Jumat, 29 Januari 2016

Cloudy Friday, 29th Jan 2016: If Dodo and Kiwi Could Fly, Would They Come To Here?

Pasien ini tidak pernah sekalipun ke Puskesmas untuk memeriksakan kehamilan. Tiba-tiba saja pada hari Sabtu yang lalu (16/1/16), suaminya memanggil kami ke rumahnya untuk melihat Si Pasien yang katanya baru saja melahirkan. Menurut pengakuan suami, sekarang pasien sedang mengalami pusing dan perdarahan pasca-persalinan yang tak kunjung berhenti. Waktu mendengar itu rasanya mau marah-marah. Mengapa panggilnya baru sekarang, saat pasien sudah mengalami perdarahan hebat? Mengapa tidak dari awal saat akan bersalin? Tapi kemarahan itu saya simpan saja karena saya tahu, bidan Puskesmas kami pasti akan lebih marah dari saya. Dari catatan kohort ibu hamil yang kami miliki, semestinya tidak ada ibu yang taksiran persalinannya di bulan Januari dan Februari. Lagipula persoalan yang paling genting saat ini adalah Puskesmas kami sudah kehabisan Oxytocin, obat untuk memperkuat kontraksi rahim yang disuntikkan begitu janin keluar dari jalan lahir. Sudah 2 bulan ini stok Oxytocin di Kabupaten habis. Salah satu bidan kami sedang mencarinya di ibukota provinsi.

Mendengar kata perdarahan pasca-persalinan disertai kehabisan Oxytocin jelas-jelas membuatku sakit kepala karena banyak kasus perdarahan pasca-persalinan terjadi karena gangguan tonus atau kontraksi rahim, yang mana terapi terbaiknya adalah injeksi Oxytocin. Memang sih ada penyebab lain seperti tertinggalnya sisa jaringan plasenta di rahim, robekan jalan lahir, atau terdapat gangguan pembekuan darah. Untuk kasus tertinggalnya jaringan plasenta, kita dapat mengatasinya dengan ekstraksi manual selama itu bukan kasus plasenta acreta ataupun percreta. Kalaupun terjadi robekan jalan lahir, selama itu bukan rahim yang robek, arteri pudendal tetap utuh, dan tidak sampai derajat 3 kita masih bisa menjahitnya secara konvensional. Yang masalah kalau terjadi gangguan pembekuan darah, itu ribet, harus ada trombosit atau faktor pembekuan darah yang ditransfusi, dan yang pasti itu tidak ada di sini.

Yang parah keadaan umum pasien sudah memburuk, kesadaran menurun, wajah sangat pucat seperti kertas, dan bibir mulai membiru, tekanan darah sulit terdeteksi nyaris 40 milimeter raksa per palpasi, nadi sangat cepat dan lemah sekitar 140 kali per menit, napas mulai memburu. Pasien ini bisa mati kapanpun. Untungnya setelah pemasangan jalur intravena ganda dengan RL, dan diperiksa, kontraksi rahim pasien sangat bagus, fundus sudah di bawah pusar. Jadi ketiadaan oxytocin nampaknya takkan terlalu berpengaruh. Saat dieksplorasi lebih jauh, ternyata ada sedikit robekan di portio dan dari situlah darah mengalir seperti keran. Mau dijahit, tidak ada pinset dan needle holder berukuran panjang untuk memfiksasi portio yang letaknya jauh ke dalam. Jadi terpaksa dilakukan bebat tekan saja dengan tampon. Setelah 5 menit ditekan, ternyata perdarahan langsung berhenti dengan sendirinya. Saat diperhatikan lebih baik, ternyata robekan portio-nya kecil, tapi robekan kecil saja sudah bisa bikin perdarahan hebat begitu. Saya memutuskan untuk melakukan observasi saja pada pasien sambil tetap mempertahankan bebat tekan. Dua setengah liter ringer laktat dan bebat tekan pada sumber perdarahan ternyata sangat efektif untuk pasien ini. Dalam 1 jam, keadaan umum pasien langsung membaik, tekanan darah naik 100/70 milimeter raksa, kecepatan nadi berkurang hingga 80 kali per menit, dan kecepatan pernapasan menjadi 18 kali per menit. Dia sudah mulai bisa berbicara dengan normal. Setelah pasien diberikan edukasi dan siraman rohani oleh staf Puskesmas, saya pulang. Ada juga sih episode diberikan suguhan makanan dan minuman dari keluarga, tapi saya sedang tidak mood untuk mencerna apapun. Untungnya hingga hari ini, pasien masih hidup dan bayinya sehat. Nampaknya dia baik-baik saja sekarang.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...