Selasa, 05 April 2016

Selasa, 5 April 2016: Chatting Lagi

Sejak berada di pulau terpencil Samudera Hindia, saya menjadi orang yang udik pengetahuan dan teknologi. Pengetahuanku tentang kedokteran terhenti di ilmu tahun 2013 ke bawah. Bahkan kebanyakan ilmu tersebut sudah mulai terhapus karena jarang digunakan dan diperbarui. Ibarat buku, otakku adalah sebuah buku tua yang sudah sobek lembarannya di sana-sini. Buku seperti itu baiknya dimuseumkan atau dibakar saja agar tak menyesatkan. Tapi kalau itu dilakukan pada otakku, berarti saat ini saya sudah mati dan tak bisa lagi mengetik kalimat di blog ini.

Saya menjalani kehidupan profesionalku di sini dengan fragmen ingatan dan pengetahuan yang terpecah-pecah. Di awal-awal penempatan, tiap hari saya senantiasa mempertanyakan apakah tindakan dan penangananku sudah lege artis. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pertanyaan seperti itu tidak lagi sering frekuensinya karena pada akhirnya semua pengetahuan itu tidak terlalu berguna jika fasilitas di layanan primer tidak memadai. Setiap profesi memiliki batasan dan seringkali batasan tersebut terkait erat dengan teknologi atau engineering. Misalnya saja untuk bidang kriminal, sebelum tahun 1920-an para polisi dan detektif seringkali kesulitan untuk mengungkap pelaku kejahatan meskipun pelakunya meninggalkan alat kejahatan di lokasi kejadian. Namun batasan itu berhasil diterobos dengan adanya teknologi deteksi sidik jari dan DNA.

Ilmu pengetahuan alam pun memiliki batasan serupa. Sebelum era Galileo, para ilmuwan membuat banyak hipotesis mengenai hukum alam hanya berdasarkan nalar tanpa ada pembuktian. Mereka hanya mengira-ngira tentang planet dan bintang di langit lalu beranggapan bahwa bumi adalah pusat semesta. Namun Galileo mengubah tradisi tersebut dengan memperkenalkan metode eksperimen dan teleskop. Kini mayoritas ilmuwan percaya bahwa bumi hanyalah secuil debu jika dibandingkan dengan alam semesta yang luasnya sulit terbayangkan. Kepercayaan seperti ini sulit diterima saat Galileo masih hidup.

Nah, begitu juga halnya dengan profesi kedokteran. Batasan profesi ini adalah instrumentasi dan modalitas diagnostik. Meskipun saat pendidikan para pengajar senantiasa menekankan pada kami untuk memperkuat anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien dalam penegakkan diagnosis, pada akhirnya itu hanya bisa memprediksi tanpa bisa memastikan secara langsung apa yang ada di dalam tubuh pasien. Minimal kita perlu X-ray untuk mengetahui kondisi paru-paru dan pertulangan pasien atau pemeriksaan kimia darah untuk memastikan kadar gula dan kolesterol pasien. Oleh karena itu, dalam kedokteran ada namanya diagnosis sementara atau kadang juga disebut sebagai diagnosis kerja dan diagnosis definitif atau diagnosis pasti. Diagnosis kerja dibuat berdasarkan hasil anamnesis (tanya jawab dengan pasien) dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang terbatas yang dikombinasikan dengan dasar keilmuan dan pengalaman dokter. Diagnosis kerja masih dapat berubah tergantung hasil pemeriksaan lanjutan. Sedangkan diagnosis definitif biasanya ditegakkan dari diagnosis kerja plus pemeriksaan penunjang mutakhir seperti endoskopi, biopsi, PCR, atau kultur. Namun ada juga beberapa diagnosis kerja yang dapat menjadi diagnosis definitif karena adanya patognomonik klinis pada suatu penyakit. Misalnya saja pada penyakit katarak atau vulnus laceratum yang sudah dapat terdiagnosis hanya dengan melihatnya. Sedangkan untuk penyakit seperti lupus, ALS, atau HIV, kita tidak dapat memastikannya tanpa pemeriksaan laboratorium ataupun pencitraan. Oleh karena itu pendidikan kedokteran selalu mengajarkan untuk mencari bukti sebanyak-banyaknya melalui berbagai modalitas pemeriksaan untuk mendukung suatu diagnosis penyakit sekaligus untuk dapat memastikan tingkat keparahan penyakit tersebut sehingga mengandalkan saja panca indera saja tidak cukup.

Namun bagaimana dengan wilayah yang terpencil dan tanpa fasilitas seperti pulau yang kutempati saat ini? Panca indera justru satu-satunya alat diagnostik. Diagnosis penyakit murni berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Terapi diberikan berdasarkan hasil interpretasi riwayat penyakit, tanda-tanda fisik, dan pengalaman. Misalnya saja untuk pasien yang datang dengan demam dan batuk berdahak, pada kasus seperti ini seorang dokter harus menentukan apakah pasien tersebut cukup diberikan obat simptomatis atau harus diberi antibiotik. Di fasilitas kesehatan yang lengkap, kita dapat memastikannya dengan melakukan pemeriksaan leukosit, antibodi, atau bahkan kultur darah. Namun bagaimana jika semua fasilitas itu tidak ada? Maka itu kembali lagi ke pernyataan yang saya sebutkan sebelumnya yakni hasil interpretasi riwayat penyakit, tanda-tanda fisik, dan pengalaman. Oleh karena itu pada banyak literatur, kedokteran disebut sebagai ilmu pengetahuan dan seni. Di satu sisi, para dokter dituntut untuk senantiasa mengikuti guideline atau panduan terapi namun di lapangan, guideline seringkali tidak bisa diandalkan karena keterbatasan instrumentasi dan modalitas. Pada kondisi seperti ini, seni yang mengandalkan prinsip primum non nocere atau do not further harm, beneficent, dan autonomy harus diterapkan yang mana hal itu akan kembali lagi ke pengetahuan dan pengalaman dokter. Bahkan seorang dokter dapat memberikan racun pada seorang pasien selama ada indikasi dan persetujuan pasien, seperti pada kasus injeksi botox atau botulinum toxin, racun yang jika masuk aliran darah meskipun hanya 0,000001 gram maka itu dapat melumpuhkan seluruh otot rangka dan pernapasan yang berujung pada kematian. Seorang dokter dapat melakukan injeksi botulinum pada pasien atas dasar pertimbangan risiko dan keuntungan untuk pasien sekaligus dengan adanya persetujuan dari pasien. Karena pada akhirnya yang memiliki tubuh untuk diobati adalah pasien.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...