Selasa, 05 April 2016

Senin, 4 April 2016: Chatting

Para mantan mahasiswa yang hidup di era digital, seperti diriku, pada umumnya memiliki grup angkatan atau alumni di media chatting, entah itu Line, Kakao Talk, WeChat, ataupun Facebook. Angkatanku waktu kuliah dulu juga sudah membentuk grup chatting di beberapa media namun yang nampaknya paling aktif adalah Line. Entah siapa yang pertama membuatnya, tapi orang itu telah memilih nama "Epigl07tica" sebagai nama grupnya. Padahal dia bisa saja menggunakan nama "07 Sweet" atau "Angkatan 07 Cakep dan Caem" atau nama lain yang lebih kekinian. Mungkin dia sengaja melakukannya untuk mempertebal nilai identitas angkatan kami. Kebetulan nama angkatan kami adalah Epigl07tica. Mengapa namanya bisa begitu? Panjang ceritanya. Hanya untuk menentukan nama angkatan, ada banyak perdebatan dan argumentasi yang dilibatkan saat itu. Pada akhirnya yang memenangkan pertarungan adalah kubu mahasiswa yang kemampuan bahasa Inggrisnya lebih mumpuni karena nama Epigl07tica usulan mereka itu merupakan sebuah singkatan kalimat dalam bahasa Inggris yang bunyinya adalah Empowering People...bla...bla...bla.... Saya sudah lupa karena saya tidak pernah mendukung penggunaan nama itu. Saya sendiri sebenarnya mengusulkan sebuah nama yang lebih sederhana tapi akurat, yakni "2007". Sayangnya tak ada yang mendukung usulan itu terkecuali saya sendiri. Karena kita hidup di alam demokrasi yang memukul rata para minoritas. Maka saya pun tunduk pada konvensi. Tapi saya tak berkecil hati dengan keputusan tersebut karena setidaknya ada aksara 07 di nama Epil07tica, yang berasal dari usulan 2007-ku.
*Kisah ini fiktif belaka, tak ada hubungannya dengan tokoh dan kejadian di alam nyata. Jika ada kesamaan nama dan tempat, itu hanya kebetulan belaka.*

Sejak bergabung dengan grup chatting Line angkatan di tahun 2013, saya menyaksikan beberapa kali evolusi percakapan.
Di tahun 2013-2014, topik yang selalu dibahas adalah referat dan penguji koas. Tiap minggu, selalu saja ada teman yang minta contoh referat dan tips agar dapat lolos dari penguji killer. Hal ini wajar saja karena pada saat itu banyak kawan angkatan yang masih menjalani masa koas. Tidak ada satupun koas yang ingin gagal dalam pembacaan laporan dan ujian di suatu departemen karena risikonya adalah harus mengulang beberapa minggu lagi di departemen tersebut. Mengulang artinya harus menjadi koas lebih lama lagi yang dengan kata lain semakin lama harus menjalani penderitaan. Pada periode ini, saya cukup aktif terlibat dalam percakapan.

Nah, memasuki 2014-2015 topik pembicaraan di grup berubah lagi. Tak ada lagi pembahasan mengenai referat dan ujian karena mayoritas anggota angkatan telah lulus kuliah. Sudah banyak yang menjadi dokter meski belum sepenuhnya karena masih harus melewati tahapan internship. Di era ini, topik yang dibahas adalah masalah-masalah yang dihadapi saat internship, dan penyakit aneh yang ditemui saat bertugas. Ada yang memberikan solusi yang positif tapi lebih banyak yang bercanda. Di periode ini, saya mulai menjadi silent reader.

Lalu sejak berakhirnya 2015 hingga tahun-tahun setelahnya, topik pembicaraan mulai horor. Pernikahan, prospek kerja, pendidikan spesialis, dan semua hal yang berkaitan dengan masalah orang dewasa. Di titik ini, saya sepertinya tidak lagi ingin membaca chatting di grup angkatan. Rasanya sulit bagiku untuk menerima fakta bahwa saya tak lagi muda. Usia 17 tahunku saat pertama kali masuk kuliah telah lama berlalu dan kini saya harus bergelut dengan dunia nyata yang sebetulnya masih berada di bumi yang sama dengan beberapa tahun sebelumnya namun terasa sangat jauh berbeda saat di jalani karena tak ada lagi rekan sekomunitas yang menyertai. Kawan-kawan seangkatanku yang dulunya culun saat masih jadi mahasiswa baru kini telah bertransformasi menjadi orang-orang hebat. Ada yang sudah kuliah di luar negeri, ada yang melanjutkan pendidikan spesialis, ada yang sudah menjadi pengusaha, dan lain-lain. Sedangkan saya justru terdampar di pulau terpencil di Samudera Hindia, melayani pasien hanya menggunakan kaos oblong, celana training, dan sendal karet serta dengan alat kesehatan dan obat yang terbatas. Seringkali saya merasa heran, mengapa pasien-pasien di sini bisa sembuh hanya dengan obat-obatan seadanya yang ada di sini. Yah, meskipun ada juga sih beberapa yang mati karena memang tidak ada fasilitas pendukung, seperti beberapa pasien yang mengalami stroke, gagal ginjal, dan serangan jantung. Pada umumnya pasien-pasien tersebut tak jadi dirujuk entah atas kemauan sendiri ataupun hasil rembuk keluarga.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...