Selasa, 04 Oktober 2016

Writer's block

Nasib seorang penulis amatir yang kehilangan inspirasi menulis mungkin tidaklah lebih buruk dari seorang Napoleon yang kehilangan harga diri di pertempuran Waterloo. Meskipun sebenarnya kedua hal tersebut tidak dapat dikomparasikan. Seorang penulis amatir tidak harus bertanggung jawab menghantarkan 25.000 jiwa ke liang lahat serta tak mesti melepaskan sebuah kekaisaran hanya karena tak mampu menghasilkan suatu karya, tidak halnya dengan seorang Napoleon yang harus diasingkan ke Santa Helena. Kekalahan di Waterloo menjadi awal nadir Sang Kaisar karena akhir dari perang yang terjadi di tanggal 18 Juni 1815 tersebut, secara resmi kejayaan Napoleon ikut berakhir, Eropa memasuki masa yang relatif damai selama 40 tahun. Memang sih, Napoleon tidak sampai dihukum mati oleh Duke Wellington dan koalisinya tapi kekalahan tersebut memaksanya untuk menyerahkan tahta kepada Louis XVIII. Penulis amatir tak punya tahta dan pasukan, he has nothing except his own life.

Sheading

Dulu saya selalu berpikir bahwa kematian seseorang tidak akan terlalu berpengaruh pada kehidupan orang-orang yang masih menghirup oksigen di muka bumi karena pada akhirnya mereka yang hidup akan tetap menjalani hari-harinya seperti biasa, makan nasi, beli pulsa, internetan, dan hal trivial lainnya tanpa ada konsekuensi psikologis dan sosiologis yang menyertainya. Mungkin kesedihan ataupun kedukaan akan sempat bergelayut di sanubari orang-orang yang hidup namun itu semua akan berlalu seperti pusaran debu yang tersapu oleh hujan di bulan Desember begitu kebahagiaan-kebahagiaan baru satu persatu datang memasuki ruang emosi. Saya sempat menganggap jika kebahagiaan dan kesedihan menyerupai formula penjumlahan dan pengurangan. Jika dua jenis kebahagiaan dan satu jenis kesedihan datang menyapamu dalam sehari, itu artinya hari itu kamu sedang berbahagia. Begitu pula sebaliknya, jika dua kesedihan datang lalu diikuti oleh satu kebahagiaan, efek bersihnya adalah hari itu kamu akan merasakan kesedihan.

Tapi ternyata, emosi manusia tak sesederhana itu. Saya selalu berharap agar emosi dapat sederhana seperti sebuah persamanaan matematika namun nampaknya itu hanyalah sebuah harapan kosong. Kesedihan yang diakibatkan oleh kehilangan seseorang yang sangat dekat secara emosional dan personal sangatlah sulit untuk terhapuskan oleh luapan kebahagiaan, sebagaimanapun banyaknya banjir tawa yang menyertainya. Beberapa saat mungkin kesedihan itu dapat terlupakan tapi itu hanya sejenak. Seringkali kesedihan tiba-tiba saja menyeruak ketika momen kebersamaan di masa lalu telintas entah itu saat makan, berbaring, duduk di kendaraan, bahkan saat tidur pun, kesedihan kadang datang dalam bentuk mimpi. Mungkin secara evolusi, manusia memang didesain untuk bersedih. Entah di mana fungsi bertahan hidup pada air mata yang mengalir dan rasa sesak di dada yang terjadi saat kesedihan melanda.

Makassar Kini

Bukannya bermaksud untuk romantis atau ingin bersenang-senang dengan masa lalu seperti Old Yellow Brick-nya Arctic Monkey tapi saat menginjakkan kaki di Makassar dua hari yang lalu, saya merasa seperti mahluk asing di kota yang pernah saya diami selama 7 tahun. Sambutan bandaranya, konstruksi bangunan dan jalannya, dan terutama orang-orangnya, tak ada lagi yang bisa kukenali. Padahal setahun yang lalu, saat masih berdomisili di Makassar istilah "I knew the pathway like the back of my hand"-nya Keane dapat kugunakan secara bebas. Tapi kini, istilah itu terasa jauh dari ingatanku.

Saat keluar dari pintu kedatangan bandara, tak ada lagi supir taksi legal dan ilegal yang mengerumuniku ataupun menarikku untuk memintaku menjadi penumpang mereka. Alih-alih, semua proses reservasi layanan taksi kini dikendalikan secara oleh elektronik oleh Dinas Perhubungan. Dengan begitu, transparansi tarif dan kenyamanan menjadi lebih terjamin. Ini hal yang baik tapi tetap saja terasa asing bagiku.

Begitu menjauhi zona bandara, saya menemukan lagi hal asing lain. Konstruksi bangunan dan jalanan semuanya tak lagi dapat kukenali.Yang tak berubah hanyalah kemacetannya, baliho dan poster figur-figur narsistik serta iklan-iklan yang bertebaran tanpa mengenal konsep tata ruang yang baik dan benar, lalu sampah dan pengemisnya yang masih eksis di pinggir-pinggir jalan seolah tak mengenal kata punah. Jika sampah dan pengemis adalah produk sampingan yang tak diinginkan dari sebuah modernisasi, maka kemacetan dan poster narsistik serta iklan yang tak mengenal toleransi pada mata-mata yang terpaksa melihat mereka setiap hari, adalah bentuk dari kegagalan manusia dalam mengenal estetika.

Mungkin saya takkan lagi menjadi bagian dari kota ini dalam beberapa tahun ke depan namun saya selalu berharap agar Makassar dapat menjadi sebuah kota yang sejuk dan damai seperti di masa yang tak pernah ada sebelumnya. Bebas dari begal, sampah, pengemis, dan baliho yang tak tentu arah. Entah kapan hal itu dapat terwujud.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut