Kamis, 07 April 2016

Kamis, 7 April 2016: Mining

Kemarin saya sempat melihat publikasi di akun Twitter Kementrian Kesehatan mengenai Nusantara Sehat. Di cuitannya, Kemenkes sepertinya sedang menggelar lomba atau event atau apapun itu, yang intinya adalah kita harus membuat tulisan mengenai "Apa yang Akan Aku Lakukan Jika Menjadi Tim Nusantara Sehat?"
Saat melihat cuitan ini, saya sempat tertegun lalu bertanya pada diri sendiri, memangnya apa ya, yang sudah saya lakukan sebagai anggota Tim Nusantara Sehat?
Untuk menjawab pertanyaan itu, saya perlu melakukan retrospeksi ke setahun yang silam ketika saya mengikuti proses rekrutmen Tim Nusantara Sehat. Waktu itu belum banyak yang tahu tentang Nusantara Sehat, bahkan sekarang pun, masih banyak yang belum tahu mahluk apa itu Nusantara Sehat, apakah dia hidup di darat atau di laut. Saya sendiri tahu info ini dari seorang kawan kuliah yang dulunya bekerja sebagai dokter tambang di Sulawesi Tengah. Sebagai sesama dokter di perusahaan tambang, kami sama-sama mengalami kejenuhan dan merasa agak ngeri membayangkan bahwa kami berdua sudah bekerja dan masuk dalam suatu lingkungan kerja yang keuntungannya diperoleh dari pengrusakan alam. Memang sebagai dokter kami tak terlibat dalam urusan membabat hutan ataupun menggali kerak bumi namun setidaknya kami turut membantu agar para pekerja tetap sehat sehingga mereka tidak berhenti untuk terus-menerus mengguncang isi bumi. Beberapa perusahaan tambang yang memiliki sistem K3LH (kesehatan, keselamatan kerja dan lingkungan hidup) yang baik biasanya melakukan upaya reforestasi pada hutan dan tanah yang sudah dikeruknya, namun hutan yang baru ditanam oleh manusia takkan sama biodiversitasnya dengan hutan yang baru ditanam oleh alam selama ribuan tahun. Belum lagi jika kita bicara mengenai polutan dari proses penambangan yang terlepas ke udara, tanah, air, dan tubuh manusia.
Namun kebanyakan orang tidak terlalu peduli dengan semua kerusakan alam yang terjadi akibat penambangan, entah itu legal maupun ilegal karena pada akhirnya, yang ada di benak mayoritas orang adalah bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Pemerintah akan terus mengeluarkan izin tambang karena ini adalah jenis industri yang menghasilkan banyak devisa dan menyerap banyak tenaga kerja. Bahkan kalaupun tak ada izin dari pemerintah, para penambang liar tak akan diam melihat kekayaan alam dibiarkan begitu saja tanpa diraup. Dan biasanya para penambang liar tidak terlalu peduli dengan kesehatan, keselamatan kerja ataupun lingkungan hidup. Jadi jika mereka sudah turun tangan, lupakan saja soal reforestasi ataupun penutupan lubang-lubang bekas galian tambang. Mereka tidak bakal melakukan hal-hal yang tidak menguntungkan seperti itu.

Efek dari pengrusakan lingkungan hidup ada yang bersifat immediate atau segera, ada pula yang bersifat delayed atau tertunda. Untuk efek yang sifatnya immediate, hampir semua industri pertambangan sudah bisa mengantisipasinya dengan engineering manipulation. Namun untuk efek delayed, kebanyakan dari kita tak pernah bisa meramalkannya secara tepat. Saat efek delayed itu timbul, mungkin para penambang yang dulu mengeruk isi bumi sudah mati semua di makan umur sehingga yang merasakannya hanyalah anak cucu mereka dan masyarakat yang tinggal di sekitar tambang.

Mungkin rasanya tidak etis jika membicarakan hal-hal buruk tentang industri yang pernah menjadi sumber penghidupan kita. Tapi bayangkan tentang sebuah kisah mengenai seorang pembunuh bayaran yang telah mendapatkan banyak uang dari merenggut nyawa puluhan orang lalu tiba-tiba dia berhenti melakukannya dan mulai menulis buku tentang betapa kejamnya pekerjaan pembunuh bayaran. Nah, seperti itulah kira-kira analoginya meskipun terkesan dipaksakan.

Lalu bagaimana dengan kisah Nusantara Sehat? Nanti saja dibahas.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...