Sabtu, 30 April 2016

The Metamorphosis

Entah apa yang ada di dalam pikiran Kafka ketika menulis novelet The Metamorphosis. Sejak awal membacanya, saya sudah bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Gregor Samsa, mengapa dia jadi begitu, mengapa tidak ada dokter atau polisi yang terlihat dalam cerita, mengapa akhir ceritanya seperti ini? Semua terlihat tidak masuk akal hingga membuatku sakit kepala. Tapi kemudian, saya berhenti bertanya dan membiarkan otakku mengikuti setiap alur, kalimat, detail, dan perasaan yang diungkapkan oleh Kafka lewat sosok Gregor Samsa tanpa pretensi apapun. Dan pada akhirnya saya bisa menikmati buku ini.

Gregor Samsa dalam kisah The Metamorphosis adalah tokoh protagonis yang malang. Kesialan menimpa dirinya sejak awal cerita hingga akhir. Dan lebih sialnya lagi, Kafka tidak memberikan jalan keluar pada Samsa untuk mengakhiri kesialan tersebut. Sungguh pencipta yang kurang ajar, bisa-bisanya dia menciptakan sebuah kisah dan situasi di mana tokoh utamanya tak bisa merasakan kebahagiaan sama sekali. Yang luar biasanya adalah Gregor Samsa sama sekali tidak pernah mengeluhkan kondisi sialnya ini pada Sang Pencipta. Dia tidak bertanya ataupun mencaci siapapun yang dianggap bertanggungjawab atas kesialannya. Semua dia jalani begitu saja seolah-olah tak ada satupun masalah yang perlu untuk dipertanyakan. Dan yang paling bikin greget adalah sikap keluarga Gregor Samsa yang sungguh mengerikan.

Tapi saya bisa mengerti dengan sikap mengerikan yang ditujukan oleh keluarga Samsa. Siapapun orangnya, mungkin akan bersikap mengerikan juga jika tanpa ada angin atau badai, tiba-tiba saja salah satu anggota keluarganya terbangun di pagi hari ke dalam wujud mahluk yang menjijikkan.

The Metamorphosis adalah novelet karya Kafka yang menceritakan tentang seorang sales asuransi yang tiba-tiba saja berubah menjadi mahluk menjijikkan. Saya tidak ingin menjelaskan spoiler lebih lanjut di sini. Intinya kalau membaca karya Kafka, hanya dua hal yang patut dicamkan, pertama, jangan pernah tanyakan hubungan sebab-akibat. Kedua, jangan pernah mengharapkan happy ending pada tokoh utamanya. Dulu, di tahun 1930-an, gaya bercerita seperti yang ditunjukkan oleh Kafka masih asing bagi khalayak ramai. Saking asingnya, orang-orang sampai harus membuat istilah Kafkaesque untuk menyebutnya.

Jumat, 22 April 2016

Open Water

Sekitar 8 bulan yang lalu, seorang ekspatriat asal Selandia Baru berkunjung ke pulau ini. Dia hanya membawa sebuah tas dan sepeda. Usianya sekitar 50-an tahun, berperawakan tinggi, dan sangat energetik untuk orang seusianya. Saya bertemu dengannya di ruang tunggu pantai ketika dia sedang beristirahat sedangkan saya sedang mencari sinyal. Saya tidak ingat persis apa yang terjadi saat itu, tapi tiba-tiba saja kami terlibat dalam sebuah percakapan yang menggunakan bahasa Inggris terpatah-patah dariku dan bahasa Indonesia yang aneh darinya. Dari percakapan itu saya tahu jika dia adalah seorang pengacara yang berencana untuk pensiun dan menghabiskan masa tuanya dengan membuka usaha di Dela, sebuah tempat wisata yang ramai dikunjungi wisatawan asing untuk berselancar. Saat saya menggunakan bahasa Inggris, dia menjawabnya dengan bahasa Indonesia. Menurut pengakuannya, dia sengaja melakukannya agar bisa lebih lancar berbicara dengan bahasa pribumi. Soalnya dia mau menetap lama di Indonesia, jadi menguasai bahasa negara yang berpenduduk 200 juta jiwa adalah hal yang wajib.

Setelah berbincang lama, dia menanyakan alamat rumah seorang penduduk yang katanya sudah dia berikan uang untuk memberikannya jamuan makan siang. Kebetulan saya tahu rumah orang itu, maka saya pun mengantarnya. Di tengah jalan, dia tiba-tiba saja mau memberikan uang untuk saya karena telah bersedia membantunya. Saya langsung menolaknya, tapi mungkin itu keputusan yang salah ya? 😁😁😁

Singkat cerita, keesokan harinya saya bertemu lagi dengannya di pantai saat dia berencana kembali ke Dela. Kami pun berbincang kembali. Kali ini dia menggunakan bahasa Inggris secara penuh. Mungkin dia sudah lelah menggunakan bahasa Indonesia. Dari percakapan ini saya tahu kalau namanya adalah Mr. John dan dia iri dengan kehidupan orang di pulau ini. Menurutnya, orang di Ndao meskipun penghasilannya jauh dari cukup, mereka masih punya banyak waktu luang dan bersantai di pantai. Di Selandia Baru, sulit untuk menemukan kehidupan yang santai dan tenang seperti di Ndao. Di sana dia harus sudah ke tempat kerja di pagi hari lalu pulang menjelang malam hari, belum lagi dengan banyaknya tekanan di tempat kerja. Meskipun memiliki lebih banyak uang jika dibandingkan dengan saya, dia tak pernah punya waktu luang untuk menikmatinya. Makanya saat cuti ke Indonesia, dia selalu merasakan kedamaian karena bisa terbebas dari rutinitas yang mengekangnya jauh dari waktu luang. 

Sebelum berpisah, dia sempat berkata bahwa jika punya kesempatan hidup lebih lama di pulau ini, dia ingin menikmati hari-harinya dengan bersepeda keliling pulau lalu berenang dari pantai Barat ke pantai Timur pulau ini.

Setelah saya pikir-pikir, ide Mr. John untuk berenang dari pantai Barat ke pantai Timur Ndao ternyata lumayan menantang. Dan saya memutuskan untuk mencobanya. Tapi sebelumnya saya harus belajar berenang dulu.

Kamis, 21 April 2016

Manpower 2

Beberapa hari lalu saya sempat menerbitkan tulisan tentang rencana kunjungan kerja Menkes ke NTT yang dijadwalkan berlangsung di minggu ini. Seharusnya postingan itu bisa lebih cepat terbit, namun pengelola blog Skydrugz cabang Makassar sedang sibuk dengan skripsinya sehingga dia terlambat memposting tulisan Manpower. Jadi rencana kunjungan kerja Menkes tersebut mengalami banyak perubahan. Pihak Dinkes Kabupaten memberitahukan perubahan tersebut secara mendadak, 2 hari sebelum hari H. Dari yang awalnya undangan untuk semua Tim NS NTT, tiba-tiba saja berubah hanya menjadi 5 Tim NS saja yang berasal dari Pulau Timor. Pemilihan 5 Tim NS dari satu pulau di NTT saja sebenarnya sudah mencederai prinsip representasional karena idealnya, perwakilan semestinya berasal juga dari pulau-pulau lain di luar Pulau Timor. Jika agenda Menkes adalah untuk mendengarkan aspirasi Tim NS di NTT, maka agenda ini sudah pasti sulit tercapai karena sejak awal prinsip representatif sudah tidak terpenuhi. Masalah yang dihadapi oleh Tim NS di Pulau Timor pasti tak sama dengan yang dihadapi oleh Tim NS yang berada di Pulau Sabu, Pulau Alor, ataupun Pulau Rote.

Tapi saya bisa mengerti mengapa perubahan mendadak seperti ini bisa terjadi, prinsip efisiensi dana adalah alasan utamanya. Untuk mengakomodir semua Tim NS di NTT selama pertemuan dengan Menkes, pasti membutuhkan banyak dana, entah itu untuk transportasi, makan-minum, dan penginapan. Untuk bisa menyiasati itu, maka pihak Kemenkes mengambil keputusan penghematan dengan mengorbankan prinsip representasi.

Menurut pandangan pribadiku, itu adalah pilihan yang logis dan praktis. Dan saya sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Saya justru merasa bersyukur dengan adanya keputusan itu karena saya tidak perlu lagi terjebak dalam dilema antara meninggalkan pulau ini atau menemui menkes. Lagipula saya merasa belum ada indikasi mendesak dalam penugasan yang mengharuskanku untuk bertemu dengan Menkes saat ini. Walaupun obat-obatan kadang sering habis dan gedung Puskesmas di pulau ini jauh dari kata layak, toh saya rasa curhat pada Menkes mengenai hal tersebut tidak serta merta akan mengatasi masalah karena persoalan kehabisan obat adalah kondisi kronik yang telah terjadi di semua Puskesmas Kabupaten Rote sejak adanya sistem tender obat lewat e-catalogue, makanya saya tidak kaget waktu Dinkes mengatakan bahwa Tablet Sulfas Ferosus atau Tablet tambah darah yang semestinya wajib diberikan pada semua ibu hamil muda selama 90 hari habis stoknya di gudang obat kabupaten. Kalau dulu waktu pertama kali datang, mungkin saya akan kaget mendengarnya lalu berkomentar, "kok bisa, ya?", tapi setelah hampir setahun di sini, saya lelah untuk kaget dan mulai menganggapnya hal yang biasa. Paling banter kalau memang para bumil bersedia, saya suruh saja para bumil itu untuk beli tablet tambah darah di mana pun mereka bisa mendapatkannya, apapun mereknya, yang penting ada zat besi di dalamnya. Kalaupun tak mau beli, saya tak mau memaksa. 

Sedangkan masalah gedung Puskesmas yang tidak layak sepertinya terlalu ribet untuk diselesaikan secara instan karena ada banyak proses birokrasi yang harus dilewati. Apalagi beberapa tahun yang lalu sempat ada kasus korupsi yang menjerat banyak orang ketika proses renovasi Puskesmas di pulau ini berlangsung. Sepertinya Dinkes Kabupaten agak ragu untuk membahas pembangunan gedung Puskesmas baru. Intinya adalah bertemu Menkes bukanlah prioritas utama. Yang menjadi prioritas menurutku adalah tetap berada di Pulau terpencil di Samudera Hindia ini untuk memberikan pelayanan pada masyarakat secara optimal sesuai dengan kemampuan.

Tapi teman-teman sekelompokku berpikiran lain. Mereka ngotot sekali mau ketemu Menkes. Biarpun tidak diberi akomodasi dan transportasi, mereka tetap mau bertemu Menkes. Saya bisa mengerti keinginan mereka. Bagi mereka, Menkes itu ibarat Justin Bieber bagi para Beliebers. Sehingga kemanapun Menkes pergi, mereka harus ada di situ. Jadi saya tak ingin memaksakan perspektifku pada mereka. Mau ketemu Menkes silahkan pergi, mau tinggal di Puskesmas juga silahkan. Ini negara demokrasi. Tadi pagi mereka semua sudah berangkat dan saya sendiri di Puskesmas bersama tiga staf Puskesmas. Untungnya pasien yang bulan lalu sakitnya berjamaah hingga 80 orang per hari telah sembuh semua hingga kunjungan hari ini dapat berkurang drastis.

Sayangnya hari ini saya harus menyaksikan lagi kematian. Tadi pagi ada keluarga pasien datang menemuiku saat saya hendak berenang di laut. Kata keluarganya, pasien mengeluh sesak di rumahnya. Setelah singgah sebentar di Puskesmas untuk mengambil tensimeter dan obat-obatan, saya dan keluarga Si Pasien langsung menuju rumah pasien. Namun saat sampai di sana, saya melihat pasien sudah tidak sadarkan diri. Setelah mengecek nadi, pernapasan, dan refleks, saya tak lagi menemukan tanda-tanda kehidupan. Sepertinya semua sudah terlambat. Pasien yang meninggal ini hidup bersama keponakannya. Anak ada tiga namun tak ada yang berada di kampung halaman di saat-saat terakhirnya. Selama beberapa bulan terakhir, Si Pasien ini sudah sering meminta agar anak-anaknya mau mengunjunginya di pulau terpencil ini. Namun anak-anaknya mungkin punya kesibukan hingga tak pernah bisa datang berkunjung. Mungkin kali ini mereka sudah punya kesempatan untuk berkunjung.

Rabu, 20 April 2016

Manpower

Hari minggu yang lalu saya mendapat info dari Kepala Dinas Kesehatan bahwa Menteri Kesehatan akan berkunjung ke Kupang pada minggu ini dan semua Tim Nusantara Sehat diminta untuk hadir ke Kupang. Surat tugas diambil di Kabupaten pada tanggal 20. Semua anggota Tim NS penempatan Nusa Tenggara Timur sangat antusias dengan kabar ini, kecuali saya. Entah kenapa saya tidak berminat untuk ke Kupang dan menemui Menkes di sana. Menurut prediksiku, acara tersebut mungkin hanya bersifat protokoler dan seremonial sedangkan Tim NS hanya akan menjadi bagian dekoratif untuk memeriahkan acara saja.

Lagipula saya merasa berat untuk meninggalkan tempat tugasku saat ini berhubung petugas yang ada di Puskesmas sangat terbatas. Enam pegawai kontrak sedang ada di Kabupaten untuk memperbarui kontrak entah kapan datangnya, lalu tiga PNS sedang menjalani prajabatan di Kupang, bendahara JKN dan bendahara BOK juga sedang mengurus dana di Kabupaten entah sampai kapan, sehingga praktis yang tersisa di Puskesmas saat ini hanyalah Kepala Puskesmas, Tim NS yang berjumlah 8 orang, seorang bidan senior, dan satu staf administrasi. Jika semua Tim NS berangkat, maka sisa 3 orang saja yang menghuni Puskesmas untuk melayani pasien.

Jika mau tak peduli, saya bisa saja langsung berangkat dengan alasan, "ada tugas luar dari Dinkes untuk bertemu Menkes" tapi terus terang, saya merasa tidak tega jika harus meninggalkan Puskesmas dalam kondisi kekurangan sumbet daya manusia. Saya teringat dengan keadaan Puskesmas bulan lalu saat liburan Paskah, saya dan seorang perawat harus menghadapi serangan pasien yang berjumlah 20 hingga 80 orang tiap hari dengan jam kedatangan yang tak mengenal kata siang dan malam, mereka mengalir seperti air bah di musim hujan. Saya tak mungkin menolak atau mengusir pasien-pasien itu berhubung saya berada di pulau kecil ini, di tengah-tengah Samudera Hindia, karena negara, lewat Menkes, telah memandatkan kepada saya tugas memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat di daerah perbatasan. Sehingga dalam kondisi kekurangan tenaga di Puskesmas seperti ini, jika harus memilih antara menemui Menkes, yang telah menandatangi surat penempatanku di sini, atau tetap di tempat tugas untuk melayani pasien di sini, saya lebih memilih untuk tetap di tempat tugas. Saya mungkin bisa berubah pikiran jika petugas Puskesmas yang lain sudah datang untuk menjadi back up selama Tim NS tidak ada berada di tempat tugas.

Inilah kendala sulitnya Puskesmas ini untuk maju. Sumber daya manusia dan fasilitasnya sangat terbatas. Meskipun nantinya ada fasilitas yang lengkap di Puskesmas tapi jika tak ada manusia yang mengoperasikannya, itu sama saja dengan bohong. Tanpa tim NS, Puskesmas ini lumpuh. Entah apa jadinya Puskesmas ini jika nanti Tim NS sudah ditarik. Masalah utamanya, tidak banyak putra dan putri daerah yang mau bertugas di pulau kecil ini. Sudah ada banyak orang daerah yang mencoba bertugas dan hidup di pulai ini, tapi kebanyakan tidak betah dan langsung kabur. Malah yang betah justru orang luar, seperti Kepala Puskesmas yang berasal dari Manggarai, bidan senior yang berasal dari Timor, dan seorang staf administrasi yang berasal dari Lembata. Putra dan putri daerah mungkin menganggap tak ada yang menarik dari pulau ini. Padahal pulau ini sangat tenang, pasir pantainya indah, dan lautnya sejuk untuk berenang. Sayangnya, putra dan putri daerah tidak tertarik dengan hal tersebut. Mereka lebih suka mencari tantangan di kota besar.

Sabtu, 16 April 2016

Eksperimen 2

Saat melihat postingan orang yang tidak sesuai dengan pandangan hidupku di timeline Twitter atau LINE, selalu saja ada rasa gatal di otak dan jemari untuk mengetik komentar yang membantah hal tersebut dengan cara yang paling sarkas, satir, atau ironis namun samar agar tidak terkesan menyinggung. Namun rasanya sulit untuk melakukan hal tersebut sehingga lebih sering saya mendiamkan saja dan move on dengan hidupku. Saya merasa perdebatan atau perbantahan pendapat lewat dunia maya entah itu lewat cuitan Twitter atau status Facebook hanya bermuara pada dua jalur, yakni habisnya kuota dan kebahagiaan para follower dalam menghakimi. Mungkin dampak dari perdebatan itu adalah saya akan terkenal entah itu terkenal karena pandai berargumentasi atau justru tolol dan bigot dalam mempertahankan pendapat. Lalu efek samping lainnya bisa saja follower bertambah, tiba-tiba ada orderan untuk tampil di talkshow atau malah dipenjara karena tuduhan hate speech.

Pengalaman selama 9 tahun di sosial media telah mengajarkanku untuk tidak pernah mengumbar emosi yang berlebihan di wahana tersebut karena saya mengenal banyak orang yang sangat bahagia saat melihat orang lain menjadi tak terkontrol atau labil di media sosial. Mereka punya bahan olok-olokan dan kelabilan orang lain menjadi sumber kebahagiaan mereka. Memang banyak agama yang mengajarkan agar kita senantiasa membahagiakan manusia lainnya. Tapi saya tidak ingin membahagiakan manusia-manusia seperti itu. Oleh karena itu saya lebih cenderung pasif dalam berkomentar di media sosial terkecuali pada orang-orang yang saya anggap sudah resisten dengan semua sarkasku. 

Instagram adalah media yang saya nilai cukup aman untuk berekspresi karena foto-foto membuatku malas berkomentar. Selain itu di Instagram saya juga suka bereksperimen di tiap postingan untuk menilai seberapa agresif instabot akun kloningan dalam menekan icon like dan membuat komentar.

Jumat, 15 April 2016

Eksperimen

Internet tidak lagi menjadi domain yang aman bagi penggunanya yang awam. Semenjak keuntungan menjadi dasar utama untuk bertahan hidup dalam industri dunia maya, Google dan para pemain besar seperti Amazon dan  Facebook mengembangkan suatu algoritma rahasia yang bertujuan untuk mengambil semua informasi mengenai kebiasaan para penggunanya selama berada di dunia maya. Informasi ini kemudian dijual pada para pengiklan yang kemudian memenuhi timeline pengguna dengan semua produk dan postingan yang mengganggu.

Karena itulah saya berhenti menggunakan Facebook, tidak pernah menggunakan Amazon, tapi masih tetap bergantung pada Google. Nasib jadi mahluk awam. Namun tidak banyak orang yang berpikiran seperti saya. Mayoritas manusia di abad ini sangat bergantung pada Facebook meskipun mereka dibombardir oleh puluhan iklan yang mengganggu di timeline. Dulu ada yang memprediksi bahwa setiap tahun jumlah pengguna Facebook semakin sedikit, namun semenjak perusahaan yang didirikan oleh Zuckerberg ini mengumumkan IPO, jumlah penggunanya justru semakin meningkat. Dari hasil survei Comscore, ditemukan fakta bahwa para pengguna internet yang berusia 18-34 tahun cenderung menghabiskan waktu lebih banyak dalam bermain Facebook, bahkan sekitar 2,5 kali lebih lama jika dibandingkan pesaing terdekatnya Snapchat dan Instagram (yang juga dimiliki oleh Facebook). Lalu di mana Twitter, Google, Tumblr, dan Pinterest? Mereka sangat jauh tertinggal di belakang sampai nyaris dianggap tak berarti. Dengan semakin banyaknya anak muda (18-34 tahun) yang bermain Facebook dalam waktu yang lama, itu berarti semakin banyak orang yang dapat dijadikan sasaran untuk dicuri informasinya lalu menjadi korban tayangan iklan. Berkat algoritmanya ini, Facebook dapat menjual banyak informasi ke pengiklan lalu meraup keuntungan hingga milyaran dolar tiap tahunnya. Bahkan tahun ini aset Facebook mencapai 325 milyar dollar. Angka yang sungguh fantastis. Dengan uang sebesar itu dan pengguna sebanyak 1,6 milyar, Facebook dapat mendirikan 4 negara sebesar Indonesia. Dan semua itu berkat penjualan informasi pada para pengiklan.

Setelah mengetahui fakta itu, saya pun berpindah ke Twitter dan Instagram. Sampai akhirnya, Instagram diakuisisi oleh Facebook lalu memasang iklan dan mulai menggunakan juga algoritma rahasia di timeline penggunanya, yang mana hal ini pun diikuti oleh Twitter. Padahal salah satu hal yang membuat saya suka pada Twitter dan Instagram adalah timeline-nya diisi oleh postingan yang diurut secara kronologis. Hal ini membuat semua postingan terkesan romantis dan nostalgik. Dengan algoritma, maka timeline kita hanya diisi oleh postingan dan iklan yang didasarkan pada semua hal yang pernah kita like atau komentari di masa lalu. Algoritma seperti ini dapat membatasi pengalaman penggunanya dalam berselancar di dunia maya. Pada akhirnya, semua postingan yang kita lihat adalah hasil pilihan algoritma sehingga dalam hal ini apa yang kita dapatkan lewat timeline telah dikendalikan oleh Facebook. Rasa-rasanya kita telah dijajah oleh Facebook. Tapi sekali lagi, tidak banyak yang peduli dengan hal ini. Satu koma enam milyar pengguna Facebook tidak terlalu memusingkan perkara tersebut. Mereka hanya ingin membunuh waktu dan berinteraksi dengan dengan manusia lain lewat paket data.

Selasa, 12 April 2016

Hedon

Sejak membaca berbagai jurnal penelitian mengenai Hedonic Treadmill, saya menyimpulkan tiga hal.

Pertama, manusia adalah mahluk yang sangat adaptif dalam berbagai kondisi, entah itu kehidupan yang penuh siksaan ataupun penuh kesenangan. Manusia akan selalu mampu membuat dirinya bersikap biasa saja untuk menghadapi semua kondisi ekstrim, entah itu dalam tahanan Nazi atau cengkraman pacar yang abusif atau malah dalam dekapan milyaran uang. Perbedaan hanya terlihat di awal peristiwa ketika seseorang tertangkap Nazi, dipukul pacar, atau menang milyaran uang lewat undian namun seiring berjalannya waktu, semua lonjakan kesedihan dan kebahagiaan itu menjadi hambar lalu menjadi hal yang biasa saja.

Kedua, Hedonic Treadmill terjadi karena faktor hormonal dan psikologis yang ada di dalam tubuh manusia. Ada endorphin, serotonin, dan sistim limbik di sana. Sehingga secara evolusional, dapat dikatakan bahwa manusia tidak diciptakan untuk terus-menerus merasakan kebahagiaan ataupun kesedihan permanen dalam jangka panjang, kecuali orang tersebut mengalami gangguan depresi berat atau gangguan mania berat.

Ketiga, seseorang yang dapat memanfaatkan Hedonic Treadmill dengan baik merupakan manipulator Machiavellian yang sempurna karena kita tak pernah bisa mengendalikan manusia lewat logikanya namun melalui emosinya. Dulu saya sempat bertanya mengapa Hitler dan Mussolini dapat menjadi fasis yang sukses sebelum akhirnya tentara sekutu menghancurkan mereka atau mengapa banyak orang yang sulit melepas pacar atau kekasih yang abusif? Dan semua jawabannya itu ada di Hedonic Treadmill.

Kamis, 07 April 2016

Kamis, 7 April 2016: Mining

Kemarin saya sempat melihat publikasi di akun Twitter Kementrian Kesehatan mengenai Nusantara Sehat. Di cuitannya, Kemenkes sepertinya sedang menggelar lomba atau event atau apapun itu, yang intinya adalah kita harus membuat tulisan mengenai "Apa yang Akan Aku Lakukan Jika Menjadi Tim Nusantara Sehat?"
Saat melihat cuitan ini, saya sempat tertegun lalu bertanya pada diri sendiri, memangnya apa ya, yang sudah saya lakukan sebagai anggota Tim Nusantara Sehat?
Untuk menjawab pertanyaan itu, saya perlu melakukan retrospeksi ke setahun yang silam ketika saya mengikuti proses rekrutmen Tim Nusantara Sehat. Waktu itu belum banyak yang tahu tentang Nusantara Sehat, bahkan sekarang pun, masih banyak yang belum tahu mahluk apa itu Nusantara Sehat, apakah dia hidup di darat atau di laut. Saya sendiri tahu info ini dari seorang kawan kuliah yang dulunya bekerja sebagai dokter tambang di Sulawesi Tengah. Sebagai sesama dokter di perusahaan tambang, kami sama-sama mengalami kejenuhan dan merasa agak ngeri membayangkan bahwa kami berdua sudah bekerja dan masuk dalam suatu lingkungan kerja yang keuntungannya diperoleh dari pengrusakan alam. Memang sebagai dokter kami tak terlibat dalam urusan membabat hutan ataupun menggali kerak bumi namun setidaknya kami turut membantu agar para pekerja tetap sehat sehingga mereka tidak berhenti untuk terus-menerus mengguncang isi bumi. Beberapa perusahaan tambang yang memiliki sistem K3LH (kesehatan, keselamatan kerja dan lingkungan hidup) yang baik biasanya melakukan upaya reforestasi pada hutan dan tanah yang sudah dikeruknya, namun hutan yang baru ditanam oleh manusia takkan sama biodiversitasnya dengan hutan yang baru ditanam oleh alam selama ribuan tahun. Belum lagi jika kita bicara mengenai polutan dari proses penambangan yang terlepas ke udara, tanah, air, dan tubuh manusia.
Namun kebanyakan orang tidak terlalu peduli dengan semua kerusakan alam yang terjadi akibat penambangan, entah itu legal maupun ilegal karena pada akhirnya, yang ada di benak mayoritas orang adalah bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Pemerintah akan terus mengeluarkan izin tambang karena ini adalah jenis industri yang menghasilkan banyak devisa dan menyerap banyak tenaga kerja. Bahkan kalaupun tak ada izin dari pemerintah, para penambang liar tak akan diam melihat kekayaan alam dibiarkan begitu saja tanpa diraup. Dan biasanya para penambang liar tidak terlalu peduli dengan kesehatan, keselamatan kerja ataupun lingkungan hidup. Jadi jika mereka sudah turun tangan, lupakan saja soal reforestasi ataupun penutupan lubang-lubang bekas galian tambang. Mereka tidak bakal melakukan hal-hal yang tidak menguntungkan seperti itu.

Efek dari pengrusakan lingkungan hidup ada yang bersifat immediate atau segera, ada pula yang bersifat delayed atau tertunda. Untuk efek yang sifatnya immediate, hampir semua industri pertambangan sudah bisa mengantisipasinya dengan engineering manipulation. Namun untuk efek delayed, kebanyakan dari kita tak pernah bisa meramalkannya secara tepat. Saat efek delayed itu timbul, mungkin para penambang yang dulu mengeruk isi bumi sudah mati semua di makan umur sehingga yang merasakannya hanyalah anak cucu mereka dan masyarakat yang tinggal di sekitar tambang.

Mungkin rasanya tidak etis jika membicarakan hal-hal buruk tentang industri yang pernah menjadi sumber penghidupan kita. Tapi bayangkan tentang sebuah kisah mengenai seorang pembunuh bayaran yang telah mendapatkan banyak uang dari merenggut nyawa puluhan orang lalu tiba-tiba dia berhenti melakukannya dan mulai menulis buku tentang betapa kejamnya pekerjaan pembunuh bayaran. Nah, seperti itulah kira-kira analoginya meskipun terkesan dipaksakan.

Lalu bagaimana dengan kisah Nusantara Sehat? Nanti saja dibahas.

Selasa, 05 April 2016

Selasa, 5 April 2016: Chatting Lagi

Sejak berada di pulau terpencil Samudera Hindia, saya menjadi orang yang udik pengetahuan dan teknologi. Pengetahuanku tentang kedokteran terhenti di ilmu tahun 2013 ke bawah. Bahkan kebanyakan ilmu tersebut sudah mulai terhapus karena jarang digunakan dan diperbarui. Ibarat buku, otakku adalah sebuah buku tua yang sudah sobek lembarannya di sana-sini. Buku seperti itu baiknya dimuseumkan atau dibakar saja agar tak menyesatkan. Tapi kalau itu dilakukan pada otakku, berarti saat ini saya sudah mati dan tak bisa lagi mengetik kalimat di blog ini.

Saya menjalani kehidupan profesionalku di sini dengan fragmen ingatan dan pengetahuan yang terpecah-pecah. Di awal-awal penempatan, tiap hari saya senantiasa mempertanyakan apakah tindakan dan penangananku sudah lege artis. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pertanyaan seperti itu tidak lagi sering frekuensinya karena pada akhirnya semua pengetahuan itu tidak terlalu berguna jika fasilitas di layanan primer tidak memadai. Setiap profesi memiliki batasan dan seringkali batasan tersebut terkait erat dengan teknologi atau engineering. Misalnya saja untuk bidang kriminal, sebelum tahun 1920-an para polisi dan detektif seringkali kesulitan untuk mengungkap pelaku kejahatan meskipun pelakunya meninggalkan alat kejahatan di lokasi kejadian. Namun batasan itu berhasil diterobos dengan adanya teknologi deteksi sidik jari dan DNA.

Ilmu pengetahuan alam pun memiliki batasan serupa. Sebelum era Galileo, para ilmuwan membuat banyak hipotesis mengenai hukum alam hanya berdasarkan nalar tanpa ada pembuktian. Mereka hanya mengira-ngira tentang planet dan bintang di langit lalu beranggapan bahwa bumi adalah pusat semesta. Namun Galileo mengubah tradisi tersebut dengan memperkenalkan metode eksperimen dan teleskop. Kini mayoritas ilmuwan percaya bahwa bumi hanyalah secuil debu jika dibandingkan dengan alam semesta yang luasnya sulit terbayangkan. Kepercayaan seperti ini sulit diterima saat Galileo masih hidup.

Nah, begitu juga halnya dengan profesi kedokteran. Batasan profesi ini adalah instrumentasi dan modalitas diagnostik. Meskipun saat pendidikan para pengajar senantiasa menekankan pada kami untuk memperkuat anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien dalam penegakkan diagnosis, pada akhirnya itu hanya bisa memprediksi tanpa bisa memastikan secara langsung apa yang ada di dalam tubuh pasien. Minimal kita perlu X-ray untuk mengetahui kondisi paru-paru dan pertulangan pasien atau pemeriksaan kimia darah untuk memastikan kadar gula dan kolesterol pasien. Oleh karena itu, dalam kedokteran ada namanya diagnosis sementara atau kadang juga disebut sebagai diagnosis kerja dan diagnosis definitif atau diagnosis pasti. Diagnosis kerja dibuat berdasarkan hasil anamnesis (tanya jawab dengan pasien) dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang terbatas yang dikombinasikan dengan dasar keilmuan dan pengalaman dokter. Diagnosis kerja masih dapat berubah tergantung hasil pemeriksaan lanjutan. Sedangkan diagnosis definitif biasanya ditegakkan dari diagnosis kerja plus pemeriksaan penunjang mutakhir seperti endoskopi, biopsi, PCR, atau kultur. Namun ada juga beberapa diagnosis kerja yang dapat menjadi diagnosis definitif karena adanya patognomonik klinis pada suatu penyakit. Misalnya saja pada penyakit katarak atau vulnus laceratum yang sudah dapat terdiagnosis hanya dengan melihatnya. Sedangkan untuk penyakit seperti lupus, ALS, atau HIV, kita tidak dapat memastikannya tanpa pemeriksaan laboratorium ataupun pencitraan. Oleh karena itu pendidikan kedokteran selalu mengajarkan untuk mencari bukti sebanyak-banyaknya melalui berbagai modalitas pemeriksaan untuk mendukung suatu diagnosis penyakit sekaligus untuk dapat memastikan tingkat keparahan penyakit tersebut sehingga mengandalkan saja panca indera saja tidak cukup.

Namun bagaimana dengan wilayah yang terpencil dan tanpa fasilitas seperti pulau yang kutempati saat ini? Panca indera justru satu-satunya alat diagnostik. Diagnosis penyakit murni berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Terapi diberikan berdasarkan hasil interpretasi riwayat penyakit, tanda-tanda fisik, dan pengalaman. Misalnya saja untuk pasien yang datang dengan demam dan batuk berdahak, pada kasus seperti ini seorang dokter harus menentukan apakah pasien tersebut cukup diberikan obat simptomatis atau harus diberi antibiotik. Di fasilitas kesehatan yang lengkap, kita dapat memastikannya dengan melakukan pemeriksaan leukosit, antibodi, atau bahkan kultur darah. Namun bagaimana jika semua fasilitas itu tidak ada? Maka itu kembali lagi ke pernyataan yang saya sebutkan sebelumnya yakni hasil interpretasi riwayat penyakit, tanda-tanda fisik, dan pengalaman. Oleh karena itu pada banyak literatur, kedokteran disebut sebagai ilmu pengetahuan dan seni. Di satu sisi, para dokter dituntut untuk senantiasa mengikuti guideline atau panduan terapi namun di lapangan, guideline seringkali tidak bisa diandalkan karena keterbatasan instrumentasi dan modalitas. Pada kondisi seperti ini, seni yang mengandalkan prinsip primum non nocere atau do not further harm, beneficent, dan autonomy harus diterapkan yang mana hal itu akan kembali lagi ke pengetahuan dan pengalaman dokter. Bahkan seorang dokter dapat memberikan racun pada seorang pasien selama ada indikasi dan persetujuan pasien, seperti pada kasus injeksi botox atau botulinum toxin, racun yang jika masuk aliran darah meskipun hanya 0,000001 gram maka itu dapat melumpuhkan seluruh otot rangka dan pernapasan yang berujung pada kematian. Seorang dokter dapat melakukan injeksi botulinum pada pasien atas dasar pertimbangan risiko dan keuntungan untuk pasien sekaligus dengan adanya persetujuan dari pasien. Karena pada akhirnya yang memiliki tubuh untuk diobati adalah pasien.

Senin, 4 April 2016: Chatting

Para mantan mahasiswa yang hidup di era digital, seperti diriku, pada umumnya memiliki grup angkatan atau alumni di media chatting, entah itu Line, Kakao Talk, WeChat, ataupun Facebook. Angkatanku waktu kuliah dulu juga sudah membentuk grup chatting di beberapa media namun yang nampaknya paling aktif adalah Line. Entah siapa yang pertama membuatnya, tapi orang itu telah memilih nama "Epigl07tica" sebagai nama grupnya. Padahal dia bisa saja menggunakan nama "07 Sweet" atau "Angkatan 07 Cakep dan Caem" atau nama lain yang lebih kekinian. Mungkin dia sengaja melakukannya untuk mempertebal nilai identitas angkatan kami. Kebetulan nama angkatan kami adalah Epigl07tica. Mengapa namanya bisa begitu? Panjang ceritanya. Hanya untuk menentukan nama angkatan, ada banyak perdebatan dan argumentasi yang dilibatkan saat itu. Pada akhirnya yang memenangkan pertarungan adalah kubu mahasiswa yang kemampuan bahasa Inggrisnya lebih mumpuni karena nama Epigl07tica usulan mereka itu merupakan sebuah singkatan kalimat dalam bahasa Inggris yang bunyinya adalah Empowering People...bla...bla...bla.... Saya sudah lupa karena saya tidak pernah mendukung penggunaan nama itu. Saya sendiri sebenarnya mengusulkan sebuah nama yang lebih sederhana tapi akurat, yakni "2007". Sayangnya tak ada yang mendukung usulan itu terkecuali saya sendiri. Karena kita hidup di alam demokrasi yang memukul rata para minoritas. Maka saya pun tunduk pada konvensi. Tapi saya tak berkecil hati dengan keputusan tersebut karena setidaknya ada aksara 07 di nama Epil07tica, yang berasal dari usulan 2007-ku.
*Kisah ini fiktif belaka, tak ada hubungannya dengan tokoh dan kejadian di alam nyata. Jika ada kesamaan nama dan tempat, itu hanya kebetulan belaka.*

Sejak bergabung dengan grup chatting Line angkatan di tahun 2013, saya menyaksikan beberapa kali evolusi percakapan.
Di tahun 2013-2014, topik yang selalu dibahas adalah referat dan penguji koas. Tiap minggu, selalu saja ada teman yang minta contoh referat dan tips agar dapat lolos dari penguji killer. Hal ini wajar saja karena pada saat itu banyak kawan angkatan yang masih menjalani masa koas. Tidak ada satupun koas yang ingin gagal dalam pembacaan laporan dan ujian di suatu departemen karena risikonya adalah harus mengulang beberapa minggu lagi di departemen tersebut. Mengulang artinya harus menjadi koas lebih lama lagi yang dengan kata lain semakin lama harus menjalani penderitaan. Pada periode ini, saya cukup aktif terlibat dalam percakapan.

Nah, memasuki 2014-2015 topik pembicaraan di grup berubah lagi. Tak ada lagi pembahasan mengenai referat dan ujian karena mayoritas anggota angkatan telah lulus kuliah. Sudah banyak yang menjadi dokter meski belum sepenuhnya karena masih harus melewati tahapan internship. Di era ini, topik yang dibahas adalah masalah-masalah yang dihadapi saat internship, dan penyakit aneh yang ditemui saat bertugas. Ada yang memberikan solusi yang positif tapi lebih banyak yang bercanda. Di periode ini, saya mulai menjadi silent reader.

Lalu sejak berakhirnya 2015 hingga tahun-tahun setelahnya, topik pembicaraan mulai horor. Pernikahan, prospek kerja, pendidikan spesialis, dan semua hal yang berkaitan dengan masalah orang dewasa. Di titik ini, saya sepertinya tidak lagi ingin membaca chatting di grup angkatan. Rasanya sulit bagiku untuk menerima fakta bahwa saya tak lagi muda. Usia 17 tahunku saat pertama kali masuk kuliah telah lama berlalu dan kini saya harus bergelut dengan dunia nyata yang sebetulnya masih berada di bumi yang sama dengan beberapa tahun sebelumnya namun terasa sangat jauh berbeda saat di jalani karena tak ada lagi rekan sekomunitas yang menyertai. Kawan-kawan seangkatanku yang dulunya culun saat masih jadi mahasiswa baru kini telah bertransformasi menjadi orang-orang hebat. Ada yang sudah kuliah di luar negeri, ada yang melanjutkan pendidikan spesialis, ada yang sudah menjadi pengusaha, dan lain-lain. Sedangkan saya justru terdampar di pulau terpencil di Samudera Hindia, melayani pasien hanya menggunakan kaos oblong, celana training, dan sendal karet serta dengan alat kesehatan dan obat yang terbatas. Seringkali saya merasa heran, mengapa pasien-pasien di sini bisa sembuh hanya dengan obat-obatan seadanya yang ada di sini. Yah, meskipun ada juga sih beberapa yang mati karena memang tidak ada fasilitas pendukung, seperti beberapa pasien yang mengalami stroke, gagal ginjal, dan serangan jantung. Pada umumnya pasien-pasien tersebut tak jadi dirujuk entah atas kemauan sendiri ataupun hasil rembuk keluarga.

Minggu, 03 April 2016

How to live without certainty and yet without paralysed by hesitation?

Saya merasa pandanganku terhadap kehidupan menjadi semakin pesimistik dibanding sebelumnya. Hal ini terkait erat dengan pudarnya keyakinanku pada berbagai nilai internal yang dulunya ku pegang teguh sepenuh hati. Semua nilai itu terlihat kabur dan nyaris tak lagi bermakna di nalarku. Saya tak ingin menjelaskan secara terperinci mengenai nilai-nilai tersebut karena itu tak lagi menjadi bagian dari hidupku.

Sekarang saya menatap hidup ini dengan sebuah paradigma baru. Ini bukanlah sebuah paradigma yang positif dan jauh dari optimistik. Semuanya diawali oleh adagium bahwa hidup ini tak memiliki makna apapun. Sebenarnya saya tak ingin mempercayai hal tersebut karena selama ini saya diajarkan bahwa selalu ada makna di balik setiap peristiwa dan kehadiranku di muka bumi ini memiliki maksud dan tujuan. Namun setelah bertahun-tahun menjalani hidup, pengalaman justru mengajarkanku bahwa tak perlu mencari makna apapun di kehidupan karena makna itu tak pernah ada. Itu hanyalah ilusi untuk menguatkan psikologi manusia yang mempercayainya.

Ketika saya melihat penderitaan dan merasakannya sendiri, saya semakin yakin bahwa makna itu tak pernah ada. Saya sungguh tak dapat memikirkan makna positif dibalik setiap darah dan air mata yang tertumpah di peperangan Irak, Suriah, Palestina, dan Afganistan. Apa yang saya lihat hanyalah kekejaman mahluk yang bernama manusia. Di satu sisi, mereka adalah pencipta teknologi yang dapat mengkloning dan mengembangbiakkan mahluk hidup lain sesuka hatinya namun di sisi lain mereka juga adalah penghancur yang telah merenggut jutaan jiwa sesamanya. Dari sifat dasarnya saja, manusia sudah tidak memiliki karakteristik yang jelas. Apakah dia penghancur ataukah pelindung?

Jika dipikir sekilas, rasanya menakutkan jika harus hidup dengan mengetahui fakta bahwa kita hidup sendiri di alam semesta ini, bahwa hidup kita terjadi tanpa alasan, dan suatu hari nanti akan berakhir begitu saja. Pikiran-pikiran seperti itu menimbulkan tanya, jika memang seperti itu kehidupan, mengapa saya harus terus menjalani hidup? Mengapa saya harus bangun di pagi hari, mencari makan, dan mencari kesenangan jika pada ujungnya semua akan berakhir dan lenyap tanpa sisa?
Kesendirian manusia sering saya saksikan pada para pasien yang saya tangani. Saat kesakitan, yang merasakan sakit itu hanya para pasien itu sendiri. Keluarga, teman, perawat, dan dokter tak bisa merasakannya. Mereka mungkin bisa berempati atau bersimpati, tapi rasa sakit itu tak dapat dibagi. Ada saatnya bagi keluarga, teman, dokter, dan perawat untuk merasakan sakit mereka sendiri. Dan pada saat sehat, manusia seringkali sulit untuk mengingat kembali betapa beratnya sebuah rasa sakit.
Selain menimbulkan tanya, pikiran-pikiran tentang kesia-siaan hidup juga cenderung melumpuhkan dan bahkan mematikan.
Kadang saya berpikir, jika mukjizat di masa lalu itu benar adanya, mengapa tidak terjadi lagi di masa kini? Apa bedanya masa lalu dan masa kini? Matahari yang ada di masa kini masih sama dengan yang di masa lalu. Begitu juga dengan bumi, gravitasi, dan udaranya.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...