Selasa, 12 April 2016

Hedon

Sejak membaca berbagai jurnal penelitian mengenai Hedonic Treadmill, saya menyimpulkan tiga hal.

Pertama, manusia adalah mahluk yang sangat adaptif dalam berbagai kondisi, entah itu kehidupan yang penuh siksaan ataupun penuh kesenangan. Manusia akan selalu mampu membuat dirinya bersikap biasa saja untuk menghadapi semua kondisi ekstrim, entah itu dalam tahanan Nazi atau cengkraman pacar yang abusif atau malah dalam dekapan milyaran uang. Perbedaan hanya terlihat di awal peristiwa ketika seseorang tertangkap Nazi, dipukul pacar, atau menang milyaran uang lewat undian namun seiring berjalannya waktu, semua lonjakan kesedihan dan kebahagiaan itu menjadi hambar lalu menjadi hal yang biasa saja.

Kedua, Hedonic Treadmill terjadi karena faktor hormonal dan psikologis yang ada di dalam tubuh manusia. Ada endorphin, serotonin, dan sistim limbik di sana. Sehingga secara evolusional, dapat dikatakan bahwa manusia tidak diciptakan untuk terus-menerus merasakan kebahagiaan ataupun kesedihan permanen dalam jangka panjang, kecuali orang tersebut mengalami gangguan depresi berat atau gangguan mania berat.

Ketiga, seseorang yang dapat memanfaatkan Hedonic Treadmill dengan baik merupakan manipulator Machiavellian yang sempurna karena kita tak pernah bisa mengendalikan manusia lewat logikanya namun melalui emosinya. Dulu saya sempat bertanya mengapa Hitler dan Mussolini dapat menjadi fasis yang sukses sebelum akhirnya tentara sekutu menghancurkan mereka atau mengapa banyak orang yang sulit melepas pacar atau kekasih yang abusif? Dan semua jawabannya itu ada di Hedonic Treadmill.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...