Minggu, 31 Januari 2016

Still Cloudy Friday, Jan 29th 2016: A Space Odyssey on Guns

Menyelingi bacaan "Guns, Germs, and Steel", dengan "2001: Space Odyssey" awalnya saya lakukan untuk membuat variasi bacaan agar saya tidak bosan. Saat saya sedang dalam mode prokrastinasi pada bacaan non-fiksi, biasanya kerajinanku untuk membaca buku fiksi menjadi meningkat, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu bacaan non-fiksi karangan Jared Diamond tentang faktor-faktor yang membangkitkan suatu peradaban saya anggap dapat dikombinasikan dengan novel fiksi Arthur C. Clark tentang distopia bumi di tahun 2001.
Sangat kebetulan, kedua buku itu meskipun genrenya berbeda, ternyata membahas hal yang sama, evolusi manusia.

Diamond memiliki penjelasan yang sangat komprehensif mengenai alasan superioritas bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa lainnya. Harus diakui memang, bangsa Eropa memiliki taraf hidup yang lebih maju jika dibandingkan dengan bangsa benua lainnya. Hampir semua benua lain pernah mereka jajah. Yang jadi pertanyaan, mengapa bangsa benua lain tidak menjajah Eropa? Mengapa Belanda yang menjajah Indonesia, bukan sebaliknya? Dan semua ada jawabannya di buku Guns, Germs, and Steel.

A Space Oddysey adalah sebuah buku fiksi klasik legendaris. Banyak pembaca yang memasukkannya dalam list book you must read before you die. Versi filmnya yang disutradarai oleh Stanley Kubrick juga menjadi film sci-fi paling monumental. Tanpa CG moderen, Kubrick dapat membuat film antariksa yang menghidupkan fantasi. Pemilihan tahun 2001 sebagai setting cerita mungkin boleh dikatakan meleset karena 2001 sudah lama berakhir, malah sekarang setelah kita berada di 2016, belum ada satupun negara yang berhasil membuat koloni di bulan seperti yang diimajinasikam Clark di buku fiksi legendarisnya. Tapi tetap saja saya sangat mengapresiasi visinya yang sangat jauh ke depan. Visi membuat koloni di bulan di 2001 nampaknya cukup masuk akal bagi nalar Clark di tahun 1968 saat dia merilis bukunya. Berhubung di masa itu, sedang terjadi perang antariksa antara Rusia dan AS, mereka berlomba-lomba untuk mendaratkan manusia di bulan. Antusiasme itu pada akhirnya surut ketika tembok Berlin runtuh, yang menandai berakhirnya perang dingin. Hingga saat ini manusia belum bisa membuat koloni di luar planet bumi. Malah untuk hidup di bumi saja, manusia masih kesulitan. Belum semua area bumi dapat ditaklukkan manusia. Lautan yang dalam dan Antartika yang dingin belum sepenuhnya dapat dieksplorasi. Mungkin itu hal baik. Selalu ada ancaman di tiap tindakan manusia.

Banyak dari kita senantiasa percaya bahwa intelegensia adalah anugerah terbesar yang dimiliki oleh umat manusia. Kita dapat berasumsi bahwa manusia bertahan hidup selama puluhan ribu tahun karena bantuan intelegensia. Kita bisa beradaptasi, memanfaatkan sumber daya alam, memanipulasi ruang dan melakukan efisiensi waktu karena intelegensia. Saya termasuk salah satu di antara orang yang percaya hal itu. Hanya saja produk utama intelegensia adalah teknologi yang terkadang justru membahayakan kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Contoh kecil potensi bencana ekologis yang dapat timbul karena intelegensia manusia antara lain ancaman perang nuklir, perubahan iklim, vortex plastik di lautan, dan polusi logam berat. Yang cukup mengherankan, tanpa intelegensia, bakteri dapat bertahan hidup di bumi yang keras.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...