Minggu, 29 Januari 2017

Glory in The Past

 -Put-

"Kebahagiaan anak-anakku di atas segalanya."
Mama pernah mengatakan kalimat itu padaku di suatu siang, saat kami bercerita tentang ini dan itu. Saya tidak mengucapkan apapun saat itu, namun saya mengiyakan dengan sepenuh hati pendapat Mama. Karna walau tidak sesempurna ibu-ibu orang lain yang wajahnya cantik rupawan dengan perilaku anak muda dan sifatnya tidak seanggun Ratu Diana serta masakannya tidak seenak masakan Chef Marinka, namun bagi saya tidak ada satupun ibu di dunia ini yang mampu sesempurna Mama dalam membahagiakan kami.

Entah bagaimana Mama mendidik kami hingga menjadi seperti sekarang. Setahu saya, kami anak-anaknya, tidak pernah melakukan segala jenis kenakalan yang biasa dilakukan oleh anak muda seusia kami pada masa itu; merokok, miras, tato, pacaran (oh oke, yang ini sepertinya masih perlu dikonfirmasi), dan sejenisnya. Padahal jika diingat-ingat lagi, kesempatan untuk melakukan hal-hal tersebut terbuka sangat lebar mengingat Bapak yang pekerja lapangan hingga jarang di rumah, sedangkan Mama adalah pegawai kantoran yang selalu berangkat pagi dan pulang siang menjelang sore. Banyaknya waktu kosong tanpa pengawasan orang tua tersebut nyatanya tidak membuat kami menjadi segerombolan anak liar yang hobi nongkrong di pinggir jalan untuk menunggu orang yang bisa dipalak. Kami seolah dibentuk menjadi anak-anak rumahan yang tidak boleh kelayapan jika orang tua belum mengizinkan.

Saat itu yang menjadi fokus kami, atau setidaknya saya, adalah bagaimana cara agar Mama bisa bangga pada kami. Namun sayang, mempunyai anak pertama yang sangat pintar (pada masa itu, mungkin hingga sekarang), hobi juara umum, suka ikut olimpiade, serta taat beragama, membuat Mama sepertinya mempunyai standar yang sangat tinggi akan hal-hal apa saja yang bisa anak-anaknya lakukan untuk membuatnya bangga. Kami, ketiga anak lainnya yang diberkahi dengan otak seadanya, tentu tidak bisa menembus rekor juara umum dan ikut olimpiadenya kakak pertama. Maka cukuplah bagi kami, anak dengan otak seadanya, menjadi anak baik dan tidak nakal untuk bisa membuat Mama bangga.

Sekalipun ada kesenjangan prestasi akademik dan ibadah di antara anak-anaknya, Mama tidak pernah membeda-bedakan kami. Setidaknya semua perlakuan yang dia berikan pada anak-anaknya sesuai dengan porsinya. Misal, jika anak pertama meminta sesuatu, maka akan langsung diberikan. Namun, karena anak pertama jarang meminta sesuatu, maka hak khusus itu diberikan pada anak kedua yang memang hobi meminta sesuatu. Kemudian, jika anak ketiga juga menginginkannya, maka dibiarkan merengek satu dua kali baru akan diberikan. Sedangkan jika anak keempat yang memintanya, maka akan diberikan apabila anak kedua dan ketiga telah bosan menggunakannya.

Sistem pemenuhan keinginan seperti itu membuat kami memang harus sadar diri jika ingin meminta sesuatu. Entah sejak kapan saya menyadari pola itu, namun sejak saat itu saya jarang meminta barang apapun yang sedang hits karena saya tahu saya bukanlah anak pertama dan yang perlu saya lakukan sebenarnya hanyalah berdoa agar anak kedua dan ketiga segera dilanda kebosanan.

Tapi bukan berarti Mama tidak pernah memberiku barang-barang baru. Seingat saya, setiap lebaran saya selalu mendapat baju baru seperti kakak-kakak saya yang lain. Dulu, Mama bahkan pernah menitip untuk dibelikan sebuah hp pada salah seorang temannya yang sedang ke luar kota untuk diberikan kepada saya yang saat itu sudah SMA, karena kakak kedua dan kakak ketiga belum juga menunjukkan tanda-tanda kebosanan dalam bermain hp.

Saat kakak saya satu persatu mulai melanjutkan kuliah dan meninggalkan saya seorang diri di rumah, di saat itulah saya menjadi saksi betapa Mama benar-benar menomorsatukan kebahagiaan kami. Tidak ada lagi yang namanya sistem pemenuhan kebutuhan yang dulu dilakukan. Semua anak mendapatkan hak khusus. Apapun yang kami inginkan, tidak ada kata merengek, semua diusahakan. Entah bagaimana caranya, Mama tidak pernah berkata tidak. Padahal kami berempat kuliah pada waktu yang hampir bersamaan dan semua harga kebutuhan pendidikan kami tidak lagi berada di level harga jajanan chiki. Gaji Mama dan Bapak pun jika diakumulasikan tidak pernah menyentuh 8 digit. Tapi kami tak pernah kekurangan apapun, bahkan hingga kami sarjana dan beberapa dari kami telah bekerja dan menikah.

Hingga kemarin, salah satu teman Mama tiba-tiba menelepon saya. Awalnya hanya berbasa-basi menanyakan apa kabar, bagaimana kelanjutan kuliah, dan bla bla bla basa-basi lainnya.  Seperti sedang menunggu momen, tiba-tiba teman Mama bercerita, "Nak, Mamamu itu ya, tidak ada satupun yang dia banggakan di dunia ini selain kalian. Selalu kalian yang dia ceritakan kalau di kantor. Kalau kalian sudah butuh sesuatu, pasti satu kantor dia hebohkan untuk minta bantuan."

Saya terdiam ketika mendengarnya. Saat itulah adegan Mama yang baru saja menerima telepon salah satu dari kami yang awalnya tenang-tenang saja, berubah menjadi panik menemui satu persatu temannya untuk meminta bantuan, tiba-tiba begitu saja muncul di benakku.

Jadi begitulah cara Mama bekerja, begitulah cara Mama mengusahakan kebahagiaan kami.

Saya menjadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang telah kami lakukan hingga Mama bisa sebangga itu pada kami semua? Apa yang telah kami lakukan hingga Mama mau berlarian kesana kemari hanya demi memenuhi kebutuhan kami? Saya sungguh tidak mengerti apa yang sedang terjadi di kepala Mama saat itu. Saya sungguh tidak mengerti; apakah memang kami yang begitu membanggakan, atau memang begitulah naluri seorang ibu.

Sekarang, saat kami telah mampu mendapatkan kebahagiaan kami masing-masing, masih adakah tujuan hidup yang tersisa dalam hidup Mama? Masih bisakah kami berlomba-lomba menjadi kebanggaannya?


1 komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut