Jumat, 15 April 2016

Eksperimen

Internet tidak lagi menjadi domain yang aman bagi penggunanya yang awam. Semenjak keuntungan menjadi dasar utama untuk bertahan hidup dalam industri dunia maya, Google dan para pemain besar seperti Amazon dan  Facebook mengembangkan suatu algoritma rahasia yang bertujuan untuk mengambil semua informasi mengenai kebiasaan para penggunanya selama berada di dunia maya. Informasi ini kemudian dijual pada para pengiklan yang kemudian memenuhi timeline pengguna dengan semua produk dan postingan yang mengganggu.

Karena itulah saya berhenti menggunakan Facebook, tidak pernah menggunakan Amazon, tapi masih tetap bergantung pada Google. Nasib jadi mahluk awam. Namun tidak banyak orang yang berpikiran seperti saya. Mayoritas manusia di abad ini sangat bergantung pada Facebook meskipun mereka dibombardir oleh puluhan iklan yang mengganggu di timeline. Dulu ada yang memprediksi bahwa setiap tahun jumlah pengguna Facebook semakin sedikit, namun semenjak perusahaan yang didirikan oleh Zuckerberg ini mengumumkan IPO, jumlah penggunanya justru semakin meningkat. Dari hasil survei Comscore, ditemukan fakta bahwa para pengguna internet yang berusia 18-34 tahun cenderung menghabiskan waktu lebih banyak dalam bermain Facebook, bahkan sekitar 2,5 kali lebih lama jika dibandingkan pesaing terdekatnya Snapchat dan Instagram (yang juga dimiliki oleh Facebook). Lalu di mana Twitter, Google, Tumblr, dan Pinterest? Mereka sangat jauh tertinggal di belakang sampai nyaris dianggap tak berarti. Dengan semakin banyaknya anak muda (18-34 tahun) yang bermain Facebook dalam waktu yang lama, itu berarti semakin banyak orang yang dapat dijadikan sasaran untuk dicuri informasinya lalu menjadi korban tayangan iklan. Berkat algoritmanya ini, Facebook dapat menjual banyak informasi ke pengiklan lalu meraup keuntungan hingga milyaran dolar tiap tahunnya. Bahkan tahun ini aset Facebook mencapai 325 milyar dollar. Angka yang sungguh fantastis. Dengan uang sebesar itu dan pengguna sebanyak 1,6 milyar, Facebook dapat mendirikan 4 negara sebesar Indonesia. Dan semua itu berkat penjualan informasi pada para pengiklan.

Setelah mengetahui fakta itu, saya pun berpindah ke Twitter dan Instagram. Sampai akhirnya, Instagram diakuisisi oleh Facebook lalu memasang iklan dan mulai menggunakan juga algoritma rahasia di timeline penggunanya, yang mana hal ini pun diikuti oleh Twitter. Padahal salah satu hal yang membuat saya suka pada Twitter dan Instagram adalah timeline-nya diisi oleh postingan yang diurut secara kronologis. Hal ini membuat semua postingan terkesan romantis dan nostalgik. Dengan algoritma, maka timeline kita hanya diisi oleh postingan dan iklan yang didasarkan pada semua hal yang pernah kita like atau komentari di masa lalu. Algoritma seperti ini dapat membatasi pengalaman penggunanya dalam berselancar di dunia maya. Pada akhirnya, semua postingan yang kita lihat adalah hasil pilihan algoritma sehingga dalam hal ini apa yang kita dapatkan lewat timeline telah dikendalikan oleh Facebook. Rasa-rasanya kita telah dijajah oleh Facebook. Tapi sekali lagi, tidak banyak yang peduli dengan hal ini. Satu koma enam milyar pengguna Facebook tidak terlalu memusingkan perkara tersebut. Mereka hanya ingin membunuh waktu dan berinteraksi dengan dengan manusia lain lewat paket data.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...