Minggu, 01 Januari 2017

Mais

Tiap kali saya membaca artikel di New York Times atau Wired, saya merasakan sebuah keputusasaan. Perasaan ini timbul begitu saja seperti halilintar di tengah hari. Tak terduga, mengagetkan, membangunkan rasa khawatir yang selama ini dorman sebab terlalu lama hidup di alam yang udik dekat Samudera Hindia. Angin Antartika yang tak lagi dingin setelah berhembus melewati Australia dan Samudera Hindia sepertinya sudah melakukan suatu konspirasi jahat di pulau ini sehingga orang-orang yang ada di dalamnya tidak terlalu peduli pada dunia yang berada di luar urusan melaut, menenun, dan berdagang. Mereka tidak tahu bahwa di luar sana Artificial Intelligence mulai mengancam kehidupan sosial manusia. Tidak lama lagi, mesin-mesin akan semakin pintar dalam melakukan segala sesuatu hingga manusia tak dibutuhkan lagi dalam pekerjaan. Satu-satunya penghalang hal tersebut saat ini adalah biaya untuk membangun mesin yang bisa berpikir sendiri masih terlalu mahal sehingga para pemilik modal lebih memilih untuk menggunakan buruh dengan upah yang sangat rendah. Di masa depan ketika biaya untuk membangun mesin dengan kecerdasan buatan sudah menjadi murah maka bersiaplah karena takkan adalagi pekerjaan untuk manusia. Mungkin itu terdengar mustahil, seolah-olah kita hidup di film Terminator hanya saja dalam plotnya, John Connor dan Sarah Connor tewas atau seperti dalam film Chappie di mana Deon dan Chappie berhasil mereplikasi dirinya di seluruh dunia lalu mereka melakukan diseminasi dan ekstensifikasi teknologi kecerdasan buatan sehingga hal tersebut semakin menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi lalu pada akhirnya, manusia mungkin tidak dibutuhkan lagi dan dunia pun dikuasai robot.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut