Rabu, 20 April 2016

Manpower

Hari minggu yang lalu saya mendapat info dari Kepala Dinas Kesehatan bahwa Menteri Kesehatan akan berkunjung ke Kupang pada minggu ini dan semua Tim Nusantara Sehat diminta untuk hadir ke Kupang. Surat tugas diambil di Kabupaten pada tanggal 20. Semua anggota Tim NS penempatan Nusa Tenggara Timur sangat antusias dengan kabar ini, kecuali saya. Entah kenapa saya tidak berminat untuk ke Kupang dan menemui Menkes di sana. Menurut prediksiku, acara tersebut mungkin hanya bersifat protokoler dan seremonial sedangkan Tim NS hanya akan menjadi bagian dekoratif untuk memeriahkan acara saja.

Lagipula saya merasa berat untuk meninggalkan tempat tugasku saat ini berhubung petugas yang ada di Puskesmas sangat terbatas. Enam pegawai kontrak sedang ada di Kabupaten untuk memperbarui kontrak entah kapan datangnya, lalu tiga PNS sedang menjalani prajabatan di Kupang, bendahara JKN dan bendahara BOK juga sedang mengurus dana di Kabupaten entah sampai kapan, sehingga praktis yang tersisa di Puskesmas saat ini hanyalah Kepala Puskesmas, Tim NS yang berjumlah 8 orang, seorang bidan senior, dan satu staf administrasi. Jika semua Tim NS berangkat, maka sisa 3 orang saja yang menghuni Puskesmas untuk melayani pasien.

Jika mau tak peduli, saya bisa saja langsung berangkat dengan alasan, "ada tugas luar dari Dinkes untuk bertemu Menkes" tapi terus terang, saya merasa tidak tega jika harus meninggalkan Puskesmas dalam kondisi kekurangan sumbet daya manusia. Saya teringat dengan keadaan Puskesmas bulan lalu saat liburan Paskah, saya dan seorang perawat harus menghadapi serangan pasien yang berjumlah 20 hingga 80 orang tiap hari dengan jam kedatangan yang tak mengenal kata siang dan malam, mereka mengalir seperti air bah di musim hujan. Saya tak mungkin menolak atau mengusir pasien-pasien itu berhubung saya berada di pulau kecil ini, di tengah-tengah Samudera Hindia, karena negara, lewat Menkes, telah memandatkan kepada saya tugas memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat di daerah perbatasan. Sehingga dalam kondisi kekurangan tenaga di Puskesmas seperti ini, jika harus memilih antara menemui Menkes, yang telah menandatangi surat penempatanku di sini, atau tetap di tempat tugas untuk melayani pasien di sini, saya lebih memilih untuk tetap di tempat tugas. Saya mungkin bisa berubah pikiran jika petugas Puskesmas yang lain sudah datang untuk menjadi back up selama Tim NS tidak ada berada di tempat tugas.

Inilah kendala sulitnya Puskesmas ini untuk maju. Sumber daya manusia dan fasilitasnya sangat terbatas. Meskipun nantinya ada fasilitas yang lengkap di Puskesmas tapi jika tak ada manusia yang mengoperasikannya, itu sama saja dengan bohong. Tanpa tim NS, Puskesmas ini lumpuh. Entah apa jadinya Puskesmas ini jika nanti Tim NS sudah ditarik. Masalah utamanya, tidak banyak putra dan putri daerah yang mau bertugas di pulau kecil ini. Sudah ada banyak orang daerah yang mencoba bertugas dan hidup di pulai ini, tapi kebanyakan tidak betah dan langsung kabur. Malah yang betah justru orang luar, seperti Kepala Puskesmas yang berasal dari Manggarai, bidan senior yang berasal dari Timor, dan seorang staf administrasi yang berasal dari Lembata. Putra dan putri daerah mungkin menganggap tak ada yang menarik dari pulau ini. Padahal pulau ini sangat tenang, pasir pantainya indah, dan lautnya sejuk untuk berenang. Sayangnya, putra dan putri daerah tidak tertarik dengan hal tersebut. Mereka lebih suka mencari tantangan di kota besar.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...