Sabtu, 27 Februari 2016

Kamis, 25 Februari 2016: Noodle

Indonesia adalah surganya para penjual. Ada begitu banyak jiwa yang bisa menjadi objek promosi barang dan jasa di tanah ini. Kita bicara tentang 300 juta manusia yang butuh makan, minum, rumah, pakaian, transportasi, dan kesenangan. Asumsikan saja, semua penduduk Indonesia mengkonsumsi 1/4 kilogram beras per hari, itu artinya kita butuh 75 juta kilogram atau 75.000 ton beras tiap harinya. Itu belum termasuk kebutuhan beras untuk keperluan industri minus orang-orang miskin yang tidak sanggup membeli beras dan mereka yang tidak menggunakan beras sebagai makanan pokok. Para penjual beras pasti tersenyum jika melihat pangsa pasar sebesar itu. Petani Indonesia mungkin tidak mampu menghasilkan beras dengan jumlah monster begitu, apalagi akhir-akhir ini seringkali terjadi gagal panen akibat perubahan iklim global. Yang mana hal ini berimbas pada kebijakan mengimpor beras dari Thailand atau Vietnam menjadi salah satu pilihan wajib yang sulit terhindarkan. Tindakan seperti ini mungkin tidak mencerminkan kemampuan berdikari suatu bangsa. Sehingga membuat pertanyaan seperti "Kenapa hanya untuk urusan mengisi perut, kita harus membelinya dari negara lain?" adalah hal yang wajar. Masalahnya, persoalan berdikari dan kemandirian bangsa ini harus terbentur pada masalah lain, yakni ada begitu banyak perut yang harus diisi. Perut-perut yang lapar cenderung mudah marah dan beringas. Tentu saja jika jika membiarkan perut-perut kelaparan ini tak terisi, mereka semua dapat teragregasi lalu berkomplot untuk menghancurkan kedaulatan negara, seperti yang terjadi pada Tsar Rusia yang luluh lantak dihantam kaum Bolshevik kelaparan yang telah terprovokasi oleh propaganda sosialisme dari Lenin.
Jadi untuk mencegah terjadinya hal serupa, seseorang atau korporasi perlu melakukan sesuatu untuk mengenyangkan semua orang, tidak peduli dari mana sumber makanannya. Pengusaha lokal yang mengimpor beras akan dengan senang hati mengambil peran untuk ini. Para petani lokal mungkin akan menjerit karena hal tersebut dapat menurunkan harga beras lokal. Namun sepertinya sulit untuk mendengarkan jeritan dan teriakan para petani lokal ketika sebagian besar orang sudah merasa kenyang oleh beras impor.

Mie untuk Kehidupan

Bagi orang Indonesia di masa lalu, ada jargon yang senantiasa menggaungkan bahwa seseorang dianggap sudah makan jika nasi telah masuk ke dalam lambungnya. Sebanyak apapun roti atau kue yang dimakan, jika belum ada nasi yang terlibat dalam menu maka lapar takkan bisa terobati. Oleh karena itu jangan heran jika di daerah kita menemukan orang Indonesia yang makan nasi campur jagung, nasi campur ubi, atau yang terbaru, nasi campur mie bahkan nasi campur roti meskipun kita semua memahami bahwa beras, ubi, jagung, roti, dan mie termasuk dalam kategori makanan pokok, penghasil utama karbohidrat. Di negara yang sudah maju, penduduknya cenderung hanya mengkonsumsi satu jenis makanan pokok dalam satu waktu. Saat makan pagi menunya mungkin roti campur telur, keju, atau susu saja, ketika makan siang ada menu nasi atau pasta atau apapun itu, sedangkan saat malam entahlah mereka mau makan apa lagi, karena saya belum pernah makan malam di luar negeri. Tapi intinya adalah tak perlu ada dua makanan pokok atau lebih dalam satu periode makan. Karena secara nutrisi, itu memang tidak dianjurkan sebab tidak ada keseimbangan di dalamnya. Tapi apa hendak dikata, kebiasaan sulit diubah.

Namun generasi Indonesia tahun 2000-an nampaknya mulai menunjukkan deviasi dari kebiasaan itu. Makanan pokok pilihan mereka mulai berubah. Mereka cenderung beralih pada makanan pokok sintetis yang bernama mie instan. Sudah banyak saya bertemu ibu-ibu yang mengeluhkan bahwa anak mereka sudah tidak doyan makan nasi. Tiap mereka datang, hanya satu permintaan mereka, obat penambah nafsu makan agar anak-anak mereka kembali mencintai nasi.
Saat melihat fenomena ini, saya merasa ada kesenjangan budaya antara orang tua dan anak. Para orang tua yang terlahir sebelum tahun 2000an, masih terbiasa dengan makanan pokok nasi sedangkan anak-anak mereka mulai terpapar oleh budaya mie instan.

Kesenjangan tersebut menimbulkan polemik di masyarakat. Polemik itu pada umumnya terfokus pada aman tidaknya mie instan di konsumsi secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Jika kita percaya pada badan POM dan plastik pembungkus mie yang berisi kandungan nutrisi maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa mie instan cukup aman bagi manusia meskipun dikonsumsi dalam waktu yang lama. Hanya saja, bangsa Indonesia sudah mengalami krisis kepercayaam. Krisis tersebut kadang membuat mereka terlalu percaya atau bahkan tidak terlalu percaya pada sesuatu. Kata kuncinya di sini adalah terlalu, dan kita tidak pernah berada di tataran moderat saat sedang krisis. Tak ada yang namanya percaya saja atau tidak percaya saja. Harus ada exaggeration. Contoh krisis kepercayaan dapat kita lihat pada proses pemilihan anggota legislatif atau eksekutif. Tiap pemilihan, selalu kita temukan ada kubu yang sangat percaya pada para calon wakil rakyat atau eksekutif hingga rela mati dan membunuh demi kelanggengam kandidat pilihannya dan di ekstrim yang lain, terdapat kubu yang sangat membenci calon wakil rakyat atau eksekutif tersebut hingga rela tewas dan membantai agar kandidat yang dibencinya gagal terpilih. Saat dalam krisis, manusia senantiasa terbiasa untuk menyederhanakan suatu persoalan ibarat memilih warna hitam dan putih, baik atau jahat, persis seperti yang terlihat di film Disney, ada Aladin yang baik dan Jafar yang jahat, Jedi yang memperjuangkan kebenaran dan Sith yang menghancurkan galaksi. Dan kita selalu menganggap diri kita sebagai Jedi Sang Pembela Kebenaran sedangkan orang lain yang menjadi lawan kita adalah Sith Sang Perusak Semesta. Kita buta dalam melihat spektrum warna lainnya yang berada di luar spektrum hitam dan putih. Padahal bisa jadi, kitalah yang sebenarnya penjahat.

Kamis, 25 Februari 2016

Rabu, 24 Februari 2016: Piano Tiles

Dulu saya jarang sekali menghabiskan waktu untuk bermain game di ZenFone 2 milikku. Biasanya smartphone keluaran Asus tersebut hanya menjadi wahana untuk membaca ebook ataupun tempat mencatat kegiatan harian. Tapi semua berubah semenjak saya mengetahui bahwa game PSOne dapat dimainkan di OS Android. Mayoritas waktuku langsung tersita untuk bermain game Final Fantasy IX. Sekitar 5 hari saya memainkan RPG buatan SquareSoft tersebut dan menamatkannya hampir 2 kali. Mungkin karena dopamine sedang melonjak, saya jadi tertarik untuk mencoba game android yang lain. Saat ini ada 3 jenis game Android yang mengalihkan duniaku, yakni Trial Frontiers, Colossatron, dan Piano Tiles 2.

Ketiga game terasebut lumayan menarik untuk dimainkan. Sederhana, tidak butuh banyak pikiran. Bisa membuatku tetap waras di pulau yang terpencil. Sayangnya, Trial Frontier butuh koneksi internet untuk bisa terus dimainkan sehingga permainanku harus tertahan di level 27. Menyedihkan, padahal motor Tango-ku baru saja di-upgrade. Saat Trial Frontier stagnan, Colossatron datang mengisi kekosongan dengan warna-warninya yang lumayan menghibur dan terkadang juga menjadi ajang penyaluran mood yang buruk. Rasa bahagia dapat menyeruak terutama ketika kota Ultimatum sudah dihancurkan hingga 14 kali. Saya ingin menahan diri agar tak sampai menghancurkan lagi kota Ultimatum sampai 15 kali karena takutnya obsesi perang dan pengrusakan dapat merebak ke dalam sanubariku yang cinta damai. Untungnya saya menemukan penebusan di game Piano Tiles 2.
Game yang baru saya kenal 3 hari yang lalu ini sangat mudah dimainkan. List musik yang ditawarkannya cukup familiar di telinga seperti Four Season-nya Vivaldi, Fur Elise karangan Beethoven, dab The Entertainer gubahan Scott Joplin yang jadi soundtrack film The Sting. Namun yang paling ear catchy menurutku adalah Bluestone Alley dari Congfei Wei.
Saya berharap agar developer Cheetah Game dapat segera memperbaharui permainan ini karena saat ini saya sudah mentok di level maksimal, 42. Entah kapan playlist musik terbaru dapat mereka tambah lagi.

Minggu, 21 Februari 2016

Sk(r)ip-si

-Put-
Entah kenapa skripsi membuatku menjadi seperti orang yang kurang bersyukur.

Dulu waktu masa-masa pengajuan judul yang selalu ditolak, iri rasanya melihat teman-teman lain yang sudah mulai berkutat dengan pengerjaan proposal. Saat itu saya berjanji pada diri sendiri, kalau judul saya sudah acc, saya akan berusaha keras untuk mengerjakan semua bab di proposal dengan sepenuh jiwa. 

Untungnya saat itu saya hanya berjanji pada diri sendiri, bukan kepada Tuhan. Karena kenyataannya, saat judul sudah acc, kebahagiaan yang saya pikir bisa saya rasakan ternyata hanyalah ilusi. Tidak ada kebahagiaan sedikit pun saya rasakan.

Dan cukuplah saya ingkar pada diri sendiri, bukan kepadaNya.

Semua proses pengerjaan bab di proposal memang hanya terlihat indah bila orang lain yang mengerjakan. Bukan saya. Cause our grass will never be greener than others'.

What a value. Thank you, Skripsi.

Rabu, 17 Februari 2016

Lundi, Dix-cinq Fevrier 2016: Elbakyan

Waktu masih kuliah dulu, salah satu kegiatan yang cukup mengganggu perjalanan hariku yang biasanya indah dan damai selama 24 jam adalah menyisihkan waktu untuk membuat referat, kadang ada juga yang menyebutnya refarat atau malah laporan kasus. Semua tergantung keyakinan masing-masing. Saya sendiri lebih suka menyebutnya refarat karena rimanya terdengar apik, terasa renyah di lidah seperti kerupuk terutama ketika ada dua huruf "a" yang diantarai oleh sebuah huruf "r". Terkesan estetis. Hanya saja, kalau secara etimologi, akar kata yang benarnya adalah referaat, yang merupakan sebuah kata dalam bahasa Belanda yang artinya mungkin sepadan dengan tinjauan pustaka. Entahlah. Penggunaan bahasa kolonial dalam istilah kedokteran Indonesia merupakan hal yang lazim karena selama beberapa abad, bangsa kita memang lemah di bidang itu. Dulu malah, tidak boleh ada inlander yang kuliah kedokteran. Sepertinya bangsa Indonesia baru memiliki dokter pribumi di abad ke-20 ketika dr. Soetomo dan dr. Wahidin Soedirohoesodo mencatatkan namanya di panggung sejarah Indonesia.

Tinggalkan sejenak sejarah untuk kembali membahas mengapa kegiatan membuat referat adalah hal yang cukup mengganggu. Saya tidak menyertakan variabel waktu yang tersita sebagai salah satu alasan mengapa kegiatan membuat referat itu sangat mengganggu karena waktu yang terbuang atau berlalu ketika sedang mengerjakan tugas kuliah adalah sebuah investasi yang memang wajib dikeluarkan sejak awal seorang mahasiswa menjejakkan kaki di dunia kampus. Jika memang tak ingin sebagian umurmu terkonversi oleh tugas kuliah, ada baiknya berhenti saja kuliah sebelum pendaftaran mahasiswa baru dimulai lalu cari kegiatan lain yang menurutmu layak untuk menjadi keran penghabis hari-hari masa mudamu. Soal waktu, saya memang tidak punya masalah sama sekali karena saya tak punya kehidupan sosial di luar kuliah. Tarikan gravitasi kampus membuat jalur orbit hidupku hanya berlalu antara rumah, warung makan, dan bangku kuliah, terkadang ada sedikit deviasi orbit saat saya ke pasar untuk membeli sejumlah perlengkapan tempur untuk kehidupan, sehingga tugas kuliah bagaikan sebuah liburan bagiku, salah satu sarana untuk mengisi waktu luangku yang begitu kosong.

Jadi apa sebenarnya faktor pengganggu yang membuat referat begitu menjengkelkan? Jawabannya sederhana, daftar pustaka. Untuk membuat referat, jumlah rujukan pustaka yang wajib disertakan minimal 20 buah dan itu sumbernya harus berasal dari textbook atau jurnal ilmiah yang terbit dalam 5 tahun terakhir. Jadi saat saya mendapat tugas membuat referat katarak di tahun 2011,  saya wajib membaca minimal 20 jurnal atau teksbuk yang berkaitan dengan hepatitis yang diterbitkan antara tahun 2006-2011. Nah, di sini lah letak hal yang menjengkelkannya. Saat melakukan pencarian, saya memang menemukan banyak teksbuk dan jurnal mengenai katarak, hanya saja, kebanyakan dari mereka merupakan terbitan di bawah tahun 2006. Adapun saat menemukan jurnal terbitan terbaru mengenai prosedur operasi ekstraksi katarak, ternyata itu adalah jurnal berbayar yang harganya 30 dollar atau sekitar 300ribuan untuk kurs saat itu. Menurut ukuran mahasiswa kere sepertiku, itu harga yang terlalu mahal untuk sebuah jurnal setebal 20 halaman. Saat itu harga satu piring nasi campur masih Rp 7000, sehingga dengan uang 300.000, saya bisa makan sampai 42 piring. Dengan ukuran 3 kali makan sehari, maka uang 300.000 setara dengan jatah makan selama 14 hari atau 2 minggu. Saat membayangkan jika saya harus membayar 20 jurnal ilmiah setebal 10 hingga 30 halaman dengan harga segitu, rasanya mau tidur saja seharian. Itu pun saat sudah membeli jurnalnya, belum tentu isi secara keseluruhannya sesuai dengan referensi yang kita inginkan, yang berarti bahwa harus ada biaya tambahan lagi untuk membeli jurnal yang lain. Itu sungguh menjengkelkan.

Untungnya, saat itu ada banyak forum internet untuk para mahasiswa kere yang membutuhkan referensi ilmiah. Tinggal mengajukan request, selalu ada orang baik di luar sana yang membantu. Untuk membalas jasa orang-orang baik itu, maka saya juga mengupload referensi ilmiah yang saya miliki ke Scribd dan blog ini. Saat itu proses download dokumen di Scribd masih sangat mudah. Semua berubah ketika komersialisasi menyerang. Tapi saya tak ingin menyalahkan Scribd karena mereka juga pasti butuh uang untuk bertahan hidup.

Hal yang saya alami juga pernah dirasakan oleh seorang mahasiswi Kazhakstan yang bernama Alexandra Elbakyan. Saat itu dia sedang menyusun proposal penelitian dan memerlukan banyak referensi jurnal ilmiah berbayar. Sayangnya, dia juga sama kerenya denganku. Akhirnya karena tidak ingin pengalaman buruknya terulang pada orang lain, di September 2011, di tahun yang sama saya merasa sebagai orang paling kere di Makassar, Elbakyan membuat Sci-Hub sebuah situs yang secara ilegal memberikan akses gratis ke semua jurnal berbayar. Hal ini disambut gembira oleh semua mahasiswa kere karena dapat menikmati ilmu pengetahuan secara gratis. Hanya saja para penerbit besar seperti Elsevier, meradang. Mereka pun menuntut Elbakyan untuk membayar ganti rugi. Untungnya, Elbakyan bukan orang Amerika, sehingga tuntutan itu tak berarti apa-apa baginya yang hidup di bekas wilayah Uni Soviet. Karena itulah Elbakyan dijuluki sebagai Robin Hood of Science.

Selasa, 16 Februari 2016

Minggu, 14 Februari 2016: Megavitamin

Rasanya agak jengah juga melihat begitu banyak pemasaran vitamin dan antioksidan dosis tinggi dengan embel-embel dapat mencegah kanker dan memperlambat penuaan. Bukannya mau nyinyir dengan rejeki orang dari pemasaran produk semacam itu, hanya saja klaim berlebihan tentang mencegah kanker dan efek awet muda belum memiliki bukti ilmiah yang sahih.

Sejak dipopulerkan oleh Linus Pauling, peraih dua hadiah Nobel di bidang kimia dan perdamaian, vitamin C dan antioksidan lainnya seperti beta karoten, selenium, vitamin A, serta vitamin E dianggap sebagai garda terdepan untuk melawan radikal bebas yang dari penelitian memiliki keterkaitan dengan proses penuaan, kanker, dan penyakit jantung. Perang antara antioksidan vs radikal bebas yang terjadi di sel atau lebih tepatnya mitokondria, seringkali disamakan dengan perang antara kebaikan vs kejahatan, meskipun sebenarnya ini anggapan yang terlalu berlebihan. Mengapa perang itu harus mengambil tempat di mitokondria? Itu karena mitokondria merupakan pabrik utama sel untuk menghasilkan energi. Untuk menjalankan pabrik, mitokondria membutuhkan bahan bakar yang bernama oksigen. Dengan oksigen inilah maka terjadi proses oksidasi yang salah satu produk sisanya adalah senyawa yang sangat kehausan elektron, yang disebut juga sebagai radikal bebas. Jika dibiarkan berkeliaran, radikal bebas yang haus elektron akan merajalela ke jaringan tubuh lainnya untuk mencari elektron mereka yang kurang. Perumpamaan sederhananya, radikal bebas ini ibarat para jomblo yang sudah sangat ngebet untuk mencari jodoh atau elektron, saking ngebetnya, mereka sampai merusak rumah penduduk untuk menemukan jodoh. Nah, untuk menetralkan keliaran tersebut, maka tubuh menghasilkan antioksidan seperti enzim peroksidase. Antioksidan juga dapat ditemukan dari alam melalui buah dan sayur. Dari penelitian diketahui bahwa orang yang mengkonsumsi buah dan sayur memiliki umur yang lebih panjang dan jarang terkena penyakit jantung.

Nah dari hasil penelitian itu maka orang-orang mulai membuat logika seperti ini:
"Jika buah dan sayur mengandung antioksidan - dan orang yang makan buah dan sayur memiliki hidup yang lebih sehat - maka orang yang mengkonsumsi suplemen antioksidan pasti juga memiliki hidup yang lebih sebat."

Logika yang tampak rasional namun fakta justru membuktikan sebaliknya. Mereka yang mengkonsumsi suplemen antioksidan justru cenderung kurang sehat.

Mana buktinya?

Bukti pertama berasal dari penelitian yang dilakukan oleh National Cancer Health, yang bekerja sama dengan National Public Health Institue Finlandia di tahun 1994, terhadap 29.000 pria Finlandia yang semuanya adalah perokok dan berusia di atas 50 tahun. Para pria ini terpilih bukannya karena tampan tapi karena dianggap lebih beresiko untuk mengalami kanker dan penyakit jantung. Susah loh mencari 29ribu pria untuk diikutsertakan dalam sebuah penelitian, apalagi biayanya juga tidak sedikit. Untung National Cancer Health punya banyak uang. Pria-pria yang telah terpilih ini kemudian dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama diberikan vitamin E, kelompok kedua diberikan beta carotene, kelompok ketiga diberikan kombinasi vitamin E dan beta carotene, lalu kelompok terakhir, tidak berikan apa-apa, hanya pil kosong. Kasihan ya para pria di kelompok 4, kalau jadi mereka, saya mungkin akan protes atas ketidakadilan tersebut. Untungnya, semua pria itu diberikan pil namun mereka tidak tahu apa isi pil tersebut, sehingga tak ada satupun dari mereka yang protes meskipun hanya mendapatkan pil kosong. Bahkan penelitinya pun tidak tahu isi pil tersebut. Semua pil itu diberikan kode dan kode itu baru bisa diketahui maksudnya ketika semua data telah terkumpul. Sepertinya cukup merepotkan ya. Tapi para peneliti memang sengaja melakukan hal ini untuk mengikuti kaidah penelitian prospektif, terkontrol (controlled), dan buta-ganda (double-blind) untuk menghindari terjadinya bias yang berasal dari objek dan subyek penelitian.

Lalu bagaimana hasilnya? Para pria yang mengkonsumsi suplemen vitamin dan beta carotene ternyata lebih beresiko mati karena kanker paru-paru ataupun penyakit jantung jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mengkonsumsi kedua suplemen tersebut. Hal ini sangat mengejutkan para ahli karena hasil ini tidak lagi sejalan dengan logika yang berkembang selama ini. Ternyata suplemen antioksidan dosis tinggi tidak aman.
Karena tidak puas dengan hasil tersebut, maka para ahli kembali melakukan penelitian dengan kelompok beresiko lainnya.

Bukti kedua ini berasal dari penelitian para peneliti yang tidak puas dengan penelitian sebelumnya. Kali ini Fred Hutchinson Cancer Research Center yang melakukan penelitian pada tahun 1996 di Seattle, terhadap 18.000 orang yang sudah pernah terpapar dengan asbestos, yang mana zat ini dapat meningkatkan resiko kanker paru-paru. Seperti metode penelitian sebelumnya, kembali dibentuk 4 kelompok yang masing-masing diberikan vitamin A, beta carotene, kombinasi keduanya, dan pil kosong. Penelitian ini harus dihentikan di tengah jalan karena para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang mengkonsumsi vitamin A dan beta carotene memiliki resiko kanker dan penyakit jantung sekitar 28% lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang yang tidak mengkonsumsinya. Lagi-lagi bukti ini mengecewakan para pecinta suplemen vitamin dan antioksidan.

Ada lagi bukti ketiga dari Universitas Kopenhagen di tahun 2004 yang meninjau 14 percobaan acak pada 170.000 orang yang masing-masing mendapatkan suplemen vitamin A, C, E, dan beta carotene untuk melihat apakah hal itu dapat mencegah kanker usus. Tapi hasil sama persis dengan dua percobaan sebelumnya. Suplemen antioksidan bukannya mencegah kanker, justru semakin meningkatkan angka mortalitas.

Sebenarnya masih banyak bukti-bukti ilmiah lainnya yang seharusnya dapat menghentikan promosi berlebihan produk suplemen antioksidan dosis tinggi. Kalau saya membahas semuanya di sini, mungkin itu akan menjadi sebuah buku. Hanya saja, bisnis ini sudah terlanjur menggurita. Omsetnya sungguh luar biasa, di tahun 2010 saja, bisa mencapai angka 28 milyar dollar AS. Dengan keuntungan sebesar itu, sulit untuk melakukan pelarangan karena pasti akan ada resistensi dari industri penghasil suplemen antioksidan dan vitamin dosis tinggi.

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah mengapa hasil penelitian justru menunjukkan bahwa perang antioksidan vs radikal bebas tidak sesuai yang diprediksi sebelumnya? Bukankah radikal bebas dapat merusak sel? Dan bukankah orang yang mengkonsumsi sayur dan buah yang notabene mengandung antioksidan memiliki hidup yang lebih sehat? Lalu mengapa orang yang mengkonsumsi suplemen antioksidan dosis tinggi justru lebih sakit?

Sebenarnya agak sulit untuk menjawab hal semua pertanyaan itu. Kenyataannya, radikal bebas tidaklah sejahat yang selama ini dituduhkan padanya. Malahan, tubuh kita membutuhkan radikal bebas untuk membunuh bakteri dan sel kanker yang baru tumbuh. Sekali lagi perlu diingat bahwa radikal bebas adalah produk sisa alami dari proses oksidasi jadi otomatis tubuh kita punya cara yang juga alami untuk mengeliminasinya. Dalam dosis wajar, seperti yang terkandung dalam sayur dan buah, antioksidan mungkin menguntungkan namun konsumsi suplemen antioksidan dosis tinggi justru dapat merusak keseimbangan alamiah yang ada di tubuh kita. Para peneliti menyebut fenomena ini dengan nama "antioxidant paradox".

Mungkin sulit untuk meyakinkan masyarakat untuk tidak terjebak dalam pemasaran suplemen antioksidan dosis tinggi tapi setidaknya kita tetap perlu memberitahukan kebenaran pada mereka bahwa konsumsi sayur dan buah adalah hal yang baik, namun konsumsi suplemen antioksidan dan vitamin dosis tinggi tidaklah baik bagi kesehatan.

Jumat, 12 Februari 2016: Beatrice and Virgil Farm

Dalam beberapa hari terakhir saya agak kebingungan dalam memilih topik tulisan untuk diterbitkan di blog ini. Mau menulis tentang keseharian hidup di pulau terpencil, rasanya agak segan karena hidupku di sini sudah terlalu damai untuk diceritakan. Hal yang terlalu damai biasanya memiliki kisah yang dianggap khalayak ramai sebagai sesuatu yang membosankan. Apalagi jika kehidupan damai itu dijalani di sebuah tempat yang unfamiliar with common ear, out of nowhere, hampir tak pernah terdengar di manapun. Kadar anggapan membosankannya dapat meningkat hingga beberapa kali lipat. Jika dua judul buku berikut ini terhampar di sebuah meja, "Kehidupanku yang Damai di Pulau Ndao" dan "Kehidupanku yang Mencekam dan Sadis di Pulau Bali", sepertinya sudah jelas kan judul buku mana yang kemungkinan besar kisahnya akan dianggap lebih menarik?

Lagian akhir-akhir ini, jalan kehidupanku di sini terkesan terlalu bebas dan tanpa aturan. Tak ada aturan yang mengikat mengenai jadwal kerja, pakai kostum kerja suka-suka, mau pakai kaos oblong dan sendal jepit pun oke-oke saja, dan tak ada yang namanya atasan, saya jadi bos untuk diriku sendiri. Setiap hari kegiatanku hanyalah memeriksa pasien di Puskesmas atau melakukan kunjungan ke rumah pasien. Para pasien yang dikunjungi rumahnya memang memiliki kisah uniknya masing-masing, hanya saja, saya tidak punya kemampuan narasi yang terlalu baik dalam mendeskripsikan kisah-kisah mereka.

Dalam seminggu ini, ada 2 buku yang berhasil saya selesaikan. "Animal Farm" karya George Orwell dan "Beatrice and Virgil" karangan Yann Martel. Sebetulnya saya ingin menulis review tentang kedua buku tersebut tapi rasa-rasanya hal serupa sudah banyak tersedia di dunia maya. Malah mungkin apa yang orang lain pernah tulis tentang keduanya, jauh lebih komprehensif ketimbang apa yang saya review.

Sepertinya George Orwell sangat benci dengan pemerintahan totalitarian hingga dia harus menulis buku "Animal Farm" dan "1984" yang notabene memiliki tema serupa. Meskipun Animal Farm mengambil tokoh hewan sebagai karakter utama cerita seperti yang sering kita temukan pada cerita dongeng anak, kisah yang diangkat oleh buku ini saya rasa bukanlah untuk konsumsi anak-anak. Kekejaman, penindasan, penipuan, dan pengkhianatan tersaji di sepanjang cerita melalui para karakter hewan ternak yang terlihat jinak dan bersahabat. Lalu salah satu alasan lain mengapa Animal Farm tidak cocok buat anak, meskipun di judul utama bukunya terdapat frasa "A Fairy Story, adalah Orwell tak memberikan happy ending bagi tokoh protagonisnya yang baik hati seperti yang juga terjadi dalam novel 1984-nya. Boxer Si Kuda dan Winston Smith, para tokoh protagonis di novel Animal Farm dan 1984, berakhir dengan tragis. Keserakahan para babi di Animal Farm dan manipulasi Big Brother beserta kemenangan mereka atas para protagonis di masing-masing novel bukanlah contoh pendidikan yang baik bagi anak-anak. Kisah seperti ini dapat meninggalkan jejak-jejak kesuraman di hati anak-anak mereka. Entah mengapa Orwell memilih akhir seperti itu. Apa yang dilakukannya seolah menyiratkan bahwa keadilan tak ada di muka bumi ini. Itu hanyalah kata semu yang menjadi instrumen para penguasa untuk menjajah orang-orang lemah.

Hal serupa juga berlaku untuk novel "Beatrice and Virgil" karya Yann Martel yang terbit tahun 2010. Ini juga bukanlah buku yang cocok buat anak meskipun ada juga kisah hewan di novel tersebut. Setelah sebelumnya sukses dengan Life of Pi di tahun 2004, Yann Martel kembali menyajikan sebuah novel surealis. Jika di Life of Pi kisah surealisnya berlangsung di sebuah sekoci di tengah samudera, maka Beatrice and Virgil mengambil latar keseharian seorang penulis yang mengalami writer-block di sebuah kota di Jerman. Yann Martel berhasil menghidupkan suasana surealis dalam kehidupan Henry yang terobsesi pada holocaust ketika dia bertemu seorang taksidermis yang misterius. Seluruh dunia membenci Si Taksidermis, hanya Henry yang tidak merasa terganggu. Lalu entah suatu kebetulan atau hal yang disengaja, tapi kisah Beatrice and Virgil yang hidup di punggung sebuah baju piyama, mengingatkanku pada cerita One Piece di Pulau Zou yang merupakan punggung seekor mammoth yang berkelana di lautan. Mereka semua hidup di atas punggung. Ada apa sebenarnya dengan punggung? Mengapa mereka harus menjadi latar tempat? Lalu ada juga kisah tentang dua wanita yang menenggelamkan bayinya masing-masing yang diikuti oleh bunuh diri keduanya. Saat membacanya saya merasakan kehororan yang berbalut surealisme.

Yann Martel menguji batas-batas kemanusiaan dengan menjelaskan suatu penyiksaan secara mendetail hingga meninggalkan impresi dalam imajinasiku. Darah yang mengalir, luka yang menganga, pukulan dan tendangannya, terasa begitu nyata. Martel mempertanyakannya dasar-dasar etis penyiksaan itu tapi bukannya berusaha menolak ataupun menyalahkannya, dia justru terkesan menerima semua kekejaman dan kekejian tersebut sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan sejarah manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk membunuh dan menyiksa sesamanya, apakah hal tersebut menjadikan manusia setara dengan binatang? Dan bagaimana dengan para hewan seperti kedelai yang jarang terlihat membunuh sesamanya, apakah hal itu membuat mereka menjadi setara dengan manusia? Untuk pertanyaan-pertanyaan seperti itu, George Orwell memberikan jawaban yang begitu eksplisit di Animal Farm saat para babi mulai menjajah hewan lain dan mulai berjalan dengan menggunakan dua kaki saja. Orwell dengan jelas mengemukakan bahwa manusia hanyalah salah satu jenis binatang penghuni bumi, semua perilaku kebinatangan manusia yang dipraktekkan selama ini bukanlah hal yang mengejutkan. Kekejaman-kekejaman itu terus berulang dari masa ke masa karena seperti halnya binatang, manusia selalu berhasil membuat dirinya mengalami amnesia sejarah dan menemukan penebusan tanpa harus menderita penyesalan dan kesedihan. Pernahkah seekor harimau menangis setelah membunuh seekor sapi? Pernahkan umat manusia berhenti berperang setelah mengalami dua kali perang dunia.

Kamis, 11 Februari 2016

Rabu, 10 Februari 2015: Shoes

Put yourself in other's people shoes, itu yang diajarkan Game Final Fantasy IX padaku. Dan itu bukanlah suatu jenis ajaran yang mudah untuk dipraktekkan. Di kehidupan nyata, saya dan mungkin juga kebanyakan orang lainnya, lebih suka menghakimi ketimbang mencari tahu perspektif lain dari suatu permasalahan. Karena menghakimi, jump into conclusion, memang lebih mudah dilakukan. Siapapun bisa melakukannya. Bahkan anak yang belum TK pun bisa melakukannya saat merajuk. Tak perlu analisa dan pengetahuan yang mendalam, langsung mengatakan saja itu benar dan ini salah, itu jahat dan ini baik. Simpel. Terkadang kita lupa bahwa orang yang kita hakimi itu adalah manusia, yang setiap tingkah lakunya selalu didahului oleh motif, pemicu, dan faktor predisposisi. Jarang sekali kita mencari tahu tentang variabel-variabel ini ketika suatu permasalahan sedang terjadi. Kita lebih fokus untuk menghakimi siapa yang benar dan siapa yang harus dihukum karena itu memang lebih praktis untuk dilakukan. Seolah-olah hal tersebut dapat menyelesaikan dan memutus rantai masalah. Tapi sebenarnya penyelesaian masalah seperti itu bersifat ilusi. Menghakimi tanpa mencari tahu akar masalah takkan pernah bisa menjadi solusi final. Selalu akan tumbuh benih-benih masalah baru dari akar yang sama.

Seperti yang dapat kita lihat pada polemik LGBT. Bukannya bermaksud mendukung ataupun menolak LGBT, hanya saja apa yang terlihat saat ini adalah masing-masing pihak tidak berusaha untuk mempraktekkan "put yourself in other's shoes". Pihak yang menolak tetap berdiri memakai sepatu yang berwarna nilai-nilai agama untuk menolak LGBT, sedangkan pihak yang mendukung sudah jelas menggunakan sepatu kebebasan yang tak terlalu mempedulikan nilai keagamaan. Kedua sepatu itu sangat kontras warnanya, sepertinya sulit bagi masing-masing pihak untuk mencoba berada di sepatu yang lain. Mereka semua sudah terlanjur nyaman berada di sepatu yang lama. Sehingga nampaknya tak ada solusi untuk mengatasi polemik tersebut. Biarlah masing-masing pihak mengklaim kebenaran. Hanya saja saya berharap, polemik ini tak berujung pada pertumpahan darah. Karena sudah menjadi kebiasaan manusia, jika suatu perkara tidak bisa diatasi dengan cara elegan, kekerasan selalu menjadi jalan alternatif atau bahkan jalan utamanya.

Penerapan frasa "put yourself in other's people shoes" pernah dilakukan oleh Ideo. Mereka diminta oleh suatu rumah sakit untuk mencari tahu pengalaman pasien yang dirawat di sana. Dengan data itu, mereka ingin meningkatkan kepuasan pasien selama perawatan. Paul Bennet, kepala tim Ideo, lalu mempresentasikan video berdurasi 5 menit yang menunjukkan langit-langit ruang perawatan. Awalnya para manajer rumah sakit kebingungan, mengapa mereka harus bayar mahal-mahal konsultan hanya untuk melihat video langit-langit ruang perawatan? Tapi kemudian mereka mengerti, inti dari video itu adalah ketika seseorang menjadi pasien di rumah sakit, hal yang dapat dipandanginya sepanjang hari adalah langit-langit.

Para manajer itu pun menyadari bahwa untuk meningkatkan kepuasan pasien, mereka tidak perlu membuat perubahan besar-besaran dalam sistem. Cukup mengubah hal kecil saja yang berkaitan erat dengan keseharian pasien. Mereka pun mendekorasi ulang langit-langit agar terlihat lebih menarik dan menyediakan papan tulis putih yang dapat ditulisi para pengunjung yang ingin memberikan kata-kata semangat pada pasien di dinding ruang perawatan. Dan tindakan-tindakan kecil ini ternyata dapat meningkatkan kepuasan pasien di rumah sakit.

Rabu, 10 Februari 2016

Rabu, 10 Februari 2016: Sense of Duty

Lakukanlah sesuatu atas dasar cinta, bukan karena panggilan tugas. Klisenya, itu pendapatku dulu. Tapi kini frasa itu mulai terdengar masuk akal. Rasanya melakukan suatu tindakan karena panggilan tugas hanya menyuntikkan sedikit energi jika dibandingkan dengan tindakan yang didasarkan atas nama cinta. Saya pernah jatuh cinta pada semua kegiatan harianku sampai saya sempat berpikir, saya tak perlu menikah lagi dengan manusia. Tapi seperti kisah cinta lainnya, kadar dopamine dan norepinephrine dalam tubuhku akhirnya menurun lalu rasa cinta itu tak lagi sama. Hambar.

Kini semua kegiatan yang kulakukan, fondasinya adalah panggilan tugas. Rasanya betul-betul berbeda. Lonjakan energi di pembuluh darahku tak lagi seekstrim dulu, tidak bisa lagi 100%. Kerajinanku pun berkurang. Memang sih, semua masih dalam koridor kewajaran. Semua tugas tetap terlaksana sebagaimana biasanya, tak ada huru-hara. Hanya saja, tidak asyik. Tak ada pemantik dan bensin yang bisa menghidupkan inovasi dalam bekerja. Pada akhirnya, hidupku terjebak dalam monotoni yang membosankan. Ingin rasanya menghidupkan lagi cinta pada pekerjaan, tapi hal seperti itu tak dapat dipaksakan ataupun dibuat-buat. Entah kenapa, sulit untuk memanipulasi rasa cinta.

Selasa, 09 Februari 2016

Senin, 8 Februari 2016: Colonists

Terkadang saya merasa sedikit depresi ketika membaca berita tentang Elon Musk yang ingin mengubah dunia ini menjadi lebih baik dengan mendirikan SolarCity yang menyediakan sumber energi tenaga surya, Tesla yang memproduksi mobil listrik, dan SpaceX yang membawa manusia ke luar angkasa. Jika SolarCity dan Tesla berhasil menginvasi seluruh dunia, maka mungkin umat manusia akan segera mengakhiri Era Bahan Bakar Fosil? Apa yang terjadi jika Era Bahan Bakar Fosil berakhir? Saya tidak tahu pasti, tapi mungkin ketika itu berakhir, emisi karbon dioksida dapat berkurang dan perubahan iklim dapat diperlambat. Memangnya ada apa dengan emisi karbon dioksida dan perubahan iklim? Apakah kedua hal tersebut begitu buruk bagi umat manusia?

Majalah National Geographic Indonesia Edisi November 2015 menjelaskan dampak perubahan iklim bagi kemanusiaan dan penjelasan tersebut tidaklah terdengar begitu baik bagi anak cucuku di masa depan, saya memang belum punya anak saat ini, tapi anggap saja saya akan memilikinya suatu saat nanti. Pelelehan es di kutub utara yang dapat menenggelamkan banyak daratan, kelaparan akibat rusaknya berbagai jenis tanaman dan ternak yang tidak dapat beradaptasi dengan perubahan iklim, serta munculnya berbagai jenis badai dan gelombang panas yang merenggut banyak korban bukanlah jenis masa depan yang ramah bagi manusia. National Geographic berkesimpulan, kita sedang berada di ambang kepunahan. Kesimpulan itu juga telah dicapai oleh hampir semua negara di dunia. Masalahnya, banyak manusia yang belum percaya dan tidak peduli pada hal tersebut. Dari hasil survei diketahui bahwa 25% penduduk Amerika Serikat tidak percaya pada isu perubahan iklim. Dan itu angka yang cukup besar untuk negara seperti Amerika Serikat. Memang sih, banyak kontroversi mengenai perubahan iklim. Sejumlah ahli masih skeptis dan menganggap pemanasan global ini bersifat sementara, bumi akan kembali mendingin dengan sendirinya. Hanya saja, hasil penelitian pada kadar karbon di bebatuan es kutub menunjukkan hasil yang memperkuat bukti bahwa perubahan iklim yang terpicu oleh peningkatan emisi karbon memang benar adanya. Dulu sebelum terjadi revolusi industri, kadar karbon di bumi memang selalu stabil, tidak pernah lebih dari 300 part per million (ppm), namun kini ceritanya berbeda, kadar karbon di alam sudah mencapai 400 ppm dan angka ini nampaknya akan terus meningkat. Data ini diperkuat oleh observasi yang dimulai oleh Charles Keeling pada tahun 1958 di Mauna Loa, yang mana observasi ini masih terus dilanjutkan hingga sekarang, yang menunjukkan bahwa kadar karbon dioksida selama 50 tahun terakhir terus mengalami peningkatan.

Data-data ini memang membangunkan pemimpin dunia dari tidur lelap yang panjang, namun itu tidak cukup untuk membuat mereka bergerak untuk melakukan sesuatu. Pemerintah masih sulit lepas dari bahan bakar fosil karena itu merupakan sumber pemasukan utama bagi mereka. Bagaimana mungkin mereka menghentikan produksi bahan bakar fosil yang notabene merupakan sumber uang mereka dengan beralih ke sumber daya terbarukan? Satu-satunya negara yang nampaknya sudah bergerak cukup jauh adalah Jerman. Angela Merkel baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan segera menutup semua reaktor nuklir mereka dan berencana akan mendirikan lebih banyak pembangkit listrik tenaga surya dan angin. Enviromentalis berharap agar tindakan itu bisa lebih jauh dengan ikut menutup semua pembangkit listrik tenaga batu bara. Dan ini masalahnya, Jerman adalah salah satu penghasil lignite terbesar di dunia sedangkan lignite merupakan batu bara muda yang apabila dibakar akan menghasilkan lebih banyak emisi. Melarang produksi lignite berarti mematikan banyak industri di sana. Pada akhirnya, pemerintah Jerman juga berada dalam dilema.

Makanya mengharapkan pemerintah untuk menghentikan perubahan iklim dunia adalah hal yang nyaris mustahil. Nah, di titik inilah Elon Musk membuatku depresi. Dia membuktikan bahwa tak perlu menjadi Presiden untuk bisa membuat dunia ini menjadi lebih baik. Saya juga ingin melakukan hal sama sepertinya. Berhenti menggunakan solar dan bensin untuk kendaraan lalu beralih menggunakan kendaraan bertenaga listrik, menyalakan listrik dengan menggunakan tenaga surya, dan mengurangi penggunaan alat-alat dari plastik. Hanya saja belum ada alternatif untuk menggantikan semua barang produksi Era Bahan Bakar Fosil di sini. Itu membuatku merasa powerless, betul-betul tak berdaya. Elon Musk memberikan harapan untuk masa depan manusia, hanya saja harapan itu nampaknya membutuhkan banyak biaya. Seandainya nanti bumi tak dapat lagi dihuni, maka Elon Musk ingin kita bisa mendirikan koloni di Mars. Untuk itulah SpaceX didirikan. Setelah tiga kali meledak di angkasa, SpaceX kini menjadi provider NASA untuk membawa manusia ke luar angkasa. Jika proyek kolonisasi Mars berhasil, maka mungkin film 2001: Space Odyssey akan menjadi kenyataan. Tapi sekali lagi, mungkin tidak semua orang akan bisa ke Mars. Uang akan menjadi faktor penentunya. Apakah saya bisa menjadi bagian dari perubahan tersebut tanpa harus melibatkan urusan finansial? Mungkin itu pertanyaan yang jawabannya sudah jelas tapi saya biarkan saja menggantung, siapa tahu saja di suatu saat nanti saya menguasai ilmu rekonfigurasi genetika, yang juga merupakan salah satu bidang yang diminati oleh Musk. Mengapa dia tertarik pada bidang itu? Ini erat kaitannya dengan perjalanan ke luar angkasa. Butuh waktu lama untuk mencapai Mars, kita mungkin akan lebih dahulu menua sebelum berhasil membuat koloni di sana. Dengan rekonfigurasi genetika, mungkin kita dapat menghentikan penuaan dan membuat tubuh kita menjadi lebih beradaptasi pada lingkungan yang tanpa gravitasi. Terdengar fantastik. Hanya saja, rekonfigurasi genetika terbentur oleh masalah etika yang biasa disebut dengan Hitler Problem. Dulu Hitler bercita-cita membuat ras yang lebih superior lalu membasmi ras lain yang dianggap lemah. Jika disalahgunakan, rekonfigurasi genetika dapat menciptakan tragedi Nazi yang baru. Entahlah.

Minggu, 07 Februari 2016

Minggu, 7 Februari 2016: Sense and Sensibility

Kemarin setelah memposting artikel Sense and Ignoramus, tiba-tiba ada yang bertanya, mengapa memilih judul artikel seperti itu?

Sebetulnya judul awal artikel tersebut adalah Sense and Sensibility, sekalian untuk mengenang Alan Rickman yang baru saja wafat. Siapa Alan Rickman? Para penggemar film Harry Potter pasti kenal sosok ini jika mereka bersemangat melihat gulungan kredit di akhir film. Dia adalah sosok yang berperan sebagai Severus Snape di 8 film berseri tentang penyihir yang punya tanda petir di jidatnya. Sebelum main film Harry Potter yang bertahun-tahun tayangnya, dia sudah ambil bagian pada beberapa film yang cukup terkenal di masa lalu, seperti Die Hard dan Sense and Sensibility.

Die Hard adalah film layar lebarnya yang pertama. Dia mendapatkan peran sebagai tokoh antagonis ketika usianya sudah 41 tahun. Oleh karena itu dia cukup layak untuk dimasukkan dalam kategori tua-tua keladi. Die Hard sangat sukses saat itu, sampai dibuatkan beberapa sekuel. Dan kesuksesan itu tidak lepas dari aktingnya yang ciamik sebagai penjahat yang ingin meledakkan Bruce Willis. Rasanya greget kalau lihat aktingnya yang jahat di film itu.

Tapi dibanding dengan dua film box office di atas, Sense and Sensibility adalah film terbaik Alan Rickman, yang menjadi inspirasi awal judul artikel kemarin. Memang sih dia cuma jadi Supporting Actor di film yang diadaptasi dari novel Jane Austen ini. Tapi aktingnya yang handal seolah menutupi pemeran utama di film itu, Hugh Grant. Bahkan Kate Winslet pun tidak dapat menjadi mengimbangi akting Alan di film yang diarahkan oleh Ang Lee tersebut. Hanya Emma Thompson yang sepertinya punya satu resonansi dengan Rickman di film itu. Wajar saja sih, karena Emma lah yang menulis screenplay untuk film itu, dan dia bahkan meraih Oscar karena hal tersebut. Sayang sekali, Alan Rickman tidak dapat Oscar untuk film itu. Bahkan masuk nominasi saja dia tak bisa, pada akhirnya Oscar tahun itu dibawa pulang Kevin Spacey yang menjadi pemeran pembantu di film The Usual Suspect, salah satu film yang menurutku juga cukup fenomenal karena plotnya yang tak terduga. Seperti halnya Alan, akting Spacey di film tersebut juga menjadi semacam gerhana yang menutupi cahaya pemeran utama di film itu. Kadang-kadang nominasi Oscar memang membingungkan. Sampai akhir hayatnya, Rickman tidak pernah masuk nominasi Oscar.

Sepertinya Alan Rickman memang cocok berperan menjadi tokoh jahat dan sinis. Selain menjadi Hans Gruber yang jahat di Die Hard, dia juga pernah menjadi Sheriff of Nottingham yang merupakan lawan Robin Hood serta pernah juga menjadi Rasputin dan pengisi suara Marvin Si Robot Paranoid di film Hitchhiker's Guide To The Galaxy.

Sayangnya, kita tidak bisa lagi melihat akting Rickman. Kanker pankreas telah mengalahkannnya.

Sabtu, 06 Februari 2016

Jumat, 5 Februari 2016: Sense and Ignoramus

Apakah saat terlahir pria langsung menggunakan celana sedangkan wanita memakai rok? Saya berharap hal itu bisa terjadi karena dengan begitu, kita dapat menghemat banyak uang dari sektor pembelian pakaian bayi. Sayangnya, semua bayi, entah itu pria atau wanita, terlahir dalam kondisi telanjang, tak berbusana. Faktor ini yang membuat bisnis pakaian bayi memiliki prospek yang cukup cerah karena setiap hari ada bayi yang lahir, dan mereka semua butuh pakaian. Seandainya saja di masa depan ada aturan yang mewajibkan sterilisasi pada semua pria dan wanita seperti yang ada di cerita pendek Kurt Vonnegut, BR02B, maka bisnis pakaian bayi pasti akan terkena imbas paling besar. Untungnya, kebijakan gila itu belum akan terealisasi, setidaknya dalam waktu dekat ini, tapi entahlah kalau nanti jumlah penduduk sudah tak mampu lagi ditampung bumi. Karena kebijakan politis itu ibarat ombak di lautan, kita yang berada di daratan hanya bisa melihatnya maju dan mundur, disepakati atau ditolak. The true pattern of the wave is a mysteri. We almost couldn't see when it changed it's behavior. Pola sejati dari gelombang adalah sebuah misteri. Kita hampir tak dapat melihat kapan gelombang mengubah perilakunya. Hanya mereka yang mendalami metereologi dan oseanografi yang dapat melihat perilaku gelombang dengan lebih seksama, seperti halnya politisi pada politik. Kita yang awam hanya bisa melongo ketika sebuah kebijakan politik tiba-tiba saja berubah.

Bayi-bayi yang terlahir di dunia ini semuanya tak ber-gender. Masyarakat lah yang membuat mereka berjenis kelamin. Masyarakatlah yang membuat semua bayi yang berbatang di bawah perutnya harus memakai celana sedangkan bayi yang berlubang di bawah perutnya harus memakai rok. Meskipun beberapa kebudayaan mungkin tidak mengenal celana dan rok, setidaknya semua kebudayaan memiliki kostum simbolis untuk membedakan gender. Entah disadari atau tidak, pembedaan gender sebenarnya sebuah proses politik. Masyarakat memberikan label dan stereotipe, mengkategorikan, lalu memposisikan tiap kategori tersebut dalam sejumlah peran politis. Yang berjenis kelamin wanita harus bisa memasak, menjahit, menjaga anak, dan jangan banyak urusan sedangkan yang berjenis kelamin pria harus bisa mencari kerja dan menjadi pemimpin bagi wanita. Selama berabad-abad stereotipe itu terus melekat hingga akhirnya gerakan feminisme menyerang. Para wanita tidak mau lagi terkekang oleh rok dan urusan rumah tangga. Mereka ingin bebas dan mendapatkan kesempatan yang setara dengan pria. Tapi jalan itu masih panjang. Sulit untuk mengubah stereotipe yang terlanjur mengakar dalam sanubari tiap insan manusia di dunia ini.

Tengok saja Amerika Serikat yang katanya merupakan tanah kebebasan. Di sana, wanita belum sepenuhnya mendapat kesetaraan. Sampai Jennifer Law yang merupakan aktris peraih Oscar saja pernah mengeluhkan kalau bayarannya sebagai aktris masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan bayaran aktor yang jadi tandemnya di film. Lalu coba juga perhatikan dialog film kartun bertema Princess buatan Disney. Ambil contoh film Snow White atau The Little Mermaid. Di kedua film tersebut dialog karakter wanita jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan dialog karakter pria. Malah di film Mulan yang karakter utamanya adalah wanita, tetap saja dialog untuk wanita masih kalah dibanding pria. Itu baru dari aspek dialog, belum lagi jika kita meniliknya dari aspek rasio jumlah pemerannya berdasarkan jenis kelamin. Dari film kartun saja kita sudah dapat melihat betapa besarnya dominasi pria atas wanita. Yang parah dari film Disney bertema princess di masa lalu adalah para karakter ceweknya tidak punya banyak hobi. Lihat saja Snow White, yang dia lakukan hanya makan apel beracun lalu tertidur menunggu pangeran datang. Mengapa dia tidak menjadi manajer pertambangan para kurcaci atau setidaknya belajar tentang metalurgi?

Jumat, 05 Februari 2016

Minggu, 31 Januari 2016: From Chin to Bee

Bagaimana bisa evolusi menghantarkan kita sebagai satu-satunya mahluk hidup yang memiliki dagu? Entahlah. Itu pertanyaan yang sama anehnya dengan keingintahuan yang senantiasa menggelayutiku ketika sedang menyikat gigi, mengapa saya harus mual ketika ritual itu dilakukan di pagi hari? Konspirasi gaya mekanik, buih kalsium-fluoride, mekanoreseptor, dan kemoreseptor tidak cukup untuk mematikan pusat tanya di otakku. Mengapa mereka harus menciptakan sensasi mual yang tidak menyenangkan seperti itu? Evolusionis mungkin akan berkata, tanya seperti itu tak perlu diajukan karena mual adalah murni mekanisme pertahanan diri agar semua cairan produk sikat gigi yang terakumulasi di rongga mulut tak masuk ke saluran napas, sama seperti halnya dengan mekanisme pertahanan lebah pekerja yang menyengat untuk mengusir manusia pengganggu dari sarang lebah. Semua orang juga tahu apa yang terjadi ketika cairan masuk ke saluran napas tanpa bisa dikeluarkan dengan cepat, ICU atau kematian menunggu di ujung jalan. Kita juga dapat menerka apa yang menanti saat lebah pekerja gagal menjalankan misi dan manusia mencapai sarang lebah, kita bisa berpesta madu setelahnya. Terkadang atau malah seringkali, mekanisme pertahanan primordial rancangan alam tidak cukup untuk mencegah invasi benda asing. Burung Dodo dan berbagai jenis nuri yang telah punah adalah contoh produk evolusi yang kini raib. Mereka tak pernah bisa mengantisipasi kehadiran manusia.

Jika punya waktu memperhatikan dengan seksama keanekaragaman hayati yang ada di sekitar, kita dapat melihat bahwa mahluk hidup yang jumlahnya tidak berkurang dari zaman dulu hingga sekarang hanyalah manusia dan mahluk hidup yang dianggap berguna bagi manusia, seperti ayam, padi, jagung, sapi, domba, kambing, babi, kucing, dan anjing. Mahluk liar yang dianggap tidak bermanfaat atau terlalu sulit dikendalikan biasanya akan punah dengan sendirinya, Harimau Jawa dan Harimau Bali sudah merasakan sendiri akibat buruk ketidakpatuhan mereka pada manusia

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut