Sabtu, 27 Februari 2016

Kamis, 25 Februari 2016: Noodle

Indonesia adalah surganya para penjual. Ada begitu banyak jiwa yang bisa menjadi objek promosi barang dan jasa di tanah ini. Kita bicara tentang 300 juta manusia yang butuh makan, minum, rumah, pakaian, transportasi, dan kesenangan. Asumsikan saja, semua penduduk Indonesia mengkonsumsi 1/4 kilogram beras per hari, itu artinya kita butuh 75 juta kilogram atau 75.000 ton beras tiap harinya. Itu belum termasuk kebutuhan beras untuk keperluan industri minus orang-orang miskin yang tidak sanggup membeli beras dan mereka yang tidak menggunakan beras sebagai makanan pokok. Para penjual beras pasti tersenyum jika melihat pangsa pasar sebesar itu. Petani Indonesia mungkin tidak mampu menghasilkan beras dengan jumlah monster begitu, apalagi akhir-akhir ini seringkali terjadi gagal panen akibat perubahan iklim global. Yang mana hal ini berimbas pada kebijakan mengimpor beras dari Thailand atau Vietnam menjadi salah satu pilihan wajib yang sulit terhindarkan. Tindakan seperti ini mungkin tidak mencerminkan kemampuan berdikari suatu bangsa. Sehingga membuat pertanyaan seperti "Kenapa hanya untuk urusan mengisi perut, kita harus membelinya dari negara lain?" adalah hal yang wajar. Masalahnya, persoalan berdikari dan kemandirian bangsa ini harus terbentur pada masalah lain, yakni ada begitu banyak perut yang harus diisi. Perut-perut yang lapar cenderung mudah marah dan beringas. Tentu saja jika jika membiarkan perut-perut kelaparan ini tak terisi, mereka semua dapat teragregasi lalu berkomplot untuk menghancurkan kedaulatan negara, seperti yang terjadi pada Tsar Rusia yang luluh lantak dihantam kaum Bolshevik kelaparan yang telah terprovokasi oleh propaganda sosialisme dari Lenin.
Jadi untuk mencegah terjadinya hal serupa, seseorang atau korporasi perlu melakukan sesuatu untuk mengenyangkan semua orang, tidak peduli dari mana sumber makanannya. Pengusaha lokal yang mengimpor beras akan dengan senang hati mengambil peran untuk ini. Para petani lokal mungkin akan menjerit karena hal tersebut dapat menurunkan harga beras lokal. Namun sepertinya sulit untuk mendengarkan jeritan dan teriakan para petani lokal ketika sebagian besar orang sudah merasa kenyang oleh beras impor.

Mie untuk Kehidupan

Bagi orang Indonesia di masa lalu, ada jargon yang senantiasa menggaungkan bahwa seseorang dianggap sudah makan jika nasi telah masuk ke dalam lambungnya. Sebanyak apapun roti atau kue yang dimakan, jika belum ada nasi yang terlibat dalam menu maka lapar takkan bisa terobati. Oleh karena itu jangan heran jika di daerah kita menemukan orang Indonesia yang makan nasi campur jagung, nasi campur ubi, atau yang terbaru, nasi campur mie bahkan nasi campur roti meskipun kita semua memahami bahwa beras, ubi, jagung, roti, dan mie termasuk dalam kategori makanan pokok, penghasil utama karbohidrat. Di negara yang sudah maju, penduduknya cenderung hanya mengkonsumsi satu jenis makanan pokok dalam satu waktu. Saat makan pagi menunya mungkin roti campur telur, keju, atau susu saja, ketika makan siang ada menu nasi atau pasta atau apapun itu, sedangkan saat malam entahlah mereka mau makan apa lagi, karena saya belum pernah makan malam di luar negeri. Tapi intinya adalah tak perlu ada dua makanan pokok atau lebih dalam satu periode makan. Karena secara nutrisi, itu memang tidak dianjurkan sebab tidak ada keseimbangan di dalamnya. Tapi apa hendak dikata, kebiasaan sulit diubah.

Namun generasi Indonesia tahun 2000-an nampaknya mulai menunjukkan deviasi dari kebiasaan itu. Makanan pokok pilihan mereka mulai berubah. Mereka cenderung beralih pada makanan pokok sintetis yang bernama mie instan. Sudah banyak saya bertemu ibu-ibu yang mengeluhkan bahwa anak mereka sudah tidak doyan makan nasi. Tiap mereka datang, hanya satu permintaan mereka, obat penambah nafsu makan agar anak-anak mereka kembali mencintai nasi.
Saat melihat fenomena ini, saya merasa ada kesenjangan budaya antara orang tua dan anak. Para orang tua yang terlahir sebelum tahun 2000an, masih terbiasa dengan makanan pokok nasi sedangkan anak-anak mereka mulai terpapar oleh budaya mie instan.

Kesenjangan tersebut menimbulkan polemik di masyarakat. Polemik itu pada umumnya terfokus pada aman tidaknya mie instan di konsumsi secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Jika kita percaya pada badan POM dan plastik pembungkus mie yang berisi kandungan nutrisi maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa mie instan cukup aman bagi manusia meskipun dikonsumsi dalam waktu yang lama. Hanya saja, bangsa Indonesia sudah mengalami krisis kepercayaam. Krisis tersebut kadang membuat mereka terlalu percaya atau bahkan tidak terlalu percaya pada sesuatu. Kata kuncinya di sini adalah terlalu, dan kita tidak pernah berada di tataran moderat saat sedang krisis. Tak ada yang namanya percaya saja atau tidak percaya saja. Harus ada exaggeration. Contoh krisis kepercayaan dapat kita lihat pada proses pemilihan anggota legislatif atau eksekutif. Tiap pemilihan, selalu kita temukan ada kubu yang sangat percaya pada para calon wakil rakyat atau eksekutif hingga rela mati dan membunuh demi kelanggengam kandidat pilihannya dan di ekstrim yang lain, terdapat kubu yang sangat membenci calon wakil rakyat atau eksekutif tersebut hingga rela tewas dan membantai agar kandidat yang dibencinya gagal terpilih. Saat dalam krisis, manusia senantiasa terbiasa untuk menyederhanakan suatu persoalan ibarat memilih warna hitam dan putih, baik atau jahat, persis seperti yang terlihat di film Disney, ada Aladin yang baik dan Jafar yang jahat, Jedi yang memperjuangkan kebenaran dan Sith yang menghancurkan galaksi. Dan kita selalu menganggap diri kita sebagai Jedi Sang Pembela Kebenaran sedangkan orang lain yang menjadi lawan kita adalah Sith Sang Perusak Semesta. Kita buta dalam melihat spektrum warna lainnya yang berada di luar spektrum hitam dan putih. Padahal bisa jadi, kitalah yang sebenarnya penjahat.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...