Minggu, 03 April 2016

How to live without certainty and yet without paralysed by hesitation?

Saya merasa pandanganku terhadap kehidupan menjadi semakin pesimistik dibanding sebelumnya. Hal ini terkait erat dengan pudarnya keyakinanku pada berbagai nilai internal yang dulunya ku pegang teguh sepenuh hati. Semua nilai itu terlihat kabur dan nyaris tak lagi bermakna di nalarku. Saya tak ingin menjelaskan secara terperinci mengenai nilai-nilai tersebut karena itu tak lagi menjadi bagian dari hidupku.

Sekarang saya menatap hidup ini dengan sebuah paradigma baru. Ini bukanlah sebuah paradigma yang positif dan jauh dari optimistik. Semuanya diawali oleh adagium bahwa hidup ini tak memiliki makna apapun. Sebenarnya saya tak ingin mempercayai hal tersebut karena selama ini saya diajarkan bahwa selalu ada makna di balik setiap peristiwa dan kehadiranku di muka bumi ini memiliki maksud dan tujuan. Namun setelah bertahun-tahun menjalani hidup, pengalaman justru mengajarkanku bahwa tak perlu mencari makna apapun di kehidupan karena makna itu tak pernah ada. Itu hanyalah ilusi untuk menguatkan psikologi manusia yang mempercayainya.

Ketika saya melihat penderitaan dan merasakannya sendiri, saya semakin yakin bahwa makna itu tak pernah ada. Saya sungguh tak dapat memikirkan makna positif dibalik setiap darah dan air mata yang tertumpah di peperangan Irak, Suriah, Palestina, dan Afganistan. Apa yang saya lihat hanyalah kekejaman mahluk yang bernama manusia. Di satu sisi, mereka adalah pencipta teknologi yang dapat mengkloning dan mengembangbiakkan mahluk hidup lain sesuka hatinya namun di sisi lain mereka juga adalah penghancur yang telah merenggut jutaan jiwa sesamanya. Dari sifat dasarnya saja, manusia sudah tidak memiliki karakteristik yang jelas. Apakah dia penghancur ataukah pelindung?

Jika dipikir sekilas, rasanya menakutkan jika harus hidup dengan mengetahui fakta bahwa kita hidup sendiri di alam semesta ini, bahwa hidup kita terjadi tanpa alasan, dan suatu hari nanti akan berakhir begitu saja. Pikiran-pikiran seperti itu menimbulkan tanya, jika memang seperti itu kehidupan, mengapa saya harus terus menjalani hidup? Mengapa saya harus bangun di pagi hari, mencari makan, dan mencari kesenangan jika pada ujungnya semua akan berakhir dan lenyap tanpa sisa?
Kesendirian manusia sering saya saksikan pada para pasien yang saya tangani. Saat kesakitan, yang merasakan sakit itu hanya para pasien itu sendiri. Keluarga, teman, perawat, dan dokter tak bisa merasakannya. Mereka mungkin bisa berempati atau bersimpati, tapi rasa sakit itu tak dapat dibagi. Ada saatnya bagi keluarga, teman, dokter, dan perawat untuk merasakan sakit mereka sendiri. Dan pada saat sehat, manusia seringkali sulit untuk mengingat kembali betapa beratnya sebuah rasa sakit.
Selain menimbulkan tanya, pikiran-pikiran tentang kesia-siaan hidup juga cenderung melumpuhkan dan bahkan mematikan.
Kadang saya berpikir, jika mukjizat di masa lalu itu benar adanya, mengapa tidak terjadi lagi di masa kini? Apa bedanya masa lalu dan masa kini? Matahari yang ada di masa kini masih sama dengan yang di masa lalu. Begitu juga dengan bumi, gravitasi, dan udaranya.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...