Kamis, 14 Januari 2016

Kamis, 14 Januari 2016: Sans Age

Saya baru menyadari kalau beberapa artikel terakhirku masih tertulis 2015. Sepertinya saya masih mengalami disorientasi abstraksi waktu. Sungguh lucu sebenarnya kita menggunakan perputaran bumi mengelilingi matahari sebagai patokan abstraksi waktu, walaupun ada juga beberapa kebudayaan yanh menggunakan perputaran bulan mengelilingi bumi sebagai dasarnya. Apapun itu, tetap saja bumi yang menjadi point of view-nya. Mungkin kita memilih abstraksi waktu seperti itu hanya untuk alasan kepraktisan agar kita bisa menggunakan satu bahasa satuan yang sama.
Waktu dan pertambahan usia adalah ilusi. Apakah mahluk selain manusia juga mengenal konsep waktu?

Ada banyak hal yang berubah di tahun ini. Pak Camat sudah dinonaktifkan oleh bupati karena dianggap melindungi kesalahan Pak Sekcam yang hanya masuk kantor kurang dari 10 kali dalam setahun. Padahal Pak Camat kami ini saya anggap cukup lumayan lah kalau diajak kerjasama di sektor kesehatan. Tapi, life must go on. Siapapun penggantinya nanti, semoga saja lebih baik dari sebelumnya.

Di tahun ini juga secara resmi Ndao tak gelap lagi di malam hari. Listrik sudah menerangi pulau ini sejak jam 6 sore hingga jam 6 pagi. Saya berharap bisa 24 jam karena di siang hari, suhu di sini bisa mencapai 39 derajat Celcius. Saya sungguh butuh kipas angin. Peningkatan suhu bisa memperburuk moodku. Rasanya ingin marah-marah terus saat panas melanda.

Masuknya listrik betul-betul mengubah pola belanja masyarakat. Tiap minggu ada TV dan kulkas baru yang masuk pulau. Para penjual es dan minuman dingin bermunculan satu persatu. ISPA dan diare pun terus tumbuh karena es yang dijual seringkali tidak dimasak. Delapan bulan menjalani kehidupan tanpa listrik sepertinya telah banyak mempengaruhiku. Saya merasa sudah menjadi mahluk purbakala. Semoga saja saya bisa terbiasa dengan semua perubahan ini.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...