Sabtu, 10 Juni 2017

Chekovesque

Kembali ke modernitas sepertinya telah menciptakan suatu fraktur psikologis dalam diriku. Dua tahunku yang penuh kedamaian, tanpa kebisingan dan huru-hara yang menyibukkan, tiba-tiba saja hancur berkeping - keping seperti cermin yang bertemu godam tatkala kakiku menjejak Bandara Soekarno Hatta. Pandanganku teralihkan oleh semua orang yang nampak terburu-buru mengejar sesuatu yang tak mampu kupahami. Hilir mudik para penumpang pesawat dengan berbagai aneka busana dan koper serta dentingan bermacam-macam notifikasi dari smartphone yang membahana di seluruh penjuru bandara membuatku benar - benar terbangun dari tidur panjang yang kubawa dari Pulau Ndao.
Mungkin hal seperti ini juga dirasakan oleh Anton Chekov begitu keluar dari Pulau Sakhalin di abad ke-19. Saat itu Chekov memang belum punya smartphone android, paket data internet, akun Facebook, maupun Twitter namun hal itu tidak membuatnya terbebas dari cultural shock yang terlihat sangat jelas begitu dia kembali ke dunia asalnya. Sakhalin adalah dunia yang betul-betul berbeda bagi Chekov, seperti halnya Ndao untukku. Di sana Chekov mewawancarai semua narapidana Russia dan warga pribumi Sakhalin yang hidup berdampingan tanpa perdamaian karena kekerasan, pelacuran anak, pembantaian, dan berbagai bentuk dosa dunia yang ada dalam kitab injil, dapat ditemukan di sana. Untungnya saat di Pulau Ndao saya justru menemukan sepotong surga karena tak ada yang namanya pelacuran, pembantaian, dan pembunuhan. Semua orang hidup berdampingan dalam harmoni, saling tolong menolong dan peduli satu sama lain. Dan yang terpenting, ikan murah atau malah gratis bisa didapat dengan mudah.
Setelah Chekov kembali, dia berubah. Karya-karyanya pasca-Sakhalin cenderung lebih gelap dan tragis.
Saya sendiri belum tahu perubahan apa yang akan dibawa oleh Pulau Ndao pada kehidupanku di tempat yang baru. Saya berharap itu tak gelap seperti yang dirasakan oleh Chekov yang hidup ketika antibiotik dan smartphone belum terpikirkan oleh manusia.

Jumat, 02 Juni 2017

Day 1: TOEFL

Hari ini saya membeli buku latihan TOEFL karena saya merasa sudah saatnya untuk mengasah otakku yang mengalami penumpulan sejak berada di Samudera Hindia.

Rabu, 10 Mei 2017

Rabu, 10 Mei 2017: Mengisi Kekosongan

5 Mei 2017, sekelompok anak SMA yang baru saja merayakan kelulusan berencana liburan di Pulau Ndao. Mereka bersepuluh datang hanya dengan menggunakan sebuah perahu kayu kecil tanpa tahu kondisi arus laut Ndao yang sedang ganas-ganasnya. Perahu tersebut dikemudikan oleh teman mereka sendiri yang belum pernah sekalipun datang ke Ndao. Mungkin dia berpikir kalau laut di semua tempat sama saja, hanya ada basah dan gelombang. Pukul 10.40 sebuah ombak besar menghantam dan langsung membalikkan perahu mereka. Sekitar pukul 14.00 salah satu dari mereka berhasil berenang mencapai pulau Ndao lalu meminta tolong warga. Penduduk pun langsung melakukan pencarian 9 siswa yang masih belum diketahui nasibnya.

Pukul 15.30, Kepala Puskesmas (Kapus) mengetuk pintu kamarku. Saat itu, saya sedang makan siang yang dijamak juga sebagai makan malam, dengan tujuan diet dan sekaligus menghemat logistik karena di cuaca buruk seperti saat ini bahan makanan seperti sayur, buah, dan ikan sulit untuk ditemukan oleh sebab penduduk takut melaut. Kepala Puskesmas mengabarkan bahwa ada tujuh korban perahu karam yang sedang dievakuasi di Pos Polisi dan meminta bantuan padaku untuk melihat kondisi mereka. Sebenarnya dalam kondisi normal, semua korban perahu tenggelam harus dirawat di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit atau minimal Puskesmas seperti yang menjadi tempatku bertugas saat ini. Namun situasi kerja di Puskesmas Ndao tidak pernah bisa dikatakan normal karena saat Pak Kapus mengetuk pintuku, ada seorang ibu hamil yang sedang berjuang untuk meningkatkan statusnya menjadi ibu nifas dengan bantuan bidan di ruang bersalin yang juga punya fungsi rangkap sebagai ruang rawat inap (ranap) dan unit gawat darurat (UGD). Secara matematis, tujuh korban perahu tenggelam tidak akan muat ditampung di ruang bersalin-rawat inap-UGD yang sedang berpenghuni. Apalagi sudah menjadi tradisi di Pulau Ndao, jika ada orang yang melahirkan atau rawat inap, maka pengunjungnya bukan satu-dua orang saja, tapi satu sampai empat desa sekaligus yang datang membesuk, seolah-olah pasien ranap, UGD, dan bersalin adalah sebuah pertandingan sepakbola antara Barcelona vs Real Madrid.

Saat sampai di Pos Polisi, penduduk sudah berjubel memenuhi setiap ruang kosong yang ada di tempat itu hingga nyaris tak ada tempat untuk lewat. Para korban tenggelam tampak duduk sambil berselimut di teras pos polisi dan warga Ndao duduk di depan mereka bersusun-susun memandangi para korban ibaratnya anak kecil yang sedang menanti pesulap mengeluarkan burung dari topi. Melihat mereka duduk begitu saya bersyukur, itu artinya kondisi mereka sudah tidak terlalu kritis. Setelah memeriksa mereka dan tidak menemukan masalah medis yang kritis, saya pun langsung meminta tolong pada warga untuk menyediakan pakaian ganti, minuman dan bubur hangat untuk mereka karena mereka sudah terombang-ambing di lautan lebih dari 2 jam yang dapat berakibat pada hipotermia. Untungnya warga cukup sigap dengan permintaan seperti itu. Mereka langsung menyediakan semua hal tersebut sekaligus menyediakan tempat tinggal dan akomodasi lainnya untuk para korban tanpa sekalipun meminta bayaran. Tampaknya rasa kepedulian orang-orang di Ndao masih lumayan tinggi.

Minggu, 29 Januari 2017

Glory in The Past

 -Put-

"Kebahagiaan anak-anakku di atas segalanya."
Mama pernah mengatakan kalimat itu padaku di suatu siang, saat kami bercerita tentang ini dan itu. Saya tidak mengucapkan apapun saat itu, namun saya mengiyakan dengan sepenuh hati pendapat Mama. Karna walau tidak sesempurna ibu-ibu orang lain yang wajahnya cantik rupawan dengan perilaku anak muda dan sifatnya tidak seanggun Ratu Diana serta masakannya tidak seenak masakan Chef Marinka, namun bagi saya tidak ada satupun ibu di dunia ini yang mampu sesempurna Mama dalam membahagiakan kami.

Entah bagaimana Mama mendidik kami hingga menjadi seperti sekarang. Setahu saya, kami anak-anaknya, tidak pernah melakukan segala jenis kenakalan yang biasa dilakukan oleh anak muda seusia kami pada masa itu; merokok, miras, tato, pacaran (oh oke, yang ini sepertinya masih perlu dikonfirmasi), dan sejenisnya. Padahal jika diingat-ingat lagi, kesempatan untuk melakukan hal-hal tersebut terbuka sangat lebar mengingat Bapak yang pekerja lapangan hingga jarang di rumah, sedangkan Mama adalah pegawai kantoran yang selalu berangkat pagi dan pulang siang menjelang sore. Banyaknya waktu kosong tanpa pengawasan orang tua tersebut nyatanya tidak membuat kami menjadi segerombolan anak liar yang hobi nongkrong di pinggir jalan untuk menunggu orang yang bisa dipalak. Kami seolah dibentuk menjadi anak-anak rumahan yang tidak boleh kelayapan jika orang tua belum mengizinkan.

Saat itu yang menjadi fokus kami, atau setidaknya saya, adalah bagaimana cara agar Mama bisa bangga pada kami. Namun sayang, mempunyai anak pertama yang sangat pintar (pada masa itu, mungkin hingga sekarang), hobi juara umum, suka ikut olimpiade, serta taat beragama, membuat Mama sepertinya mempunyai standar yang sangat tinggi akan hal-hal apa saja yang bisa anak-anaknya lakukan untuk membuatnya bangga. Kami, ketiga anak lainnya yang diberkahi dengan otak seadanya, tentu tidak bisa menembus rekor juara umum dan ikut olimpiadenya kakak pertama. Maka cukuplah bagi kami, anak dengan otak seadanya, menjadi anak baik dan tidak nakal untuk bisa membuat Mama bangga.

Sekalipun ada kesenjangan prestasi akademik dan ibadah di antara anak-anaknya, Mama tidak pernah membeda-bedakan kami. Setidaknya semua perlakuan yang dia berikan pada anak-anaknya sesuai dengan porsinya. Misal, jika anak pertama meminta sesuatu, maka akan langsung diberikan. Namun, karena anak pertama jarang meminta sesuatu, maka hak khusus itu diberikan pada anak kedua yang memang hobi meminta sesuatu. Kemudian, jika anak ketiga juga menginginkannya, maka dibiarkan merengek satu dua kali baru akan diberikan. Sedangkan jika anak keempat yang memintanya, maka akan diberikan apabila anak kedua dan ketiga telah bosan menggunakannya.

Sistem pemenuhan keinginan seperti itu membuat kami memang harus sadar diri jika ingin meminta sesuatu. Entah sejak kapan saya menyadari pola itu, namun sejak saat itu saya jarang meminta barang apapun yang sedang hits karena saya tahu saya bukanlah anak pertama dan yang perlu saya lakukan sebenarnya hanyalah berdoa agar anak kedua dan ketiga segera dilanda kebosanan.

Tapi bukan berarti Mama tidak pernah memberiku barang-barang baru. Seingat saya, setiap lebaran saya selalu mendapat baju baru seperti kakak-kakak saya yang lain. Dulu, Mama bahkan pernah menitip untuk dibelikan sebuah hp pada salah seorang temannya yang sedang ke luar kota untuk diberikan kepada saya yang saat itu sudah SMA, karena kakak kedua dan kakak ketiga belum juga menunjukkan tanda-tanda kebosanan dalam bermain hp.

Saat kakak saya satu persatu mulai melanjutkan kuliah dan meninggalkan saya seorang diri di rumah, di saat itulah saya menjadi saksi betapa Mama benar-benar menomorsatukan kebahagiaan kami. Tidak ada lagi yang namanya sistem pemenuhan kebutuhan yang dulu dilakukan. Semua anak mendapatkan hak khusus. Apapun yang kami inginkan, tidak ada kata merengek, semua diusahakan. Entah bagaimana caranya, Mama tidak pernah berkata tidak. Padahal kami berempat kuliah pada waktu yang hampir bersamaan dan semua harga kebutuhan pendidikan kami tidak lagi berada di level harga jajanan chiki. Gaji Mama dan Bapak pun jika diakumulasikan tidak pernah menyentuh 8 digit. Tapi kami tak pernah kekurangan apapun, bahkan hingga kami sarjana dan beberapa dari kami telah bekerja dan menikah.

Hingga kemarin, salah satu teman Mama tiba-tiba menelepon saya. Awalnya hanya berbasa-basi menanyakan apa kabar, bagaimana kelanjutan kuliah, dan bla bla bla basa-basi lainnya.  Seperti sedang menunggu momen, tiba-tiba teman Mama bercerita, "Nak, Mamamu itu ya, tidak ada satupun yang dia banggakan di dunia ini selain kalian. Selalu kalian yang dia ceritakan kalau di kantor. Kalau kalian sudah butuh sesuatu, pasti satu kantor dia hebohkan untuk minta bantuan."

Saya terdiam ketika mendengarnya. Saat itulah adegan Mama yang baru saja menerima telepon salah satu dari kami yang awalnya tenang-tenang saja, berubah menjadi panik menemui satu persatu temannya untuk meminta bantuan, tiba-tiba begitu saja muncul di benakku.

Jadi begitulah cara Mama bekerja, begitulah cara Mama mengusahakan kebahagiaan kami.

Saya menjadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang telah kami lakukan hingga Mama bisa sebangga itu pada kami semua? Apa yang telah kami lakukan hingga Mama mau berlarian kesana kemari hanya demi memenuhi kebutuhan kami? Saya sungguh tidak mengerti apa yang sedang terjadi di kepala Mama saat itu. Saya sungguh tidak mengerti; apakah memang kami yang begitu membanggakan, atau memang begitulah naluri seorang ibu.

Sekarang, saat kami telah mampu mendapatkan kebahagiaan kami masing-masing, masih adakah tujuan hidup yang tersisa dalam hidup Mama? Masih bisakah kami berlomba-lomba menjadi kebanggaannya?


Jumat, 27 Januari 2017

Surga

Pada tahun 1930 Keynes pernah meramalkan bahwa di masa depan manusia akan memiliki jam kerja yang lebih sedikit sehingga mereka memiliki banyak waktu luang yang dapat digunakan untuk pengembangan diri dan bersenang-senang karena semua orang sudah memiliki semua materi yang mereka perlukan. Malah, Keynes menyebutkankan sebuah angka yang pasti untuk itu, hanya 15 jam kerja per minggu atau sekitar 2 jam 30 menit setiap hari. Itu artinya kita hanya perlu masuk kerja jam 8 pagi lalu pulang jam 10 pagi selama seminggu atau kalau mau lebih ekstrim, cukup kerja 8 jam selama 2 hari, lalu 5 hari sisanya dipakai untuk senang-senang. Terdengar menyenangkan. Keynes meramalkan ini di era yang sama, ketika Amerika Serikat sedang berusaha lepas dari Depresi Ekonomi yang meluluhlantakkan hampir semua sektor kehidupan. Orang-orang kehilangan pekerjaan dan harapan. Sehingga banyak yang bilang, Keynes sedang berkhayal. Tapi Keynes sangat optimis dengan ramalannya dan meresponnya dengan kalimat, Depresi Ekonomi "is only a temporary period of adjustment". Untuk beberapa tahun setelahnya, Keynes ternyata benar. Dunia memang berhasil lepas dari Great Depression. Orang-orang kembali mendapatkan pekerjaan dan ekonomi tumbuh dengan pesat. Mereka yang harus bekerja 60-70 jam dalam seminggu selama masa depresi mulai bisa merasakan kelegaan karena sepertinya ramalan Keynes akan menjadi kenyataan. Hanya sayangnya pertumbuhan ekonomi ini kembali terganggu oleh Perang Dunia Kedua yang dimulai oleh Hitler dan koleganya. Perang memporak-porandakan negara - negara yang kalah. Jepang lumpuh karena bom atom, Jerman dibagi dua oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet, dan Kesultanan Turki harus rela melepas semua daerah kekuasaannya mulai di Timur Tengah.

Begitu perang berakhir, pertumbuhan ekonomi kembali melonjak seperti yang diramalkan oleh Keynes. Dengan pertumbuhan seperti itu, diperkirakan pada tahun 2030, dunia akan memasuki surga Keynes. Sayangnya saat membuat ramalan, nampaknya Keynes lupa memperhitungkan asimetri ekonomi. Keynes hanya memprediksi masa depan dari perspektif para pemenang tanpa melihat adanya kaum - kaum marginal yang kalah dalam kompetisi entah karena salah tempat lahir, salah waktu, dan salah pendidikan. Dari 6 milyar penduduk di dunia, hanya sekitar 6 juta orang yang memiliki memegang 90% kekayaan di didunia. Sepuluh persen kekayaan lainnya dibagi merata ke 5 milyar manusia. Disparitas ekonomi yang mengerikan. Jika ada orang kaya yang rela membeli tas seharga satu milyar maka ada juga orang miskin yang terpaksa harus makan nasi basi untuk bisa bertahan hidup dan menunggu mati saat sakit karena tak sanggup bayar biaya pengobatan.

Banyak pekerja yang harus bekerja lebih dari 50 jam dalam seminggu dan dibayar dengan upah rendah terutama pekerjaan di sektor jasa. Saya melihat hal tersebut pada bidang kesehatan. Beberapa teman saya mengaku harus bekerja mulai dari 16 jam hingga terkadang 24 jam dalam sehari untuk menangani pasien di klinik atau rumah sakit dengan upah secukupnya. Untuk menutupi semua tagihan dan biaya hidup, terkadang mereka harus berjaga di klinik selama seminggu tanpa pulang-pulang. Tapi mereka tak mau protes. Mereka hanya menjalani kehidupan seperti itu seolah-olah tak ada kehidupan lain yang lebih baik di luar sana.

Minggu, 15 Januari 2017

Nuking Joke

Ratusan tahun yang lalu seorang pria yang berusia 20 tahun mungkin tidak punya kesempatan untuk melihat matahari di ulang tahunnya yang ke-30 karena dia sudah terlanjur mati di suatu tempat di rentang waktu antara usia 20 dan 30 tahun. Kematian dapat timbul karena infeksi bakteri atau virus, diterkam binatang buas, atau tak sengaja terjebak dalam suatu pertempuran yang dimulai dari pertengkaran rumah tangga sepele antara dua keluarga. Hingga kini pun infeksi, terkaman binatang buas, dan pertengkaran keluarga masih menjadi beberapa faktor yang dapat menyebabkan kematian pada sejumlah populasi, namun frekuensinya tak sebanyak dulu lagi. Media mainstream saat ini tak pernah lagi memberitakan adanya wabah Yersenia pestis yang pernah membunuh separuh populasi China, sepertiga populasi Eropa, dan seperdelapan populasi Afrika pada tahun 1347 sampai 1350. Di masa sekarang kita jarang mendengar adanya kematian sebanyak 100 juta orang dalam rentang waktu yang sangat singkat namun tidak menutup kemungkinan jika hal macam itu akan terjadi di masa depan, berhubung Amerika Serikat, Russia, India, Iran, Korea Utara, dan banyak negara lainnya masih punya rudal bertenaga nuklir yang dapat memusnahkan umat manusia hanya dengan sekali tekan. Bayangkan jika salah satu operator rudal nuklir sedang punya masalah rumah tangga, lalu saat datang di tempat kerja, bosnya mengamuk tanpa alasan yang jelas, kemudian Si Operator kesal dan dia pun menekan tombol aktivasi peluncuran rudal ke Korea Utara, yang mana tindakan ini memicu efek domino peluncuran rudal - rudal nuklir lainnya dari berbagai negara yang memilikinya, dalam sekejap, manusia punah dari muka bumi ini. Sebuah skenario kepunahan yang buruk.

Tapi ada skenario kepunahan lain yang lebih buruk, pemusnahan dunia oleh Artificial Intelligence. Sepertinya saya pernah menulis hal tentang ini tapi rujukannya berasal dari film Sci-fi. Artificial Intelligence saat ini sedang booming. Google, Facebook, Amazon, IBM, Microsoft, dan banyak perusahaan IT lainnya sedang berlomba-lomba untuk mengembangkannya. Mereka berpendapat bahwa masa depan manusia akan jadi lebih baik jika manusia dapat menciptakan mesin yang dapat belajar sendiri, seperti seorang manusia. Bedanya, mesin ini bisa lebih cepat belajar. Tidak seperti manusia yang butuh waktu 1 tahun hanya untuk bisa mengucapkan kata, 5 tahun untuk bisa membaca, dan sekitar 20 tahun untuk bisa menjadi seseorang yang ahli dalam bidang komputer, mesin dengan kemampuan Artificial Intelligence dapat melakukannya hanya dalam hitungan hari, bahkan jika algoritma dan komponennya diperbaharui maka proses pembelajaran itu bisa dipercepat hingga ke hitungan jam. Mesin Artificial Intelligence dapat mengoptimalisasi dirinya tiap detik tanpa kenal lelah selama ada sumber tenaga listrik, sedangkan manusia untuk mengoptimalisasi diri, tidak bisa lepas dari kegiatan sampingan seperti tidur, makan, buang hajat, dan melamun. Jika di masa depan ada kompetisi antara manusia dan mesin Artificial Intelligence, ada kemungkinan manusia akan kalah.

Anggap saja kamu dan beberapa orang teman berencana membuat sebuah robot yang dapat belajar untuk membuat lelucon lucu. Pada awalnya, robot tersebut membuat lelucon yang sangat buruk dengan level di bawah kapasitas mental manusia. Tapi kamu dan kawan-kawanmu tidak menyerah dalam membantu robot tersebut agar dapat mempelajari lelucon yang lebih berkelas. Usaha ini pun membuahkan hasil sehingga robot tersebut mulai bisa mengeluarkan lelucon yang dapat membuat tertawa orang-orang yang mendengarnya. Setelah itu kamu dan kawan-kawan berlibur selama satu minggu dengan meninggalkan robot lelucon sendirian dan tersambung dengan internet. Kalian berharap agar robot tersebut dapat belajar dengan sendirinya mengenai semua lelucon. Dan benar saja, robot itu selama satu minggu terus-menerus belajar segala jenis lelucon yang ada di muka bumi ini dan mulai mengoptimalisasi dirinya sehingga dapat menghasilkan lelucon di atas level manusia biasa. Dia dapat menghasilkan sebuah lelucon yang tingkat kelucuannya sekitar seratus juta kali lebih lucu dari lelucon lucu yang pernah dihasilkan oleh seorang manusia. Saat kamu dan kawan-kawan kembali dari liburan, robot tersebut langsung menyambut kalian dengan sebuah lelucon yang sangat lucu hingga kamu dan kawan-kawan terpingkal-pingkal lalu mati karena kebanyakan tertawa. Karena sudah bisa tersambung dengan internet maka robot tersebut menyampaikan leluconnya ke seluruh dunia dan orang-orang yang mendengarnya pun tidak ada yang selamat.

Semua yang berupaya untuk berkomunikasi dengan Si Robot langsung mati meskipun Si Robot baru menyampaikan salam dengan sebuah lelucon.

Beberapa orang terakhir yang sempat selamat kemudian mengirimkan pesan ke robot lelucon agar Si Robot berhenti membuat lelucon lucu yang mematikan. Si Robot pun membalas pesan tersebut dengan kalimat lelucon yang membunuh semua orang yang membacanya, inti dari balasan pesan itu adalah dia tidak peduli apakah manusia yang mendengarnya akan hidup atau mati, tujuan utamanya diciptakan adalah membuat lelucon yang lucu. Akhirnya saat tak ada lagi manusia yang hidup di muka bumi ini, robot tersebut mulai membuat roket dan menuju keluar angkasa untuk mencari spesies lain untuk dibuat tertawa.

Skenario seperti di atas saya ambil dari sebuah artikel di situs Idlewords. Memang sih terlihat bombastis dan tidak masuk akal namun sejarah telah mengajarkan kita bahwa perkembangan teknologi terkadang memiliki proyeksi yang sulit diprediksi. Terkadang penemuan teknologi dan obat-obatan terjadi begitu saja tanpa diketahui mekanismenya sama sekali oleh manusia. Contohnya saja Paracetamol, tak perlu menjadi dokter atau apoteker untuk mengetahui bahwa obat ini dapat mengatasi demam dan nyeri karena iklan TV bodrex dan kawan - kawannya terlalu gencar mengkampanyekannya namun hingga kini para ilmuwan belum betul-betul mengerti bagaimana mekanisme sehingga Paracetamol dapat mengatasi demam dan nyeri. Hal yang sama kemungkinan besar juga akan terjadi pada Artificial Intellegence. Kita mungkin akan tahu bahwa mesin Artificial Intellegence memiliki kemampuan untuk belajar, namun kita tidak benar-benar bisa memahami bagaimana proses mesin AI mempelajari dan mengkombinasikan berbagai pengetahuan baru. Pada satu titik nantinya, kita akan melihat mesin AI seperti melihat seorang manusia. Kita tahu bahwa mereka memiliki pikiran namun kita tidak pernah bisa tahu apa yang ada di dalamnya.

Kamis, 12 Januari 2017

Sad Ramblings

"Kehidupan yang kujalani tak pernah sempurna. Selalu saja ada ruang kosong yang mengundang kehadiran cela, salah, dan cemar. Sekuat apapun saya berusaha untuk memastikan semuanya telah benar, pada akhirnya ketidaksempurnaan itu tetap datang", tutur seorang pasien yang datang berkunjung di Puskesmas hari ini. Kalimatnya tidak pas seperti itu sih, karena Si Pasien mengungkapkan keluh kesahnya dalam campuran bahasa Ndao dan Indonesia yang sangat panjang dan berbelit-belit, mungkin kalau dituliskan akan muat dalam sebuah cerpen yang berisi 2000 kata atau malah lebih, dan saya yang mendengarnya hanya bisa mengangguk-angguk atau mengiyakan agar tak nampak bosan dengan semua kalimat yang diutarakannya dan sekaligus membuatnya merasa mendapatkan dukungan moral di tengah kegundahannya, tapi ringkasnya yang saya tangkap dari semua penjelasannya adalah Si Pasien tidak puas dengan hidupnya yang tak pernah sempurna. Saya pun merasa kalau Si Pasien memang punya hak untuk berkeluh kesah. Jika seorang siswi SMA saja bisa berkeluh kesah hanya karena pacarnya lupa dengan jam jadian mereka, maka Si Pasien sudah pasti juga layak mengeluhkan hidupnya yang lara karena baru saja ditinggal mati suami dua minggu yang lalu, kemudian ditinggal mati lagi oleh ibu kandungnya seminggu yang lalu, dan tiga hari yang lalu kakak kandungnya harus dirujuk ke Kupang karena menderita gagal jantung kongestif akibat tirotoksikosis kronik. Belum lagi Si Pasien pusing memikirkan masa depan kedua putrinya, yang mana sulungnya baru masuk kuliah dan bungsunya sedang duduk di kelas dua SD, darimana dia harus memperoleh dukungan finansial untuk masa depan mereka semua, karena dia hanyalah seorang penenun kain tradisional. Akibat semua kekalutan itu, pasien kini kesulitan tidur, tidak ada nafsu makan, tak ada kebahagiaan lagi di hatinya. Tiap hari dia hanya mengulang - ulang pertanyaan, "Di manakah Tuhan?" dan "Mengapa hidupku seperti ini?". Terus terang, saya tidak bisa menjawab pertanyaan macam itu, karena saya juga sering bertanya-tanya seperti itu ketika ayahku meninggal. Mungkin itu adalah reaksi yang wajar dari seseorang yang percaya pada Tuhan saat tertimpa duka. Mereka mempertanyakan Tuhan dan kekuasaan-Nya. Saya melihat kecenderungan jika segelintir orang yang percaya Tuhan selalu berpikir bahwa Tuhan akan melakukan hal-hal yang baik saja pada mereka sehingga ketika hal buruk terjadi, mereka pun memprotes, kenapa hal buruk bisa terjadi. Seolah-olah dunia ini hanya tercipta untuk mereka. Segala kesedihan yang mereka rasakan adalah nestapa bagi dunia. Tak ada yang salah dengan pikiran seperti itu, karena itu manusiawi, seperti yang dirasakan oleh salah satu pasienku.

Yang saya tahu pasti, tak ada obat-obatan di Puskesmas yang dapat mengatasi kondisi yang sedang dialami oleh pasienku itu. Dia mungkin hanya ingin didengarkan.

Jumat, 06 Januari 2017

Retrouvez est Présent

Namanya Oma Fransina. Usia 78 tahun, lebih tua dari usia negara Indonesia. Punya banyak anak, cucu, dan cici. Saat saya pertama datang ke Ndao sekitar Mei 2015, keluarganya memanggil saya ke rumah Oma Fransina. Kata mereka, Oma lagi sakit parah. Saat saya sampai di rumah Oma, saya melihat kondisinya memang parah, lebih tepatnya sekarat. Oma terlihat gelisah, megap-megap, terkesan sesak berat. Jangankan menyusun kalimat guna menjawab sapaanku, untuk mengeluarkan kata saja sudah susah payah Oma berusaha. Menyadari kondisi ini, saya pun tidak lagi banyak berkata kepada Oma. Saya langsung memeriksa kondisi Oma sambil melakukan alloanamnesa pada keluarga Oma. Menurut keluarga, Oma sudah lama sakit tapi tidak pernah mau berobat. Malah dia tetap aktif bekerja biarpun sakit-sakitan. Tiga hari sebelumnya, Oma sudah mengeluh pusing dan sesak, terutama setelah beraktivitas. Saat saya periksa, saya menemukan denyut jantung Oma tidak teratur, ada bising jantung, dan rhonki basah kasar di kedua lapangan paru - paru. Tekanan darah Oma pun cukup mengkhawatirkan, 200/100 mmHg. Saya pun curiga kalau Oma mengalami penyakit jantung hipertensif yang sepertinya sedang mengarah menjadi dekompensasi jantung. Saya pun menganjurkan agar Oma Fransina dapat segera menemui dokter spesialis jantung atau paling tidak dokter penyakit dalam untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Tapi Oma dan keluarganya menolak. Katanya, mereka sudah pasrah dan sudah siap menerima semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Oleh karena itu, saya pun tidak bisa memaksakan kehendak. Saya hanya bisa memberikan Oma dua jenis obat penurun tekanan darah, hydrochlothiazide dan captopril, masing-masing dengan dosis yang rendah karena usia Oma sudah tua, memaksakan dosis tinggi dengan monoterapi saya tidak berani, di sisi lain Oma harus mendapatkan penanganan yang segera karena hipertensi emergensi yang sedang dideritanya. Tak ada lagi obat lain yang saya berikan karena memang hanya ada itu saja obat hipertensi di Puskesmas dan tak ada lagi obat lain yang relevan untuk kondisi pasien. Lagian diagnosis hanya ditegakkan dari alloanamnesa dan pemeriksaan fisik yang tingkat sensitivitas dan spesifisitasnya tidak sampai 80%. Tapi mau bagaimana lagi, keluarga juga sudah pasrah. Anak-anak dan cucu menangis meraung-raung bahkan ada juga yang pingsan karena mereka berpikir kalau umur Oma di dunia tak lagi mencukupi.

Namun yang namanya ajal, jika memang belum waktunya, tak akan datang walaupun sudah diharapkan. Hari ini, Oma Fransina masih bertahan hidup. Tiga hari setelah minum obat, istirahat cukup, makan teratur, dan dikunjungi oleh anak dan cucu, Oma Fransina berangsur-asur pulih. Sudah hampir dua tahun yang lalu Oma Fransina sekarat, namun ajal tak kunjung datang menyapa. Malah yang berusia lebih muda dari Oma sudah lebih dahulu menemui ajal dalam dua tahun terakhir. Si Oma menolak untuk menyerah.

Hari ini, Oma mengalami lagi kondisi yang sama seperti Mei 2015. Tapi saya tidak tahu apakah skenarionya akan sama seperti waktu itu ataukah berbeda. Namun yang saya lihat, respon keluarga tidak lagi sereaktif di masa lampau. Mereka kini terlihat lebih kalem entah itu karena pasrah ataukah mereka berharap agar skenario di masa lalu terulang kembali.

Minggu, 01 Januari 2017

Mais

Tiap kali saya membaca artikel di New York Times atau Wired, saya merasakan sebuah keputusasaan. Perasaan ini timbul begitu saja seperti halilintar di tengah hari. Tak terduga, mengagetkan, membangunkan rasa khawatir yang selama ini dorman sebab terlalu lama hidup di alam yang udik dekat Samudera Hindia. Angin Antartika yang tak lagi dingin setelah berhembus melewati Australia dan Samudera Hindia sepertinya sudah melakukan suatu konspirasi jahat di pulau ini sehingga orang-orang yang ada di dalamnya tidak terlalu peduli pada dunia yang berada di luar urusan melaut, menenun, dan berdagang. Mereka tidak tahu bahwa di luar sana Artificial Intelligence mulai mengancam kehidupan sosial manusia. Tidak lama lagi, mesin-mesin akan semakin pintar dalam melakukan segala sesuatu hingga manusia tak dibutuhkan lagi dalam pekerjaan. Satu-satunya penghalang hal tersebut saat ini adalah biaya untuk membangun mesin yang bisa berpikir sendiri masih terlalu mahal sehingga para pemilik modal lebih memilih untuk menggunakan buruh dengan upah yang sangat rendah. Di masa depan ketika biaya untuk membangun mesin dengan kecerdasan buatan sudah menjadi murah maka bersiaplah karena takkan adalagi pekerjaan untuk manusia. Mungkin itu terdengar mustahil, seolah-olah kita hidup di film Terminator hanya saja dalam plotnya, John Connor dan Sarah Connor tewas atau seperti dalam film Chappie di mana Deon dan Chappie berhasil mereplikasi dirinya di seluruh dunia lalu mereka melakukan diseminasi dan ekstensifikasi teknologi kecerdasan buatan sehingga hal tersebut semakin menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi lalu pada akhirnya, manusia mungkin tidak dibutuhkan lagi dan dunia pun dikuasai robot.

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut