Sabtu, 06 Februari 2016

Jumat, 5 Februari 2016: Sense and Ignoramus

Apakah saat terlahir pria langsung menggunakan celana sedangkan wanita memakai rok? Saya berharap hal itu bisa terjadi karena dengan begitu, kita dapat menghemat banyak uang dari sektor pembelian pakaian bayi. Sayangnya, semua bayi, entah itu pria atau wanita, terlahir dalam kondisi telanjang, tak berbusana. Faktor ini yang membuat bisnis pakaian bayi memiliki prospek yang cukup cerah karena setiap hari ada bayi yang lahir, dan mereka semua butuh pakaian. Seandainya saja di masa depan ada aturan yang mewajibkan sterilisasi pada semua pria dan wanita seperti yang ada di cerita pendek Kurt Vonnegut, BR02B, maka bisnis pakaian bayi pasti akan terkena imbas paling besar. Untungnya, kebijakan gila itu belum akan terealisasi, setidaknya dalam waktu dekat ini, tapi entahlah kalau nanti jumlah penduduk sudah tak mampu lagi ditampung bumi. Karena kebijakan politis itu ibarat ombak di lautan, kita yang berada di daratan hanya bisa melihatnya maju dan mundur, disepakati atau ditolak. The true pattern of the wave is a mysteri. We almost couldn't see when it changed it's behavior. Pola sejati dari gelombang adalah sebuah misteri. Kita hampir tak dapat melihat kapan gelombang mengubah perilakunya. Hanya mereka yang mendalami metereologi dan oseanografi yang dapat melihat perilaku gelombang dengan lebih seksama, seperti halnya politisi pada politik. Kita yang awam hanya bisa melongo ketika sebuah kebijakan politik tiba-tiba saja berubah.

Bayi-bayi yang terlahir di dunia ini semuanya tak ber-gender. Masyarakat lah yang membuat mereka berjenis kelamin. Masyarakatlah yang membuat semua bayi yang berbatang di bawah perutnya harus memakai celana sedangkan bayi yang berlubang di bawah perutnya harus memakai rok. Meskipun beberapa kebudayaan mungkin tidak mengenal celana dan rok, setidaknya semua kebudayaan memiliki kostum simbolis untuk membedakan gender. Entah disadari atau tidak, pembedaan gender sebenarnya sebuah proses politik. Masyarakat memberikan label dan stereotipe, mengkategorikan, lalu memposisikan tiap kategori tersebut dalam sejumlah peran politis. Yang berjenis kelamin wanita harus bisa memasak, menjahit, menjaga anak, dan jangan banyak urusan sedangkan yang berjenis kelamin pria harus bisa mencari kerja dan menjadi pemimpin bagi wanita. Selama berabad-abad stereotipe itu terus melekat hingga akhirnya gerakan feminisme menyerang. Para wanita tidak mau lagi terkekang oleh rok dan urusan rumah tangga. Mereka ingin bebas dan mendapatkan kesempatan yang setara dengan pria. Tapi jalan itu masih panjang. Sulit untuk mengubah stereotipe yang terlanjur mengakar dalam sanubari tiap insan manusia di dunia ini.

Tengok saja Amerika Serikat yang katanya merupakan tanah kebebasan. Di sana, wanita belum sepenuhnya mendapat kesetaraan. Sampai Jennifer Law yang merupakan aktris peraih Oscar saja pernah mengeluhkan kalau bayarannya sebagai aktris masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan bayaran aktor yang jadi tandemnya di film. Lalu coba juga perhatikan dialog film kartun bertema Princess buatan Disney. Ambil contoh film Snow White atau The Little Mermaid. Di kedua film tersebut dialog karakter wanita jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan dialog karakter pria. Malah di film Mulan yang karakter utamanya adalah wanita, tetap saja dialog untuk wanita masih kalah dibanding pria. Itu baru dari aspek dialog, belum lagi jika kita meniliknya dari aspek rasio jumlah pemerannya berdasarkan jenis kelamin. Dari film kartun saja kita sudah dapat melihat betapa besarnya dominasi pria atas wanita. Yang parah dari film Disney bertema princess di masa lalu adalah para karakter ceweknya tidak punya banyak hobi. Lihat saja Snow White, yang dia lakukan hanya makan apel beracun lalu tertidur menunggu pangeran datang. Mengapa dia tidak menjadi manajer pertambangan para kurcaci atau setidaknya belajar tentang metalurgi?

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...