Minggu, 27 Maret 2016

Jumat, 25 Maret 2016

Kehidupanku di pulau ini berjalan seperti sebuah kurva regresi nonparametrik. Morfologi dan arahnya sulit dijelaskan dalam sebuah paragraf singkat walaupun semua data mengenai perjalanan hidupku selama 11 bulan terakhir dipaparkan dalam sebuah spreadsheet. Meskipun begitu ada satu hal yang saya tahu pasti, saat ini saya masih hidup, bisa bernapas dan memiliki jari-jari fungsional untuk mengetik beberapa kalimat untuk menyusun artikel ini. Tak seperti di masa lalu, Maret di tahun ini tidak lagi menjadi bulan yang produktif bagiku untuk menulis di blog. Sejak punya blog di 2008, biasanya saya merayakan Maret dengan menerbitkan satu artikel per hari atau minimal satu artikel per minggu meskipun tak ada kualitas dalam setiap artikel tersebut. Intinya adalah kuantitas postingan yang dapat mengingatkanku setiap momen yang berlalu di bulan Maret walaupun itu melalui kalimat abstrak yang terkadang tujuan tersebut tidak tercapai karena pada akhirnya saya sendiri pun tidak dapat memahami makna abstrak yang terkandung di dalamnya ketika saya kembali membaca tulisan-tulisan tersebut. Tapi saya tak ingin mempersoalkan hal itu.

Apa yang membuat Maret tahun ini berbeda dengan Maret di masa silam pasca-2008? Perbedaan yang paling mendasarnya adalah infrastruktur dan geografi. Di Maret 2016 dan sebagai besar hari-hariku di tahun 2015, saya terjebak di daerah yang bisa dikatakan jauh dari standar kelayakan modernisasi abad 21 yang bernama sinyal seluler dan listrik. Selain itu moodku untuk menulis sangat terganggu oleh suhu yang sangat tinggi di daerah ini, entah mengapa rasionalitas dan logiku tidak dapat bekerja dengan baik di tempat yang bersuhu 38 derajat Celcius. Kalau Tuhan dapat ditemui tiap hari, saya ingin menemuinya sekarang dan bertanya, mengapa Dia menciptakan tempat sepanas ini? Apa pertimbangannya sehingga harus membuat pulau berukuran 1,5 x 6 km yang sulit terjangkau seperti ini? Dan yang terpenting, mengapa saya harus dibuang ke tempat ini? Tapi sayangnya, Tuhan itu pilih-pilih. Dia tak mau berbincang secara langsung dengan mahluk ciptaan-Nya, terutama jika mahluk itu bernama manusia. Seperti ada kesepakatan yang menentukan bahwa Tuhan hanya mau berbincang-bincang secara interaktif dengan manusia-manusia yang terlahir ribuan tahun yang lalu. Saya tidak akan heran jika nanti ada yang bilang bahwa Tuhan itu diskriminatif. Dari 7 milyar manusia yang ada saat ini, coba sebutkan berapa orang yang mengaku pernah bercakap langsung dengan Tuhan? Kalaupun ada yang mengaku, pada akhirnya kebanyakan dari mereka harus berakhir di Rumah Sakit Jiwa atau penjara karena dianggap menyebarkan aliran sesat.

Salah satu efek terlalu lama di tempat terpencil adalah tiap hari berpikir tentang Tuhan dan kematian. Saking tidak adanya hal yang bisa diperbuat di sini. Sepertinya orang di zaman dulu juga bisa melahirkan banyak agama dan kepercayaan karena distraksi sosial dan materil masih sedikit, seperti yang saya alami saat ini. Begitu kebutuhan primer telah terpenuhi, manusia mulai mencari-cari kesibukan.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...