah-pecah. Di awal-awal penempatan, tiap hari saya senantiasa mempertanyakan apakah tindakan dan penangananku sudah lege artis. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pertanyaan seperti itu tidak lagi sering frekuensinya karena pada akhirnya semua pengetahuan itu tidak terlalu berguna jika fasilitas di layanan primer tidak memadai. Setiap profesi memiliki batasan dan seringkali batasan tersebut terkait erat dengan teknologi atau engineering. Misalnya saja untuk bidang kriminal, sebelum tahun 1920-an para polisi dan detektif seringkali kesulitan untuk mengungkap pelaku kejahatan meskipun pelakunya meninggalkan alat kejahatan di lokasi kejadian. Namun batasan itu berhasil diterobos dengan adanya teknologi deteksi sidik jari dan DNA.

Ilmu pengetahuan alam pun memiliki batasan serupa. Sebelum era Galileo, para ilmuwan membuat banyak hipotesis mengenai hukum alam hanya berdasarkan nalar tanpa ada pembuktian. Mereka hanya mengira-ngira tentang planet dan bintang di langit lalu beranggapan bahwa bumi adalah pusat semesta. Namun Galileo mengubah tradisi tersebut dengan memperkenalkan metode eksperimen dan teleskop. Kini mayoritas ilmuwan percaya bahwa bumi hanyalah secuil debu jika dibandingkan dengan alam semesta yang luasnya sulit terbayangkan. Kepercayaan seperti ini sulit diterima saat Galileo masih hidup.

Nah, begitu juga halnya dengan profesi kedokteran. Batasan profesi ini adalah instrumentasi dan modalitas diagnostik. Meskipun saat pendidikan para pengajar senantiasa menekankan pada kami untuk memperkuat anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien dalam penegakkan diagnosis, pada akhirnya itu hanya bisa memprediksi tanpa bisa memastikan secara langsung apa yang ada di dalam tubuh pasien. Minimal kita perlu X-ray untuk mengetahui kondisi paru-paru dan pertulangan pasien atau pemeriksaan kimia darah untuk memastikan kadar gula dan kolesterol pasien. Oleh karena itu, dalam kedokteran ada namanya diagnosis sementara atau kadang juga disebut sebagai diagnosis kerja dan diagnosis definitif atau diagnosis pasti. Diagnosis kerja dibuat berdasarkan hasil anamnesis (tanya jawab dengan pasien) dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang terbatas yang dikombinasikan dengan dasar keilmuan dan pengalaman dokter. Diagnosis kerja masih dapat berubah tergantung hasil pemeriksaan lanjutan. Sedangkan diagnosis definitif biasanya ditegakkan dari diagnosis kerja plus pemeriksaan penunjang mutakhir seperti endoskopi, biopsi, PCR, atau kultur. Namun ada juga beberapa diagnosis kerja yang dapat menjadi diagnosis definitif karena adanya patognomonik klinis pada suatu penyakit. Misalnya saja pada penyakit katarak atau vulnus laceratum yang sudah dapat terdiagnosis hanya dengan melihatnya. Sedangkan untuk penyakit seperti lupus, ALS, atau HIV, kita tidak dapat memastikannya tanpa pemeriksaan laboratorium ataupun pencitraan. Oleh karena itu pendidikan kedokteran selalu mengajarkan untuk mencari bukti sebanyak-banyaknya melalui berbagai modalitas pemeriksaan untuk mendukung suatu diagnosis penyakit sekaligus untuk dapat memastikan tingkat keparahan penyakit tersebut sehingga mengandalkan saja panca indera saja tidak cukup.

Namun bagaimana dengan wilayah yang terpencil dan tanpa fasilitas seperti pulau yang kutempati saat ini? Panca indera justru satu-satunya alat diagnostik. Diagnosis penyakit murni berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Terapi diberikan berdasarkan hasil interpretasi riwayat penyakit, tanda-tanda fisik, dan pengalaman. Misalnya saja untuk pasien yang datang dengan demam dan batuk berdahak, pada kasus seperti ini seorang dokter harus menentukan apakah pasien tersebut cukup diberikan obat simptomatis atau harus diberi antibiotik. Di fasilitas kesehatan yang lengkap, kita dapat memastikannya dengan melakukan pemeriksaan leukosit, antibodi, atau bahkan kultur darah. Namun bagaimana jika semua fasilitas itu tidak ada? Maka itu kembali lagi ke pernyataan yang saya sebutkan sebelumnya yakni hasil interpretasi riwayat penyakit, tanda-tanda fisik, dan pengalaman. Oleh karena itu pada banyak literatur, kedokteran disebut sebagai ilmu pengetahuan dan seni. Di satu sisi, para dokter dituntut untuk senantiasa mengikuti guideline atau panduan terapi namun di lapangan, guideline seringkali tidak bisa diandalkan karena keterbatasan instrumentasi dan modalitas. Pada kondisi seperti ini, seni yang mengandalkan prinsip primum non nocere atau do not further harm, beneficent, dan autonomy harus diterapkan yang mana hal itu akan kembali lagi ke pengetahuan dan pengalaman dokter. Bahkan seorang dokter dapat memberikan racun pada seorang pasien selama ada indikasi dan persetujuan pasien, seperti pada kasus injeksi botox atau botulinum toxin, racun yang jika masuk aliran darah meskipun hanya 0,000001 gram maka itu dapat melumpuhkan seluruh otot rangka dan pernapasan yang berujung pada kematian. Seorang dokter dapat melakukan injeksi botulinum pada pasien atas dasar pertimbangan risiko dan keuntungan untuk pasien sekaligus dengan adanya persetujuan dari pasien. Karena pada akhirnya yang memiliki tubuh untuk diobati adalah pasien.

Senin, 4 April 2016: Chatting

Para mantan mahasiswa yang hidup di era digital, seperti diriku, pada umumnya memiliki grup angkatan atau alumni di media chatting, entah itu Line, Kakao Talk, WeChat, ataupun Facebook. Angkatanku waktu kuliah dulu juga sudah membentuk grup chatting di beberapa media namun yang nampaknya paling aktif adalah Line. Entah siapa yang pertama membuatnya, tapi orang itu telah memilih nama "Epigl07tica" sebagai nama grupnya. Padahal dia bisa saja menggunakan nama "07 Sweet" atau "Angkatan 07 Cakep dan Caem" atau nama lain yang lebih kekinian. Mungkin dia sengaja melakukannya untuk mempertebal nilai identitas angkatan kami. Kebetulan nama angkatan kami adalah Epigl07tica. Mengapa namanya bisa begitu? Panjang ceritanya. Hanya untuk menentukan nama angkatan, ada banyak perdebatan dan argumentasi yang dilibatkan saat itu. Pada akhirnya yang memenangkan pertarungan adalah kubu mahasiswa yang kemampuan bahasa Inggrisnya lebih mumpuni karena nama Epigl07tica usulan mereka itu merupakan sebuah singkatan kalimat dalam bahasa Inggris yang bunyinya adalah Empowering People...bla...bla...bla.... Saya sudah lupa karena saya tidak pernah mendukung penggunaan nama itu. Saya sendiri sebenarnya mengusulkan sebuah nama yang lebih sederhana tapi akurat, yakni "2007". Sayangnya tak ada yang mendukung usulan itu terkecuali saya sendiri. Karena kita hidup di alam demokrasi yang memukul rata para minoritas. Maka saya pun tunduk pada konvensi. Tapi saya tak berkecil hati dengan keputusan tersebut karena setidaknya ada aksara 07 di nama Epil07tica, yang berasal dari usulan 2007-ku.
*Kisah ini fiktif belaka, tak ada hubungannya dengan tokoh dan kejadian di alam nyata. Jika ada kesamaan nama dan tempat, itu hanya kebetulan belaka.*

Sejak bergabung dengan grup chatting Line angkatan di tahun 2013, saya menyaksikan beberapa kali evolusi percakapan.
Di tahun 2013-2014, topik yang selalu dibahas adalah referat dan penguji koas. Tiap minggu, selalu saja ada teman yang minta contoh referat dan tips agar dapat lolos dari penguji killer. Hal ini wajar saja karena pada saat itu banyak kawan angkatan yang masih menjalani masa koas. Tidak ada satupun koas yang ingin gagal dalam pembacaan laporan dan ujian di suatu departemen karena risikonya adalah harus mengulang beberapa minggu lagi di departemen tersebut. Mengulang artinya harus menjadi koas lebih lama lagi yang dengan kata lain semakin lama harus menjalani penderitaan. Pada periode ini, saya cukup aktif terlibat dalam percakapan.

Nah, memasuki 2014-2015 topik pembicaraan di grup berubah lagi. Tak ada lagi pembahasan mengenai referat dan ujian karena mayoritas anggota angkatan telah lulus kuliah. Sudah banyak yang menjadi dokter meski belum sepenuhnya karena masih harus melewati tahapan internship. Di era ini, topik yang dibahas adalah masalah-masalah yang dihadapi saat internship, dan penyakit aneh yang ditemui saat bertugas. Ada yang memberikan solusi yang positif tapi lebih banyak yang bercanda. Di periode ini, saya mulai menjadi silent reader.

Lalu sejak berakhirnya 2015 hingga tahun-tahun setelahnya, topik pembicaraan mulai horor. Pernikahan, prospek kerja, pendidikan spesialis, dan semua hal yang berkaitan dengan masalah orang dewasa. Di titik ini, saya sepertinya tidak lagi ingin membaca chatting di grup angkatan. Rasanya sulit bagiku untuk menerima fakta bahwa saya tak lagi muda. Usia 17 tahunku saat pertama kali masuk kuliah telah lama berlalu dan kini saya harus bergelut dengan dunia nyata yang sebetulnya masih berada di bumi yang sama dengan beberapa tahun sebelumnya namun terasa sangat jauh berbeda saat di jalani karena tak ada lagi rekan sekomunitas yang menyertai. Kawan-kawan seangkatanku yang dulunya culun saat masih jadi mahasiswa baru kini telah bertransformasi menjadi orang-orang hebat. Ada yang sudah kuliah di luar negeri, ada yang melanjutkan pendidikan spesialis, ada yang sudah menjadi pengusaha, dan lain-lain. Sedangkan saya justru terdampar di pulau terpencil di Samudera Hindia, melayani pasien hanya menggunakan kaos oblong, celana training, dan sendal karet serta dengan alat kesehatan dan obat yang terbatas. Seringkali saya merasa heran, mengapa pasien-pasien di sini bisa sembuh hanya dengan obat-obatan seadanya yang ada di sini. Yah, meskipun ada juga sih beberapa yang mati karena memang tidak ada fasilitas pendukung, seperti beberapa pasien yang mengalami stroke, gagal ginjal, dan serangan jantung. Pada umumnya pasien-pasien tersebut tak jadi dirujuk entah atas kemauan sendiri ataupun hasil rembuk keluarga.

Minggu, 03 April 2016

How to live without certainty and yet without paralysed by hesitation?

Saya merasa pandanganku terhadap kehidupan menjadi semakin pesimistik dibanding sebelumnya. Hal ini terkait erat dengan pudarnya keyakinanku pada berbagai nilai internal yang dulunya ku pegang teguh sepenuh hati. Semua nilai itu terlihat kabur dan nyaris tak lagi bermakna di nalarku. Saya tak ingin menjelaskan secara terperinci mengenai nilai-nilai tersebut karena itu tak lagi menjadi bagian dari hidupku.

Sekarang saya menatap hidup ini dengan sebuah paradigma baru. Ini bukanlah sebuah paradigma yang positif dan jauh dari optimistik. Semuanya diawali oleh adagium bahwa hidup ini tak memiliki makna apapun. Sebenarnya saya tak ingin mempercayai hal tersebut karena selama ini saya diajarkan bahwa selalu ada makna di balik setiap peristiwa dan kehadiranku di muka bumi ini memiliki maksud dan tujuan. Namun setelah bertahun-tahun menjalani hidup, pengalaman justru mengajarkanku bahwa tak perlu mencari makna apapun di kehidupan karena makna itu tak pernah ada. Itu hanyalah ilusi untuk menguatkan psikologi manusia yang mempercayainya.

Ketika saya melihat penderitaan dan merasakannya sendiri, saya semakin yakin bahwa makna itu tak pernah ada. Saya sungguh tak dapat memikirkan makna positif dibalik setiap darah dan air mata yang tertumpah di peperangan Irak, Suriah, Palestina, dan Afganistan. Apa yang saya lihat hanyalah kekejaman mahluk yang bernama manusia. Di satu sisi, mereka adalah pencipta teknologi yang dapat mengkloning dan mengembangbiakkan mahluk hidup lain sesuka hatinya namun di sisi lain mereka juga adalah penghancur yang telah merenggut jutaan jiwa sesamanya. Dari sifat dasarnya saja, manusia sudah tidak memiliki karakteristik yang jelas. Apakah dia penghancur ataukah pelindung?

Jika dipikir sekilas, rasanya menakutkan jika harus hidup dengan mengetahui fakta bahwa kita hidup sendiri di alam semesta ini, bahwa hidup kita terjadi tanpa alasan, dan suatu hari nanti akan berakhir begitu saja. Pikiran-pikiran seperti itu menimbulkan tanya, jika memang seperti itu kehidupan, mengapa saya harus terus menjalani hidup? Mengapa saya harus bangun di pagi hari, mencari makan, dan mencari kesenangan jika pada ujungnya semua akan berakhir dan lenyap tanpa sisa?
Kesendirian manusia sering saya saksikan pada para pasien yang saya tangani. Saat kesakitan, yang merasakan sakit itu hanya para pasien itu sendiri. Keluarga, teman, perawat, dan dokter tak bisa merasakannya. Mereka mungkin bisa berempati atau bersimpati, tapi rasa sakit itu tak dapat dibagi. Ada saatnya bagi keluarga, teman, dokter, dan perawat untuk merasakan sakit mereka sendiri. Dan pada saat sehat, manusia seringkali sulit untuk mengingat kembali betapa beratnya sebuah rasa sakit.
Selain menimbulkan tanya, pikiran-pikiran tentang kesia-siaan hidup juga cenderung melumpuhkan dan bahkan mematikan.
Kadang saya berpikir, jika mukjizat di masa lalu itu benar adanya, mengapa tidak terjadi lagi di masa kini? Apa bedanya masa lalu dan masa kini? Matahari yang ada di masa kini masih sama dengan yang di masa lalu. Begitu juga dengan bumi, gravitasi, dan udaranya.

Senin, 28 Maret 2016

Minggu, 27 Maret 2016

Death is not an event in life: we do not live to experience death. If we take eternity to mean not infinite temporal duration but timelessness, then eternal life belongs to those who live in the present. Our life has no end in the way in which our visual field has no limits. ”
— Wittgenstein, Tractatus, 6.431

Saya sudah menyaksikan begitu banyak kematian. Pada ayam dan bebek yang mati tersembelih olehku, pada nyamuk, lalat, dan kecoak yang terinjak dan terhantam tangan dan kakiku, dan pada pasien-pasien yang menghembuskan napas terakhir di hadapanku. Semua kematian itu membuatku bertanya, kemana mereka pergi ketika mati? Apakah ke akhirat seperti yang kitab suci bilang? Ataukah kita hanya terurai begitu saja menjadi unsur karbon, nitrogen, dan hidrogen yang akan digunakan lagi oleh mahluk hidup lainnya? Lalu bagaimana dengan semua kata, pengalaman. pikiran, dan ingatan yang dimiliki oleh manusia selama hidupnya, apakah itu semua lenyap begitu saja?

Saya merasa kalau manusia di masa lalu sungguh hebat dan luar biasa karena untuk pertanyaan sesulit itu, yang jawabannya tidak mungkin diketahui melalui sebuah pengalaman empiris dan mungkin sulit diuji oleh penelitian eksperimental, mereka dapat memformulasikan sebuah jawaban yang sederhana yang intinya adalah saat manusia mati, dia akan kembali ke pencipta-Nya. Manusia pertama yang menciptakan konsep ini telah memudahkan manusia-manusia yang hidup di muka bumi ini selama berabad-abad. Seharusnya dia dan keturunannya diberikan royalti atas terciptanya konsep tersebut.

Salah satu hal yang membuat kematian begitu menakutkan adalah kita tak tahu apapun tentangnya karena sudah menjadi sifat dasar manusia untuk cenderung takut dan membenci hal-hal yang tak diketahuinya. Lalu datanglah manusia yang menyatakan bahwa ada kehidupan setelah kematian, dan itu akan menjadi kehidupan yang menyenangkan bagi orang-orang yang berbuat baik selama hidupnya. Kabar ini membuat kematian tak lagi menjadi hal yang menakutkan. Meskipun belum bisa dibuktikan secara empiris, kisah tentang kehidupan setelah mati dipercayai oleh hampir semua manusia yang ada di muka bumi ini karena dengan mempercayainya, semua jadi terasa mudah. Kehidupan di dunia yang tak adil dapat dengan lapang dada diterima sebagai suatu kewajaran karena mereka menganggap bahwa ketidakadilan tersebut akan diadili di kehidupan setelah mati. Dengan pola pikir alam bawah sadar seperti ini, maka tidaklah mengherankan jika kemiskinan dan ketidakadilan tak pernah punah dari muka bumi ini. Banyak yang mencari penebusan pada kehidupan setelah mati.

Minggu, 27 Maret 2016

Jumat, 25 Maret 2016

Kehidupanku di pulau ini berjalan seperti sebuah kurva regresi nonparametrik. Morfologi dan arahnya sulit dijelaskan dalam sebuah paragraf singkat walaupun semua data mengenai perjalanan hidupku selama 11 bulan terakhir dipaparkan dalam sebuah spreadsheet. Meskipun begitu ada satu hal yang saya tahu pasti, saat ini saya masih hidup, bisa bernapas dan memiliki jari-jari fungsional untuk mengetik beberapa kalimat untuk menyusun artikel ini. Tak seperti di masa lalu, Maret di tahun ini tidak lagi menjadi bulan yang produktif bagiku untuk menulis di blog. Sejak punya blog di 2008, biasanya saya merayakan Maret dengan menerbitkan satu artikel per hari atau minimal satu artikel per minggu meskipun tak ada kualitas dalam setiap artikel tersebut. Intinya adalah kuantitas postingan yang dapat mengingatkanku setiap momen yang berlalu di bulan Maret walaupun itu melalui kalimat abstrak yang terkadang tujuan tersebut tidak tercapai karena pada akhirnya saya sendiri pun tidak dapat memahami makna abstrak yang terkandung di dalamnya ketika saya kembali membaca tulisan-tulisan tersebut. Tapi saya tak ingin mempersoalkan hal itu.

Apa yang membuat Maret tahun ini berbeda dengan Maret di masa silam pasca-2008? Perbedaan yang paling mendasarnya adalah infrastruktur dan geografi. Di Maret 2016 dan sebagai besar hari-hariku di tahun 2015, saya terjebak di daerah yang bisa dikatakan jauh dari standar kelayakan modernisasi abad 21 yang bernama sinyal seluler dan listrik. Selain itu moodku untuk menulis sangat terganggu oleh suhu yang sangat tinggi di daerah ini, entah mengapa rasionalitas dan logiku tidak dapat bekerja dengan baik di tempat yang bersuhu 38 derajat Celcius. Kalau Tuhan dapat ditemui tiap hari, saya ingin menemuinya sekarang dan bertanya, mengapa Dia menciptakan tempat sepanas ini? Apa pertimbangannya sehingga harus membuat pulau berukuran 1,5 x 6 km yang sulit terjangkau seperti ini? Dan yang terpenting, mengapa saya harus dibuang ke tempat ini? Tapi sayangnya, Tuhan itu pilih-pilih. Dia tak mau berbincang secara langsung dengan mahluk ciptaan-Nya, terutama jika mahluk itu bernama manusia. Seperti ada kesepakatan yang menentukan bahwa Tuhan hanya mau berbincang-bincang secara interaktif dengan manusia-manusia yang terlahir ribuan tahun yang lalu. Saya tidak akan heran jika nanti ada yang bilang bahwa Tuhan itu diskriminatif. Dari 7 milyar manusia yang ada saat ini, coba sebutkan berapa orang yang mengaku pernah bercakap langsung dengan Tuhan? Kalaupun ada yang mengaku, pada akhirnya kebanyakan dari mereka harus berakhir di Rumah Sakit Jiwa atau penjara karena dianggap menyebarkan aliran sesat.

Salah satu efek terlalu lama di tempat terpencil adalah tiap hari berpikir tentang Tuhan dan kematian. Saking tidak adanya hal yang bisa diperbuat di sini. Sepertinya orang di zaman dulu juga bisa melahirkan banyak agama dan kepercayaan karena distraksi sosial dan materil masih sedikit, seperti yang saya alami saat ini. Begitu kebutuhan primer telah terpenuhi, manusia mulai mencari-cari kesibukan.

Selasa, 01 Maret 2016

Selasa, 1 Maret 2016: L'history Equates

I. L'historical
Februari yang telah berlalu pasti menyisakan sejumlah kenangan yang akan diingat dalam waktu yang sangat lama, entah itu untuk seseorang, sekelompok manusia, atau bahkan seluruh dunia. Jika kenangan itu berkenaan dengan gangguan irama sikardianku akibat kurangnya jam tidur malam setelah diserbu oleh puluhan pasien yang datang di atas pukul 12 malam selama sebulan terakhir, maka sepertinya hanya saya sendiri yang akan mengingatnya. Orang lain yang berada di Australia mustahil akan mengenangnya. Campuran perasaan dan pikiran yang silih berganti mengisi sistem neural di otakku ketika saya mengendarai motor sendiri menembus dinginnya malam yang sepi dan berembun menuju rumah-rumah pasien yang gelap dan kumuh juga tak mungkin dapat bertransfomasi menjadi sebuah bagian dari sejarah kolektif yang akan diingat oleh banyak orang selain diriku sendiri. Namun jika memori itu berkaitan dengan kontroversi LGBT dan Leonardo DiCaprio yang baru saja mendapatkan Piala Oscar lalu menyampaikan sebuah pidato yang menyentuh tentang perubahan iklim, maka  besar probabilitasnya itu semua akan dikenang oleh banyak orang selama beberapa tahun ke depan, dengan catatan bumi yang kita tempati ini tidak meledak karena senjata nuklir ataupun tenggelam karena perubahan iklim selama beberapa tahun ke depan. Kita tak pernah tahu bencana mana yang akan lebih dulu menyapa bumi di masa depan, seperti halnya para dinosaurus dan mammoth yang juga tak pernah tahu tentang hal tersebut dan kini mereka telah punah. Tapi saya selalu berharap agar bumi tetap menjadi tempat yang ramah bagi manusia hingga matahari kehabisan bahan bakarnya dalam beberapa juta tahun kemudian agar kita tetap bisa menyaksikan Liga Champion di pagi buta dan makan es krim di hari yang panas lalu menceritakan pada anak cucu kita tentang betapa lamanya penantian DiCaprio untuk meraih sebuah hadiah Oscar atau mengenai rivalitas Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo di sepakbola.

Tapi bagaimana jika nanti ada buyut kita yang bertanya, mengapa hanya sejarah DiCaprio, Messi, dan Ronaldo patut dikenang oleh jutaan manusia di bumi ini selama bertahun-tahun? Mengapa orang di Jepang dan Amerika sana tak yang dapat mengingat kisah tentang seorang pemulung sampah di kolong kota Jakarta atau cerita para PSK di Kalijodo dan Dolly? Mungkin ini pertanyaan yang sulit, tapi tak perlu dirisaukan karena saya yakin buyut kita takkan pernah menanyakannya. Itu hanyalah pertanyaan retoris.

Pada akhirnya, kenangan anak-anak masa depan tentang kita hanya ditentukan oleh seberapa besar dampak yang kita berikan pada orang-orang di sekitar kita. Dampak yang diberikan oleh seorang pemulung dan PSK takkan mungkin bisa setara dengan dampak seorang Isa Almasih yang sudah bertahan hingga beberapa milenia kecuali pemulung atau PSK tersebut melakukan tindakan yang extraordinary, seperti membunuh Donald Trump atau malah menyelamatkan Donald Trump dari kepungan ISIS. Lihat saja betapa terkenalnya Yudas Iskariot yang telah mengkhianati Isa Almasih atau Jesus, padahal Yudas bukanlah raja ataupun Nabi. Lalu apa kesamaan antara Yudas, pelacur Kalijodo, dan pemulung Jakarta? Mereka sama-sama manusia biasa. Apa yang membedakan mereka? Yudas berhasil keluar dari zona nyaman sebagai murid Jesus dan melakukan tindakan yang tak terduga, sedangkan mayoritas pelacur Kalijodo dan pemulung Jakarta hanya mau menjalani hidup apa adanya, tak mau melenceng dari jenis kehidupan dan lingkungan yang telah mereka temui sejak lahir.

II. L'equates
Banyak orang yang berkata bahwa hidup ini adil, di mana semua individu memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil. Hanya saja, mereka kadang melupakan bahwa tiap manusia memiliki starting point dan jalan kehidupan yang berbeda-beda. Tidak semua orang bisa terlahir di keluarga yang kaya raya dan memiliki keluarga serta teman yang suportif. Malah banyak keluarga dan lingkungan yang justru menjerumuskan seorang anak ke lembah kemiskinan dan bahkan kematian. Kisah pilu Angeline yang mati dibunuh oleh ibu tirinya tahun lalu dan Marvel yang kejang lalu meregang nyawa setelah dihantam kepalanya ke tembok oleh pacar ayahnya adalah contoh di mana awal kehidupan seseorang sangat berperan dalam menentukan kelangsungan hidup manusia. Sudah banyak kasus yang memperlihatkan bahwa keluarga dan orang terdekat dapat mengubah rupanya menjadi malaikat kematian dan iblis perusak bagi seorang anak.

Namun ada satu hal yang perlu kita garis bawahi, latar belakang kehidupan seseorang seperti orang tua, keluarga, dan masa kecil hanyalah satu dari sejumlah variabel yang berperan pada  signifikansi seseorang dalam sejarah dunia. Kerja keras, motivasi untuk terus mempelajari hal baru, kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, bersosialisasi, serta yang tak kalah pentingnya, keberuntungan, adalah beberapa faktor lain yang juga sangat berpengaruh mengarahkan jalan hidup seorang manusia di pusaran sejarah. Semua orang dapat bekerja keras namun untuk keberuntungan, tidak semua orang bisa menikmati kemewahannya. Alexander Fleming dan Louis Pasteur adalah beberapa manusia yang bisa merasakan betapa manisnya sebuah keberuntungan. Mereka sama-sama lupa membersihkan spesimen di laboratorium ketika hendak berlibur. Saat kembali dari liburan, mereka berdua mengutuk diri karena telah lalai, namun kutukan itu terhenti karena spesimen yang lupa dibersihkan Fleming justru menumbuhkan jamur Penicilline yang menjadi cikal bakal antibiotik yang kemudian berhasil menyelamatkan jutaan orang dari infeksi bakteri sedangkan spesimen yang lupa dibereskan Pasteur justru menjadi asal muasal vaksin kolera. Keduanya beruntung dan mampu memanfaatkan keberuntungan tersebut dengan baik. Serendipity.

III. Appendage: Le Musique
Some songs deeply affected my thought than others. Terutama lagu yang saya dengarkan di masa kecil dan remaja. Entah kenapa soundtrack anime Ruroni Kenshin seperti It's Gonna Rain (Bonnie Pink), Heart of Sword (T.M. Revolution), dan Sobakasu (Judy and Mary) yang saya dengarkan lebih dari satu dekade yang lalu masih terngiang di telingaku pada kesempatan-kesempatan tertentu saat sedang sendiri di kesunyian padahal sudah banyak lagu baru yang wara-wiri di media massa, membuat kebisingan di mana-mana. Rasanya sulit bagiku untuk lepas dari lagu-lagu lama karena sepertinya selera musikku tertinggal dan tersesat di masa lalu, dengan penuh kerelaan dan kesadaran tak ingin ditemukan lagi. Tapi itu bukan berarti saya menolak musik zaman sekarang. Cukup banyak penyanyi sekarang yang musikalitasnya patut diacungi jempol, seperti Clean Bandit dan Paramore.

Untungnya internet memberikanku kesempatan untuk bernostalgia lagi dengan lagu-lagu lama yang menjadi favoritku di masa lalu. Lagu yang mengisi playlist di ZenFone 2 milikku kebanyakan sudah berusia lebih dari 10 tahun. Saat mendengarkan mereka, fragmen-fragmen imaji masa lalu saat masih SMP hingga SMA langsung berseliweran di otakku. Jika menemukan lagu-lagu seperti ini dalam playlist seseorang:

1. Tentang Seseorang (Anda Bunga, 2002)
2. Cahaya Bulan (Okta feat. Eross, )
3. Sesuatu yang Tertunda (Padi feat. Iwan Fals, 2003)
4. Aku Milikmu (2002), Senandung Lirih (2003), Rinduku (2003), Ancur (2002), Ijinkan Aku Mencintaimu (2005), Aku Bukan Pilihan (2003), Kupu-kupu Hitam Putih (2002) (Iwan Fals)
5. Sedih Tak Berujung (Glen Fredly, 2004)
6. You're Beautiful (James Blunt, 2004)
7. You and I Both (Jason Mraz, 2005)
8. Writing To Reach You (Travis, 1999)
9. It's Gonna Rain (Bonnie Pink, 1999)
10. Heart of Sword (T.M. Revolution, 1996)
11. Sobakasu (Judy and Mary, 1998)
12. Chasing Pavement (2006), Make You Feel My Love (2006) (Adele).
13. Who The F*ck Arctic Monkeys (2006), No Buses (2006), Mardy Bum (2006) (Arctic Monkeys)

Maka kemungkinan besar masa remaja orang itu pernah terpapar dengan tayangan MTV yang masih merajalela tanpa sensor KPI, dia juga pernah menyaksikan hancurnya menara kembar WTC karena tubrukan pesawat lewat media massa yang kemudian diikuti oleh live report serangan AS ke Irak. Suatu masa yang penuh gonjang-ganjing. Tayangan ledakan dan darah warga Irak adalah tontonan yang lazim waktu itu. Televisi berlomba-lomba menayangkannya untuk mengejar rating.

Saat invasi tersebut terjadi, saya sempat berpikir jika Perang Dunia Ketiga hanya tinggal menunggu waktu karena peristiwa tersebut telah memicu kemarahan banyak negara. Aksi balas dendam dapat terjadi sewaktu-waktu, apalagi jika hal itu dikaitkan dengan isu tribalisme. Namun untungnya hingga satu dekade setelahnya, Perang Dunia Ketiga yang kutakutkan tak pernah terjadi. Malah kini hampir seluruh dunia telah mengabaikan invasi tersebut, seolah-olah telah terjadi amnesia global. Tentara Amerika masih banyak yang bermukim di Irak dan tidak banyak manusia di muka bumi ini yang peduli akan hal tersebut. Mungkin hanya segelintir orang yang masih peduli seperti warga Irak, tentara AS, sukarelawan, wartawan perang, dan Presiden AS karena mereka sudah terjebak dalam momen yang sulit untuk dihentikan secara mendadak, seperti sedang berkendara dalam kecepatan yang sangat tinggi di mana rem secara tiba-tiba dapat menjungkalkan kendaraan dan penumpangnya.

IV. Appendage: Ajin
Anime baru telah menarik perhatianku. Judulnya Ajin: Demi-human. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan anime ini, bagus.

Sabtu, 27 Februari 2016

Kamis, 25 Februari 2016: Noodle

Indonesia adalah surganya para penjual. Ada begitu banyak jiwa yang bisa menjadi objek promosi barang dan jasa di tanah ini. Kita bicara tentang 300 juta manusia yang butuh makan, minum, rumah, pakaian, transportasi, dan kesenangan. Asumsikan saja, semua penduduk Indonesia mengkonsumsi 1/4 kilogram beras per hari, itu artinya kita butuh 75 juta kilogram atau 75.000 ton beras tiap harinya. Itu belum termasuk kebutuhan beras untuk keperluan industri minus orang-orang miskin yang tidak sanggup membeli beras dan mereka yang tidak menggunakan beras sebagai makanan pokok. Para penjual beras pasti tersenyum jika melihat pangsa pasar sebesar itu. Petani Indonesia mungkin tidak mampu menghasilkan beras dengan jumlah monster begitu, apalagi akhir-akhir ini seringkali terjadi gagal panen akibat perubahan iklim global. Yang mana hal ini berimbas pada kebijakan mengimpor beras dari Thailand atau Vietnam menjadi salah satu pilihan wajib yang sulit terhindarkan. Tindakan seperti ini mungkin tidak mencerminkan kemampuan berdikari suatu bangsa. Sehingga membuat pertanyaan seperti "Kenapa hanya untuk urusan mengisi perut, kita harus membelinya dari negara lain?" adalah hal yang wajar. Masalahnya, persoalan berdikari dan kemandirian bangsa ini harus terbentur pada masalah lain, yakni ada begitu banyak perut yang harus diisi. Perut-perut yang lapar cenderung mudah marah dan beringas. Tentu saja jika jika membiarkan perut-perut kelaparan ini tak terisi, mereka semua dapat teragregasi lalu berkomplot untuk menghancurkan kedaulatan negara, seperti yang terjadi pada Tsar Rusia yang luluh lantak dihantam kaum Bolshevik kelaparan yang telah terprovokasi oleh propaganda sosialisme dari Lenin.
Jadi untuk mencegah terjadinya hal serupa, seseorang atau korporasi perlu melakukan sesuatu untuk mengenyangkan semua orang, tidak peduli dari mana sumber makanannya. Pengusaha lokal yang mengimpor beras akan dengan senang hati mengambil peran untuk ini. Para petani lokal mungkin akan menjerit karena hal tersebut dapat menurunkan harga beras lokal. Namun sepertinya sulit untuk mendengarkan jeritan dan teriakan para petani lokal ketika sebagian besar orang sudah merasa kenyang oleh beras impor.

Mie untuk Kehidupan

Bagi orang Indonesia di masa lalu, ada jargon yang senantiasa menggaungkan bahwa seseorang dianggap sudah makan jika nasi telah masuk ke dalam lambungnya. Sebanyak apapun roti atau kue yang dimakan, jika belum ada nasi yang terlibat dalam menu maka lapar takkan bisa terobati. Oleh karena itu jangan heran jika di daerah kita menemukan orang Indonesia yang makan nasi campur jagung, nasi campur ubi, atau yang terbaru, nasi campur mie bahkan nasi campur roti meskipun kita semua memahami bahwa beras, ubi, jagung, roti, dan mie termasuk dalam kategori makanan pokok, penghasil utama karbohidrat. Di negara yang sudah maju, penduduknya cenderung hanya mengkonsumsi satu jenis makanan pokok dalam satu waktu. Saat makan pagi menunya mungkin roti campur telur, keju, atau susu saja, ketika makan siang ada menu nasi atau pasta atau apapun itu, sedangkan saat malam entahlah mereka mau makan apa lagi, karena saya belum pernah makan malam di luar negeri. Tapi intinya adalah tak perlu ada dua makanan pokok atau lebih dalam satu periode makan. Karena secara nutrisi, itu memang tidak dianjurkan sebab tidak ada keseimbangan di dalamnya. Tapi apa hendak dikata, kebiasaan sulit diubah.

Namun generasi Indonesia tahun 2000-an nampaknya mulai menunjukkan deviasi dari kebiasaan itu. Makanan pokok pilihan mereka mulai berubah. Mereka cenderung beralih pada makanan pokok sintetis yang bernama mie instan. Sudah banyak saya bertemu ibu-ibu yang mengeluhkan bahwa anak mereka sudah tidak doyan makan nasi. Tiap mereka datang, hanya satu permintaan mereka, obat penambah nafsu makan agar anak-anak mereka kembali mencintai nasi.
Saat melihat fenomena ini, saya merasa ada kesenjangan budaya antara orang tua dan anak. Para orang tua yang terlahir sebelum tahun 2000an, masih terbiasa dengan makanan pokok nasi sedangkan anak-anak mereka mulai terpapar oleh budaya mie instan.

Kesenjangan tersebut menimbulkan polemik di masyarakat. Polemik itu pada umumnya terfokus pada aman tidaknya mie instan di konsumsi secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Jika kita percaya pada badan POM dan plastik pembungkus mie yang berisi kandungan nutrisi maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa mie instan cukup aman bagi manusia meskipun dikonsumsi dalam waktu yang lama. Hanya saja, bangsa Indonesia sudah mengalami krisis kepercayaam. Krisis tersebut kadang membuat mereka terlalu percaya atau bahkan tidak terlalu percaya pada sesuatu. Kata kuncinya di sini adalah terlalu, dan kita tidak pernah berada di tataran moderat saat sedang krisis. Tak ada yang namanya percaya saja atau tidak percaya saja. Harus ada exaggeration. Contoh krisis kepercayaan dapat kita lihat pada proses pemilihan anggota legislatif atau eksekutif. Tiap pemilihan, selalu kita temukan ada kubu yang sangat percaya pada para calon wakil rakyat atau eksekutif hingga rela mati dan membunuh demi kelanggengam kandidat pilihannya dan di ekstrim yang lain, terdapat kubu yang sangat membenci calon wakil rakyat atau eksekutif tersebut hingga rela tewas dan membantai agar kandidat yang dibencinya gagal terpilih. Saat dalam krisis, manusia senantiasa terbiasa untuk menyederhanakan suatu persoalan ibarat memilih warna hitam dan putih, baik atau jahat, persis seperti yang terlihat di film Disney, ada Aladin yang baik dan Jafar yang jahat, Jedi yang memperjuangkan kebenaran dan Sith yang menghancurkan galaksi. Dan kita selalu menganggap diri kita sebagai Jedi Sang Pembela Kebenaran sedangkan orang lain yang menjadi lawan kita adalah Sith Sang Perusak Semesta. Kita buta dalam melihat spektrum warna lainnya yang berada di luar spektrum hitam dan putih. Padahal bisa jadi, kitalah yang sebenarnya penjahat.

Kamis, 25 Februari 2016

Rabu, 24 Februari 2016: Piano Tiles

Dulu saya jarang sekali menghabiskan waktu untuk bermain game di ZenFone 2 milikku. Biasanya smartphone keluaran Asus tersebut hanya menjadi wahana untuk membaca ebook ataupun tempat mencatat kegiatan harian. Tapi semua berubah semenjak saya mengetahui bahwa game PSOne dapat dimainkan di OS Android. Mayoritas waktuku langsung tersita untuk bermain game Final Fantasy IX. Sekitar 5 hari saya memainkan RPG buatan SquareSoft tersebut dan menamatkannya hampir 2 kali. Mungkin karena dopamine sedang melonjak, saya jadi tertarik untuk mencoba game android yang lain. Saat ini ada 3 jenis game Android yang mengalihkan duniaku, yakni Trial Frontiers, Colossatron, dan Piano Tiles 2.

Ketiga game terasebut lumayan menarik untuk dimainkan. Sederhana, tidak butuh banyak pikiran. Bisa membuatku tetap waras di pulau yang terpencil. Sayangnya, Trial Frontier butuh koneksi internet untuk bisa terus dimainkan sehingga permainanku harus tertahan di level 27. Menyedihkan, padahal motor Tango-ku baru saja di-upgrade. Saat Trial Frontier stagnan, Colossatron datang mengisi kekosongan dengan warna-warninya yang lumayan menghibur dan terkadang juga menjadi ajang penyaluran mood yang buruk. Rasa bahagia dapat menyeruak terutama ketika kota Ultimatum sudah dihancurkan hingga 14 kali. Saya ingin menahan diri agar tak sampai menghancurkan lagi kota Ultimatum sampai 15 kali karena takutnya obsesi perang dan pengrusakan dapat merebak ke dalam sanubariku yang cinta damai. Untungnya saya menemukan penebusan di game Piano Tiles 2.
Game yang baru saya kenal 3 hari yang lalu ini sangat mudah dimainkan. List musik yang ditawarkannya cukup familiar di telinga seperti Four Season-nya Vivaldi, Fur Elise karangan Beethoven, dab The Entertainer gubahan Scott Joplin yang jadi soundtrack film The Sting. Namun yang paling ear catchy menurutku adalah Bluestone Alley dari Congfei Wei.
Saya berharap agar developer Cheetah Game dapat segera memperbaharui permainan ini karena saat ini saya sudah mentok di level maksimal, 42. Entah kapan playlist musik terbaru dapat mereka tambah lagi.

Minggu, 21 Februari 2016

Sk(r)ip-si

-Put-
Entah kenapa skripsi membuatku menjadi seperti orang yang kurang bersyukur.

Dulu waktu masa-masa pengajuan judul yang selalu ditolak, iri rasanya melihat teman-teman lain yang sudah mulai berkutat dengan pengerjaan proposal. Saat itu saya berjanji pada diri sendiri, kalau judul saya sudah acc, saya akan berusaha keras untuk mengerjakan semua bab di proposal dengan sepenuh jiwa. 

Untungnya saat itu saya hanya berjanji pada diri sendiri, bukan kepada Tuhan. Karena kenyataannya, saat judul sudah acc, kebahagiaan yang saya pikir bisa saya rasakan ternyata hanyalah ilusi. Tidak ada kebahagiaan sedikit pun saya rasakan.

Dan cukuplah saya ingkar pada diri sendiri, bukan kepadaNya.

Semua proses pengerjaan bab di proposal memang hanya terlihat indah bila orang lain yang mengerjakan. Bukan saya. Cause our grass will never be greener than others'.

What a value. Thank you, Skripsi.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...