Kamis, 21 April 2016

Manpower 2

Beberapa hari lalu saya sempat menerbitkan tulisan tentang rencana kunjungan kerja Menkes ke NTT yang dijadwalkan berlangsung di minggu ini. Seharusnya postingan itu bisa lebih cepat terbit, namun pengelola blog Skydrugz cabang Makassar sedang sibuk dengan skripsinya sehingga dia terlambat memposting tulisan Manpower. Jadi rencana kunjungan kerja Menkes tersebut mengalami banyak perubahan. Pihak Dinkes Kabupaten memberitahukan perubahan tersebut secara mendadak, 2 hari sebelum hari H. Dari yang awalnya undangan untuk semua Tim NS NTT, tiba-tiba saja berubah hanya menjadi 5 Tim NS saja yang berasal dari Pulau Timor. Pemilihan 5 Tim NS dari satu pulau di NTT saja sebenarnya sudah mencederai prinsip representasional karena idealnya, perwakilan semestinya berasal juga dari pulau-pulau lain di luar Pulau Timor. Jika agenda Menkes adalah untuk mendengarkan aspirasi Tim NS di NTT, maka agenda ini sudah pasti sulit tercapai karena sejak awal prinsip representatif sudah tidak terpenuhi. Masalah yang dihadapi oleh Tim NS di Pulau Timor pasti tak sama dengan yang dihadapi oleh Tim NS yang berada di Pulau Sabu, Pulau Alor, ataupun Pulau Rote.

Tapi saya bisa mengerti mengapa perubahan mendadak seperti ini bisa terjadi, prinsip efisiensi dana adalah alasan utamanya. Untuk mengakomodir semua Tim NS di NTT selama pertemuan dengan Menkes, pasti membutuhkan banyak dana, entah itu untuk transportasi, makan-minum, dan penginapan. Untuk bisa menyiasati itu, maka pihak Kemenkes mengambil keputusan penghematan dengan mengorbankan prinsip representasi.

Menurut pandangan pribadiku, itu adalah pilihan yang logis dan praktis. Dan saya sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Saya justru merasa bersyukur dengan adanya keputusan itu karena saya tidak perlu lagi terjebak dalam dilema antara meninggalkan pulau ini atau menemui menkes. Lagipula saya merasa belum ada indikasi mendesak dalam penugasan yang mengharuskanku untuk bertemu dengan Menkes saat ini. Walaupun obat-obatan kadang sering habis dan gedung Puskesmas di pulau ini jauh dari kata layak, toh saya rasa curhat pada Menkes mengenai hal tersebut tidak serta merta akan mengatasi masalah karena persoalan kehabisan obat adalah kondisi kronik yang telah terjadi di semua Puskesmas Kabupaten Rote sejak adanya sistem tender obat lewat e-catalogue, makanya saya tidak kaget waktu Dinkes mengatakan bahwa Tablet Sulfas Ferosus atau Tablet tambah darah yang semestinya wajib diberikan pada semua ibu hamil muda selama 90 hari habis stoknya di gudang obat kabupaten. Kalau dulu waktu pertama kali datang, mungkin saya akan kaget mendengarnya lalu berkomentar, "kok bisa, ya?", tapi setelah hampir setahun di sini, saya lelah untuk kaget dan mulai menganggapnya hal yang biasa. Paling banter kalau memang para bumil bersedia, saya suruh saja para bumil itu untuk beli tablet tambah darah di mana pun mereka bisa mendapatkannya, apapun mereknya, yang penting ada zat besi di dalamnya. Kalaupun tak mau beli, saya tak mau memaksa. 

Sedangkan masalah gedung Puskesmas yang tidak layak sepertinya terlalu ribet untuk diselesaikan secara instan karena ada banyak proses birokrasi yang harus dilewati. Apalagi beberapa tahun yang lalu sempat ada kasus korupsi yang menjerat banyak orang ketika proses renovasi Puskesmas di pulau ini berlangsung. Sepertinya Dinkes Kabupaten agak ragu untuk membahas pembangunan gedung Puskesmas baru. Intinya adalah bertemu Menkes bukanlah prioritas utama. Yang menjadi prioritas menurutku adalah tetap berada di Pulau terpencil di Samudera Hindia ini untuk memberikan pelayanan pada masyarakat secara optimal sesuai dengan kemampuan.

Tapi teman-teman sekelompokku berpikiran lain. Mereka ngotot sekali mau ketemu Menkes. Biarpun tidak diberi akomodasi dan transportasi, mereka tetap mau bertemu Menkes. Saya bisa mengerti keinginan mereka. Bagi mereka, Menkes itu ibarat Justin Bieber bagi para Beliebers. Sehingga kemanapun Menkes pergi, mereka harus ada di situ. Jadi saya tak ingin memaksakan perspektifku pada mereka. Mau ketemu Menkes silahkan pergi, mau tinggal di Puskesmas juga silahkan. Ini negara demokrasi. Tadi pagi mereka semua sudah berangkat dan saya sendiri di Puskesmas bersama tiga staf Puskesmas. Untungnya pasien yang bulan lalu sakitnya berjamaah hingga 80 orang per hari telah sembuh semua hingga kunjungan hari ini dapat berkurang drastis.

Sayangnya hari ini saya harus menyaksikan lagi kematian. Tadi pagi ada keluarga pasien datang menemuiku saat saya hendak berenang di laut. Kata keluarganya, pasien mengeluh sesak di rumahnya. Setelah singgah sebentar di Puskesmas untuk mengambil tensimeter dan obat-obatan, saya dan keluarga Si Pasien langsung menuju rumah pasien. Namun saat sampai di sana, saya melihat pasien sudah tidak sadarkan diri. Setelah mengecek nadi, pernapasan, dan refleks, saya tak lagi menemukan tanda-tanda kehidupan. Sepertinya semua sudah terlambat. Pasien yang meninggal ini hidup bersama keponakannya. Anak ada tiga namun tak ada yang berada di kampung halaman di saat-saat terakhirnya. Selama beberapa bulan terakhir, Si Pasien ini sudah sering meminta agar anak-anaknya mau mengunjunginya di pulau terpencil ini. Namun anak-anaknya mungkin punya kesibukan hingga tak pernah bisa datang berkunjung. Mungkin kali ini mereka sudah punya kesempatan untuk berkunjung.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...