Selasa, 01 Maret 2016

Selasa, 1 Maret 2016: L'history Equates

I. L'historical
Februari yang telah berlalu menyisakan sejumlah peristiwa yang patut dicatat dan diingat oleh seseorang, sekelompok orang, atau bahkan seluruh dunia. Tentang gangguan irama sikardianku akibat kurangnya jam tidur malam karena banyak sekali pasien yang datang di atas pukul 12 malam selama bulan lalu mungkin hanya saya sendiri yang akan mengingatnya. Campuran perasaan dan pikiran yang silih berganti mengisi sistem neural di otakku ketika saya mengendarai motor sendiri menembus dinginnya malam yang sepi dan berembun menuju rumah-rumah pasien yang gelap dan kumuh juga tak mungkin menjadi bagian dari sejarah kolektif yang akan diingat oleh banyak orang selain diriku sendiri. Namun tentang kontrovetsi LGBT dan Leonardo DiCaprio yang mendapatkan Oscar lalu membawakan pidato yang menyentuh tentang perubahan iklim mungkin akan dikenang oleh banyak orang selama beberapa tahun ke depan jika bumi yang kita tempati ini tidak meledak karena senjata nuklir ataupun tenggelam karena perubahan iklim selama beberapa dekade atau malah beberapa tahun ke depan. Kita tak pernah tahu bencana mana yang akan lebih dulu menyapa bumi di masa depan, dinosaurus dan para mammoth juga tak pernah tahu tentang hal ini dan kini mereka telah punah. Tapi saya selalu berharap agar bumi tetap menjadi tempat yang ramah bagi manusia hingga matahari kehabisan bahan bakarnya dalam beberapa juta tahun kemudian agar kita tetap bisa menyaksikan Liga Champion di pagi buta dan makan es krim di hari yang panas lalu menceritakan pada anak cucu kita tentang betapa lamanya penantian DiCaprio untuk meraih sebuah hadiah Oscar atau mengenai rivalitas Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo di sepakbola.

Tapi bagaimana jika nanti ada buyut kita yang bertanya, mengapa hanya sejarah DiCaprio, Messi, dan Ronaldo patut dikenang oleh jutaan manusia di bumi ini selama bertahun-tahun? Mengapa orang di Jepang dan Amerika sana tak yang dapat mengingat kisah tentang seorang pemulung sampah di kolong kota Jakarta atau cerita para PSK di Kalijodo dan Dolly? Mungkin ini pertanyaan yang sulit, tapi tak perlu dirisaukan karena saya yakin buyut kita takkan pernah menanyakannya. Itu hanyalah pertanyaan retoris.

Pada akhirnya, kenangan anak-anak masa depan tentang kita hanya ditentukan oleh seberapa besar dampak yang kita berikan pada orang-orang di sekitar kita. Dampak yang diberikan oleh seorang pemulung dan PSK takkan mungkin bisa setara dengan dampak seorang Isa Almasih yang sudah bertahan hingga beberapa milenia kecuali pemulung atau PSK tersebut melakukan tindakan yang extraordinary, seperti membunuh Donald Trump atau malah menyelamatkan Donald Trump dari kepungan ISIS. Lihat saja betapa terkenalnya Yudas Iskariot yang telah mengkhianati Isa Almasih atau Jesus, padahal Yudas bukanlah raja ataupun Nabi. Lalu apa kesamaan antara Yudas, pelacur Kalijodo, dan pemulung Jakarta? Mereka sama-sama manusia biasa. Apa yang membedakan mereka? Yudas berhasil keluar dari zona nyaman sebagai murid Jesus dan melakukan tindakan yang tak terduga, sedangkan mayoritas pelacur Kalijodo dan pemulung Jakarta hanya mau menjalani hidup apa adanya, tak mau melenceng dari jenis kehidupan dan lingkungan yang telah mereka temui sejak lahir.

II. L'equates
Banyak orang yang berkata bahwa hidup ini adil, di mana semua individu memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil. Hanya saja, mereka kadang melupakan bahwa tiap manusia memiliki starting point dan jalan kehidupan yang berbeda-beda. Tidak semua orang bisa terlahir di keluarga yang kaya raya dan memiliki keluarga serta teman yang suportif. Malah banyak keluarga dan lingkungan yang justru menjerumuskan seorang anak ke lembah kemiskinan dan bahkan kematian. Kisah pilu Angeline yang mati dibunuh oleh ibu tirinya tahun lalu dan Marvel yang kejang lalu meregang nyawa setelah dihantam kepalanya ke tembok oleh pacar ayahnya adalah contoh di mana awal kehidupan seseorang sangat berperan dalam menentukan kelangsungan hidup manusia. Sudah banyak kasus yang memperlihatkan bahwa keluarga dan orang terdekat dapat mengubah rupanya menjadi malaikat kematian dan iblis perusak bagi seorang anak.

Namun ada satu hal yang perlu kita garis bawahi, latar belakang kehidupan seseorang seperti orang tua, keluarga, dan masa kecil hanyalah satu dari sejumlah variabel yang berperan pada  signifikansi seseorang dalam sejarah dunia. Kerja keras, motivasi untuk terus mempelajari hal baru, kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, bersosialisasi, serta yang tak kalah pentingnya, keberuntungan, adalah beberapa faktor lain yang juga sangat berpengaruh mengarahkan jalan hidup seorang manusia di pusaran sejarah. Semua orang dapat bekerja keras namun untuk keberuntungan, tidak semua orang bisa menikmati kemewahannya. Alexander Fleming dan Louis Pasteur adalah beberapa manusia yang bisa merasakan betapa manisnya sebuah keberuntungan. Mereka sama-sama lupa membersihkan spesimen di laboratorium ketika hendak berlibur. Saat kembali dari liburan, mereka berdua mengutuk diri karena telah lalai, namun kutukan itu terhenti karena spesimen yang lupa dibersihkan Fleming justru menumbuhkan jamur Penicilline yang menjadi cikal bakal antibiotik yang kemudian berhasil menyelamatkan jutaan orang dari infeksi bakteri sedangkan spesimen yang lupa dibereskan Pasteur justru menjadi asal muasal vaksin kolera. Keduanya beruntung dan mampu memanfaatkan keberuntungan tersebut dengan baik. Serendipity.

III. Appendage: Le Musique
Some songs deeply affected my thought than others. Terutama lagu yang saya dengarkan di masa kecil dan remaja. Entah kenapa soundtrack anime Ruroni Kenshin seperti It's Gonna Rain (Bonnie Pink), Heart of Sword (T.M. Revolution), dan Sobakasu (Judy and Mary) yang saya dengarkan lebih dari satu dekade yang lalu masih terngiang di telingaku pada kesempatan-kesempatan tertentu saat sedang sendiri di kesunyian padahal sudah banyak lagu baru yang wara-wiri di media massa, membuat kebisingan di mana-mana. Rasanya sulit bagiku untuk lepas dari lagu-lagu lama karena sepertinya selera musikku tertinggal dan tersesat di masa lalu, dengan penuh kerelaan dan kesadaran tak ingin ditemukan lagi. Tapi itu bukan berarti saya menolak musik zaman sekarang. Cukup banyak penyanyi sekarang yang musikalitasnya patut diacungi jempol, seperti Clean Bandit dan Paramore.

Untungnya internet memberikanku kesempatan untuk bernostalgia lagi dengan lagu-lagu lama yang menjadi favoritku di masa lalu. Lagu yang mengisi playlist di ZenFone 2 milikku kebanyakan sudah berusia lebih dari 10 tahun. Saat mendengarkan mereka, fragmen-fragmen imaji masa lalu saat masih SMP hingga SMA langsung berseliweran di otakku. Jika menemukan lagu-lagu seperti ini dalam playlist seseorang:

1. Tentang Seseorang (Anda Bunga, 2002)
2. Cahaya Bulan (Okta feat. Eross, )
3. Sesuatu yang Tertunda (Padi feat. Iwan Fals, 2003)
4. Aku Milikmu (2002), Senandung Lirih (2003), Rinduku (2003), Ancur (2002), Ijinkan Aku Mencintaimu (2005), Aku Bukan Pilihan (2003), Kupu-kupu Hitam Putih (2002) (Iwan Fals)
5. Sedih Tak Berujung (Glen Fredly, 2004)
6. You're Beautiful (James Blunt, 2004)
7. You and I Both (Jason Mraz, 2005)
8. Writing To Reach You (Travis, 1999)
9. It's Gonna Rain (Bonnie Pink, 1999)
10. Heart of Sword (T.M. Revolution, 1996)
11. Sobakasu (Judy and Mary, 1998)
12. Chasing Pavement (2006), Make You Feel My Love (2006) (Adele).
13. Who The F*ck Arctic Monkeys (2006), No Buses (2006), Mardy Bum (2006) (Arctic Monkeys)

Maka kemungkinan besar masa remaja orang itu pernah terpapar dengan tayangan MTV yang masih merajalela tanpa sensor KPI, dia juga pernah menyaksikan hancurnya menara kembar WTC karena tubrukan pesawat lewat media massa yang kemudian diikuti oleh live report serangan AS ke Irak. Suatu masa yang penuh gonjang-ganjing. Tayangan ledakan dan darah warga Irak adalah tontonan yang lazim waktu itu. Televisi berlomba-lomba menayangkannya untuk mengejar rating.

Saat invasi tersebut terjadi, saya sempat berpikir jika Perang Dunia Ketiga hanya tinggal menunggu waktu karena peristiwa tersebut telah memicu kemarahan banyak negara. Aksi balas dendam dapat terjadi sewaktu-waktu, apalagi jika hal itu dikaitkan dengan isu tribalisme. Namun untungnya hingga satu dekade setelahnya, Perang Dunia Ketiga yang kutakutkan tak pernah terjadi. Malah kini hampir seluruh dunia telah mengabaikan invasi tersebut, seolah-olah telah terjadi amnesia global. Tentara Amerika masih banyak yang bermukim di Irak dan tidak banyak manusia di muka bumi ini yang peduli akan hal tersebut. Mungkin hanya segelintir orang yang masih peduli seperti warga Irak, tentara AS, sukarelawan, wartawan perang, dan Presiden AS karena mereka sudah terjebak dalam momen yang sulit untuk dihentikan secara mendadak, seperti sedang berkendara dalam kecepatan yang sangat tinggi di mana rem secara tiba-tiba dapat menjungkalkan kendaraan dan penumpangnya.

IV. Appendage: Ajin
Anime baru telah menarik perhatianku. Judulnya Ajin: Demi-human. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan anime ini, bagus.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...