Kamis, 11 Februari 2016

Rabu, 10 Februari 2015: Shoes

Put yourself in other's people shoes, itu yang diajarkan Game Final Fantasy IX padaku. Dan itu bukanlah suatu jenis ajaran yang mudah untuk dipraktekkan. Di kehidupan nyata, saya dan mungkin juga kebanyakan orang lainnya, lebih suka menghakimi ketimbang mencari tahu perspektif lain dari suatu permasalahan. Karena menghakimi, jump into conclusion, memang lebih mudah dilakukan. Siapapun bisa melakukannya. Bahkan anak yang belum TK pun bisa melakukannya saat merajuk. Tak perlu analisa dan pengetahuan yang mendalam, langsung mengatakan saja itu benar dan ini salah, itu jahat dan ini baik. Simpel. Terkadang kita lupa bahwa orang yang kita hakimi itu adalah manusia, yang setiap tingkah lakunya selalu didahului oleh motif, pemicu, dan faktor predisposisi. Jarang sekali kita mencari tahu tentang variabel-variabel ini ketika suatu permasalahan sedang terjadi. Kita lebih fokus untuk menghakimi siapa yang benar dan siapa yang harus dihukum karena itu memang lebih praktis untuk dilakukan. Seolah-olah hal tersebut dapat menyelesaikan dan memutus rantai masalah. Tapi sebenarnya penyelesaian masalah seperti itu bersifat ilusi. Menghakimi tanpa mencari tahu akar masalah takkan pernah bisa menjadi solusi final. Selalu akan tumbuh benih-benih masalah baru dari akar yang sama.

Seperti yang dapat kita lihat pada polemik LGBT. Bukannya bermaksud mendukung ataupun menolak LGBT, hanya saja apa yang terlihat saat ini adalah masing-masing pihak tidak berusaha untuk mempraktekkan "put yourself in other's shoes". Pihak yang menolak tetap berdiri memakai sepatu yang berwarna nilai-nilai agama untuk menolak LGBT, sedangkan pihak yang mendukung sudah jelas menggunakan sepatu kebebasan yang tak terlalu mempedulikan nilai keagamaan. Kedua sepatu itu sangat kontras warnanya, sepertinya sulit bagi masing-masing pihak untuk mencoba berada di sepatu yang lain. Mereka semua sudah terlanjur nyaman berada di sepatu yang lama. Sehingga nampaknya tak ada solusi untuk mengatasi polemik tersebut. Biarlah masing-masing pihak mengklaim kebenaran. Hanya saja saya berharap, polemik ini tak berujung pada pertumpahan darah. Karena sudah menjadi kebiasaan manusia, jika suatu perkara tidak bisa diatasi dengan cara elegan, kekerasan selalu menjadi jalan alternatif atau bahkan jalan utamanya.

Penerapan frasa "put yourself in other's people shoes" pernah dilakukan oleh Ideo. Mereka diminta oleh suatu rumah sakit untuk mencari tahu pengalaman pasien yang dirawat di sana. Dengan data itu, mereka ingin meningkatkan kepuasan pasien selama perawatan. Paul Bennet, kepala tim Ideo, lalu mempresentasikan video berdurasi 5 menit yang menunjukkan langit-langit ruang perawatan. Awalnya para manajer rumah sakit kebingungan, mengapa mereka harus bayar mahal-mahal konsultan hanya untuk melihat video langit-langit ruang perawatan? Tapi kemudian mereka mengerti, inti dari video itu adalah ketika seseorang menjadi pasien di rumah sakit, hal yang dapat dipandanginya sepanjang hari adalah langit-langit.

Para manajer itu pun menyadari bahwa untuk meningkatkan kepuasan pasien, mereka tidak perlu membuat perubahan besar-besaran dalam sistem. Cukup mengubah hal kecil saja yang berkaitan erat dengan keseharian pasien. Mereka pun mendekorasi ulang langit-langit agar terlihat lebih menarik dan menyediakan papan tulis putih yang dapat ditulisi para pengunjung yang ingin memberikan kata-kata semangat pada pasien di dinding ruang perawatan. Dan tindakan-tindakan kecil ini ternyata dapat meningkatkan kepuasan pasien di rumah sakit.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...