Senin, 28 Maret 2016

Minggu, 27 Maret 2016

Death is not an event in life: we do not live to experience death. If we take eternity to mean not infinite temporal duration but timelessness, then eternal life belongs to those who live in the present. Our life has no end in the way in which our visual field has no limits. ”
— Wittgenstein, Tractatus, 6.431

Saya sudah menyaksikan begitu banyak kematian. Pada ayam dan bebek yang mati tersembelih olehku, pada nyamuk, lalat, dan kecoak yang terinjak dan terhantam tangan dan kakiku, dan pada pasien-pasien yang menghembuskan napas terakhir di hadapanku. Semua kematian itu membuatku bertanya, kemana mereka pergi ketika mati? Apakah ke akhirat seperti yang kitab suci bilang? Ataukah kita hanya terurai begitu saja menjadi unsur karbon, nitrogen, dan hidrogen yang akan digunakan lagi oleh mahluk hidup lainnya? Lalu bagaimana dengan semua kata, pengalaman. pikiran, dan ingatan yang dimiliki oleh manusia selama hidupnya, apakah itu semua lenyap begitu saja?

Saya merasa kalau manusia di masa lalu sungguh hebat dan luar biasa karena untuk pertanyaan sesulit itu, yang jawabannya tidak mungkin diketahui melalui sebuah pengalaman empiris dan mungkin sulit diuji oleh penelitian eksperimental, mereka dapat memformulasikan sebuah jawaban yang sederhana yang intinya adalah saat manusia mati, dia akan kembali ke pencipta-Nya. Manusia pertama yang menciptakan konsep ini telah memudahkan manusia-manusia yang hidup di muka bumi ini selama berabad-abad. Seharusnya dia dan keturunannya diberikan royalti atas terciptanya konsep tersebut.

Salah satu hal yang membuat kematian begitu menakutkan adalah kita tak tahu apapun tentangnya karena sudah menjadi sifat dasar manusia untuk cenderung takut dan membenci hal-hal yang tak diketahuinya. Lalu datanglah manusia yang menyatakan bahwa ada kehidupan setelah kematian, dan itu akan menjadi kehidupan yang menyenangkan bagi orang-orang yang berbuat baik selama hidupnya. Kabar ini membuat kematian tak lagi menjadi hal yang menakutkan. Meskipun belum bisa dibuktikan secara empiris, kisah tentang kehidupan setelah mati dipercayai oleh hampir semua manusia yang ada di muka bumi ini karena dengan mempercayainya, semua jadi terasa mudah. Kehidupan di dunia yang tak adil dapat dengan lapang dada diterima sebagai suatu kewajaran karena mereka menganggap bahwa ketidakadilan tersebut akan diadili di kehidupan setelah mati. Dengan pola pikir alam bawah sadar seperti ini, maka tidaklah mengherankan jika kemiskinan dan ketidakadilan tak pernah punah dari muka bumi ini. Banyak yang mencari penebusan pada kehidupan setelah mati.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...