Selasa, 16 Februari 2016

Jumat, 12 Februari 2016: Beatrice and Virgil Farm

Dalam beberapa hari terakhir saya agak kebingungan dalam memilih topik tulisan untuk diterbitkan di blog ini. Mau menulis tentang keseharian hidup di pulau terpencil, rasanya agak segan karena hidupku di sini sudah terlalu damai untuk diceritakan. Hal yang terlalu damai biasanya memiliki kisah yang dianggap khalayak ramai sebagai sesuatu yang membosankan. Apalagi jika kehidupan damai itu dijalani di sebuah tempat yang unfamiliar with common ear, out of nowhere, hampir tak pernah terdengar di manapun. Kadar anggapan membosankannya dapat meningkat hingga beberapa kali lipat. Jika dua judul buku berikut ini terhampar di sebuah meja, "Kehidupanku yang Damai di Pulau Ndao" dan "Kehidupanku yang Mencekam dan Sadis di Pulau Bali", sepertinya sudah jelas kan judul buku mana yang kemungkinan besar kisahnya akan dianggap lebih menarik?

Lagian akhir-akhir ini, jalan kehidupanku di sini terkesan terlalu bebas dan tanpa aturan. Tak ada aturan yang mengikat mengenai jadwal kerja, pakai kostum kerja suka-suka, mau pakai kaos oblong dan sendal jepit pun oke-oke saja, dan tak ada yang namanya atasan, saya jadi bos untuk diriku sendiri. Setiap hari kegiatanku hanyalah memeriksa pasien di Puskesmas atau melakukan kunjungan ke rumah pasien. Para pasien yang dikunjungi rumahnya memang memiliki kisah uniknya masing-masing, hanya saja, saya tidak punya kemampuan narasi yang terlalu baik dalam mendeskripsikan kisah-kisah mereka.

Dalam seminggu ini, ada 2 buku yang berhasil saya selesaikan. "Animal Farm" karya George Orwell dan "Beatrice and Virgil" karangan Yann Martel. Sebetulnya saya ingin menulis review tentang kedua buku tersebut tapi rasa-rasanya hal serupa sudah banyak tersedia di dunia maya. Malah mungkin apa yang orang lain pernah tulis tentang keduanya, jauh lebih komprehensif ketimbang apa yang saya review.

Sepertinya George Orwell sangat benci dengan pemerintahan totalitarian hingga dia harus menulis buku "Animal Farm" dan "1984" yang notabene memiliki tema serupa. Meskipun Animal Farm mengambil tokoh hewan sebagai karakter utama cerita seperti yang sering kita temukan pada cerita dongeng anak, kisah yang diangkat oleh buku ini saya rasa bukanlah untuk konsumsi anak-anak. Kekejaman, penindasan, penipuan, dan pengkhianatan tersaji di sepanjang cerita melalui para karakter hewan ternak yang terlihat jinak dan bersahabat. Lalu salah satu alasan lain mengapa Animal Farm tidak cocok buat anak, meskipun di judul utama bukunya terdapat frasa "A Fairy Story, adalah Orwell tak memberikan happy ending bagi tokoh protagonisnya yang baik hati seperti yang juga terjadi dalam novel 1984-nya. Boxer Si Kuda dan Winston Smith, para tokoh protagonis di novel Animal Farm dan 1984, berakhir dengan tragis. Keserakahan para babi di Animal Farm dan manipulasi Big Brother beserta kemenangan mereka atas para protagonis di masing-masing novel bukanlah contoh pendidikan yang baik bagi anak-anak. Kisah seperti ini dapat meninggalkan jejak-jejak kesuraman di hati anak-anak mereka. Entah mengapa Orwell memilih akhir seperti itu. Apa yang dilakukannya seolah menyiratkan bahwa keadilan tak ada di muka bumi ini. Itu hanyalah kata semu yang menjadi instrumen para penguasa untuk menjajah orang-orang lemah.

Hal serupa juga berlaku untuk novel "Beatrice and Virgil" karya Yann Martel yang terbit tahun 2010. Ini juga bukanlah buku yang cocok buat anak meskipun ada juga kisah hewan di novel tersebut. Setelah sebelumnya sukses dengan Life of Pi di tahun 2004, Yann Martel kembali menyajikan sebuah novel surealis. Jika di Life of Pi kisah surealisnya berlangsung di sebuah sekoci di tengah samudera, maka Beatrice and Virgil mengambil latar keseharian seorang penulis yang mengalami writer-block di sebuah kota di Jerman. Yann Martel berhasil menghidupkan suasana surealis dalam kehidupan Henry yang terobsesi pada holocaust ketika dia bertemu seorang taksidermis yang misterius. Seluruh dunia membenci Si Taksidermis, hanya Henry yang tidak merasa terganggu. Lalu entah suatu kebetulan atau hal yang disengaja, tapi kisah Beatrice and Virgil yang hidup di punggung sebuah baju piyama, mengingatkanku pada cerita One Piece di Pulau Zou yang merupakan punggung seekor mammoth yang berkelana di lautan. Mereka semua hidup di atas punggung. Ada apa sebenarnya dengan punggung? Mengapa mereka harus menjadi latar tempat? Lalu ada juga kisah tentang dua wanita yang menenggelamkan bayinya masing-masing yang diikuti oleh bunuh diri keduanya. Saat membacanya saya merasakan kehororan yang berbalut surealisme.

Yann Martel menguji batas-batas kemanusiaan dengan menjelaskan suatu penyiksaan secara mendetail hingga meninggalkan impresi dalam imajinasiku. Darah yang mengalir, luka yang menganga, pukulan dan tendangannya, terasa begitu nyata. Martel mempertanyakannya dasar-dasar etis penyiksaan itu tapi bukannya berusaha menolak ataupun menyalahkannya, dia justru terkesan menerima semua kekejaman dan kekejian tersebut sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan sejarah manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk membunuh dan menyiksa sesamanya, apakah hal tersebut menjadikan manusia setara dengan binatang? Dan bagaimana dengan para hewan seperti kedelai yang jarang terlihat membunuh sesamanya, apakah hal itu membuat mereka menjadi setara dengan manusia? Untuk pertanyaan-pertanyaan seperti itu, George Orwell memberikan jawaban yang begitu eksplisit di Animal Farm saat para babi mulai menjajah hewan lain dan mulai berjalan dengan menggunakan dua kaki saja. Orwell dengan jelas mengemukakan bahwa manusia hanyalah salah satu jenis binatang penghuni bumi, semua perilaku kebinatangan manusia yang dipraktekkan selama ini bukanlah hal yang mengejutkan. Kekejaman-kekejaman itu terus berulang dari masa ke masa karena seperti halnya binatang, manusia selalu berhasil membuat dirinya mengalami amnesia sejarah dan menemukan penebusan tanpa harus menderita penyesalan dan kesedihan. Pernahkah seekor harimau menangis setelah membunuh seekor sapi? Pernahkan umat manusia berhenti berperang setelah mengalami dua kali perang dunia.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...