Minggu, 03 Januari 2016

Jumat, 1 Januari 2015: In The Heart of The Sea

Sisi terbaik dari bermain game adalah kita dapat mengulang semuanya ketika suatu hal buruk terjadi. Kepala tertembak pistol, jatuh dari ketinggian, dimakan monster, atau terhempas bom, semuanya dapat diatasi dengan teknik restart and reload. Seringkali saya berpikir, seandainya kehidupan nyata bisa seperti itu, di mana kita dapat mengulang dan mengubah momen yang kita anggap sebagai peristiwa yang kurang atau bahkan tidak menyenangkan sama sekali seperti jatuh cinta pada orang yang salah, terjebak di pekerjaan yang buruk, atau terlahir di negara yang gagal.
Saya pernah membaca hal seperti itu di agama Budha meskipun tidak sama persis. Menurut Budha, manusia memiliki jiwa yang abadi. Dia akan lahir lalu mati kemudian terlahir kembali dengan wujud yang berbeda-beda, di kehidupan yang lampau bisa hidup sebagai raja, di kehidupan sekarang menjadi rakyat jelata, lalu kehidupan mendatang hanya menjadi seekor tikus. Saat bisa terbebas dari rantai karma dan dukha yang fana, manusia mencapai nirwana lalu menjadi Budha. Sebuah akhir yang menyenangkan. Hanya saja, nampaknya semakin banyak mahluk lain yang mengalami reinkarnasi menjadi manusia. Entah apa dosa mahluk-mahluk tersebut hingga harus terlahir kembali menjadi manusia. Lihat saja, jumlah manusia semakin banyak, 6 milyar lebih. Mungkin di kehidupan yang lampau mereka adalah mammoth, burung dodo atau harimau bali yang kini telah punah. Mungkin mereka terlahir untuk merasakan betapa nikmatnya hidup sebagai manusia yang telah membuat mereka punah. Siapa tahu, manusia juga akan punah nanti.
Saya tidak tahu apakah reinkarnasi, karma, dan nirwana itu betul-betul ada. Saya tak ingin menganalisisnya ataupun mencari tahu kebenarannya karena itu kepercayaan agama Budha. Mempertanyakan kebenaran suatu agama dapat dianggap sebagai suatu penghinaan. Tiap agama punya kisah mistisnya sendiri. Orang Islam tak mungkin bisa percaya dengan adanya Dewa Siwa begitu pula sebaliknya. Orang Kristen juga tak mungkin bisa percaya jika Muhammad pernah bertemu Tuhan dengan mengendarai Buraq. Jadi daripada memaksakan apa yang kita percayai pada orang lain, lebih baik just let it be.

Beberapa kali dalam hidup seorang manusia, dia akan menemui sebuah situasi di mana terdapay kesulitan untuk menentukan mana yang benar dan yang salah. Seperti yang digambarkan oleh film In The Heart of The Sea yang dibintangi Chris Hemsworth, yang pernah jadi Thor di film Avenger dan Ben Whishaw, yang memerankan Q di film Skyfall dan Spectre. Film yang menceritakan tentang sumber inspirasi Herman Melville dalam menulis novel Moby Dick ini sangat nelangsa, menurutku. Di zaman Melville hidup, belum ada yang namanya minyak bumi. Emas hitam itu masih tertanam di bumi, belum ada satupun manusia yang mengkomersialisasikannya. Manusia mendapatkan sumber minyak dari lemak paus yang diburu di seluruh perairan dunia. Petualangan Owen Chase dan George Pollard untuk mendapatkan 3000 barel minyak paus berujung bencana yang mengakibatkan mereka terapung di lautan hingga harus menjadi mahluk kanibal. Tentu saja, kanibalisme adalah hal yang tidak sejalan dengan norma kepatutan tapi jika harus terombang-ambing di lautan hingga berbulan-bulan tanpa makanan, pilihan apalagi yang dimiliki manusia untuk dapat bertahan hidup? Nilai kebenaran yang berlaku umum tak lagi dapat digunakan.

Jadi apa sebenarnya kebenaran?

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...