Kamis, 12 Januari 2017

Sad Ramblings

"Kehidupan yang kujalani tak pernah sempurna. Selalu saja ada ruang kosong yang mengundang kehadiran cela, salah, dan cemar. Sekuat apapun saya berusaha untuk memastikan semuanya telah benar, pada akhirnya ketidaksempurnaan itu tetap datang", tutur seorang pasien yang datang berkunjung di Puskesmas hari ini. Kalimatnya tidak pas seperti itu sih, karena Si Pasien mengungkapkan keluh kesahnya dalam campuran bahasa Ndao dan Indonesia yang sangat panjang dan berbelit-belit, mungkin kalau dituliskan akan muat dalam sebuah cerpen yang berisi 2000 kata atau malah lebih, dan saya yang mendengarnya hanya bisa mengangguk-angguk atau mengiyakan agar tak nampak bosan dengan semua kalimat yang diutarakannya dan sekaligus membuatnya merasa mendapatkan dukungan moral di tengah kegundahannya, tapi ringkasnya yang saya tangkap dari semua penjelasannya adalah Si Pasien tidak puas dengan hidupnya yang tak pernah sempurna. Saya pun merasa kalau Si Pasien memang punya hak untuk berkeluh kesah. Jika seorang siswi SMA saja bisa berkeluh kesah hanya karena pacarnya lupa dengan jam jadian mereka, maka Si Pasien sudah pasti juga layak mengeluhkan hidupnya yang lara karena baru saja ditinggal mati suami dua minggu yang lalu, kemudian ditinggal mati lagi oleh ibu kandungnya seminggu yang lalu, dan tiga hari yang lalu kakak kandungnya harus dirujuk ke Kupang karena menderita gagal jantung kongestif akibat tirotoksikosis kronik. Belum lagi Si Pasien pusing memikirkan masa depan kedua putrinya, yang mana sulungnya baru masuk kuliah dan bungsunya sedang duduk di kelas dua SD, darimana dia harus memperoleh dukungan finansial untuk masa depan mereka semua, karena dia hanyalah seorang penenun kain tradisional. Akibat semua kekalutan itu, pasien kini kesulitan tidur, tidak ada nafsu makan, tak ada kebahagiaan lagi di hatinya. Tiap hari dia hanya mengulang - ulang pertanyaan, "Di manakah Tuhan?" dan "Mengapa hidupku seperti ini?". Terus terang, saya tidak bisa menjawab pertanyaan macam itu, karena saya juga sering bertanya-tanya seperti itu ketika ayahku meninggal. Mungkin itu adalah reaksi yang wajar dari seseorang yang percaya pada Tuhan saat tertimpa duka. Mereka mempertanyakan Tuhan dan kekuasaan-Nya. Saya melihat kecenderungan jika segelintir orang yang percaya Tuhan selalu berpikir bahwa Tuhan akan melakukan hal-hal yang baik saja pada mereka sehingga ketika hal buruk terjadi, mereka pun memprotes, kenapa hal buruk bisa terjadi. Seolah-olah dunia ini hanya tercipta untuk mereka. Segala kesedihan yang mereka rasakan adalah nestapa bagi dunia. Tak ada yang salah dengan pikiran seperti itu, karena itu manusiawi, seperti yang dirasakan oleh salah satu pasienku.

Yang saya tahu pasti, tak ada obat-obatan di Puskesmas yang dapat mengatasi kondisi yang sedang dialami oleh pasienku itu. Dia mungkin hanya ingin didengarkan.

Tidak ada komentar:

Pencarian Referat - Dokumen - Artikel

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...