Jumat, 06 Januari 2017

Retrouvez est Présent

Namanya Oma Fransina. Usia 78 tahun, lebih tua dari usia negara Indonesia. Punya banyak anak, cucu, dan cici. Saat saya pertama datang ke Ndao sekitar Mei 2015, keluarganya memanggil saya ke rumah Oma Fransina. Kata mereka, Oma lagi sakit parah. Saat saya sampai di rumah Oma, saya melihat kondisinya memang parah, lebih tepatnya sekarat. Oma terlihat gelisah, megap-megap, terkesan sesak berat. Jangankan menyusun kalimat guna menjawab sapaanku, untuk mengeluarkan kata saja sudah susah payah Oma berusaha. Menyadari kondisi ini, saya pun tidak lagi banyak berkata kepada Oma. Saya langsung memeriksa kondisi Oma sambil melakukan alloanamnesa pada keluarga Oma. Menurut keluarga, Oma sudah lama sakit tapi tidak pernah mau berobat. Malah dia tetap aktif bekerja biarpun sakit-sakitan. Tiga hari sebelumnya, Oma sudah mengeluh pusing dan sesak, terutama setelah beraktivitas. Saat saya periksa, saya menemukan denyut jantung Oma tidak teratur, ada bising jantung, dan rhonki basah kasar di kedua lapangan paru - paru. Tekanan darah Oma pun cukup mengkhawatirkan, 200/100 mmHg. Saya pun curiga kalau Oma mengalami penyakit jantung hipertensif yang sepertinya sedang mengarah menjadi dekompensasi jantung. Saya pun menganjurkan agar Oma Fransina dapat segera menemui dokter spesialis jantung atau paling tidak dokter penyakit dalam untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Tapi Oma dan keluarganya menolak. Katanya, mereka sudah pasrah dan sudah siap menerima semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Oleh karena itu, saya pun tidak bisa memaksakan kehendak. Saya hanya bisa memberikan Oma dua jenis obat penurun tekanan darah, hydrochlothiazide dan captopril, masing-masing dengan dosis yang rendah karena usia Oma sudah tua, memaksakan dosis tinggi dengan monoterapi saya tidak berani, di sisi lain Oma harus mendapatkan penanganan yang segera karena hipertensi emergensi yang sedang dideritanya. Tak ada lagi obat lain yang saya berikan karena memang hanya ada itu saja obat hipertensi di Puskesmas dan tak ada lagi obat lain yang relevan untuk kondisi pasien. Lagian diagnosis hanya ditegakkan dari alloanamnesa dan pemeriksaan fisik yang tingkat sensitivitas dan spesifisitasnya tidak sampai 80%. Tapi mau bagaimana lagi, keluarga juga sudah pasrah. Anak-anak dan cucu menangis meraung-raung bahkan ada juga yang pingsan karena mereka berpikir kalau umur Oma di dunia tak lagi mencukupi.

Namun yang namanya ajal, jika memang belum waktunya, tak akan datang walaupun sudah diharapkan. Hari ini, Oma Fransina masih bertahan hidup. Tiga hari setelah minum obat, istirahat cukup, makan teratur, dan dikunjungi oleh anak dan cucu, Oma Fransina berangsur-asur pulih. Sudah hampir dua tahun yang lalu Oma Fransina sekarat, namun ajal tak kunjung datang menyapa. Malah yang berusia lebih muda dari Oma sudah lebih dahulu menemui ajal dalam dua tahun terakhir. Si Oma menolak untuk menyerah.

Hari ini, Oma mengalami lagi kondisi yang sama seperti Mei 2015. Tapi saya tidak tahu apakah skenarionya akan sama seperti waktu itu ataukah berbeda. Namun yang saya lihat, respon keluarga tidak lagi sereaktif di masa lampau. Mereka kini terlihat lebih kalem entah itu karena pasrah ataukah mereka berharap agar skenario di masa lalu terulang kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut