Selasa, 16 Februari 2016

Minggu, 14 Februari 2016: Megavitamin

Rasanya agak jengah juga melihat begitu banyak pemasaran vitamin dan antioksidan dosis tinggi dengan embel-embel dapat mencegah kanker dan memperlambat penuaan. Bukannya mau nyinyir dengan rejeki orang dari pemasaran produk semacam itu, hanya saja klaim berlebihan tentang mencegah kanker dan efek awet muda belum memiliki bukti ilmiah yang sahih.

Sejak dipopulerkan oleh Linus Pauling, peraih dua hadiah Nobel di bidang kimia dan perdamaian, vitamin C dan antioksidan lainnya seperti beta karoten, selenium, vitamin A, serta vitamin E dianggap sebagai garda terdepan untuk melawan radikal bebas yang dari penelitian memiliki keterkaitan dengan proses penuaan, kanker, dan penyakit jantung. Perang antara antioksidan vs radikal bebas yang terjadi di sel atau lebih tepatnya mitokondria, seringkali disamakan dengan perang antara kebaikan vs kejahatan, meskipun sebenarnya ini anggapan yang terlalu berlebihan. Mengapa perang itu harus mengambil tempat di mitokondria? Itu karena mitokondria merupakan pabrik utama sel untuk menghasilkan energi. Untuk menjalankan pabrik, mitokondria membutuhkan bahan bakar yang bernama oksigen. Dengan oksigen inilah maka terjadi proses oksidasi yang salah satu produk sisanya adalah senyawa yang sangat kehausan elektron, yang disebut juga sebagai radikal bebas. Jika dibiarkan berkeliaran, radikal bebas yang haus elektron akan merajalela ke jaringan tubuh lainnya untuk mencari elektron mereka yang kurang. Perumpamaan sederhananya, radikal bebas ini ibarat para jomblo yang sudah sangat ngebet untuk mencari jodoh atau elektron, saking ngebetnya, mereka sampai merusak rumah penduduk untuk menemukan jodoh. Nah, untuk menetralkan keliaran tersebut, maka tubuh menghasilkan antioksidan seperti enzim peroksidase. Antioksidan juga dapat ditemukan dari alam melalui buah dan sayur. Dari penelitian diketahui bahwa orang yang mengkonsumsi buah dan sayur memiliki umur yang lebih panjang dan jarang terkena penyakit jantung.

Nah dari hasil penelitian itu maka orang-orang mulai membuat logika seperti ini:
"Jika buah dan sayur mengandung antioksidan - dan orang yang makan buah dan sayur memiliki hidup yang lebih sehat - maka orang yang mengkonsumsi suplemen antioksidan pasti juga memiliki hidup yang lebih sebat."

Logika yang tampak rasional namun fakta justru membuktikan sebaliknya. Mereka yang mengkonsumsi suplemen antioksidan justru cenderung kurang sehat.

Mana buktinya?

Bukti pertama berasal dari penelitian yang dilakukan oleh National Cancer Health, yang bekerja sama dengan National Public Health Institue Finlandia di tahun 1994, terhadap 29.000 pria Finlandia yang semuanya adalah perokok dan berusia di atas 50 tahun. Para pria ini terpilih bukannya karena tampan tapi karena dianggap lebih beresiko untuk mengalami kanker dan penyakit jantung. Susah loh mencari 29ribu pria untuk diikutsertakan dalam sebuah penelitian, apalagi biayanya juga tidak sedikit. Untung National Cancer Health punya banyak uang. Pria-pria yang telah terpilih ini kemudian dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama diberikan vitamin E, kelompok kedua diberikan beta carotene, kelompok ketiga diberikan kombinasi vitamin E dan beta carotene, lalu kelompok terakhir, tidak berikan apa-apa, hanya pil kosong. Kasihan ya para pria di kelompok 4, kalau jadi mereka, saya mungkin akan protes atas ketidakadilan tersebut. Untungnya, semua pria itu diberikan pil namun mereka tidak tahu apa isi pil tersebut, sehingga tak ada satupun dari mereka yang protes meskipun hanya mendapatkan pil kosong. Bahkan penelitinya pun tidak tahu isi pil tersebut. Semua pil itu diberikan kode dan kode itu baru bisa diketahui maksudnya ketika semua data telah terkumpul. Sepertinya cukup merepotkan ya. Tapi para peneliti memang sengaja melakukan hal ini untuk mengikuti kaidah penelitian prospektif, terkontrol (controlled), dan buta-ganda (double-blind) untuk menghindari terjadinya bias yang berasal dari objek dan subyek penelitian.

Lalu bagaimana hasilnya? Para pria yang mengkonsumsi suplemen vitamin dan beta carotene ternyata lebih beresiko mati karena kanker paru-paru ataupun penyakit jantung jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mengkonsumsi kedua suplemen tersebut. Hal ini sangat mengejutkan para ahli karena hasil ini tidak lagi sejalan dengan logika yang berkembang selama ini. Ternyata suplemen antioksidan dosis tinggi tidak aman.
Karena tidak puas dengan hasil tersebut, maka para ahli kembali melakukan penelitian dengan kelompok beresiko lainnya.

Bukti kedua ini berasal dari penelitian para peneliti yang tidak puas dengan penelitian sebelumnya. Kali ini Fred Hutchinson Cancer Research Center yang melakukan penelitian pada tahun 1996 di Seattle, terhadap 18.000 orang yang sudah pernah terpapar dengan asbestos, yang mana zat ini dapat meningkatkan resiko kanker paru-paru. Seperti metode penelitian sebelumnya, kembali dibentuk 4 kelompok yang masing-masing diberikan vitamin A, beta carotene, kombinasi keduanya, dan pil kosong. Penelitian ini harus dihentikan di tengah jalan karena para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang mengkonsumsi vitamin A dan beta carotene memiliki resiko kanker dan penyakit jantung sekitar 28% lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang yang tidak mengkonsumsinya. Lagi-lagi bukti ini mengecewakan para pecinta suplemen vitamin dan antioksidan.

Ada lagi bukti ketiga dari Universitas Kopenhagen di tahun 2004 yang meninjau 14 percobaan acak pada 170.000 orang yang masing-masing mendapatkan suplemen vitamin A, C, E, dan beta carotene untuk melihat apakah hal itu dapat mencegah kanker usus. Tapi hasil sama persis dengan dua percobaan sebelumnya. Suplemen antioksidan bukannya mencegah kanker, justru semakin meningkatkan angka mortalitas.

Sebenarnya masih banyak bukti-bukti ilmiah lainnya yang seharusnya dapat menghentikan promosi berlebihan produk suplemen antioksidan dosis tinggi. Kalau saya membahas semuanya di sini, mungkin itu akan menjadi sebuah buku. Hanya saja, bisnis ini sudah terlanjur menggurita. Omsetnya sungguh luar biasa, di tahun 2010 saja, bisa mencapai angka 28 milyar dollar AS. Dengan keuntungan sebesar itu, sulit untuk melakukan pelarangan karena pasti akan ada resistensi dari industri penghasil suplemen antioksidan dan vitamin dosis tinggi.

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah mengapa hasil penelitian justru menunjukkan bahwa perang antioksidan vs radikal bebas tidak sesuai yang diprediksi sebelumnya? Bukankah radikal bebas dapat merusak sel? Dan bukankah orang yang mengkonsumsi sayur dan buah yang notabene mengandung antioksidan memiliki hidup yang lebih sehat? Lalu mengapa orang yang mengkonsumsi suplemen antioksidan dosis tinggi justru lebih sakit?

Sebenarnya agak sulit untuk menjawab hal semua pertanyaan itu. Kenyataannya, radikal bebas tidaklah sejahat yang selama ini dituduhkan padanya. Malahan, tubuh kita membutuhkan radikal bebas untuk membunuh bakteri dan sel kanker yang baru tumbuh. Sekali lagi perlu diingat bahwa radikal bebas adalah produk sisa alami dari proses oksidasi jadi otomatis tubuh kita punya cara yang juga alami untuk mengeliminasinya. Dalam dosis wajar, seperti yang terkandung dalam sayur dan buah, antioksidan mungkin menguntungkan namun konsumsi suplemen antioksidan dosis tinggi justru dapat merusak keseimbangan alamiah yang ada di tubuh kita. Para peneliti menyebut fenomena ini dengan nama "antioxidant paradox".

Mungkin sulit untuk meyakinkan masyarakat untuk tidak terjebak dalam pemasaran suplemen antioksidan dosis tinggi tapi setidaknya kita tetap perlu memberitahukan kebenaran pada mereka bahwa konsumsi sayur dan buah adalah hal yang baik, namun konsumsi suplemen antioksidan dan vitamin dosis tinggi tidaklah baik bagi kesehatan.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...