Jumat, 19 Agustus 2016

Death's

Dua bulan terakhir di tahun ini merupakan periode yang saya anggap paling intens dalam kehidupanku selama dua dasawarsa terakhir. Kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti mengisi relung jiwaku dalam interval yang sangat singkat. Jika saya menuruti apa yang perasaanku inginkan, mengikuti semua fluktuasi mood dengan segenap jiwa dan raga, dapat dipastikan hingga saat ini saya sedang lumpuh, tenggelam dalam gelombang histeria yang mematikan. Sempat selama beberapa hari saya memang kelimpungan, disibukkan dengan pertanyaan, "mengapa harus saya, mengapa harus sekarang?" Sampai akhirnya saya lelah bertanya tanpa menemukan jawaban. Dan di momen itu saya memutuskan untuk mematikan saklar perasaan lalu berjalan sepenuhnya dengan hanya mengandalkan logika. Saat itu terjadi, saya memang berhasil mengusir kesedihan dan melanjutkan lagi hidupku seolah-olah tak ada apa-apa namun sebagai gantinya, saya menjadi manusia yang tanpa sejarah dan memori emosional. Tapi saya tidak peduli lagi. Siapa yang butuh memori jika itu hanya melahirkan kesedihan.

Entah mengapa manusia harus hidup dengan bergelimpangan kesedihan dan kematian, sejak dalam kandungan hingga berusia lanjut. Napas yang dihirup maupun makanan yang ditelan, semuanya itu dilakukan hanya untuk membuat manusia merasakan kesedihan yang lebih lama di dunia. Meskipun kelahiran dan kematian datang secara bergantian dalam kehidupan ini, mengapa saya selalu merasa jika pada akhirnya kematian lah yang akan menang?

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...