Selasa, 04 Oktober 2016

Sheading

Dulu saya selalu berpikir bahwa kematian seseorang tidak akan terlalu berpengaruh pada kehidupan orang-orang yang masih menghirup oksigen di muka bumi karena pada akhirnya mereka yang hidup akan tetap menjalani hari-harinya seperti biasa, makan nasi, beli pulsa, internetan, dan hal trivial lainnya tanpa ada konsekuensi psikologis dan sosiologis yang menyertainya. Mungkin kesedihan ataupun kedukaan akan sempat bergelayut di sanubari orang-orang yang hidup namun itu semua akan berlalu seperti pusaran debu yang tersapu oleh hujan di bulan Desember begitu kebahagiaan-kebahagiaan baru satu persatu datang memasuki ruang emosi. Saya sempat menganggap jika kebahagiaan dan kesedihan menyerupai formula penjumlahan dan pengurangan. Jika dua jenis kebahagiaan dan satu jenis kesedihan datang menyapamu dalam sehari, itu artinya hari itu kamu sedang berbahagia. Begitu pula sebaliknya, jika dua kesedihan datang lalu diikuti oleh satu kebahagiaan, efek bersihnya adalah hari itu kamu akan merasakan kesedihan.

Tapi ternyata, emosi manusia tak sesederhana itu. Saya selalu berharap agar emosi dapat sederhana seperti sebuah persamanaan matematika namun nampaknya itu hanyalah sebuah harapan kosong. Kesedihan yang diakibatkan oleh kehilangan seseorang yang sangat dekat secara emosional dan personal sangatlah sulit untuk terhapuskan oleh luapan kebahagiaan, sebagaimanapun banyaknya banjir tawa yang menyertainya. Beberapa saat mungkin kesedihan itu dapat terlupakan tapi itu hanya sejenak. Seringkali kesedihan tiba-tiba saja menyeruak ketika momen kebersamaan di masa lalu telintas entah itu saat makan, berbaring, duduk di kendaraan, bahkan saat tidur pun, kesedihan kadang datang dalam bentuk mimpi. Mungkin secara evolusi, manusia memang didesain untuk bersedih. Entah di mana fungsi bertahan hidup pada air mata yang mengalir dan rasa sesak di dada yang terjadi saat kesedihan melanda.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Memuat...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...