Minggu, 31 Januari 2016

Still Cloudy Friday, Jan 29th 2016: A Space Odyssey on Guns

Menyelingi bacaan "Guns, Germs, and Steel", dengan "2001: Space Odyssey" awalnya saya lakukan untuk membuat variasi bacaan agar saya tidak bosan. Saat saya sedang dalam mode prokrastinasi pada bacaan non-fiksi, biasanya kerajinanku untuk membaca buku fiksi menjadi meningkat, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu bacaan non-fiksi karangan Jared Diamond tentang faktor-faktor yang membangkitkan suatu peradaban saya anggap dapat dikombinasikan dengan novel fiksi Arthur C. Clark tentang distopia bumi di tahun 2001.
Sangat kebetulan, kedua buku itu meskipun genrenya berbeda, ternyata membahas hal yang sama, evolusi manusia.

Diamond memiliki penjelasan yang sangat komprehensif mengenai alasan superioritas bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa lainnya. Harus diakui memang, bangsa Eropa memiliki taraf hidup yang lebih maju jika dibandingkan dengan bangsa benua lainnya. Hampir semua benua lain pernah mereka jajah. Yang jadi pertanyaan, mengapa bangsa benua lain tidak menjajah Eropa? Mengapa Belanda yang menjajah Indonesia, bukan sebaliknya? Dan semua ada jawabannya di buku Guns, Germs, and Steel.

A Space Oddysey adalah sebuah buku fiksi klasik legendaris. Banyak pembaca yang memasukkannya dalam list book you must read before you die. Versi filmnya yang disutradarai oleh Stanley Kubrick juga menjadi film sci-fi paling monumental. Tanpa CG moderen, Kubrick dapat membuat film antariksa yang menghidupkan fantasi. Pemilihan tahun 2001 sebagai setting cerita mungkin boleh dikatakan meleset karena 2001 sudah lama berakhir, malah sekarang setelah kita berada di 2016, belum ada satupun negara yang berhasil membuat koloni di bulan seperti yang diimajinasikam Clark di buku fiksi legendarisnya. Tapi tetap saja saya sangat mengapresiasi visinya yang sangat jauh ke depan. Visi membuat koloni di bulan di 2001 nampaknya cukup masuk akal bagi nalar Clark di tahun 1968 saat dia merilis bukunya. Berhubung di masa itu, sedang terjadi perang antariksa antara Rusia dan AS, mereka berlomba-lomba untuk mendaratkan manusia di bulan. Antusiasme itu pada akhirnya surut ketika tembok Berlin runtuh, yang menandai berakhirnya perang dingin. Hingga saat ini manusia belum bisa membuat koloni di luar planet bumi. Malah untuk hidup di bumi saja, manusia masih kesulitan. Belum semua area bumi dapat ditaklukkan manusia. Lautan yang dalam dan Antartika yang dingin belum sepenuhnya dapat dieksplorasi. Mungkin itu hal baik. Selalu ada ancaman di tiap tindakan manusia.

Banyak dari kita senantiasa percaya bahwa intelegensia adalah anugerah terbesar yang dimiliki oleh umat manusia. Kita dapat berasumsi bahwa manusia bertahan hidup selama puluhan ribu tahun karena bantuan intelegensia. Kita bisa beradaptasi, memanfaatkan sumber daya alam, memanipulasi ruang dan melakukan efisiensi waktu karena intelegensia. Saya termasuk salah satu di antara orang yang percaya hal itu. Hanya saja produk utama intelegensia adalah teknologi yang terkadang justru membahayakan kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Contoh kecil potensi bencana ekologis yang dapat timbul karena intelegensia manusia antara lain ancaman perang nuklir, perubahan iklim, vortex plastik di lautan, dan polusi logam berat. Yang cukup mengherankan, tanpa intelegensia, bakteri dapat bertahan hidup di bumi yang keras.

Jumat, 29 Januari 2016

Cloudy Friday, 29th Jan 2016: If Dodo and Kiwi Could Fly, Would They Come To Here?

Pasien ini tidak pernah sekalipun ke Puskesmas untuk memeriksakan kehamilan. Tiba-tiba saja pada hari Sabtu yang lalu (16/1/16), suaminya memanggil kami ke rumahnya untuk melihat Si Pasien yang katanya baru saja melahirkan. Menurut pengakuan suami, sekarang pasien sedang mengalami pusing dan perdarahan pasca-persalinan yang tak kunjung berhenti. Waktu mendengar itu rasanya mau marah-marah. Mengapa panggilnya baru sekarang, saat pasien sudah mengalami perdarahan hebat? Mengapa tidak dari awal saat akan bersalin? Tapi kemarahan itu saya simpan saja karena saya tahu, bidan Puskesmas kami pasti akan lebih marah dari saya. Dari catatan kohort ibu hamil yang kami miliki, semestinya tidak ada ibu yang taksiran persalinannya di bulan Januari dan Februari. Lagipula persoalan yang paling genting saat ini adalah Puskesmas kami sudah kehabisan Oxytocin, obat untuk memperkuat kontraksi rahim yang disuntikkan begitu janin keluar dari jalan lahir. Sudah 2 bulan ini stok Oxytocin di Kabupaten habis. Salah satu bidan kami sedang mencarinya di ibukota provinsi.

Mendengar kata perdarahan pasca-persalinan disertai kehabisan Oxytocin jelas-jelas membuatku sakit kepala karena banyak kasus perdarahan pasca-persalinan terjadi karena gangguan tonus atau kontraksi rahim, yang mana terapi terbaiknya adalah injeksi Oxytocin. Memang sih ada penyebab lain seperti tertinggalnya sisa jaringan plasenta di rahim, robekan jalan lahir, atau terdapat gangguan pembekuan darah. Untuk kasus tertinggalnya jaringan plasenta, kita dapat mengatasinya dengan ekstraksi manual selama itu bukan kasus plasenta acreta ataupun percreta. Kalaupun terjadi robekan jalan lahir, selama itu bukan rahim yang robek, arteri pudendal tetap utuh, dan tidak sampai derajat 3 kita masih bisa menjahitnya secara konvensional. Yang masalah kalau terjadi gangguan pembekuan darah, itu ribet, harus ada trombosit atau faktor pembekuan darah yang ditransfusi, dan yang pasti itu tidak ada di sini.

Yang parah keadaan umum pasien sudah memburuk, kesadaran menurun, wajah sangat pucat seperti kertas, dan bibir mulai membiru, tekanan darah sulit terdeteksi nyaris 40 milimeter raksa per palpasi, nadi sangat cepat dan lemah sekitar 140 kali per menit, napas mulai memburu. Pasien ini bisa mati kapanpun. Untungnya setelah pemasangan jalur intravena ganda dengan RL, dan diperiksa, kontraksi rahim pasien sangat bagus, fundus sudah di bawah pusar. Jadi ketiadaan oxytocin nampaknya takkan terlalu berpengaruh. Saat dieksplorasi lebih jauh, ternyata ada sedikit robekan di portio dan dari situlah darah mengalir seperti keran. Mau dijahit, tidak ada pinset dan needle holder berukuran panjang untuk memfiksasi portio yang letaknya jauh ke dalam. Jadi terpaksa dilakukan bebat tekan saja dengan tampon. Setelah 5 menit ditekan, ternyata perdarahan langsung berhenti dengan sendirinya. Saat diperhatikan lebih baik, ternyata robekan portio-nya kecil, tapi robekan kecil saja sudah bisa bikin perdarahan hebat begitu. Saya memutuskan untuk melakukan observasi saja pada pasien sambil tetap mempertahankan bebat tekan. Dua setengah liter ringer laktat dan bebat tekan pada sumber perdarahan ternyata sangat efektif untuk pasien ini. Dalam 1 jam, keadaan umum pasien langsung membaik, tekanan darah naik 100/70 milimeter raksa, kecepatan nadi berkurang hingga 80 kali per menit, dan kecepatan pernapasan menjadi 18 kali per menit. Dia sudah mulai bisa berbicara dengan normal. Setelah pasien diberikan edukasi dan siraman rohani oleh staf Puskesmas, saya pulang. Ada juga sih episode diberikan suguhan makanan dan minuman dari keluarga, tapi saya sedang tidak mood untuk mencerna apapun. Untungnya hingga hari ini, pasien masih hidup dan bayinya sehat. Nampaknya dia baik-baik saja sekarang.

Kamis, 28 Januari 2016

Minggu, 24 Januari 2016: The Walk on X-Men

Untung saja saya nonton The Walk hanya lewat laptop, bukan di bioskop, apalagi sampai yang punya fasilitas tiga dimensi. Saya mungkin bisa muntah. Membayangkan seseorang berjalan di atas ketinggian dengan hanya mengandalkan kawat, sudah membuatku pusing. Robert Zemeckis membuat film yang membuatku merasa ikut berjalan di atas kawat bersama Joseph Gordon Levitt. Cukup sekian untuk resensi filmnya yang sengaja dibuat tak lengkap untuk mencegah spoiler. Sebenarnya baru-baru ini bukan cuma The Walk yang saya nonton, tapi juga maraton re-watch semua film X-Men mulai dari 1.5 yang dirilis tahun 2000 hingga ke sekuel yang paling akhir, The Days of Future Past. Entah kenapa saya tiba-tiba mood untuk menonton kembali film-film lama padahal menonton ulang sebuah film atau membaca kembali sebuah buku bukanlah karakterku. Mungkin sekedar ingin bernostalgia dengan masa lalu atau untuk membunuh kebosanan. Soalnya di sini mulai hujan mulai menyerang. Ombak di lautan mengamuk hebat. Perahu dan kapal sulit melaut. Ikan sulit dicari, bahan makanan tak bisa dikirim dari Kabupaten. Sudah beberapa hari tak ada lauk pauk dalam diet. Nasi goreng dengan rasio bawang putih dan merah yang lebih banyak menjadi menu utama. Mungkin selama beberapa minggu ke depan mie instan akan menjadi destinasi kuliner untuk bertahan hidup. Oke, kembali ke film X-Men, sejak Bryan Singer mengambil alih jabatan sutradara di The Days of Future Past, kini X-Men menjadi lebih menggigit dengan menampilkan lebih banyak bintang baru seperti Michael Fassbender dan Jennifer Law, namun tetap mempertahankan muka-muka lama seperti Hugh Jackman dan Ian McKellen. Formula ini sangat ampuh karena saya rasa di antara semua sekuel dan spin off-nya X-Men, The Days of Future Past adalah yang terbaik. Sekuel ini seolah-olah me-reset semua kisah X-Men dari awal di mana Jean Grey, Cyclops, dan Professor X tak jadi mati, sedangkan Magneto dan Mystique tak kehilangan kekuatan. Semoga di sekuel Apocalypse, tren ini tetap dipertahankan.

Selasa, 19 Januari 2016

Minggu, 17 Januari 2016: Arrêter l'Hémorragie

Yesterday, I got patient with post-partum hemorrhage. She gave birth with the helping from her family. Her husband called me 2 hours after delivery. When I and my team arrived to patient's house, the condition of her was so bad. Her face was pale, nearly cyanotic, her breathing was fast, and she was lethargic, almost lost of consciousness. Her pulse was fast, exceed 100 beats per minute. Also her blood pressure was low, it's just 40 mmHg. The blood spilled from her birth canal like water. The first thought that strucked me was this patient would die any minute. Without delay, we put double IV line and gave her 2 litres saline fluid to resuscitate her vital sign. Fortunately, the contraction of her uterus was good enough. I was pretty sure if the bleeding wasn't caused by contraction problem. Because if it was the culprit, all I could do just pray. We've ran out of oxytocin, medication to improve the uterus contraction, since last month. Probably the bleeding was caused by tissue or traumatic problem. Usualy, there were 4 culprits in postpartum hemmorhage namely tonus, tissue, trauma, and thrombocyte or coagulation factor. I asked her family if they still stored the placenta. They said they've buried it. I told them to dig it up. I wanted to see if all cotiledons and membrane of placenta were complete. Luckily, they were. When I was looking in the birth canal, I saw the portio of uterus has been ruptured due trauma of labour. Blood flow from the ruptured portio. After explored the birth canal to make sure there was no another torn, we made a tampon to stop the bleeding. Because we didn't have any vassopressor to raise blood pressure, I was relying on fluid replacement, bleeding stoppage with tampon, and dexamethasone injection. After 1 hour, the condition of patient was getting better. The blood pressure raised to 110/70 mmHg, pulse diminished under 100 beats per minute, respiration rate normalized, and patient became alert. Maybe I'll refer this patient if the ruptured portio still bleeding and big enough to compromise reproductive function of patient. The interim priority for this patient is life saving.
Until today, this patient is getting better.

Jumat, 15 Januari 2016

Jumat, 15 Januari 2016: Reye

Di film Black Mass, anak Johny Depp meninggal setelah sebelumnya dia mengalami demam lalu mendapatkan aspirin dari ibunya. Bukannya membaik, kondisi anak tersebut justru semakin memburuk. Memang dalam film tersebut tidak dijelaskan apa jenis penyakit yang diderita anak itu namun saya menduga dia mengalami Sindrom Reye. Penyakit ini cukup langka. Pertama kali dideskripsikan oleh RDK Reye pada tahun 1963. Penyakit ini memiliki ciri khas berupa ensefalopati non-infalamasi dan kegagalan hati. Biasanya penyakit ini timbul pasca-terjadinya infeksi viral seperti cacar, ISPA, influenza, atau gastroenteritis yang disertai penggunaan aspirin. Penyakit ini sangat sering ditemukan pada tahun 1970-an karena saat itu aspirin merupakan obat yang sangat populer. Selain aspirin, faktor lain yang juga berperan terhadap timbulnya penyakit ini adalah faktor kongenital atau bawaan sejak lahir yang disebut dengan Inborn Error of Metabolism. Beberapa anak terlahir dengan gangguan metabolisme di tubuhnya sehingga lebih rentan mengalami sindrom Reye. Semua anak yang memiliki riwayat penyakit infeksi selama beberapa hari lalu membaik tapi tiba-tiba saja mengalami muntah hebat selama 12 jam hingga 3 minggu yang disertai penurunan kesadaran wajib dicurigai mengalami sindrom Reye. Apalagi jika terdapat riwayat penggunaan aspirin pada anak tersebut.

Saya termasuk orang yang jarang sekali meresepkan aspirin untuk pasien pediatrik berhubung selama pendidikan kedokteran, para guru saya lebih menganjurkan penggunaan paracetamol untuk mengatasi masalah demam dan nyeri pada anak. Meskipun sebenarnya hingga saat ini mekanisme kerja paracetamol masih menjadi misteri. Belum ada yang dapat mengungkapkannya secara pasti mengapa paracetamol dapat menurunkan demam dan mengurangi nyeri namun tidak mempengaruhi sel radang. Saat ini saya justru lebih sering meresepkan aspirin sebagai obat antikoagulan untuk pasien yang mengalami angina pektoris. Padahal tujuan awal penggunaan aspirin adalah sebagai antinyeri. Penggunaan aspirin sebagai antikoagulan pada pasien jantung merupakan hal yang diketahui secara tidak sengaja. Serendipity.

Kamis, 14 Januari 2016

Kamis, 14 Januari 2016: Sans Age

Saya baru menyadari kalau beberapa artikel terakhirku masih tertulis 2015. Sepertinya saya masih mengalami disorientasi abstraksi waktu. Sungguh lucu sebenarnya kita menggunakan perputaran bumi mengelilingi matahari sebagai patokan abstraksi waktu, walaupun ada juga beberapa kebudayaan yanh menggunakan perputaran bulan mengelilingi bumi sebagai dasarnya. Apapun itu, tetap saja bumi yang menjadi point of view-nya. Mungkin kita memilih abstraksi waktu seperti itu hanya untuk alasan kepraktisan agar kita bisa menggunakan satu bahasa satuan yang sama.
Waktu dan pertambahan usia adalah ilusi. Apakah mahluk selain manusia juga mengenal konsep waktu?

Ada banyak hal yang berubah di tahun ini. Pak Camat sudah dinonaktifkan oleh bupati karena dianggap melindungi kesalahan Pak Sekcam yang hanya masuk kantor kurang dari 10 kali dalam setahun. Padahal Pak Camat kami ini saya anggap cukup lumayan lah kalau diajak kerjasama di sektor kesehatan. Tapi, life must go on. Siapapun penggantinya nanti, semoga saja lebih baik dari sebelumnya.

Di tahun ini juga secara resmi Ndao tak gelap lagi di malam hari. Listrik sudah menerangi pulau ini sejak jam 6 sore hingga jam 6 pagi. Saya berharap bisa 24 jam karena di siang hari, suhu di sini bisa mencapai 39 derajat Celcius. Saya sungguh butuh kipas angin. Peningkatan suhu bisa memperburuk moodku. Rasanya ingin marah-marah terus saat panas melanda.

Masuknya listrik betul-betul mengubah pola belanja masyarakat. Tiap minggu ada TV dan kulkas baru yang masuk pulau. Para penjual es dan minuman dingin bermunculan satu persatu. ISPA dan diare pun terus tumbuh karena es yang dijual seringkali tidak dimasak. Delapan bulan menjalani kehidupan tanpa listrik sepertinya telah banyak mempengaruhiku. Saya merasa sudah menjadi mahluk purbakala. Semoga saja saya bisa terbiasa dengan semua perubahan ini.

Kamis, 07 Januari 2016

Kamis, 7 Januari 2015: Avoir Perdu

The worst part of a journey is lost, somehow it teaches us something, whatever it is.
Saya pernah beberapa kali tersesat. Itu terjadi di masa sebelum Google Map ketika malu bertanya sesat di jalan masih menjadi jargon utama tiap pelancong. Saya tidak suka bertanya. Saat melakukannya, itu bisa membuat seseorang jadi terlihat bodoh. Terlihat bodoh bukanlah hal yang baik bagi pencitraan seorang pria. Jargon yang kupercaya cocok untukku adalah lebih baik tersesat daripada bertanya.
Sejak era Google Map, melakukan perjalanan jauh ke daerah yang asing menjadi lebih mudah. Tak ada daerah yang asing bagi Google Map, seolah semua tempat di muka bumi ini pernah disinggahi olehnya, padahal dia bukan manusia. Terkadang saya berharap Google Map adalah seorang manusia yang merangkap jadi wanita supaya dapat kulamar untuk dipersunting sebagai istri suatu saat nanti. Bayangkan, seorang istri yang dapat menunjukkan arah di hari-harimu yang kelam, apalagi yang kurang sempurna dari wanita seperti itu. Tak ada hotel, restoran, pelabuhan, dan jalan yang akan terlewat olehnya, kecuali mereka dibangun sebelum adanya update software terbaru. Tapi kemudian seorang kawan yang bernama Artania bertanya, "Mengapa hanya menginginkan wanita berkemampuan Google Maps? Bukankah lebih baik jika dia adalah seorang wanita Google Search, yang dapat mengetahui segala hal?"
Alternatif memiliki kekasih berkemampuan Google Search mungkin terdengar omnipoten, efisien, dan efektif. Tapi saya tak menginginkan seorang pasangan hidup yang tahu segalanya. Mengetahui beberapa hal saja sudah cukup. Menerima pasangan hidup yang tak sempurna adalah intisari utama dari sebuah hubungan pernikahan. Mengapa harus menikah jika hidupmu sebagai seorang individu ternyata sudah sempurna? Lagipula, pernahkah kamu melihat ada Google Search yang menikah?

Saya mengetik hal ini sambil mengelas pilar baja rangka kapal di Siberia. Terdengar mustahil kan, tapi itulah kenyatannya. Why wouldn't I do that if I can do it?

Rabu, 06 Januari 2016

Rabu, 6 Januari 2015: The Lobster

Dalam 2 hari terakhir saya kembali melanjutkan pekerjaan rumah yang tidak dapat kulakukan di pulau terpencil, nonton film maraton. Yang masuk daftar kali ini adalah Maze Runner: The Scorch Trial, The Ant-Man, Mission Impossible: Rogue Nation, dan The Lobster. Tiga film yang pertama kusebutkan cenderung mainstream, action, tidak jauh berbeda dengan film genre sejenis lainnya. Protagonis dan antagonisnya sangat vulgar terpapar sejak menit-menit awal film diputar. Akhir kisahnya sudah dapat diprediksi. Untung saja alur, bumbu dialog, dan efek visualnya dibuat cantik dan berkelok sehingga kebosanan tidak langsung melanda.

Film yang saya anggap sangat spesial dalam daftar tontonan kali ini adalah The Lobster. Meskipun tema tentang jomblo adalah hal yang sangat lazim, tapi Yorgos Lanthimos mengarahkan sebuah ide cerita yang menurut saya sangat nyentrik, surealis, dan out of box. Bayangkan saja, jika kita harus hidup di sebuah dunia di mana para jomblo hanya punya waktu 45 hari untuk mendapatkan pasangan lalu apabila gagal mencapai target tersebut maka para jomblo itu akan diubah menjadi hewan. Akting yang ditunjukkan oleh Colin Farrel sebagai pria yang menjadi jomblo akibat istrinya selingkuh sungguh keren. Saat melihatnya berperan di film ini, saya jadi bertanya-tanya, apakah menjadi jomblo memang harus setragis ini ya?

Minggu, 03 Januari 2016

Jumat, 1 Januari 2015: In The Heart of The Sea

Sisi terbaik dari bermain game adalah kita dapat mengulang semuanya ketika suatu hal buruk terjadi. Kepala tertembak pistol, jatuh dari ketinggian, dimakan monster, atau terhempas bom, semuanya dapat diatasi dengan teknik restart and reload. Seringkali saya berpikir, seandainya kehidupan nyata bisa seperti itu, di mana kita dapat mengulang dan mengubah momen yang kita anggap sebagai peristiwa yang kurang atau bahkan tidak menyenangkan sama sekali seperti jatuh cinta pada orang yang salah, terjebak di pekerjaan yang buruk, atau terlahir di negara yang gagal.
Saya pernah membaca hal seperti itu di agama Budha meskipun tidak sama persis. Menurut Budha, manusia memiliki jiwa yang abadi. Dia akan lahir lalu mati kemudian terlahir kembali dengan wujud yang berbeda-beda, di kehidupan yang lampau bisa hidup sebagai raja, di kehidupan sekarang menjadi rakyat jelata, lalu kehidupan mendatang hanya menjadi seekor tikus. Saat bisa terbebas dari rantai karma dan dukha yang fana, manusia mencapai nirwana lalu menjadi Budha. Sebuah akhir yang menyenangkan. Hanya saja, nampaknya semakin banyak mahluk lain yang mengalami reinkarnasi menjadi manusia. Entah apa dosa mahluk-mahluk tersebut hingga harus terlahir kembali menjadi manusia. Lihat saja, jumlah manusia semakin banyak, 6 milyar lebih. Mungkin di kehidupan yang lampau mereka adalah mammoth, burung dodo atau harimau bali yang kini telah punah. Mungkin mereka terlahir untuk merasakan betapa nikmatnya hidup sebagai manusia yang telah membuat mereka punah. Siapa tahu, manusia juga akan punah nanti.
Saya tidak tahu apakah reinkarnasi, karma, dan nirwana itu betul-betul ada. Saya tak ingin menganalisisnya ataupun mencari tahu kebenarannya karena itu kepercayaan agama Budha. Mempertanyakan kebenaran suatu agama dapat dianggap sebagai suatu penghinaan. Tiap agama punya kisah mistisnya sendiri. Orang Islam tak mungkin bisa percaya dengan adanya Dewa Siwa begitu pula sebaliknya. Orang Kristen juga tak mungkin bisa percaya jika Muhammad pernah bertemu Tuhan dengan mengendarai Buraq. Jadi daripada memaksakan apa yang kita percayai pada orang lain, lebih baik just let it be.

Beberapa kali dalam hidup seorang manusia, dia akan menemui sebuah situasi di mana terdapay kesulitan untuk menentukan mana yang benar dan yang salah. Seperti yang digambarkan oleh film In The Heart of The Sea yang dibintangi Chris Hemsworth, yang pernah jadi Thor di film Avenger dan Ben Whishaw, yang memerankan Q di film Skyfall dan Spectre. Film yang menceritakan tentang sumber inspirasi Herman Melville dalam menulis novel Moby Dick ini sangat nelangsa, menurutku. Di zaman Melville hidup, belum ada yang namanya minyak bumi. Emas hitam itu masih tertanam di bumi, belum ada satupun manusia yang mengkomersialisasikannya. Manusia mendapatkan sumber minyak dari lemak paus yang diburu di seluruh perairan dunia. Petualangan Owen Chase dan George Pollard untuk mendapatkan 3000 barel minyak paus berujung bencana yang mengakibatkan mereka terapung di lautan hingga harus menjadi mahluk kanibal. Tentu saja, kanibalisme adalah hal yang tidak sejalan dengan norma kepatutan tapi jika harus terombang-ambing di lautan hingga berbulan-bulan tanpa makanan, pilihan apalagi yang dimiliki manusia untuk dapat bertahan hidup? Nilai kebenaran yang berlaku umum tak lagi dapat digunakan.

Jadi apa sebenarnya kebenaran?

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...