Rabu, 17 Februari 2016

Lundi, Dix-cinq Fevrier 2016: Elbakyan

Waktu masih kuliah dulu, salah satu kegiatan yang cukup mengganggu perjalanan hariku yang biasanya indah dan damai selama 24 jam adalah menyisihkan waktu untuk membuat referat, kadang ada juga yang menyebutnya refarat atau malah laporan kasus. Semua tergantung keyakinan masing-masing. Saya sendiri lebih suka menyebutnya refarat karena rimanya terdengar apik, terasa renyah di lidah seperti kerupuk terutama ketika ada dua huruf "a" yang diantarai oleh sebuah huruf "r". Terkesan estetis. Hanya saja, kalau secara etimologi, akar kata yang benarnya adalah referaat, yang merupakan sebuah kata dalam bahasa Belanda yang artinya mungkin sepadan dengan tinjauan pustaka. Entahlah. Penggunaan bahasa kolonial dalam istilah kedokteran Indonesia merupakan hal yang lazim karena selama beberapa abad, bangsa kita memang lemah di bidang itu. Dulu malah, tidak boleh ada inlander yang kuliah kedokteran. Sepertinya bangsa Indonesia baru memiliki dokter pribumi di abad ke-20 ketika dr. Soetomo dan dr. Wahidin Soedirohoesodo mencatatkan namanya di panggung sejarah Indonesia.

Tinggalkan sejenak sejarah untuk kembali membahas mengapa kegiatan membuat referat adalah hal yang cukup mengganggu. Saya tidak menyertakan variabel waktu yang tersita sebagai salah satu alasan mengapa kegiatan membuat referat itu sangat mengganggu karena waktu yang terbuang atau berlalu ketika sedang mengerjakan tugas kuliah adalah sebuah investasi yang memang wajib dikeluarkan sejak awal seorang mahasiswa menjejakkan kaki di dunia kampus. Jika memang tak ingin sebagian umurmu terkonversi oleh tugas kuliah, ada baiknya berhenti saja kuliah sebelum pendaftaran mahasiswa baru dimulai lalu cari kegiatan lain yang menurutmu layak untuk menjadi keran penghabis hari-hari masa mudamu. Soal waktu, saya memang tidak punya masalah sama sekali karena saya tak punya kehidupan sosial di luar kuliah. Tarikan gravitasi kampus membuat jalur orbit hidupku hanya berlalu antara rumah, warung makan, dan bangku kuliah, terkadang ada sedikit deviasi orbit saat saya ke pasar untuk membeli sejumlah perlengkapan tempur untuk kehidupan, sehingga tugas kuliah bagaikan sebuah liburan bagiku, salah satu sarana untuk mengisi waktu luangku yang begitu kosong.

Jadi apa sebenarnya faktor pengganggu yang membuat referat begitu menjengkelkan? Jawabannya sederhana, daftar pustaka. Untuk membuat referat, jumlah rujukan pustaka yang wajib disertakan minimal 20 buah dan itu sumbernya harus berasal dari textbook atau jurnal ilmiah yang terbit dalam 5 tahun terakhir. Jadi saat saya mendapat tugas membuat referat katarak di tahun 2011,  saya wajib membaca minimal 20 jurnal atau teksbuk yang berkaitan dengan hepatitis yang diterbitkan antara tahun 2006-2011. Nah, di sini lah letak hal yang menjengkelkannya. Saat melakukan pencarian, saya memang menemukan banyak teksbuk dan jurnal mengenai katarak, hanya saja, kebanyakan dari mereka merupakan terbitan di bawah tahun 2006. Adapun saat menemukan jurnal terbitan terbaru mengenai prosedur operasi ekstraksi katarak, ternyata itu adalah jurnal berbayar yang harganya 30 dollar atau sekitar 300ribuan untuk kurs saat itu. Menurut ukuran mahasiswa kere sepertiku, itu harga yang terlalu mahal untuk sebuah jurnal setebal 20 halaman. Saat itu harga satu piring nasi campur masih Rp 7000, sehingga dengan uang 300.000, saya bisa makan sampai 42 piring. Dengan ukuran 3 kali makan sehari, maka uang 300.000 setara dengan jatah makan selama 14 hari atau 2 minggu. Saat membayangkan jika saya harus membayar 20 jurnal ilmiah setebal 10 hingga 30 halaman dengan harga segitu, rasanya mau tidur saja seharian. Itu pun saat sudah membeli jurnalnya, belum tentu isi secara keseluruhannya sesuai dengan referensi yang kita inginkan, yang berarti bahwa harus ada biaya tambahan lagi untuk membeli jurnal yang lain. Itu sungguh menjengkelkan.

Untungnya, saat itu ada banyak forum internet untuk para mahasiswa kere yang membutuhkan referensi ilmiah. Tinggal mengajukan request, selalu ada orang baik di luar sana yang membantu. Untuk membalas jasa orang-orang baik itu, maka saya juga mengupload referensi ilmiah yang saya miliki ke Scribd dan blog ini. Saat itu proses download dokumen di Scribd masih sangat mudah. Semua berubah ketika komersialisasi menyerang. Tapi saya tak ingin menyalahkan Scribd karena mereka juga pasti butuh uang untuk bertahan hidup.

Hal yang saya alami juga pernah dirasakan oleh seorang mahasiswi Kazhakstan yang bernama Alexandra Elbakyan. Saat itu dia sedang menyusun proposal penelitian dan memerlukan banyak referensi jurnal ilmiah berbayar. Sayangnya, dia juga sama kerenya denganku. Akhirnya karena tidak ingin pengalaman buruknya terulang pada orang lain, di September 2011, di tahun yang sama saya merasa sebagai orang paling kere di Makassar, Elbakyan membuat Sci-Hub sebuah situs yang secara ilegal memberikan akses gratis ke semua jurnal berbayar. Hal ini disambut gembira oleh semua mahasiswa kere karena dapat menikmati ilmu pengetahuan secara gratis. Hanya saja para penerbit besar seperti Elsevier, meradang. Mereka pun menuntut Elbakyan untuk membayar ganti rugi. Untungnya, Elbakyan bukan orang Amerika, sehingga tuntutan itu tak berarti apa-apa baginya yang hidup di bekas wilayah Uni Soviet. Karena itulah Elbakyan dijuluki sebagai Robin Hood of Science.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...