Jumat, 22 April 2016

Open Water

Sekitar 8 bulan yang lalu, seorang ekspatriat asal Selandia Baru berkunjung ke pulau ini. Dia hanya membawa sebuah tas dan sepeda. Usianya sekitar 50-an tahun, berperawakan tinggi, dan sangat energetik untuk orang seusianya. Saya bertemu dengannya di ruang tunggu pantai ketika dia sedang beristirahat sedangkan saya sedang mencari sinyal. Saya tidak ingat persis apa yang terjadi saat itu, tapi tiba-tiba saja kami terlibat dalam sebuah percakapan yang menggunakan bahasa Inggris terpatah-patah dariku dan bahasa Indonesia yang aneh darinya. Dari percakapan itu saya tahu jika dia adalah seorang pengacara yang berencana untuk pensiun dan menghabiskan masa tuanya dengan membuka usaha di Dela, sebuah tempat wisata yang ramai dikunjungi wisatawan asing untuk berselancar. Saat saya menggunakan bahasa Inggris, dia menjawabnya dengan bahasa Indonesia. Menurut pengakuannya, dia sengaja melakukannya agar bisa lebih lancar berbicara dengan bahasa pribumi. Soalnya dia mau menetap lama di Indonesia, jadi menguasai bahasa negara yang berpenduduk 200 juta jiwa adalah hal yang wajib.

Setelah berbincang lama, dia menanyakan alamat rumah seorang penduduk yang katanya sudah dia berikan uang untuk memberikannya jamuan makan siang. Kebetulan saya tahu rumah orang itu, maka saya pun mengantarnya. Di tengah jalan, dia tiba-tiba saja mau memberikan uang untuk saya karena telah bersedia membantunya. Saya langsung menolaknya, tapi mungkin itu keputusan yang salah ya? 😁😁😁

Singkat cerita, keesokan harinya saya bertemu lagi dengannya di pantai saat dia berencana kembali ke Dela. Kami pun berbincang kembali. Kali ini dia menggunakan bahasa Inggris secara penuh. Mungkin dia sudah lelah menggunakan bahasa Indonesia. Dari percakapan ini saya tahu kalau namanya adalah Mr. John dan dia iri dengan kehidupan orang di pulau ini. Menurutnya, orang di Ndao meskipun penghasilannya jauh dari cukup, mereka masih punya banyak waktu luang dan bersantai di pantai. Di Selandia Baru, sulit untuk menemukan kehidupan yang santai dan tenang seperti di Ndao. Di sana dia harus sudah ke tempat kerja di pagi hari lalu pulang menjelang malam hari, belum lagi dengan banyaknya tekanan di tempat kerja. Meskipun memiliki lebih banyak uang jika dibandingkan dengan saya, dia tak pernah punya waktu luang untuk menikmatinya. Makanya saat cuti ke Indonesia, dia selalu merasakan kedamaian karena bisa terbebas dari rutinitas yang mengekangnya jauh dari waktu luang. 

Sebelum berpisah, dia sempat berkata bahwa jika punya kesempatan hidup lebih lama di pulau ini, dia ingin menikmati hari-harinya dengan bersepeda keliling pulau lalu berenang dari pantai Barat ke pantai Timur pulau ini.

Setelah saya pikir-pikir, ide Mr. John untuk berenang dari pantai Barat ke pantai Timur Ndao ternyata lumayan menantang. Dan saya memutuskan untuk mencobanya. Tapi sebelumnya saya harus belajar berenang dulu.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...